Beranda / Rumah Tangga / Kontrak Pernikahan 365 Hari / 07. Intimidasi yang Tak Terduga

Share

07. Intimidasi yang Tak Terduga

last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-07 02:50:18

Suara sepatu heels yang beradu dengan lantai dingin itu memecah keheningan ruang yang masih diselimuti sisa-sisa malam. Sesosok tinggi dengan pakaian rapi itu terlihat datang dari ruang pribadi. Dengan semangat yang masih setengah terjaga, Derana bersiap untuk menghadapi hari baru.

Namun, aroma samar kopi yang sudah dingin yang tercium di udara itu membuatnya melangkah ke ruang makan. Tidak ada yang terlihat, kecuali cangkir kosong dengan kehangatan yang tersisa di meja makan.

Detak jarum jam yang mengalun lebih keras itu membuat Derana memindai pandang. Dilihatnya jarum jam yang sudah menunjukkan angka delapan yang membuatnya langsung menarik napas dalam-dalam.

Kesunyian ruang membuatnya urung untuk menemui Arash. Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Arash, “Aku akan keluar sebentar untuk bertemu kolega. Semoga harimu menyenangkan di kantor.” Ia menekan tombol kirim dan meletakkan ponselnya di meja. Dengan perasaan lega, ia bersiap untuk pergi, berharap pertemuannya nanti bisa membawa sedikit keceriaan di hari yang sunyi ini.

Jam sudah menunjukkan angka sembilan ketika Derana tiba di sebuah kafe kecil yang nyaman di sudut kota. Derana segera memesan coffee latte favoritnya dan memilih meja di dekat jendela, tempat ia bisa melihat keramaian jalan di luar. Sambil menunggu seseorang yang menghubunginya tadi malam.

Tak lama setelah kemudian, pesanan Derana akhirnya tiba. Namun, saat pelayan itu meletakkannya di atas meja, tangannya sedikit gemetar dan tak sengaja menumpahkan minuman tersebut dan sedikit mengenai baju Derana. Membuat wanita itu terkejut dan merasa sedikit malu saat beberapa orang di sekitar menoleh ke arahnya.

Dengan senyum yang dipaksakan, ia berkata, “Tidak apa-apa.”

Meskipun jelas terlihat noda di bajunya. Derana segera bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju kamar mandi, berharap bisa membersihkan noda tersebut sebelum semakin menyebar.

Setelah lama berkutat di sana—meski tak sepenuhnya menghilang, Derana melangkah keluar dari toilet umum dengan perasaan lega.

Restoran itu ramai, penuh dengan suara tawa dan percakapan yang bercampur dengan aroma makanan lezat. Namun, langkahnya terhenti seketika ketika matanya menangkap sosok yang tak asing di sudut ruangan.

Lelaki itu duduk di salah satu meja, sendirian, dengan ekspresi yang berubah drastis begitu melihat Derana. Mata mereka bertemu, dan seketika suasana restoran yang hangat terasa dingin dan menegangkan bagi Derana seorang.

“Haka?” gumamnya nyaris tak bersuara. Bahkan, ia langsung mengambil satu langkah mundur kewaspadaan saat Haka mendekat.

“Derana,” Suara Haka terdengar rendah, namun penuh kemarahan. “Berani sekali kau muncul di sini setelah mengkhianatiku.”

“Apa maksud semua ini?” katanya dengan gigi terkatup rapat, suaranya bergetar karena letupan amarah yang membara.

Derana membalas tatapan itu dengan tak kalah tajam. “Aku tidak lagi akan menerima perlakuan semena-mena darimu, Haka. Tidak hanya perasaan, tapi kau juga telah menghancurkan hidupku.”

Haka terdiam, ia mencoba mencerna kata-kata wanita itu. “Apa yang kau inginkan dariku?”

Derana mengambil napas dalam-dalam. “Aku ingin membuat kau menyesal. Aku ingin kau tahu betapa sakitnya hatiku karena perselingkuhanmu dengan Ilona.”

Haka mengepalkan tangannya. “Oh, rupanya kau benar-benad iri dengan Ilona? Kau tidak aka tahu apa-apa!”

“Ya! Kau benar, aku memang tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu, kau hanya lelaki bodoh, menjilat ludahmu sendiri dengan kembalinya mantan kekasihmu itu.” Derana terkekeh mencemoohnya.

“Apa kau bilang? Berani sekali!”

“Apa berita di media juga ulahmu? Bagaimana bisa kau tiba-tiba menikah dengan Arash?” Kini giliran Haka yang terkekeh. “Arash pasti akan marah besar jika dia tahu, kau hanya memanfaatkannya.”

“Aku tidak peduli itu,” sahut sang wanita. Lalu menyeringai.

“Wanita sialan! Kau akan menyesal, Derana!” kata lelaki itu dengan suara rendah, giginya menggertak menahan ancaman yang jelas.

Derana merasakan jantungnya semakin berdebar kencang. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang, meski ancaman itu jelas terpancar dari mata Haka membuatnya sulit bernapas.

“Lakukan saja! Aku tidak takut!” jawabnya dengan suara sedikit bergetar.

Pada saat itu, Derana ingin melenggang pergi, namun langkahnya terhenti ketika Haka tiba-tiba menghalangi jalannya. Menatapnya penuh ketegasan yang tak terbantahkan.

Membuat Derana hanya bisa membeku di sana, merasakan hatinya yang berdebar kencang. Ia tahu bahwa Haka tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Dengan berat hati, ia tetap berdiri di tempatnya, menatap Haka dengan sama intensnya. Seperti tatapan nyalang yang lelaki itu berikan padanya.

Dengan satu langkah kaki, Haka mendekati Derana. “Kau pikir kau bisa lolos begitu saja, Derana? Kau salah besar. Akan ku pastikan kau menderita lebih dari yang pernah kau bayangkan.”

Derana mundur selangkah, merasakan dinding dingin di belakangnya. Ia tahu bahwa ancaman Haka bukanlah omong kosong belaka.

“Aku tidak takut itu,” katanya, meskipun suaranya tidak sekuat yang ia harapkan.

Namun, sebelum Derana sempat bereaksi, Haka meraih lengannya dengan kasar dan menyeretnya keluar dari restoran.

“Agh!” Sehingga Derana terkejut.

Orang-orang di sekitar mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing untuk memperhatikan apa yang terjadi. Meskipun Derana mencoba melawan, tetapi cengkeraman Haka terlalu kuat untuk perempuan sepertinya

“Lepaskan!”

Tanpa peduli, Haka tetap menyeretnya menjauhi keramaian. Derana merasa panik, tetapi ia tahu bahwa berteriak atau melawan hanya akan membuat situasinya semakin buruk. Haka tetap menggenggam tangannya dengan erat, membawanya melewati tangga sempit

Hingga akhirnya, mereka tiba di atap rooftop yang tinggi, bahkan sepi jauh dari lalu lalang. Haka melepaskan cengkeramannya dan mendorong Derana ke dinding. “Kau pikir setelah kau mengkhianatiku, kau bisa lolos begitu saja?”

“Aku akan memastikan kau membayar untuk ini.” imbuhnya dengan suara yang penuh kemarahan.

Derana menatap Haka dengan mata penuh ketakutan, tetapi ia tahu bahwa ia harus tetap kuat.

“Aku tidak takut padamu! Karena sekarang, aku punya kendali lebih besar,” Derana terkekeh dan berkata dengan nada sarkastik.

Haka membalasnya dengan tersenyum sinis “Kendali? Memangnya kau tahu apa tentang kendali. Menjaga harta ayahmu saja kau tidak becus!”

“Aku akan memastikan kau menyesal telah mengkhianatiku.”

“Kau pikir aku akan terus menjadi wanita lemah yang bisa kau manipulasi?”

“Kau salah besar, Haka! Aku telah melihat kebenaran. Tidak ada lagi penjelasan yang bisa menghapus rasa sakit yang kau berikan. Ini adalah akhir dari permainan kau dan wanita yang kau banggakan itu."

Setelah mengatakan hal itu, Derana tetap mengusahakan agar terlihat tenang.

“Kau bisa mencoba, tapi aku tidak akan membiarkanmu menang.”

Haka mengangkat tangannya, siap untuk memukul. Namun, dengan sigapnya Derana menepis dan langsung menghempasnya. Membuat Haka mengernyit heran dengan perubahan Derana yang ia lihat.

“Berani kau menyentuhku lagi, Haka!”

“Kau akan menyesal telah mengkhianatiku,” kata Haka dengan nada berbalik mengancam tak terima. Derana menatap Haka dengan mata yang penuh ketakutan, tetapi ia tahu bahwa ia harus tetap kuat.

“Kita lihat saja nanti. Ingat, Derana, aku selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang kuinginkan.” Haka tersenyum sinis sebelum berbalik dan meninggalkan Derana sendirian dengan perasaan takut dan bingung.

Derana menghela napas lega setelah Haka benar-benar tak terlihat lagi. Wanita itu baru saja menerima ancaman yang membuat darahnya berdesir. Di balik senyumnya yang tenang, hatinya berdebar kencang. Ia tahu, ancaman itu bukan sekadar gertakan. Haka, dengan tatapan dinginnya, telah menanamkan rasa takut yang mendalam di hatinya. Namun, Derana tidak akan menyerah begitu saja. Ia menguatkan diri, mengingatkan dirinya bahwa ia lebih kuat dari yang terlihat. Dengan tekad, ia bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.

Wanita itu berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap ketinggian yang membuatnya nanar. Kini kakinya terasa lemas, dan tangannya gemetar saat ia mencoba mengendalikan rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya.

Pemandangan kota yang biasanya menenangkan, kini berubah menjadi lautan kekhawatiran. Derana kembali menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.

“Aku bisa melewati ini,” bisiknya pada diri sendiri, meskipun suaranya terdengar goyah.

Angin yang berhembus, seolah membuatnya merasakan kekuatan baru yang mengalir dalam tubuhnya.

Namun, bayangan Haka dan kata-katanya yang penuh amarah terus menghantui pikirannya, membuatnya merasa semakin kecil dan tak berdaya di hadapan ketinggian yang menakutkan

Pengkhianatan Haka masih terasa segar, dan dia merasa sulit untuk mempercayai siapa pun.

“Bagaimana jika aku salah lagi?” pikirnya.

Derana menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Ia juga tahu bahwa untuk bangkit, ia harus menghadapi ketakutannya dan menerima perubahan dalam dirinya.

“Aku tidak akan membiarkan masa lalu mengendalikan masa depanku,” ucapnya dengan tegas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   49. SIMFONI ABU DAN KEBEBASAN

    Dunia seolah melambat di bawah raungan alarm yang memekakkan telinga. Cahaya lampu kristal di langit-langit aula mansion Adhitama berkedip liar, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas karpet merah. Derana berdiri diam, kakinya berpijak kokoh di atas lantai yang mulai bergetar hebat akibat sistem penghancur diri yang diaktifkan oleh ibunya sendiri.Di hadapannya, Elena Adhitama tidak lagi tampak seperti ratu bisnis yang tak terkalahkan. Dengan pemantik api perak di tangannya, wajah Elena memancarkan kegilaan yang murni—sebuah kehampaan jiwa yang telah menelan segalanya demi angka-angka di atas kertas dan kekuasaan yang fana. Bagi Elena, kehancuran adalah pelukan yang lebih baik daripada kekalahan.“Kenapa, Ibu?” suara Derana mengalun tenang di tengah kekacauan, sebuah kontras yang tajam dengan kepanikan para direktur yang kini berebut lari menuju pintu keluar. “Apakah singgasana ini begitu berarti bagimu hingga kau lebih memilih menjadi abu bersamanya daripada melih

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   48. KEDALAMAN YANG MEMBISU

    Dingin adalah sensasi pertama yang menyapa kesadaran Derana—dingin yang tidak hanya menggigit kulit, tetapi merasuk ke dalam sumsum tulang dan membekukan aliran darahnya. Di bawah permukaan laut yang hitam pekat, suara ledakan kapal nelayan tadi terdengar seperti dentuman tumpul yang jauh, sebuah gema dari dunia atas yang baru saja ia tinggalkan. Cahaya api yang berkobar di permukaan air tampak seperti gumpalan emas yang perlahan memudar, berganti dengan kegelapan abadi yang menawarkan ketenangan sekaligus kematian.Paru-paru Derana mulai berontak. Gelembung udara terakhir yang ia miliki meluncur keluar dari bibirnya, menari-nari menuju permukaan sebelum akhirnya pecah. Ia merasa tubuhnya semakin berat, ditarik oleh gravitasi laut yang tak kenal ampun. Namun, tepat saat pandangannya mulai mengabur dan kesadarannya nyaris terputus, sebuah cengkeraman kuat melingkari pinggangnya.Seseorang dengan perlengkapan selam lengkap sedang membawanya bergerak menjauh dari zona ledakan, menyelinap

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   47. TOPENG YANG RETAK

    Cahaya fajar di ufuk timur merayap lambat, mewarnai langit dengan semburat jingga yang tampak seperti luka yang baru mengering. Di atas dek kapal nelayan yang berguncang pelan mengikuti ritme ombak, Derana merasa waktu seolah membeku. Bisikan terakhir Arash yang sekarat masih terngiang di telinganya, berputar-putar seperti gema di dalam gua yang gelap. “Jangan percayai dia... dia bukan saudara kembarku.”Derana menatap punggung pria yang berdiri kokoh di kemudi kapal. Pria yang selama beberapa jam terakhir ia anggap sebagai Julian sesungguhnya, sang penyelamat sekaligus aliansi terakhirnya. Namun sekarang, setiap detail pada pria itu tampak mencurigakan. Bagaimana cara ia bergerak, bagaimana ia tidak memiliki luka sedikit pun setelah ledakan gudang, dan yang paling mematikan—tato kecil di belakang lehernya yang menyerupai simbol ular yang menggigit ekornya sendiri. Simbol yang pernah ia lihat dalam dokumen hitam milik Haka sebagai tanda pengenal organisasi tentara bayaran elit, The Si

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   46. PERMAINAN DI BALIK TIRAI

    Dinding lorong fasilitas medis yang putih bersih itu kini tampak seperti jeruji penjara yang dingin dan steril di mata Derana. Setiap langkah kakinya yang pelan di atas lantai vinil terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di telinganya. Di balik pintu kayu yang baru saja ia lewati, ia mendengar suara Guntur—pria yang ia anggap sebagai pelindung terakhirnya—sedang menyerahkan nyawanya kepada sang ibu, Elena, lewat seuntai kabel telepon satelit.Darah Derana seolah mendidih, namun ia tidak membiarkan amarah itu meledak di permukaan. Ia menarik napas panjang, memaksa paru-parunya untuk menghirup aroma antiseptik yang menyesakkan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Selama ini ia berpikir bahwa Julian Asli dan Julian Bayangan adalah pemain utama, namun kenyataannya, mereka semua hanyalah karakter dalam naskah horor yang ditulis oleh ibunya sendiri.Satu tahun. 365 hari.Derana menyadari bahwa seluruh pernikahannya, kontraknya, ledakan

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   45. PERMATA DI BALIK RERUNTUHAN

    Dunia tidak berakhir dengan dentuman yang megah, bagi Derana, akhir dunia terasa seperti kesunyian yang mencekik, sebuah kekosongan absolut di mana suara napasnya sendiri pun terdengar seperti teriakan yang asing. Ledakan granat Haka di dalam gudang tua itu tidak hanya meruntuhkan struktur kayu yang melapuk, tetapi juga merobek sisa-sisa kemanusiaan yang masih mencoba bertahan di sudut hati Derana.Debu tebal, panas yang menyengat, dan aroma sulfur yang menyumbat tenggorokan adalah hal pertama yang ia sadari saat kesadarannya kembali perlahan. Derana merasa tubuhnya tertimbun sesuatu yang berat namun hangat. Saat ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat bukanlah langit malam, melainkan punggung lebar Julian yang melindungi tubuhnya. Pria itu meringkuk di atasnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng hidup dari runtuhan beton dan serpihan kayu yang berterbangan.“Julian...” suara Derana hanya berupa bisikan parau yang hilang ditelan debu.Pria itu bergerak sedikit, mengerang te

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   44. PERJAMUAN DI AMBANG KEGELAPAN

    Malam di dermaga lama tidak pernah benar-benar sunyi—ada simfoni kematian yang dimainkan oleh deru ombak yang menghantam tiang-tiang pancang beton yang mulai keropos, serta siulan angin laut yang membawa aroma garam bercampur karat logam dan minyak solar yang tumpah. Derana berdiri di ujung dermaga, siluetnya tampak tajam di bawah siraman cahaya yang tampak pucat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak teratur, sebuah genderang perang yang berdenyut di balik dadanya yang sesak. Di tangan kanannya, ia mencengkeram tas kecil yang berisi dokumen-dokumen yang ia ambil dari brankas rahasia ayahnya, sementara tangan kirinya tak lepas dari saku coat wol panjangnya, menyentuh permukaan dingin pistol yang kini terasa seperti bagian dari anatomi tubuhnya sendiri. Derana bukan lagi wanita yang takut pada kegelapan—ia adalah kegelapan itu sendiri. “Kau datang tepat waktu,” suara itu muncul dari balik tumpukan kontainer karatan di sisi kiri dermaga. Suara yang seharusnya familiar, namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status