LOGINSekitar setengah jam lamanya berdebat panjang lebar dengan Logan mengenai mengapa mereka harus tidur bersama dalam satu kamar, akhirnya Logan berhasil membawa, lebih tepatnya memaksa Alexia masuk ke dalam kamarnya.
Logan tersenyum puas menatap kekalahan Alexia. "Aktingmu lumayan. Kau tampil cukup baik malam ini. Walaupun, kalau boleh memberi saran, sepertinya kau perlu mengambil kursus teater. Ada bakat terpendam dalam dirimu." Dada Alexia langsung terasa panas. Amarahnya menggelegak sampai ke tulang. Rasanya emosinya mendidih seperti pemanas yang hampir meledak. Alexia menatap Logan tajam. " Tidak usah banyak bicara tidak penting. Kau baru saja menyeretku ke medan perang yang sebenarnya tanpa persetujuanku." Logan dengan santainya mulai melepas jam tangan dan kancing mansetnya. "Tapi kau sudah menyetujuinya kalau kau lupa." Alexia mengangkat sebelah alis. "Dalam waktu sepuluh detik!" protesnya. "Dan sekarang kau malah bertingkah seolah—" Alexia mendadak terdiam. "Seolah aku akan tidur satu kamar denganmu!" lanjutnya kemudian, penuh emosi. Kalau Logan benar-benar berpikir Alexia akan terus melakukan semua ini setelah malam ini, pria itu pasti sudah kehilangan akal. Bagaimana mungkin Alexia meninggalkan kehidupan damainya hanya untuk berpura-pura menjadi tunangan seorang miliarder yang selalu memasang wajah dingin? Alexia sangat yakin, seandainya mereka bertemu secara kebetulan di hari biasa, Logan bahkan tidak akan pernah meliriknya. Alexia hanya mainan bagi pria itu. Sesuatu yang bisa ia gunakan karena punya uang, kekuasaan, dan segala hal yang tidak pernah Alexia miliki. "Dengarkan baik-baik, Lexia." Nada suara Logan berubah. Pria itu menyebut nama Alexia seolah sedang merapalkan mantra. "Ada kekuatan-kekuatan tertentu di luar sana yang mengendalikan banyak hal tanpa kau sadari. Orang-orang yang berada di posisi lebih tinggi." Alexia mengernyit. "Apa hubungannya dengan memintaku berpura-pura menjadi tunanganmu?" "Banyak orang sedang menyatukan kepentingan untuk sesuatu yang akan terjadi." Logan melepas jasnya dan meletakkannya begitu saja. "Dewan direksiku ingin aku membangun sebuah aliansi." Pria itu berhenti sejenak kemudian kembali melanjutkan, "Mereka ingin aku menikahi putri seorang investor asing." Alexia menelan ludah. "Dan kau tidak mau?" "Aku tidak menginginkannya." Tatapannya mengeras. "Menikah dengannya berarti aku ikut terseret ke dalam permainan yang sama sekali tidak ingin ku mainkan." Logan menarik napas pelan. "Keluarga Anderson tidak pernah bermain dengan cara yang adil." Alexia terdiam. Keluarga Anderson. Nama itu terasa asing, tetapi dari cara Logan mengucapkannya, Alexia tahu keluarga tersebut bukan keluarga biasa. "Apa maksudmu…" "Kau membutuhkan sesuatu dariku," potong Logan tenang. "Dan aku membutuhkan sesuatu darimu." Pria itu menatap lurus ke mata Alexia. "Kita adalah rekan." Alexia tidak menjawab. "Aku punya dugaan tentang siapa yang membuat adikmu menghilang." Jantung Alexia seakan berhenti berdetak seketika itu juga. "Aku punya perasaan bahwa aku tahu siapa yang berada di balik hilangnya Alicia." Suara Logan terdengar serius. "Tapi menyelidiki mereka tidak mudah. Semuanya terlalu rumit." Logan melangkah mendekat. "Pertunangan palsu ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk menghindari pernikahan dengan keluarga Sterling sekaligus mendekati kebenaran tanpa menimbulkan kecurigaan.” Alexia menatap Logan lekat-lekat. Jadi selama ini pria itu juga sedang menyelidiki sesuatu. Logan berhenti beberapa langkah di depan Alexia, kemudian mengulurkan tangannya. "Aku tidak sedang bermain-main denganmu, Lexia. Bagaimana, kau bersedia melanjutkan semua ini?" Alexia terdiam. Wanita itu menatap tangan Logan lalu kembali menatap wajahnya. "Kau berjanji akan menemukan adikku kan?" Entah kenapa, meski Alexia tahu seorang miliarder seperti Logan mungkin sanggup berbohong demi mendapatkan apa yang di inginkannya, sebagian kecil dari diri Alexia seolah tetap ingin percaya. Alexia menginginkan adiknya kembali dan kalau Logan benar-benar tahu sesuatu, ia tidak punya banyak pilihan. Logan mendekat dan menatap Alexia dalam-dalam. Kemudian, sebelum wanita itu sempat memikirkan apapun, Logan secara tiba-tiba menarik tengkuk Alexia dan mendaratkan ciuman di bibir wanita itu dan melumatnya dengan lembut. Alexia langsung membeku. Otaknya seperti berhenti bekerja selama beberapa detik. Logan mundur kembali dengan ekspresi tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Apakah itu cukup untuk membuatmu yakin?" Alexia hanya menatap Logan dengan mata membesar. Pria ini benar-benar… "Tidurlah," katanya santai. "Kita tidak harus tidur di ranjang yang sama." Alexia mengembuskan napas lega. "Tapi beberapa tamu, termasuk wartawan, pasti akan mencari tahu kenapa tunanganku dan aku tidur di kamar yang berbeda." Sudut bibir Logan terangkat tipis. "Sebaiknya jangan mencuri perhatian terlalu banyak di awal, sayang." Lagi-lagi panggilan menjijikkan itu. Alexia melipat kedua tangan di depan dada. "Aku tidak akan tidur di ranjang." Logan hanya mengangkat bahu. "Tidak masalah." Tanpa permisi, Logan langsung membuka kemejanya dan bertelanjang dada, membuat Alexia dengan spontan memalingkan wajahnya. Ini benar-benar gila. Alexia seperti belum bisa sepenuhnya percaya bahwa dirinya berada di kamar yang sama dengan seorang pria berbahaya yang seharusnya sedang ia selidiki. Bukan hanya itu. Sekarang ia juga harus memainkan peran sebagai tunangan sempurna dari seorang Logan Wilson. "Kenapa masih berdiri di sana, Nona Lexia?" Alexia melirik pria itu dengan malas. "Kita punya banyak hal yang harus dilakukan besok. Kau sebaiknya tidur." Alexia mengepalkan tangan. Kenapa pria itu terlihat begitu serius menjalankan kebohongan ini. Entah kenapa, hal itu justru membuat Alexia semakin kesal. Alexia pun merebahkan tubuhnya di karpet bulu yang tergelar di lantai tepat samping ranjang. Meskipun karpet itu cukup tebal, namun tetap saja tidak mampu menyingkirkan rasa dingin di dalam ruangan itu. Alexia meringkuk, berusaha mencari posisi yang sedikit nyaman, lalu berusaha memejamkan mata. Seharusnya sekarang Alexia berada di kamarnya sendiri. Menyusun strategi untuk mendapatkan cerita besar bagi Wednesday Times. Atau bisa saja berbaring di tempat tidurnya dengan bantal-bantal empuk dan selimut hangat. Bukan di karpet sebuah kamar mewah milik pria yang mungkin menyimpan jawaban tentang hilangnya Alicia. Alexia menarik napas panjang. Ia tidak tahu permainan macam apa yang sedang di mainkan oleh Logan Wilson. Tapi mulai malam ini, ia sudah terlanjur menjadi bagian di dalamnya. Dingin mulai menusuk sampai ke tulang. Gigi Alexia bergemeletuk, sementara suara angin dari luar terdengar semakin jelas. Namun wanita keras kepala itu tetap mempertahankan harga dirinya. Lebih baik ia membeku sampai mati daripada tidur di ranjang yang sama dengan Logan Wilson. "Jadi, kau benar-benar lebih memilih mati kedinginan daripada tidur di ranjang?" Suara Logan terdengar dari belakang. Alexia tidak menjawab. Ia berpura-pura sudah tidur, berharap Logan akan menyerah dan membiarkan Alexia sendirian. Sebaliknya, Alexia mendengar helaan napas panjang. Kriet... Pinggiran ranjang berbunyi ketika Logan bangkit dari sana. Lalu terdengar langkah kaki. Oh, sial. Dia mendekat? Alexia tetap berusaha memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, tubuh Logan berhenti tepat di hadapan wanita itu. Logan berdiri di sana cukup lama. Alexia bisa merasakan keberadaannya meskipun tidak melihatnya. Tepat ketika Alexia berpikir Logan akan berjalan melewatinya, tiba-tiba Alexia merasakan tubuhnya terangkat. Alexia langsung membuka matanya lebar-lebar, memelototi Logan Wilson. "Kau tidak perlu melakukan ini," kata Alexia sambil berusaha turun dari gendongan Logan. “Aku baik-baik saja.” Namun pria itu sama sekali tidak bergeming. Tubuhnya keras seperti dinding. Alexia bisa memberontak sesuka hati, tapi rasanya percuma. Dengan tenang, Logan membawa tubuh Alexia ke ranjang dan meletakkannya di sana. "Ketika aku bilang kita harus berpura-pura bertunangan," katanya datar, "aku juga bermaksud agar kita berpura-pura saling peduli." Alexia menatap Logan. Pria itu berjongkok di hadapan Alexia. "Kalau kau ingin menemukan adikmu, aku lebih suka melihatnya nanti dalam keadaan kau baik-baik saja." Alexia terdiam. Sebelum sempat membalas, Logan sudah meraih kaki wanita itu. Alexia refleks menarik napas. Logan melepaskan sepatu yang sejak tadi menyiksa kaki Alexia, lalu melemparkannya ke sisi ruangan. Kemudian kedua tangannya membungkus kaki Alexia yang dingin. Alexia menatap tangan Logan tanpa sadar. Entah kenapa pikirannya justru melayang pada hal yang tidak penting. Tangannya besar sekali. Atau kakiku yang memang terlalu kecil? Alexia buru-buru membuang pikiran itu. "Jangan khawatir," katanya. "Aku akan tidur di sofa." Logan bangkit dari sisi ranjang. Entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa bersalah dalam diri Alexia. Alexia memperhatikan Logan berjalan menuju sofa panjang yang letaknya beberapa meter dari ranjang. Baru saja Logan hendak berbaring, Alexia memanggilnya. "Kau tidak perlu melakukan itu." Logan berhenti dan menoleh. "Kita bisa berbagi ranjang." Begitu kalimat itu keluar dari mulut Alexia, ia langsung mengumpat dalam hati, menyesali ucapannya barusan. Entah apa yang ada di pikiran Alexia saat ini, mungkin ia memang mulai mempercayai pria itu. Sedikit. Setidaknya cukup untuk membiarkannya tidur di sampingnya. Alexia segera meraih beberapa bantal dan menyusunnya di tengah ranjang. Membuat benteng sebagai penghalang dirinya dengan pria itu. Logan menghela napas sembari tersenyum kecil melihat kelakuan Alexia. Pria itu hanya memperhatikan Alexia dengan tatapan sabar. Hampir seperti sedang menunggu seekor kura-kura menyelesaikan pekerjaannya. "Sudah!" seru Alexia sambil bertepuk tangan dengan kegembiraan yang bahkan membuat dirinya sendiri merasa malu. Tanpa mengatakan apa-apa, Logan pun ikut berbaring di seberang Alexia. Alexia menghela napas lega. Setidaknya batas itu masih ada dan tidak membuatnya merasa bersalah pada Logan Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Kamar kembali di penuhi keheningan. Alexia hanya bisa mendengar suara napas mereka yang perlahan menjadi teratur. Rasanya begitu aneh. Untuk seseorang yang sejak awal membuatnya ingin kabur, keberadaan Logan malam itu justru membuat suasana terasa sedikit lebih tenang. Mungkin karena tubuh Alexia sudah terlalu lelah. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alexia merasa semakin dekat dengan jawaban tentang adiknya, Alicia. Alexia memejamkan mata. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia juga tidak tahu apakah Logan benar-benar bisa di percaya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak Alicia menghilang, Alexia tertidur tanpa memikirkan bagaimana caranya menemukan adiknya. Tanpa menyadari bahwa ketika pagi tiba, Alexia akan mengetahui sesuatu yang mungkin mengubah seluruh penyelidikannya. * * *Alexia bertanya-tanya dalam hati. Ia seperti tidak percaya. Bukan cemburu atau sejenisnya, ia lebih ke arah penasaran. Rasanya seperti mustahil jika seorang Logan Wilson hanya mengagumi satu wanita saja selama hidupnya.Apa yang bisa di harapkan dari seorang pria yang memiliki segalanya? Mereka cenderung tidak butuh cinta yang tulus. Uang sudah bisa membeli apapun yang mereka inginkan.Salah seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh lima tahunan, menjawab dengan antusias. "Namanya Bianca. Dia bagian dari keluarga Louise. Seorang pewaris utama."Alexia mengernyit.Bianca? Oh, wanita itu ternyata yang mereka maksud."Keluarga mereka sangat berkuasa," lanjut wanita itu. "Bahkan Wakil Presiden kabarnya berada di bawah pengaruh mereka."Alexia menahan napas."Bahkan aku pernah dengar," sahut wanita lain yang sedikit lebih muda, "Keluarga Louise dulu pernah menjadi pesaing keluarga Wilson.”"Tapi sejak Logan mengambil alih, mereka kalah. Sejak saat itu, keluarga Louise terus mencari ca
Pagi datang seperti seorang pencuri yang diam-diam merampas malam. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela, sementara angin pagi menyentuh wajah dengan lembut.Alexia menggeliat, kesadarannya perlahan mulai kembali. Dengan kedua mata yang masih terpejam rapat, Alexia menghirup udara sebanyak yang ia bisa.Hari ini seharusnya jadwal liburnya di kantor. Itu berarti ia punya waktu seharian untuk berolahraga, berlari, membuat sarapan, melakukan penelitian lebih lanjut tentang Logan Wilson dan mungkin mencari seorang pria untuk menemaninya bersenang-senang.Alexia tersenyum lebar.Bersenang-senang dengan seorang pria? Ah! Baginya yang entah sudah berapa lama hidup tanpa ada hubungan kekasih, membayangkannya sudah cukup membuat Alexia berbunga-bunga.Dalam otaknya, Alexia membayangkan pria yang menemaninya berpostur tubuh kekar dengan dada bidang dan perut sixpack, dengan gambaran wajah mirip Shawn Mendes.Oh sungguh indahnya.Jemari tangan Alexia menari, membayangkan ia meny
Sekitar setengah jam lamanya berdebat panjang lebar dengan Logan mengenai mengapa mereka harus tidur bersama dalam satu kamar, akhirnya Logan berhasil membawa, lebih tepatnya memaksa Alexia masuk ke dalam kamarnya. Logan tersenyum puas menatap kekalahan Alexia. "Aktingmu lumayan. Kau tampil cukup baik malam ini. Walaupun, kalau boleh memberi saran, sepertinya kau perlu mengambil kursus teater. Ada bakat terpendam dalam dirimu." Dada Alexia langsung terasa panas. Amarahnya menggelegak sampai ke tulang. Rasanya emosinya mendidih seperti pemanas yang hampir meledak. Alexia menatap Logan tajam. " Tidak usah banyak bicara tidak penting. Kau baru saja menyeretku ke medan perang yang sebenarnya tanpa persetujuanku." Logan dengan santainya mulai melepas jam tangan dan kancing mansetnya. "Tapi kau sudah menyetujuinya kalau kau lupa." Alexia mengangkat sebelah alis. "Dalam waktu sepuluh detik!" protesnya. "Dan sekarang kau malah bertingkah seolah—" Alexia mendadak terdiam. "Seolah
Sepuluh menit kemudian, setelah menerima— oh ralat, "terpaksa menerima" tawaran kerja sama yang konyol dengan Mr.Wilson itu, Alexia masih berada di ruangan yang sama seperti pertama kali dirinya terbangun tadi.Alexia merasa seperti bukan dirinya sendiri, ia seperti sedang bermimpi.Beberapa gadis suruhan Logan sudah memakaikan gaun di tubuh Alexia dan tinggal sedikit menyelesaikan riasannya di wajah Alexia.Setelah itu, kursi yang di duduki Alexia pun di putar menghadap cermin, membuat sang pemilik wajah seketika tercengang. Alexia sampai hampir tersedak air liurnya sendiri.Ya Tuhan, itu bukan aku.Itu bukan Alexia yang biasa ku kenal.Alexia Ainsley yang biasanya lebih sering tampil natural dengan kaos polos di padukan kemeja flanel dan celana jeans sederhana, sekarang tampilannya berbeda drastis.Riasan wajahnya begitu cantik, tetapi tidak sampai menghilangkan ciri-ciri wajah asli Alexia. Blush merah muda memberikan sedikit warna pada pipinya. Eyeliner tipis membingkai matanya, s
Logan Wilson masih terus menatap Alexia dengan tatapan penuh introgasi. Seolah apapun yang Alexia katakan sekarang tidak mampu menggoyahkan benteng pertahanannya untuk buru-buru mempercayainya.Sementara Alexia, seperti banyak berita yang beredar mengenai pria di hadapannya ini, Alexia sangat yakin bahwa dalam waktu dekat ia akan segera kehilangan pekerjaannya.Pria dingin itu sangat angkuh dan tidak tersentuh. Ia pasti tidak akan menoleransi siapapun yang berani mengusik hidupnya.Alexia menghela napas panjang, membuang semua wajah sandiwaranya karena rasanya percuma bersandiwara dengan seorang Logan Wilson. Alexia bahkan sudah pasrah jika saja Logan akan memenjarakannya setelah ini.Apalagi setelah mengetahui bahwa pria ini mengenal adiknya, Alicia Ainsley, yang sudah menghilang tujuh tahun lamanya.Alexia sudah sampai di ruangan ini, berhadapan langsung dengan pria yang terkenal sebagai Sang Iblis itu. Mungkin ini cara Tuhan membantunya. Lalu untuk apa ia harus berhenti sekarang? S
Alexia Ainsley adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi jurnalis investigasi terbaik sekaligus penulis kriminal terkenal, tetapi seolah-olah seluruh mimpinya sedang ditenggelamkan ke dalam lautan kesialan.Setiap bulan Alexia menangani tiga kasus besar. Namun, supervisornya yang baik hati, Kyle, selalu berhasil membujuk para korban untuk mencabut laporan mereka.Alexia masih ingat ketika ia dengan beraninya menyelinap ke mansion Perdana Menteri seperti seorang pencuri. Tapi sialnya ia malah berakhir di kamar tidur dan melihat pria itu sedang bersama seorang wanita yang bukan istrinya.Dan keesokan paginya?Dia datang langsung ke tempat kerja Alexia dan mengamuk.Ada beberapa kasus lain yang tidak kalah buruk. Bahkan sampai sekarang, Alexia masih sering kehilangan tidur hanya karena mengingatnya.Lalu kenapa sampai sekarang Alexia belum juga dipecat?Menurut Kyle, Alexia adalah jurnalis terbaik di surat kabar Wednesday Times karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki jurnalis lai







