Share

08. Kembalinya Derana

last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-09 02:18:13

Di pagi yang mendung itu, dengan langkah pasti, Derana masuk ke dalam gedung seorang diri. Tak ayal jika kehadirannya langsung membuat pasang mata di sana mengalihkan perhatian. Setiap langkah yang diambilnya seolah menggetarkan lantai, memancarkan aura yang begitu kuat hingga tak seorang pun bisa mengabaikannya. Wajahnya memancarkan ketegasan, dengan tatapan matanya yang tajam.

Bahkan orang-orang di sekitarnya pun terdiam, seakan waktu berhenti sejenak untuk menghormati kehadirannya. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar, membicarakan siapa gerangan sosok yang mampu menguasai ruangan hanya dengan kehadirannya.

Wanita itu tidak perlu berkata-kata bahwa kehadirannya sudah cukup untuk menyampaikan pesan yang jelas. Aura kuatnya bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kepercayaan diri dan ketenangan yang terpancar dari setiap gerak-geriknya.

Tidak seperti kemarin, hari ini ada yang berbeda. Ia tidak akan bersembunyi lagi di balik perlindungan Arash. Ada api yang menyala di matanya, api balas dendam yang membuatnya lebih kuat dari sebelumnya.

Meski tak luput, jika lelaki itu masih memperhatikannya dari kejauhan—mengantarnya, lalu pergi setelah memastikan wanita itu masuk.

Derana sudah siap. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Masuk kembali ke dalam kehidupan Haka bukanlah tugas yang mudah, tapi Derana sudah memutuskan jika ia akan menyaksikannya sendiri Haka hancur perlahan, seperti bagaimana hidupnya dulu dihancurkan.

Gedung megah dengan 70 lantai yang menjulang tinggi di tengah kota itu memiliki simbol kekuasaan dan ambisi yang tak terbatas. Setiap lantainya dipenuhi dengan kantor-kantor mewah, ruang rapat berteknologi tinggi, dan pemandangan kota yang memukau dari jendela-jendela kaca yang besar. Gedung ini, yang kini dikenal sebagai Haka Tower, dulunya adalah kebanggaan keluarga Derana.

Ayah Derana, seorang pengusaha yang dihormati, membangun gedung ini dari nol. Setiap sudutnya mencerminkan kerja keras dan dedikasi yang Beliau curahkan selama bertahun-tahun. Namun, setelah kematiannya, Haka, seorang pria yang pernah dianggap sebagai sahabat keluarga, mengambil alih segalanya dengan cara yang licik dan tanpa rasa balas budi.

Haka, dengan ambisinya yang tak terpuaskan, mengubah nama gedung dan mengklaimnya sebagai miliknya sendiri.

Kini, Haka duduk di puncak gedung itu, menikmati kekuasaan yang dia peroleh dengan cara yang kejam, sementara Derana merencanakan bertekad untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Meski perasaan campur aduk sempat menyelimuti hati Derana setelah pertemuan yang menegangkan dengan Haka di restoran kemarin, ia tahu bahwa ancaman Haka bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan.

Namun sekarang, saat langkahnya melewati ruangan Haka, tidak ada lagi rasa takut yang menghantuinya. Sebab, tekad mengubah Derana bukan lagi gadis lemah yang dulu. Sekarang ia adalah wanita yang kuat, yang siap menghadapi apapun demi mencapai tujuannya. Wanita itu langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya.

Pada saat matahari mulai meninggi, Derana sudah duduk menghadap kaca dengan membelakangi meja kerjanya.

Tak lama kemudian, seperti yang sudah diduga pintu kantornya terbuka dengan keras. Haka berdiri di ambang pintu, wajahnya memerah penuh dengan kemarahan.

“Di mana kau, Derana?” Suaranya menggema di ruangan itu.

Dengan gerakan ringan, Derana menghentakkan kakinya ke lantai, membuat kursi yang didudukinya berputar perlahan. 

“Aku di sini, Haka,” jawabnya.

“Apa-apaan kau ini? Hah? Apa yang kau lakukan di sini?” teriak sang lelaki sembari menghampiri Derana yang masih duduk santai di sana.

“Aku memiliki saham yang jauh lebih besar daripada kau, Haka. Jadi, mulai sekarang aku akan bekerja di perusahaan ini juga.”

“Apa?” Mendengarnya, Haka begitu terkejut. Namun, setelah itu lelaki itu justru terkekeh sumbang seolah tak percaya.

“Jangan bermimpi, Derana! Aku yakin kau tidak bisa melakukan itu.”

“Tidak masalah jika kau tidak percaya. Tapi itu adalah kenyataannya,” sahut sang wanita.

Haka menatap Derana dengan mata yang melebar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang ada di depannya itu bukan lagi gadis lemah yang dulu selalu menghindari tatapannya. Ada kekuatan baru dalam diri Derana, sesuatu yang membuat Haka merasa tidak nyaman.

“Derana!”

Derana tersenyum tipis. Ia tahu, kepalan tangan Haka yang terlihat bergetar itu menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar sedang menahan marah.

“Mulai sekarang, aku juga memiliki kendali lebih besar di perusahaan ini. Jadi, jika kau berpikir bisa mengancamku atau mengusirku, kau salah besar.”

“Apa yang membawamu ke sini?” Pada saat itu, tatapan Haka sudah berubah nyalang.

“Aku hanya ingin ada didekatmu, untuk memastikan bagaimana keadaanmu, Haka,” jawab Derana dengan nada yang tenang namun dingin.

“Banyak hal yang terjadi. Dan tentu, keberadaanku di sini untuk memastikan bahwa kau akan merasakannya juga.”

Haka mengepalkan tangannya dengan semakin kuat, merasakan ancaman yang jelas dalam kata-kata Derana. Ia tahu bahwa ini bukan lagi permainan yang bisa dia kendalikan. Derana telah berubah, dan perubahan itu membuatnya merasa terpojok. Tetapi, ia tahu bahwa ia tidak boleh menunjukkan kelemahan itu di depan Derana.

“Kau akan menyesal telah mengkhianatiku, Derana,” katanya dengan nada penuh peringatan.

Derana berdiri dari kursinya, menatap Haka dengan keberanian bahkan spontan menggebrak meja. “Aku tidak takut padamu, Haka. Dan aku tidak akan membiarkanmu mengendalikan hidupku lagi. Mari kita bersaing.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidupku!” tegas Haka yang dibalas langsung dengan senyum dingin Derana.

“Kita lihat saja, Haka. Kita lihat saja nanti!”

Haka menatap Derana dengan penuh kebencian sebelum berbalik dan meninggalkan kantor itu. Ia langsung pulang ke rumah dengan perasaan marah dan frustrasi. Ia membuka pintu dengan kasar dan langsung menuju ruang tamu, di mana Ilona sedang duduk membaca. Melihat ekspresi Haka, Ilona segera tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Ada apa, Haka?” tanyanya dengan nada khawatir.

Haka melemparkan jas miliknya ke sofa, lalu melonggarkan dasi dan duduk dengan kasar.

“Derana,” ucapnya dengan suara penuh kemarahan. “Dia berani sekali menantangku di kantor. Dia bilang dia memiliki saham yang lebih besar daripada aku dan sekarang dia punya kendali lebih besar atas perusahaan.”

Ilona terkejut, matanya membesar. “Apa? Derana? Perempuan itu? Aku tidak percaya.”

“Terserah! Aku pun begitu, tetapi semakin ke sini membuatku yakin, Derana bukanlah wanita yang dulu kita kenal,” ujar Haka.

“Lalu bagaimana bisa? Bagaimana bisa Derana memiliki saham sebanyak itu?” Kini, kekhawatiran mulai menyelinap ke dalam diri Ilona.

Haka menggeleng. “Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan saham itu, tapi sekarang dia merasa bisa mengendalikan segalanya.”

Ilona terdiam sejenak, mencoba mencerna informasi tersebut. “Aku tidak menyangka dia bisa berubah seperti itu.”

“Tapi, apa mungkin jika selama ini kita telah meremehkannya.”

“Entahlah,” Haka mengepalkan tangannya. “Aku tidak akan membiarkan dia menang. Aku akan mencari cara untuk mengambil kembali kendali. Memastikan wanita itu kembali pada tempatnya.”

Ilona menatap Haka dengan mata yang penuh kekhawatiran. “Kita harus berhati-hati, Haka. Derana bukan lagi perempuan lemah yang kita pikirkan. Jika kita ingin menghadapinya, kita harus lebih cerdik lagi darinya.”

Haka mengangguk, meskipun kemarahan masih terlihat jelas di wajahnya. “Aku tahu itu! Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan semuanya. Semua yang telah aku bangun.”

Ilona menghela napas panjang. “Lalu, apa yang akan kamu rencanakan, Haka? Derana mungkin jauh lebih kuat sekarang, tapi kita masih bisa membiarkannya terlalu lama.”

“Pastinya, kita membutuhkan orang lain untuk hal ini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   42. SINGGASANA DI ATAS REKAHAN

    Bau kematian itu unik—ia tidak hanya tercium seperti anyir darah atau kepul asap mesiu, tetapi juga menyerupai aroma tanah basah yang baru digali di bawah rintik hujan. Derana berdiri terpaku di balik dinding kaca ruang medis darurat itu, menyaksikan bagaimana tubuh Julian tersentak hebat akibat kejutan listrik dari alat pacu jantung. Garis hijau di monitor masih mendatar, mengeluarkan bunyi statis panjang yang seolah-olah sedang menghitung mundur sisa-sisa kewarasan Derana.Setiap kali tubuh pria itu melenting di atas ranjang, setiap kali pula jantung Derana terasa diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Inilah pria yang menghancurkan hidupnya dengan kontrak manipulatif, namun juga pria yang memberikan nyawanya sebagai tameng demi membiarkan Derana bernapas satu detik lebih lama. Kenyataan itu terasa seperti racun yang mengalir lambat di pembuluh darahnya—pahit dan mematikan.Di sudut ruangan yang remang, Guntur masih berdiri dengan ketenangan seorang algojo. Ia tidak menunjukkan

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   41. SISA-SISA ABU DAN AMBISI

    Suara ledakan itu bukan sekadar dentuman—melainkan raungan bumi yang memuntahkan isinya. Gelombang panas yang pekat menghantam punggung Derana, melemparkannya hingga wajahnya mencium dinginnya lantai marmer yang kini tertutup debu dan jelaga. Telinganya berdenging hebat, menyisakan senyap yang menyakitkan.Derana terbatuk, paru-parunya berontak menghirup oksigen yang kini bercampur dengan bau mesiu dan plastik terbakar. Di tengah pandangannya yang mengabur oleh asap hitam, ia melihat sosok itu. Julian. Pria yang baru saja memberikan dadanya untuk peluru yang seharusnya menembus jantung Derana.“Julian!” ucap Derana serak, nyaris hilang di tengah deru api yang mulai melahap dinding-dinding apartemen.Ia merangkak, mengabaikan rasa perih di lututnya yang berdarah karena serpihan kaca. Julian tergeletak tak berdaya, darah merah pekat terus mengalir dari bahunya, merembes ke lantai, menciptakan pemandangan mengerikan di atas debu putih reruntuhan. Derana meraih kepala pria itu, memangku d

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   40. Titik Didih

    Udara di koridor itu seolah membeku, terperangkap dalam ruang hampa di mana hanya suara detak jantung Derana yang terdengar—cepat, berisik, dan memuakkan. Moncong hitam pistol di tangannya tidak lagi bergetar. Logam dingin itu kini terasa hangat, seolah menyerap api amarah yang menjalar dari pembuluh darahnya.Haka terpaku. Senyum menyeringai yang tadinya menghiasi wajahnya kini melorot, digantikan oleh kerutan sanksi yang perlahan berubah menjadi horor. Ia menelan ludah, jakunnya naik-turun dengan susah payah.“Kau tidak akan berani, Derana,” suara Haka pecah, mencoba memungut sisa-sisa keberaniannya. “Kau hanyalah gadis kecil yang menangis saat aku membunuh kecoa. Kau tidak punya nyali untuk menembak manusia.”Derana tidak berkedip. Matanya yang dingin menatap tepat ke dalam pupil mata Haka yang mulai mengecil karena ketakutan. “Kau benar, Haka. Aku tidak akan menembak manusia,” bisik Derana, suaranya halus namun tajam seperti silet. “Aku hanya akan membuang sampah ke tempatnya.”Di

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   39. Retakan di Atas Kaca

    Ujung jemari Derana memutih, mencengkeram tas kulitnya begitu erat hingga buku-buku jarinya menonjol. Napasnya memburu, meninggalkan uap tipis yang segera menghilang di udara dingin lorong apartemen yang remang. Setiap langkah kakinya yang gemetar terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca—tajam, menyakitkan, dan siap menghancurkannya kapan saja.Di ujung koridor, bayangan pria berjaket hitam tampak berdiri diam seperti malaikat maut yang menunggu mangsa. Derana membeku, ia tahu pria itu bukan penjaga keamanan. Tatapan pria itu terkunci pada wajahnya, dingin tanpa emosi, persis seperti foto target yang baru saja Haka lemparkan di meja eksekusi.Derana berbalik, hendak lari menuju lift, namun jantungnya nyaris melompat keluar saat sebuah tangan kekar tiba-tiba menyambar bahunya. Sebelum ia sempat berteriak, tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah unit apartemen yang pintunya terbuka sedikit.“Diam jika kau masih ingin melihat matahari esok pagi,” bisikan itu rendah, ser

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   38. Rahasia Haka

    “Kamu akan berakhir sama seperti ayahmu.”“Takdirmu ada di tanganku,”Dalam diam, Haka berjanji pada dirinya sendiri. Dendamnya menguar begitu pekat, dengan kegetiran yang tak terucapkan, hingga terasa menguasai setiap helaan napas di sekitarnya.Ia menyeringai, mengingat setiap penghinaan yang pernah diterimanya di masa lalu yang mendorongnya untuk bertindak berani. Ia membayangkan bagaimana hidupnya telah berubah setelah balas dendamnya terwujud—meski begitu, bayangan gelap itu selalu mengikutinya, tak pernah memberinya kedamaian.Pada waktu itu, saat dirinya berdiri di ruang tamu yang megah, Haka memerintahkan pembantu rumah tangganya dengan suara tegas.“Suguhkan teh ini untuk ayah!” Pembantu itu, tanpa curiga, mengambil cangkir teh yang telah disiapkan Haka dengan hati-hati. Teh itu bukan sekadar teh biasa; di dalamnya, Haka telah mencampurkan sesuatu yang mematikan.Haka menyaksikan dengan puas saat ayah Derana menerima cangkir teh itu dengan senyum ramah, tidak menyadari baha

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   37. Kenyataan Dalam Kenyataan

    “Ternyata selama ini...” Sembari membekap mulut, Derana berlari sekuat yang dia bisa. Ketika kenyataan pahit itu menghantamnya. Namun, yang lebih menyakitkan adalah ketika kenyataan itu datang untuk kedua kalinya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa. Hatinya yang sudah retak kini hancur berkeping-keping, seolah tak ada lagi yang bisa diselamatkan. “Aku hidup dengan pembohong?” pikirnya, tak percaya dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Selama ini, orang yang ia percayai dan cintai ternyata adalah sumber dari semua kesulitan yang ia alami. Bagaimana mungkin ia bisa begitu buta? Bagaimana mungkin ia tidak melihat tanda-tanda pengkhianatan itu? Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa musuh terbesarnya adalah orang yang paling dekat dengannya.Tidak ada alasan lagi untuk dirinya tinggal bersama pembohong itu. Semua kepercayaan telah hancur, dan setiap kenangan manis kini terasa pahit. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi“Ya! Teror yang selama i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status