Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI
Menjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya.
Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya.
Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya…
atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
Read
Chapter: Bab 40. Rahasia terbongkarRaka. Hana hanya menatap pesan itu. Beberapa detik ia tidak berani membukanya. Namun akhirnya jarinya menyentuh layar. Hana, aku benar-benar nggak menyangka kamu dan keluargamu akan sejauh ini. Hana mengerutkan kening. Pesan berikutnya masuk. Aku sudah datang baik-baik. Aku sudah meminta restu. Tapi kalian tetap menolak. Dada Hana mulai terasa sesak. Pesan berikutnya muncul. Kalau sejak awal kamu mau membantuku bicara kepada Abi dan Umi, mungkin semuanya nggak akan seperti ini. Hana membeku. Tangannya mulai gemetar. Jadi sekarang dirinya yang disalahkan? Raka bahkan tidak pernah benar-benar meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tidak pernah menanyakan apakah Hana sudah bisa menerima semuanya. Justru sekarang laki-laki itu menyalahkannya karena tidak mendapatkan restu. Pesan lain masuk. Aku cuma ingin menikahi Nadya. Aku nggak pernah bermaksud menghancurkan keluarga kita. Hana menatap layar den
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 39. PersiapanNadya pulang dengan hati yang hancur. Sepanjang perjalanan, air matanya tidak berhenti mengalir. Perkataan Hana terus terngiang-ngiang di kepalanya. Aku sudah kehilangan Kakak sejak Kakak memilih Raka. Nadya mengepalkan tangannya. Bukannya merasa bersalah, justru kebencian perlahan tumbuh di dalam hatinya. Ia mulai membenci Hana. Kenapa adiknya tidak mau mengerti? Kenapa tidak ada satu pun yang mau memahami perasaannya? "Aku cuma minta restu..." Suara Nadya bergetar di dalam tangisnya. "Aku cuma ingin menikah dengan orang yang aku cintai." Ia mengusap air mata dengan kasar. "Kenapa semuanya harus dipersulit?" Dalam pikirannya, Abi dan Umi juga semakin tidak adil. Sejak dulu mereka selalu memikirkan Hana. Sekarang pun begitu. Ketika Hana terluka, semua orang sibuk membelanya. Ketika Hana dikecewakan Raka, seluruh keluarga menyalahkan Raka. Sementara ketika Nadya ingin memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, tidak ada yang mau berdiri di sisinya. "Ken
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 38. Pertemuan HanaAir mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. "Kakak lebih mementingkan ego dan perasaan Kakak sendiri dibandingkan perasaan Hana." "Hana..." "Dan bukan cuma perasaan Hana." Hana mengusap pipinya. "Kakak juga mementingkan keinginan Kakak dibandingkan perasaan Abi dan Umi." Nadya terdiam. "Abi dan Umi terluka karena melihat anak mereka saling menyakiti." Hana menundukkan wajah. "Mereka kehilangan kepercayaan kepada Raka. Mereka marah karena Raka mempermainkan perasaan Hana." Hana kembali menatap Nadya. "Tapi Kakak malah ingin mereka memberikan restu." Nadya menarik napas dalam-dalam. "Kakak cuma ingin menikah dengan orang yang Kakak cintai." "Dan Hana?" Nadya terdiam. "Perasaan Hana bagaimana?" Hening. Hana tersenyum pahit. "Apakah karena Kakak lebih dulu mencintai Raka, berarti rasa sakit Hana jadi nggak penting?" "Nggak begitu." "Lalu bagaimana?" Nadya tidak mampu menjawab. Hana menggeleng pelan. "Itulah masalahnya, Kak." "Apa?" "Kakak
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 37. Keegoisan NadyaNamun Nadya sudah terlalu mencintai Raka. Cinta itu membuat pikirannya tidak lagi bekerja dengan jernih. Ia tahu Raka salah. Ia tahu Abi dan Umi punya alasan untuk menolak laki-laki itu. Ia juga tahu Hana adalah orang yang paling terluka dalam semua masalah ini. Namun setiap kali membayangkan kehilangan Raka, semua pertimbangan itu seolah menghilang. Nadya mengambil ponselnya. Tangannya sempat berhenti di atas layar ketika melihat satu nama yang sebenarnya paling ingin ia hindari. Hana. Adiknya sendiri. Nadya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Satu kali. Tidak diangkat. Nadya mencoba lagi. Kali ini panggilan tersambung. "Halo?" Suara Hana terdengar datar. Nadya langsung menggigit bibir. "Hana..." "Ada apa, Kak?" Nadya terdiam beberapa detik. "Kakak mau ketemu kamu." "Untuk apa?" "Kita bicara." "Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan." "Hana, tolong." "Kalau soal Raka, aku nggak mau." Nadya langsung terdiam
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 36. PilihanNadya menatap Raka dengan wajah penuh harap. "Kenapa kamu tidak mau berusaha meminta restu Abi dan Umi, Raka?" tanyanya. "Bukankah kamu yang ingin menikah denganku?" Raka langsung mengembuskan napas kasar. "Cukup, Nadya." Nadya terdiam. "Aku sudah berusaha," lanjut Raka dengan nada kesal. "Aku datang ke rumahmu. Aku bicara baik-baik. Aku meminta restu." "Terus?" "Yang aku dapat apa?" Raka tertawa sinis. "Penghinaan." Nadya mengerutkan kening. "Abi tidak menghina kamu." "Benarkah?" Raka menatapnya tajam. "Dia mengusirku dari rumah." "Itu karena—" "Karena Hana!" Raka langsung memotong. "Selalu Hana. Apa pun yang terjadi, selalu Hana." Nadya terdiam. Raka melangkah mendekatinya. "Aku sudah mengakui kesalahanku. Aku sudah mengatakan bahwa aku salah mengambil keputusan dulu. Aku juga sudah membatalkan pernikahanku dengan Hana." "Tapi kamu meninggalkan Hana setelah semuanya dipersiapkan." "Aku tidak mencintainya!" Suara Raka meninggi. Nadya t
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bab 35. Restu?Malam itu, Raka tidak langsung beristirahat. Setelah percakapannya dengan Desi dan Zainal berakhir, pikirannya terus tertuju kepada Nadya. Ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan.Aku ingin bertemu.Beberapa menit kemudian, balasan dari Nadya masuk.Sekarang?Raka mengetik singkat.Iya. Aku ke kosmu.Nadya tidak langsung membalas. Namun beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk.Baik.Tidak lama kemudian, Raka sudah berada di depan kos Nadya. Nadya keluar setelah mendengar suara mobil berhenti di halaman. Wajahnya terlihat lelah. Sejak meninggalkan rumah, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Begitu melihat Raka, langkahnya terhenti."Kamu datang?"Raka mengangguk. "Aku ingin bicara."Nadya memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya membuka pintu pagar. "Masuk."Raka mengikuti Nadya menuju ruang tamu kecil di lantai bawah. Mereka duduk berhadapan, tetapi beberapa saat tidak ada yang berbicara. Nadya menunduk dengan jemari yang saling menggenggam di atas pangkuannya."Bag
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 162. RomatisnyaHari-hari Khalisa bersama Zidan di Prancis terasa menyenangkan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdua, menikmati suasana kota, mencoba makanan baru, dan sesekali berjalan-jalan tanpa memikirkan pekerjaan.Sore itu, Khalisa baru saja selesai membereskan beberapa barang. Ia kemudian menghampiri Zidan yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya.Khalisa langsung tengkurap di atas kasur.“Mas.”“Hm?” Zidan masih melihat ponselnya.“Pijitin punggungku, dong.”Zidan menoleh, lalu meletakkan ponselnya.“Kenapa? Pegal?”“Iya. Dari tadi rasanya nggak nyaman.”“Ya sudah, sini.”Zidan bergeser mendekat dan mulai memijat punggung istrinya perlahan.“Begini?”Khalisa mengangguk kecil.“Iya. Enak.”“Memangnya tadi kamu ngapain aja sampai pegal begini?”“Jalan-jalan, terus beresin barang. Mas lupa kita besok pulang?”“Oh, jadi ini gara-gara beresin barang?”“Ya, salah satunya.”Zidan tersenyum sambil terus memijatnya.“Kenapa nggak minta bantuan Mas?”“Kamu dari tadi si
Last Updated: 2026-10-17
Chapter: Bab 161. TerungkapArlina terus menunggu di tempatnya bersembunyi. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika melihat Arini akhirnya keluar dari gedung itu.Namun, langkah Arini tidak sendirian.Seorang laki-laki berjalan di sampingnya. Dari cara berpakaian dan sikapnya, Arlina langsung tahu bahwa laki-laki itu salah satu tamu tempat tersebut.Bahkan, laki-laki itu merangkul Arini begitu mereka keluar.Arlina membeku.Tatapannya turun pada pakaian Arini yang terlihat jauh lebih terbuka dibandingkan saat berada di rumah.Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa, Kak?” lirih Arlina. “Kenapa Kakak seperti ini?”Arini dan laki-laki itu kemudian masuk ke dalam mobil.Arlina buru-buru menuju motornya.Ia menyalakan mesin dan mengikuti mobil tersebut dari kejauhan.Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia percaya.Namun, ketika mobil itu berhenti di depan sebuah hotel, tubuh Arlina terasa lemas.“Tidak mungkin...” bisiknya.Arini turun bersama laki-laki te
Last Updated: 2026-10-06
Chapter: Bab 160. kerja malamHari demi hari, tingkah Arini semakin membuat Arlina gelisah.Kadang Arini pulang tengah malam.Kadang baru muncul keesokan harinya.Bahkan pernah sampai tiga hari Arini tidak pulang.Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama."Urusan kerja."Lama-lama Bu Laila juga tidak lagi bertanya.Yang penting Arini masih pulang dan membawa uang.Setiap kali Arini menyerahkan uang, Bu Laila hanya tersenyum."Wah, anak Ibu yang paling cantik. Terima kasih, ya, uangnya."Arini biasanya hanya tersenyum."Iya, Bu."Tidak ada pertanyaan tentang dari mana uang itu.Tidak ada pertanyaan kenapa Arini sering pulang larut malam.Bagi Bu Laila, selama Arini membantu kebutuhan rumah, ia memilih tidak ikut campur.Berbeda dengan Arlina.Semakin lama, Arlina justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya.Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Arini kembali keluar rumah.Arlina yang masih terjaga langsung bangun.Ia melihat dari balik jendela ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 159. Batin ArlinaArlina akhirnya masuk ke kamarnya.Namun rasa penasaran membuatnya sulit tidur.Ia terus memikirkan kejadian di lampu merah tadi.Perempuan yang dilihatnya memang sangat mirip dengan Arini.Begitu juga pria yang duduk di sampingnya.Ada sesuatu yang terasa familiar.Tetapi Arlina belum bisa mengingatnya.Di kamar sebelah, Arini juga belum tidur.Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.Sebuah pesan baru masuk.Arini membacanya sebentar, lalu langsung menghapusnya.Ia meletakkan ponsel di atas meja.Wajahnya terlihat gelisah.Sementara itu, Fahri yang tidur di ruang depan ternyata masih terjaga.Ia mendengar suara pintu kamar Arini tertutup.Fahri membuka matanya.Ia teringat ucapan Laila tentang Arini yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga.Fahri lalu melihat ke arah kamar adiknya."Kerja apa sebenarnya dia?"Ia menguap dan kembali berbaring.Namun beberapa saat kemudian, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel Arini.Fahri tidak terlalu memperdulikannya.Hingga su
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: Bab 158. Siapa dia?Laila akhirnya masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi dengan lauk seadanya. Hanya telur dadar, tumis sayur, dan sedikit sambal.Ia meletakkan piring itu di hadapan Fahri."Sudah, makan dulu."Fahri tidak banyak bicara. Ia langsung mengambil nasi dan mulai makan.Rasa lapar yang sejak tadi ditahannya membuat Fahri makan dengan lahap. Meski lauknya sederhana, ia tidak mempermasalahkannya.Laila memperhatikan dari samping."Jangan cuma tahu makan. Besok cari kerja."Fahri masih mengunyah."Iya, iya, Bu. Bisa diam nggak?"Laila langsung melotot."Dasar anak nggak tahu diri."Fahri hanya menghela napas dan kembali menyendok nasi.Beberapa saat kemudian, ia menatap ibunya."Oh iya, Bu.""Hm?""Kalian dapat uang dari mana?"Laila mengernyit."Maksudmu?""Rumah memang sederhana, tapi kelihatannya kebutuhan masih bisa jalan."Fahri kembali memasukkan nasi ke mulut."Arini kerja," jawab Laila singkat."Dia yang banyak membantu kebutuhan rumah."Fahri berhenti meng
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Bab 157. kembali romantisZidan perlahan kembali masuk ke kamar.Lampu kamar masih menyala redup. Khalisa masih membelakanginya, tubuhnya terdiam di balik selimut.Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Setelah berbicara dengan Nadya, ia baru menyadari betapa banyak hal yang tidak ia mengerti tentang istrinya.Ia kemudian naik ke tempat tidur.Perlahan, Zidan mendekat dan memeluk Khalisa dari belakang.Tubuh Khalisa sempat menegang.Namun hanya beberapa detik.Setelah itu ia kembali diam.Tidak menolak.Tidak pula membalas pelukan tersebut.Zidan merapatkan pelukannya.Tangannya hanya melingkar lembut di pinggang Khalisa.Ia tidak mengatakan apa-apa.Malam itu, untuk pertama kalinya, Zidan memilih diam dan membiarkan Khalisa dengan perasaannya sendiri.Khalisa memejamkan mata.Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir.Namun kali ini ia tidak mengusapnya.Entah kenapa, pelukan Zidan membuat pertahanannya sedikit runtuh.Ia tahu suaminya tidak bersalah.Ia tahu Zidan tidak melakukan apa pun
Last Updated: 2026-08-29