Beranda / Rumah Tangga / Kontrak Pernikahan 365 Hari / 25. Percakapan yang Mengubah Segalanya

Share

25. Percakapan yang Mengubah Segalanya

last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-14 12:26:21

Derana menatap Arash dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku tidak percaya kamu bisa berpikir seperti itu tentang aku,” katanya dengan suara bergetar.

Tanpa menunggu jawaban, Derana berbalik badan, bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Arash yang terdiam.

Lelaki itu berdiri terpaku, menatap kekosongan ruang. Kesadaran menyergapnya, perasaan menyesal segera menguasai.

“Apa yang telah aku lakukan?” gumamnya pada diri sendiri.

Keheningan yang menyelimuti ruangan itu hancur oleh helaan napas panj
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   49. SIMFONI ABU DAN KEBEBASAN

    Dunia seolah melambat di bawah raungan alarm yang memekakkan telinga. Cahaya lampu kristal di langit-langit aula mansion Adhitama berkedip liar, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas karpet merah. Derana berdiri diam, kakinya berpijak kokoh di atas lantai yang mulai bergetar hebat akibat sistem penghancur diri yang diaktifkan oleh ibunya sendiri.Di hadapannya, Elena Adhitama tidak lagi tampak seperti ratu bisnis yang tak terkalahkan. Dengan pemantik api perak di tangannya, wajah Elena memancarkan kegilaan yang murni—sebuah kehampaan jiwa yang telah menelan segalanya demi angka-angka di atas kertas dan kekuasaan yang fana. Bagi Elena, kehancuran adalah pelukan yang lebih baik daripada kekalahan.“Kenapa, Ibu?” suara Derana mengalun tenang di tengah kekacauan, sebuah kontras yang tajam dengan kepanikan para direktur yang kini berebut lari menuju pintu keluar. “Apakah singgasana ini begitu berarti bagimu hingga kau lebih memilih menjadi abu bersamanya daripada melih

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   48. KEDALAMAN YANG MEMBISU

    Dingin adalah sensasi pertama yang menyapa kesadaran Derana—dingin yang tidak hanya menggigit kulit, tetapi merasuk ke dalam sumsum tulang dan membekukan aliran darahnya. Di bawah permukaan laut yang hitam pekat, suara ledakan kapal nelayan tadi terdengar seperti dentuman tumpul yang jauh, sebuah gema dari dunia atas yang baru saja ia tinggalkan. Cahaya api yang berkobar di permukaan air tampak seperti gumpalan emas yang perlahan memudar, berganti dengan kegelapan abadi yang menawarkan ketenangan sekaligus kematian.Paru-paru Derana mulai berontak. Gelembung udara terakhir yang ia miliki meluncur keluar dari bibirnya, menari-nari menuju permukaan sebelum akhirnya pecah. Ia merasa tubuhnya semakin berat, ditarik oleh gravitasi laut yang tak kenal ampun. Namun, tepat saat pandangannya mulai mengabur dan kesadarannya nyaris terputus, sebuah cengkeraman kuat melingkari pinggangnya.Seseorang dengan perlengkapan selam lengkap sedang membawanya bergerak menjauh dari zona ledakan, menyelinap

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   47. TOPENG YANG RETAK

    Cahaya fajar di ufuk timur merayap lambat, mewarnai langit dengan semburat jingga yang tampak seperti luka yang baru mengering. Di atas dek kapal nelayan yang berguncang pelan mengikuti ritme ombak, Derana merasa waktu seolah membeku. Bisikan terakhir Arash yang sekarat masih terngiang di telinganya, berputar-putar seperti gema di dalam gua yang gelap. “Jangan percayai dia... dia bukan saudara kembarku.”Derana menatap punggung pria yang berdiri kokoh di kemudi kapal. Pria yang selama beberapa jam terakhir ia anggap sebagai Julian sesungguhnya, sang penyelamat sekaligus aliansi terakhirnya. Namun sekarang, setiap detail pada pria itu tampak mencurigakan. Bagaimana cara ia bergerak, bagaimana ia tidak memiliki luka sedikit pun setelah ledakan gudang, dan yang paling mematikan—tato kecil di belakang lehernya yang menyerupai simbol ular yang menggigit ekornya sendiri. Simbol yang pernah ia lihat dalam dokumen hitam milik Haka sebagai tanda pengenal organisasi tentara bayaran elit, The Si

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   46. PERMAINAN DI BALIK TIRAI

    Dinding lorong fasilitas medis yang putih bersih itu kini tampak seperti jeruji penjara yang dingin dan steril di mata Derana. Setiap langkah kakinya yang pelan di atas lantai vinil terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di telinganya. Di balik pintu kayu yang baru saja ia lewati, ia mendengar suara Guntur—pria yang ia anggap sebagai pelindung terakhirnya—sedang menyerahkan nyawanya kepada sang ibu, Elena, lewat seuntai kabel telepon satelit.Darah Derana seolah mendidih, namun ia tidak membiarkan amarah itu meledak di permukaan. Ia menarik napas panjang, memaksa paru-parunya untuk menghirup aroma antiseptik yang menyesakkan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Selama ini ia berpikir bahwa Julian Asli dan Julian Bayangan adalah pemain utama, namun kenyataannya, mereka semua hanyalah karakter dalam naskah horor yang ditulis oleh ibunya sendiri.Satu tahun. 365 hari.Derana menyadari bahwa seluruh pernikahannya, kontraknya, ledakan

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   45. PERMATA DI BALIK RERUNTUHAN

    Dunia tidak berakhir dengan dentuman yang megah, bagi Derana, akhir dunia terasa seperti kesunyian yang mencekik, sebuah kekosongan absolut di mana suara napasnya sendiri pun terdengar seperti teriakan yang asing. Ledakan granat Haka di dalam gudang tua itu tidak hanya meruntuhkan struktur kayu yang melapuk, tetapi juga merobek sisa-sisa kemanusiaan yang masih mencoba bertahan di sudut hati Derana.Debu tebal, panas yang menyengat, dan aroma sulfur yang menyumbat tenggorokan adalah hal pertama yang ia sadari saat kesadarannya kembali perlahan. Derana merasa tubuhnya tertimbun sesuatu yang berat namun hangat. Saat ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat bukanlah langit malam, melainkan punggung lebar Julian yang melindungi tubuhnya. Pria itu meringkuk di atasnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng hidup dari runtuhan beton dan serpihan kayu yang berterbangan.“Julian...” suara Derana hanya berupa bisikan parau yang hilang ditelan debu.Pria itu bergerak sedikit, mengerang te

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   44. PERJAMUAN DI AMBANG KEGELAPAN

    Malam di dermaga lama tidak pernah benar-benar sunyi—ada simfoni kematian yang dimainkan oleh deru ombak yang menghantam tiang-tiang pancang beton yang mulai keropos, serta siulan angin laut yang membawa aroma garam bercampur karat logam dan minyak solar yang tumpah. Derana berdiri di ujung dermaga, siluetnya tampak tajam di bawah siraman cahaya yang tampak pucat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak teratur, sebuah genderang perang yang berdenyut di balik dadanya yang sesak. Di tangan kanannya, ia mencengkeram tas kecil yang berisi dokumen-dokumen yang ia ambil dari brankas rahasia ayahnya, sementara tangan kirinya tak lepas dari saku coat wol panjangnya, menyentuh permukaan dingin pistol yang kini terasa seperti bagian dari anatomi tubuhnya sendiri. Derana bukan lagi wanita yang takut pada kegelapan—ia adalah kegelapan itu sendiri. “Kau datang tepat waktu,” suara itu muncul dari balik tumpukan kontainer karatan di sisi kiri dermaga. Suara yang seharusnya familiar, namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status