LOGINPagi datang seperti seorang pencuri yang diam-diam merampas malam. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela, sementara angin pagi menyentuh wajah dengan lembut.
Alexia menggeliat, kesadarannya perlahan mulai kembali. Dengan kedua mata yang masih terpejam rapat, Alexia menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Hari ini seharusnya jadwal liburnya di kantor. Itu berarti ia punya waktu seharian untuk berolahraga, berlari, membuat sarapan, melakukan penelitian lebih lanjut tentang Logan Wilson dan mungkin mencari seorang pria untuk menemaninya bersenang-senang. Alexia tersenyum lebar. Bersenang-senang dengan seorang pria? Ah! Baginya yang entah sudah berapa lama hidup tanpa ada hubungan kekasih, membayangkannya sudah cukup membuat Alexia berbunga-bunga. Dalam otaknya, Alexia membayangkan pria yang menemaninya berpostur tubuh kekar dengan dada bidang dan perut sixpack, dengan gambaran wajah mirip Shawn Mendes. Oh sungguh indahnya. Jemari tangan Alexia menari, membayangkan ia menyentuh perut dan dada pria itu. Tapi tunggu! Perut? Dada? Alexia mengerutkan kening. Tangannya meraba sekali lagi. Ini... Alexia memberanikan diri membuka mata. Dan apa yang ia lihat pertama kali membuatnya langsung berteriak. Dalam sekejap, Alexia sudah melompat dari ranjang. Tubuhnya gemetar seperti daun yang di terpa angin. "Apaan ini?! Kenapa kau membiarkanku melakukan semua itu?!" Logan hanya mengangkat sebelah alis. Rambutnya berantakan, membuat penampilannya jauh lebih santai di banding biasanya. Satu tangannya menopang kepala, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil. "Kenapa?" tanyanya santai. "Kupikir kau sedang berlatih bagaimana caranya bersikap seperti seorang kekasih." Wajah Alexia langsung terasa panas. Ia sangat yakin kalau pipinya memerah sekarang. Semoga Logan mengira itu karena marah. Bukan karena malu. "Aku tidak bermaksud—" Logan tertawa. Untuk pertama kalinya Alexia melihat pria yang biasanya berwajah dingin itu tertawa. "Kenapa wajahmu begitu tegang, Lexia? Kau hanya menyentuh perut dan dadaku yang bahkan masih terbalut kaos. Apa kau sama sekali tidak pernah menyentuh seorang pria?" Alexia menatap Logan penuh amarah. "Kau sedang menghinaku, hah? Apa kau menganggap aku ini wanita tidak laku?" Logan mengangkat bahunya santai, sama sekali tidak merasa bersalah. "Aku tidak bilang begitu, kau sendiri yang memperjelas." Alexia menggeram. Pria ini benar-benar menyebalkan dan menguras kesabaran. Alexia buru-buru menarik napas, mencoba menenangkan dirinya. "Terserah apapun katamu, setelah ini aku mau pulang. Aku harus membersihkan tubuhku." "Pulang?" Nada suara Logan berubah. "Kalau begitu, sebelum kau pergi, ada beberapa hal yang harus kita perjelas." Sikap pria itu mendadak serius. Alexia langsung waspada. Logan menghilang melewati sebuah pintu. Sekitar satu menit kemudian, dia kembali membawa setumpuk kertas. "Ketika kau tidur, aku meminta asistenku menyiapkan ini." Logan menyerahkannya pada Alexia. "Apa ini?" "Kontrak." Alexia menerima dokumen itu. Ia mulai membolak-balik halamannya. Sampai satu halaman membuat tangannya berhenti. "Peraturan?" "Ya." Logan bersandar pada meja di dekatnya sambil melipat kedua tangan di dada. Terlalu santai untuk seseorang yang baru saja menyerahkan kontrak berisi aturan hidup Alexia. "Kalau kita ingin melewati semua ini dengan aman, kau harus mematuhinya." Alexia kembali membaca daftar peraturan itu satu demi satu. Dan semakin ia baca, semakin wanita itu ingin tertawa. "Aku harus tinggal bersamamu?" Alexia mendongak. "Memutuskan hubungan dengan pria dan memainkan peranku dengan sempurna?" Alexia terkekeh tidak percaya. "Ini apa? Perbudakan?" Namun ketika menatap Logan kembali, tidak ada sedikit pun senyum di wajahnya. "Kalau kau ingin kita bekerja sama untuk menemukan adikmu, lakukan semua itu." Nada suara Logan begitu tegas. Kemudian pria itu melirik jam tangannya. "Setelah ini aku akan memesankan taksi untuk mengantarmu pulang." Logan berjalan melewati Alexia begitu saja. "Besok pagi asistenku akan datang mengambil barang-barangmu." Logan berhenti sebentar di depan pintu. "Sampai jumpa besok." * * * Mobil yang di kendarai sopir pribadi Logan Wilson akhirnya berhenti tepat di depan rumah Alexia. Seharusnya Alexia merasa bahagia, seharusnya Alexia merasa sedikit lega karena setelah melewati harinya yang tidak mudah, ia akhirnya kembali melihat rumahnya. Namun entah kenapa, rumah yang selama ini Alexia kenal terasa berbeda. Tidak lagi hangat. Tidak lagi nyaman. Sesuatu dalam dirinya sudah terasa berubah. Ketenangan yang dulu selalu ia rasakan di tempat ini menghilang, di gantikan oleh kesadaran bahwa ia tidak bisa tinggal di sini lagi. Di saat sedang melamun, ponsel di saku celana Alexia tiba-tiba bergetar. Alexia melihat notifikasi pesan masuk dari nomor tidak di kenal. Saat jempol tangan Alexia mengklik pesan itu, sebuah foto muncul di layar dan seketika lutut Alexia terasa lemas. Ia hampir kehilangan keseimbangan dan buru-buru berpegangan pada pagar rumah yang ada di dekatnya. Itu foto Alicia. Adiknya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan penuh luka. Seseorang mengarahkan senjata ke kepalanya. Napas Alexia tercekat di tenggorokan dan tangannya gemetar hebat. Kemudian sebuah pesan muncul tepat di bawah foto itu. [Mainkan peranmu dengan sempurna kalau kau ingin melihat adikmu lagi.] Alexia seketika membeku. Untuk beberapa detik, dunia seakan berhenti bergerak. Jadi bukan hanya Logan yang menginginkan dirinya menjalankan sandiwara ini. Ternyata ada seseorang yang diam-diam sedang mengawasi dirinya dan juga Logan. Dan mereka tahu tentang Alicia. * * * Matahari sudah meninggi ketika Alexia selesai bersiap. Wanita itu hanya mengenakan kaus santai, celana jogger dan sepatu sneakers. Rambutnya ia ikat seperti ekor kuda sebelum mengambil koper dan berjalan keluar dari rumah. Sebuah Audi hitam mengkilap sudah menunggu Alexia di depan rumahnya. Seorang pria tinggi kurus berdiri di dekat pintu belakang. Kacamata kecil bertengger rapi di wajahnya. Penampilannya begitu formal hingga Alexia langsung bisa menebak dia seorang sopir pribadi. "Saya datang untuk menjemput Anda atas perintah Tuan Logan Wilson," katanya. Pria itu mengambil koper Alexia sebelum ia sempat menolak. "Saya akan membantu membawa barang Anda." Koper itu langsung dimasukkannya ke bagasi. Tak lama kemudian, mobil mulai bergerak. Meninggalkan kediaman Alexia. Tapi anehnya, ternyata mereka tidak menuju mansion keluarga Wilson. Alexia memilih tidak bertanya karena wajah sopir itu sudah terlihat seperti seseorang yang terganggu oleh keberadaan seluruh manusia di dunia. Jadi Alexia memilih diam. Mungkin takdir akan membawanya ke tempat yang lebih baik. Dan ternyata benar. Mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang jauh lebih menyerupai rumah daripada mansion. Bangunan itu tinggi, tetapi desainnya tidak terasa menyeramkan. Justru tampak seperti rumah yang memang di bangun untuk sebuah keluarga. Alexia masih memperhatikan rumah itu ketika seorang wanita menghampirinya. Dia tinggi dan ramping, rambutnya ditata rapi dalam sanggul serta mengenakan rok pensil biru dongker dan kemeja putih. Senyumnya lebar, terlalu lebar. Dan entah kenapa, sedikit membuat Alexia tidak nyaman. "Halo, Nona Ainsley." Dia mengulurkan tangan. "Saya Madonna. Pengacara pernikahan sekaligus penasihat hukum Anda." Alexia menjabat tangannya. Anehnya, ternyata tangannya terasa begitu lembut untuk seseorang yang penampilannya terlihat seperti sudah bekerja di dunia korporasi sejak lahir. Keduanya berjalan berdampingan memasuki rumah. "Tuan Wilson sudah menjelaskan semuanya kepada saya," katanya. "Jadi Anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Madonna berjalan menuju ke sebuah ruangan. "Sekarang, ikut saya ke ruang ganti." Madonna mengambil sebuah gaun hitam. Sederhana namun elegan. "Ini pakaian yang akan Anda kenakan untuk pengumuman resmi pertunangan Anda dengan Tuan Wilson." Madonna tersenyum tipis. "Oh, dan satu lagi." Wanita itu membuka pintu ruang ganti. "Malam ini juga ada acara Gala." Alexia mengerutkan kening. "Gala?" "Gala untuk orang-orang yang sangat kaya." Alexia menghela napas. Tentu saja. Tak lama kemudian, Alexia sudah di dandani dan di tata benar-benar seperti tunangan seorang Logan Wilson. Ia di paksa masuk ke kehidupan penuh kebohongan hanya demi menemukan dan menyelamatkan adiknya. Alexia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia hampir tidak mengenali wanita di sana. Alexia menarik napas panjang. "Bertahanlah, Lexia." Tangannya mengepal. "Kau harus kuat untuk Alicia." Tiba-tiba pintu terbuka. Logan masuk dengan setelan jas lengkap, pria itu terlihat begitu rapi. Alexia refleks mundur sementara Logan berhenti, tatapannya perlahan tertuju pada Alexia. Untuk sesaat, pria itu hanya diam. Madonna berdehem. Barulah Logan mengalihkan pandangan. "Kita terlambat." Alexia mengernyit. Logan menatap Madonna. "Aku harap dia sudah mempelajari latar cerita yang akan di gunakan." Alexia langsung menoleh kepada mereka berdua. "Latar cerita?" Madonna tampak sedikit panik. "Tidak ada cukup waktu, Tuan Wilson. Anda harus segera pergi." Kemudian Madonna menatap Alexia. "Saya yakin Nona Alexia tahu bagaimana menghadapi interogasi. Bagaimanapun, dia seorang jurnalis." Alisnya terangkat sedikit. "Benar begitu, Nona Alexia?" Alexia langsung mengerti maksudnya. Ia mengangguk. "Benar." Namun ternyata Alexia merasa terlalu cepat menganggap dirinya siap. Gala ini ternyata jauh lebih eksklusif daripada yang ia bayangkan. Ruangan itu di penuhi miliarder kelas atas dari berbagai penjuru dunia. Orang-orang yang selama ini hanya bisa ia impikan untuk di wawancarai sebagai seorang jurnalis. Orang-orang dengan kekayaan yang membuat Alexia bertanya-tanya dari mana sebenarnya semua uang itu berasal. Berbicara dengan mereka sama sekali tidak mudah. Para pria ingin tahu apa pekerjaan Alexia. Sebagian bahkan bertanya apakah Alexia hanya mainan baru Logan yang nantinya akan di berikan begitu saja kepada orang lain. Logan jelas tidak menyukai candaan itu. Dan meskipun semuanya hanya sandiwara, Alexia tidak bisa menahan senyum kecil ketika melihat ekspresinya. Namun para wanita jauh lebih menarik. Mereka mengajukan pertanyaan yang berbeda. "Bagaimana kau bisa mendapatkan pria seperti Logan?" Alexia hampir tersedak. Mendapatkan? Seolah Logan adalah sebuah hadiah. Alexia tidak menggubris segala pertanyaan-pertanyaan itu. Ia memilih menanggapinya dengan senyuman kecil yang sejujurnya ia malas melakukannya jika saja ia sedang tidak bersandiwara mungkin ia akan memilih pergi saja dari sana. Namun, Alexia langsung terdiam dengan seribu pertanyaan di kepalanya saat seorang wanita bertanya. "Kau benar-benar tunangan Tuan Wilson?" "Bukankah semua orang tahu kalau Tuan Wilson hanya menyukai satu wanita sejak dulu dan tidak pernah berubah sama sekali." "Bahkan tidak ada satupun wanita yang berhasil menggantikan wanita itu di hidup Tuan Wilson." * * *Alexia bertanya-tanya dalam hati. Ia seperti tidak percaya. Bukan cemburu atau sejenisnya, ia lebih ke arah penasaran. Rasanya seperti mustahil jika seorang Logan Wilson hanya mengagumi satu wanita saja selama hidupnya.Apa yang bisa di harapkan dari seorang pria yang memiliki segalanya? Mereka cenderung tidak butuh cinta yang tulus. Uang sudah bisa membeli apapun yang mereka inginkan.Salah seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh lima tahunan, menjawab dengan antusias. "Namanya Bianca. Dia bagian dari keluarga Louise. Seorang pewaris utama."Alexia mengernyit.Bianca? Oh, wanita itu ternyata yang mereka maksud."Keluarga mereka sangat berkuasa," lanjut wanita itu. "Bahkan Wakil Presiden kabarnya berada di bawah pengaruh mereka."Alexia menahan napas."Bahkan aku pernah dengar," sahut wanita lain yang sedikit lebih muda, "Keluarga Louise dulu pernah menjadi pesaing keluarga Wilson.”"Tapi sejak Logan mengambil alih, mereka kalah. Sejak saat itu, keluarga Louise terus mencari ca
Pagi datang seperti seorang pencuri yang diam-diam merampas malam. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela, sementara angin pagi menyentuh wajah dengan lembut.Alexia menggeliat, kesadarannya perlahan mulai kembali. Dengan kedua mata yang masih terpejam rapat, Alexia menghirup udara sebanyak yang ia bisa.Hari ini seharusnya jadwal liburnya di kantor. Itu berarti ia punya waktu seharian untuk berolahraga, berlari, membuat sarapan, melakukan penelitian lebih lanjut tentang Logan Wilson dan mungkin mencari seorang pria untuk menemaninya bersenang-senang.Alexia tersenyum lebar.Bersenang-senang dengan seorang pria? Ah! Baginya yang entah sudah berapa lama hidup tanpa ada hubungan kekasih, membayangkannya sudah cukup membuat Alexia berbunga-bunga.Dalam otaknya, Alexia membayangkan pria yang menemaninya berpostur tubuh kekar dengan dada bidang dan perut sixpack, dengan gambaran wajah mirip Shawn Mendes.Oh sungguh indahnya.Jemari tangan Alexia menari, membayangkan ia meny
Sekitar setengah jam lamanya berdebat panjang lebar dengan Logan mengenai mengapa mereka harus tidur bersama dalam satu kamar, akhirnya Logan berhasil membawa, lebih tepatnya memaksa Alexia masuk ke dalam kamarnya. Logan tersenyum puas menatap kekalahan Alexia. "Aktingmu lumayan. Kau tampil cukup baik malam ini. Walaupun, kalau boleh memberi saran, sepertinya kau perlu mengambil kursus teater. Ada bakat terpendam dalam dirimu." Dada Alexia langsung terasa panas. Amarahnya menggelegak sampai ke tulang. Rasanya emosinya mendidih seperti pemanas yang hampir meledak. Alexia menatap Logan tajam. " Tidak usah banyak bicara tidak penting. Kau baru saja menyeretku ke medan perang yang sebenarnya tanpa persetujuanku." Logan dengan santainya mulai melepas jam tangan dan kancing mansetnya. "Tapi kau sudah menyetujuinya kalau kau lupa." Alexia mengangkat sebelah alis. "Dalam waktu sepuluh detik!" protesnya. "Dan sekarang kau malah bertingkah seolah—" Alexia mendadak terdiam. "Seolah
Sepuluh menit kemudian, setelah menerima— oh ralat, "terpaksa menerima" tawaran kerja sama yang konyol dengan Mr.Wilson itu, Alexia masih berada di ruangan yang sama seperti pertama kali dirinya terbangun tadi.Alexia merasa seperti bukan dirinya sendiri, ia seperti sedang bermimpi.Beberapa gadis suruhan Logan sudah memakaikan gaun di tubuh Alexia dan tinggal sedikit menyelesaikan riasannya di wajah Alexia.Setelah itu, kursi yang di duduki Alexia pun di putar menghadap cermin, membuat sang pemilik wajah seketika tercengang. Alexia sampai hampir tersedak air liurnya sendiri.Ya Tuhan, itu bukan aku.Itu bukan Alexia yang biasa ku kenal.Alexia Ainsley yang biasanya lebih sering tampil natural dengan kaos polos di padukan kemeja flanel dan celana jeans sederhana, sekarang tampilannya berbeda drastis.Riasan wajahnya begitu cantik, tetapi tidak sampai menghilangkan ciri-ciri wajah asli Alexia. Blush merah muda memberikan sedikit warna pada pipinya. Eyeliner tipis membingkai matanya, s
Logan Wilson masih terus menatap Alexia dengan tatapan penuh introgasi. Seolah apapun yang Alexia katakan sekarang tidak mampu menggoyahkan benteng pertahanannya untuk buru-buru mempercayainya.Sementara Alexia, seperti banyak berita yang beredar mengenai pria di hadapannya ini, Alexia sangat yakin bahwa dalam waktu dekat ia akan segera kehilangan pekerjaannya.Pria dingin itu sangat angkuh dan tidak tersentuh. Ia pasti tidak akan menoleransi siapapun yang berani mengusik hidupnya.Alexia menghela napas panjang, membuang semua wajah sandiwaranya karena rasanya percuma bersandiwara dengan seorang Logan Wilson. Alexia bahkan sudah pasrah jika saja Logan akan memenjarakannya setelah ini.Apalagi setelah mengetahui bahwa pria ini mengenal adiknya, Alicia Ainsley, yang sudah menghilang tujuh tahun lamanya.Alexia sudah sampai di ruangan ini, berhadapan langsung dengan pria yang terkenal sebagai Sang Iblis itu. Mungkin ini cara Tuhan membantunya. Lalu untuk apa ia harus berhenti sekarang? S
Alexia Ainsley adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi jurnalis investigasi terbaik sekaligus penulis kriminal terkenal, tetapi seolah-olah seluruh mimpinya sedang ditenggelamkan ke dalam lautan kesialan.Setiap bulan Alexia menangani tiga kasus besar. Namun, supervisornya yang baik hati, Kyle, selalu berhasil membujuk para korban untuk mencabut laporan mereka.Alexia masih ingat ketika ia dengan beraninya menyelinap ke mansion Perdana Menteri seperti seorang pencuri. Tapi sialnya ia malah berakhir di kamar tidur dan melihat pria itu sedang bersama seorang wanita yang bukan istrinya.Dan keesokan paginya?Dia datang langsung ke tempat kerja Alexia dan mengamuk.Ada beberapa kasus lain yang tidak kalah buruk. Bahkan sampai sekarang, Alexia masih sering kehilangan tidur hanya karena mengingatnya.Lalu kenapa sampai sekarang Alexia belum juga dipecat?Menurut Kyle, Alexia adalah jurnalis terbaik di surat kabar Wednesday Times karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki jurnalis lai







