LOGINAsri tak pernah menyangka pernikahannya akan menjadi neraka. Dicap pembawa sial, dihina, dan dijadikan babu oleh keluarga suaminya sendiri, ia terperangkap dalam hubungan toksik yang menggerogoti jiwanya. Luka batin itu dipendam Asri dalam diam, di bawah atap yang sama dengan para pencaci. Namun, di titik terendahnya, takdir berbalik. Sebuah peristiwa tak terduga mengubah segalanya, mengangkat Asri ke puncak kesuksesan yang membuat semua orang terkesima. Mereka yang dulu mencibir, kini merapat penuh harap. Tapi Asri yang lama telah mati. Ia bangkit, tangguh, dan siap membalas dendam setimpal.
View MoreKnox had two choices in front of him.
Option one: swear to his ancestors that Aaron was cheating.
Option two: accept defeat with some level of dignity.
He wouldn’t outright admit it, not here, not now, but he was in deep shit.
He watched Aaron, his supposed best buddy and roommate, in the most grandiose fashion, flick his ginger curls out of his face, slap his cards down like the second coming of Christ, and flip them
It was a fucking royal flush.
“Fucking hell,” Knox muttered.
The four men around the table burst into howling, unattractive laughter, filling the smoke-clogged room with testosterone and noise. Knox’s right leg bounced under the table. He was analysing, recalculating, and still coming up empty.
Sweat trickled down his temple. Every pair of eyes in the room was on him, and every one of them gleamed with cruel amusement.
He’d been set up.
There was no way out of whatever sick, twisted dare Aaron was about to throw his way.
He was thoroughly screwed.
“Give it up, man,” Aaron smirked. “You lost. Where’s that tough, confident guy now?”
Knox groaned, leaned back, and covered his face with both hands. A silent scream escaped into his palms. How the hell had he gotten himself into this?
Oh, right.
Alcohol. Cockiness. Ego the size of a cargo ship.
Now he was trapped—at Aaron’s mercy. And everyone knew Aaron was an addict when it came to dares. He didn’t just win. He obliterated you with it.
Knox swore he would’ve preferred a shallow grave at sea over this poker match.
“Now what?” he muttered, dropping his hands and levelling a dead-eyed stare at Aaron.
Aaron was practically vibrating with glee. “You sure you won’t chicken out? Be honest. You’re scared.”
Knox shot forward in his chair, pointing a finger at his friend’s smug face. “Come on! Bring it. I dare you to dare me.”
The room went feral. Jared, Oscar, and Wyatt, drunk and sex-deprived, started banging on the walls in rhythm, like a drunken drumline.
Aaron raised his phone and pushed it across the table toward Knox.
“Sign up.”
Knox narrowed his eyes. “A dating app? That’s it?”
Aaron’s grin widened like the Cheshire Cat on crack. He tapped into his gallery. Photos of women appeared. Knox frowned. They looked oddly familiar.
“This is what you’re gonna do. You’re gonna pretend to be a girl… and catfish Victor.”
Knox recoiled. “That’s insane.”
He bit back the immediate, “fuck no,” that almost shot out of his mouth. Of course, it was Victor.
Of course.
Aaron played dirty. Every. Damn. Time.
“No, mate,” Aaron grinned. “You’re doing this. No backing out. Sign up.”
“Why Victor? Of all the goddamn men on this floating death trap?”
“Because everyone knows you two can’t stand each other. That makes it even better. And let’s be honest, after several months at sea, watching Wallace think he’s about to get some? That’s the kind of entertainment money can’t buy.”
“You’re a sick fuck,” Knox spat.
That was the trigger.
The room erupted in song.
“Knox and Wallace sittin’ in a tree, K-I-S-S-I-N-G!”
“Shut the fuck up!” Knox roared, slamming his hands on the table. The laughter got worse.
He glared down at the phone. He didn’t have to do this. No one could force him. But he also knew the way these assholes operated. There’d be no living this down if he didn’t go through with it.
“Be a man,” Wyatt slurred. “Punk out and you’ll never hear the end of it.”
“You’re asking me to pretend to be a woman… on a shady app… to seduce Victor Wallace into thinking I’m obsessed with his dick. That’s what we’re doing now?”
“Yes,” Aaron replied, calm and smug. “And that’s exactly why it’s your personalised dare.”
Knox looked around for help. All he got were evil grins. He was cornered, back against the metaphorical wall. His fate had been sealed the moment he accepted the bet.
“Fuck it,” he growled.
He grabbed the phone and started typing. He picked the most generic female name he could think of—Sandra. Blonde hair, curvy, hot. A catfish dream.
He must’ve committed mutiny in his past life.
“How the hell am I supposed to find Wallace on here?” he asked.
Aaron took a swig from his beer and grinned.
“Mate, you’re 500 miles out at sea. Out of the ten guys close enough to ping, Wallace’ll be one of them.”
Knox sighed and swiped.
First guy, pass.
Second guy, pass.
Third guy still nope.
Fourth guy...
Oh, fuck.
There he was.
Victor Wallace.
Clean-shaven, hard-jawed, smiling like he’d just gotten laid and loved every second of it. He was in some foreign-looking city. Muscular. Smug. Hotter than hell.
Knox blinked. He must’ve stared too long, because Aaron leaned over and whispered,
“Swipe.”
Knox swiped. Everyone held their breath.
Match!
The room exploded.
The men jumped, hooted, banged the table like they’d just won a championship.
Knox, on the other hand, felt like he had flatlined. No pulse. No oxygen. No hope.
Aaron tapped his bottle to Knox’s lips and grinned. “Good job.”
Then he leaned in close and whispered the words that made Knox want to disintegrate.
“Now get him to think you want to suck his dick.”
“Rain!” teriak Asri dan Ello.Di dalam gubuk tersebut, Rain tengah duduk di samping tubuh terbaring seorang lelaki dewasa.Lalat-lalat tampak berkerumun di ruangan itu. Ya, Asri bisa melihatnya dengan jelas. Lalat-lalat hijau itu tengah mengerubungi tubuh lelaki itu.Menahan mual, Asri dan Ello masuk ke dalam gubuk itu untuk menghampiri Rain.“Rain, kamu sedang apa di sini? Siapa dia?” tanya Ello.Asri memeluk Rain, menciumi wajahnya dengan tangisan haru.Di tempat itu pula, terdapat banyak kantong kresek berisi makanan dan obat. Ada beberapa di antaranya makanan itu telah dikerumuni belatung. Membuat Asri teringat akan obrolannya dengan pemilik warung tadi. Apakah mungkin anak yang dimaksud adalah Rain?Rain menoleh ke arah lelaki itu.“Itu Papa!” jawab Rain.Asri mengernyitkan dahinya, lantas Ello memastikan siapa lelaki yang dipanggil papa oleh Rain tersebut.Tubuh Ello seketika lemas, melihat wajah yang cukup ia kenali.“Sayang, dia Dirga!” ucap Ello.Asri terkejut, lantas ia pun
“Jangan sedih, kita pasti bisa menemukannya. Gunakan nalurimu, karena kamu Ibunya,” imbuh Ello.Setelah dokter mengizinkan pulang, Ello memulai pencarian Rain. Walaupun Asri telah melarangnya, dan menyuruhnya untuk istirahat. Namun, Ello bersikeras ingin mencari anak itu hingga berhasil ditemukan.“Rain, di mana kamu, Nak? Mama kangen sama kamu,” gumam Asri.Keluarganya pun berpencar mencari keberadaan Rain. Mereka berkelompok menjadi beberapa bagian, dan akan saling menghubungi jika ada kemungkinan Rain ditemukan.“Semua ini gara-gara Reno. Aku tidak akan pernah memaafkannya,” ujar Asri.“Sabar, Sayang. Kita pasti bisa menemukannya,” sahut Ello.Ello mengusap bahu Asri, mereka terus berjalan menyusuri jalanan yang cukup sepi. Sengaja mereka tidak membawa kendaraan, mereka ingin menyisir tempat tersebut tanpa terlewati sedikit pun.“Sudah jauh kita berjalan, tapi anak kita belum ketemu, Mas. Aku khawatir, selama ini dia makan apa, tidur di mana, dan … apakah dia ketakutan dan kedingin
Gerakan tangan Asri berhenti dengan tiba-tiba . Terdiam dengan tatapan tak percaya. Terasa mimpi. Namun, ini nyata.Matanya menatap tubuh Ello, lalu beralih menatap petugas pemandi jenazah yang tengah sibuk membersihkan jenazah Ello.“Pak, berhenti!” pinta Asri.Petugas pemandi jenazah itu berhenti, menatap heran ke arah Asri.“Kenapa, Bu?” tanyanya.“Suamiku masih hidup, detak jantungnya masih terasa. Tolong hentikan, bawa kembali ke ruangan tadi,” jawab Asri.Kedua petugas rumah sakit itu saling melempar pandang.“Saya yakin, Pak. Coba sentuh dada suami saya. Saya … merasakan jantungnya masih berdetak. Demi Tuhan, saya tidak bohong,” lanjut Asri.Salah satu petugas yang memandikan Ello pun menuruti permintaan Asri. Menyentuh tubuh Ello di bagian dada.Matanya terbelalak tak percaya. Lantas melirik ke arah temannya, mengangguk kecil sebagai isyarat bahwa perkataan Asri memang benar adanya.“Benar kan, Pak?” tanya Asri.“Ya, sepertinya suami Ibu mengalami mati suri. Sebaiknya kita baw
“Mas!” gumam Asri.Semua yang ada di ruangan itu menoleh. Asri menatap satu persatu keluarga Ello yang tengah menatapnya dengan derai air mata.“Apa yang terjadi?” tanya Asri dengan bibir gemetar.Tubuhnya mematung, degup jantung yang tiba-tiba bertalu hebat. Kemudian lemas saat Erina berbicara dengan suara yang cukup lantang.“Ke mana saja, kamu? Puas kamu melihat anakku terbujur kaku seperti ini?!” sentak Erina.Deg!Jantung Asri serasa berhenti berdetak detik itu juga. Begitu juga dengan Gala, wajahnya memucat saat mendengar kenyataan, bahwa kakaknya telah tiada.“Mas Ello meninggal?” tanya Asri.“Memangnya apa lagi? Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkan anakku? Lihat dia, dia pergi meninggalkanku, meninggalkan kami semua. Ini semua gara-gara kamu!” Erina menunjuk-nunjuk ke wajah Asri.“Mami, Mami, tenang dulu, Mam. Jangan emosi, kita berikan kesempatan dulu buat Mbak Asri untuk melihat jenazah Mas Ello untuk yang terakhir. Mami duduk dulu!” Nabila membawa Erina ke sofa.Asri
Pyar!Gelas berisi air minum tiba-tiba terlepas dari tangan Asri, terjatuh ke atas lantai, menimbulkan suara nyaring, serta serpihan gelas berserakan nyaris mengenai kaki Rain.“Ya ampun, Bu Asri!”“Mama kenapa?” tanya Rain.Jantung Asri tiba-tiba berdetak tak karuan. Perasaan tidak enak, napas mem
Bendera kuning berdiri miring di atas pagar. Suasana duka menyelimuti seluruh atmosfer di tempat itu.Raungan, tangisan, menghiasi ruangan besar di dalam rumah. Di mana orang-orang tengah duduk mengelilingi tubuh kecil tak bernyawa berbalut kain kafan.Lantunan ayat suci begitu menggema.“Sayang, k
“Apa kau masih mengingatku?” tanya seorang wanita, berdiri dengan sebuah kruk di sebelah tangannya.Sebelah kakinya terlilit kain perban elastis. Wanita itu menatap lurus ke arah Ello.Ello berdiri mengamati wanita itu untuk beberapa menit.“Kenapa? Aku rasa … tidak mungkin kamu lupa denganku, Ello
“Panas sekali, kasihan sekali kamu, Nak. Yang sabar, ya! Mama akan berusaha mencari kontrakan buat kita tinggal.”Terik panas matahari begitu menyengat. Terasa membakar kulit hingga menimbulkan sensasi gerah pada tubuh, terasa tak nyaman.Asri yang baru saja turun dari angkutan umum, berjalan menyu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews