Home / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 35. Arini bertingkah

Share

35. Arini bertingkah

last update publish date: 2026-01-19 11:39:17

Saat sore menjelang malam, Fahri akhirnya pulang.

Motor tua itu berhenti di depan rumah yang masih berantakan. Fahri turun tanpa semangat, helm dilempar ke kursi plastik di teras. Langkahnya berat ketika masuk ke ruang tengah. Bau semen dan debu masih menyengat, bercampur dengan aroma pewangi ruangan yang terlalu kuat—usaha Laila menutupi kesan rumah yang belum selesai.

Nayla yang sedang duduk di sofa sambil menatap ponsel mendongak. Wajahnya terlihat lebih kusam dari biasanya. Rambutnya diikat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 111. Zidan bertemu khalisa

    Dua hari berlalu tanpa kabar dari Zidan.Tidak ada pesan singkat.Tidak ada panggilan.Namun anehnya, justru itu yang membuat Khalisa beberapa kali membuka ponselnya sendiri tanpa alasan jelas.Sore itu rumah terasa lebih hidup dibanding biasanya.Tami sedang sibuk menata beberapa pot bunga baru di halaman depan. Deretan bunga mawar putih dan melati tersusun rapi di sepanjang pagar kecil rumah mereka. Sudut teras yang dulu tampak sederhana kini terlihat jauh lebih hangat dan terawat.Tami memang sengaja mempercantik rumah itu sedikit demi sedikit untuk menyambut hari pernikahan Khalisa.“Kalau rumah begini kan enak dilihat tamu,” gumamnya tadi siang sambil merapikan pot bunga.Menjelang sore, sebuah mobil hitam berhenti pelan di depan rumah.Tami yang sedang menyiram tanaman langsung menoleh.Pintu mobil terbuka.Zidan keluar dengan penampilan rapi seperti biasa.Ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, dipadukan celana bahan gelap dengan potongan sede

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 110. Bercerai

    Laila pergi dengan tergesa-gesa bersama Arini, meninggalkan rumah yang masih berantakan tanpa menoleh lagi ke belakang. Suara angkot yang membawa mereka perlahan menghilang dari depan rumah. Dan setelah itu… rumah terasa jauh lebih sunyi. Namun sunyi yang menyesakkan. Fahri masih duduk di sofa dengan tubuh membungkuk. Kedua sikunya bertumpu di lutut, sementara tangannya menekan kepala sendiri kuat-kuat. Pikirannya kacau. Semua terjadi terlalu cepat. Rumah hilang. Ibunya pergi. Dan hidupnya benar-benar berantakan. Di kamar belakang, suara tangisan bayi Nayla masih terdengar sejak tadi. Tangisan kecil yang terus bersahut-sahutan memenuhi rumah itu. Nayla berusaha menenangkan anaknya sambil menggoyangkan tubuh kecil itu perlahan. Namun bayinya justru semakin rewel, mungkin ikut merasakan ketegangan sejak pagi. Fahri yang sedang emosional akhirnya membentak keras dari ruang tengah. “Diamkan tangisan anakmu itu, Nay!” Suara bentakan itu membuat Nayla langsung terdiam. Dadanya terasa sepert

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 109. Ke rumah khalisa

    “Terserah kalian mau ke mana,” ucap Laila akhirnya sambil mengusap air matanya kasar. “Tapi ibu mau ke rumah Khalisa dulu. Ibu yakin Khalisa masih ingat semua kebaikan ibu dan pasti luluh.”Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa ia sadari.Padahal, jika dipikir kembali… hampir tidak ada kebaikan yang benar-benar pernah ia berikan pada Khalisa selain tuntutan, tekanan, dan luka hati selama bertahun-tahun.Namun dalam keadaan terdesak seperti sekarang, Laila hanya ingin percaya bahwa masih ada tempat yang bisa menerimanya.“Aku ikut, Bu,” sahut Arini cepat.Semua menoleh padanya.Remaja itu menggenggam ujung bajunya pelan sebelum melanjutkan, “Aku juga gak mau tinggal di kontrakan desak-desakan. Kalau di rumah Kak Khalisa kan nyaman sekarang…”Nada suaranya terdengar penuh harap.Ucapan polos itu justru membuat suasana semakin terasa pahit.Nayla hanya terdiam sambil memeluk bayinya lebih erat. Ia menunduk, mencoba menahan perasaan sesak di dadanya.Bahkan dalam keadaan seperti ini pun,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 108. Ingin kembali

    “Maaf, Pak, Bu… dengan terpaksa kami harus meminta semuanya mengosongkan rumah ini paling lambat besok,” ucap Pak Beni pelan sebelum akhirnya menutup map dokumennya.Pria itu memberi anggukan singkat, lalu berjalan menuju mobil bersama petugas lainnya.Suasana langsung terasa hening setelah mereka pergi.Laila masih berdiri di halaman dengan wajah pucat. Tangannya gemetar hebat. Matanya menatap rumah itu tanpa berkedip, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi.“Ini tidak mungkin terjadi…” ucapnya lirih sebelum berubah menjadi teriakan histeris. “Tidak mungkin!”Tangisnya pecah begitu saja.Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal baginya. Di rumah itulah ia merasa paling dihormati oleh lingkungan sekitar. Semua orang tahu rumah itu miliknya. Dan sekarang… semuanya akan hilang begitu saja.Sementara itu, Fahri justru terlihat pasrah.Ia mengusap wajahnya kasar lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah malas.“Sudahlah, Bu. Mau gimana lagi? Kita kemas saja barang-barangnya

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 107. Nasib keluarga Fahri

    Beberapa bulan berlalu sejak uang hasil gadai rumah itu habis begitu saja. Awalnya Fahri masih mencoba menenangkan semuanya dengan janji-janji. Ia berkata keadaan akan membaik, ia akan mencari uang, dan semua angsuran pasti bisa dibayar. Namun kenyataannya tidak pernah benar-benar berubah. Tagihan demi tagihan mulai datang. Telepon dari pihak bank semakin sering terdengar. Surat peringatan mulai menumpuk di atas meja ruang tamu. Dan Fahri… tetap tidak memiliki solusi. Ia sempat bekerja beberapa minggu di sebuah toko elektronik milik temannya, tetapi baru sebentar sudah berhenti karena merasa gajinya terlalu kecil. Sementara bunga pinjaman terus berjalan. Rumah yang dulu menjadi kebanggaan Laila perlahan berubah menjadi sumber ketakutan terbesar dalam hidupnya. Hingga pagi itu datang. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah mereka. Dua pria berpakaian rapi turun sambil membawa map dokumen di tangan. Salah satunya adalah Pak Beni, petugas bank yang sejak bebera

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 106. Karena Kayla

    Biasanya, setelah pertemuan penting seperti tadi, seseorang akan kembali menghubunginya. Sekadar bertanya apakah ia sudah makan, sudah beristirahat, atau memastikan keadaannya baik-baik saja. Namun Zidan tidak. Pria itu seolah menghilang begitu saja setelah menyampaikan keseriusannya. Khalisa mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan dagunya di atas lutut. Angin malam terasa semakin dingin menyapu teras lantai dua tempatnya duduk sendiri. Dari bawah masih terdengar suara Tami yang sedang berbicara di telepon dengan beberapa kerabat. Sesekali terdengar tawa kecil penuh kelegaan. Sementara Khalisa justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia kembali membuka profil Zidan. Tetap sama. Foto profil kosong. Tidak ada bio. Tidak ada status. Bahkan unggahan media sosialnya pun hampir tidak ada. “Ini orang hidupnya isinya kerja doang apa gimana…” gumamnya pelan. Tanpa sadar, rasa penasarannya justru semakin besar. Jemarinya sempat berhenti di kolom chat. Beberapa kali

  • Ku Miskinkan Suamiku   14. gajian

    Hari-hari setelah itu berjalan dengan sunyi yang aneh.Keluarga Fahri benar-benar tidak pergi dari rumah Khalisa. Mereka tetap ada—mengisi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar—tapi seolah Khalisa tidak lagi termasuk di dalamnya. Tidak ada sapa. Tidak ada tegur. Tidak ada percakapan. Jika berpapasan,

  • Ku Miskinkan Suamiku   13. Talak aku mas!

    Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi k

  • Ku Miskinkan Suamiku   12. Hal yang sulit buat Fahri

    “Bu, memang semua ini punya Khalisa,” kata Fahri akhirnya, suaranya terdengar terburu-buru, seolah ingin segera menutup situasi yang makin menekan. “Tapi selama ini aku yang menafkahi.”Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sudah tegang.Khalisa terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban, ta

  • Ku Miskinkan Suamiku   11. Pembuktian

    Khalisa belum sempat menjawab ketika dari sudut ruang keluarga terdengar suara tawa kecil. Arini dan Arlina masih duduk santai di sofa, mata mereka terpaku ke layar televisi. Sinetron sore diputar cukup keras. Sesekali mereka saling melirik, tersenyum, bahkan terkekeh kecil seolah kegaduhan di ruma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status