Ku Miskinkan Suamiku
Wanita KuatDramaDewasaPintarBaik HatiKasarPerselingkuhanPengkhianatanPerceraian
Khalisa percaya, satu tahun pernikahan adalah awal kebahagiaan. Tapi semua runtuh ketika ia menemukan suaminya, Fahri, hidup bersama wanita lain yang hamil besar—dan keluarganya justru mendukung perselingkuhan itu.
Dikhianati, dianggap tak berguna hanya karena belum bisa memberi keturunan, Khalisa bersumpah bangkit.
Jika dulu ia hanya istri yang setia, kini ia akan menjadi wanita yang membuat suaminya berlutut.
Air mata akan ia ganti dengan dendam.
Dan satu-satunya cara membayar pengkhianatan itu adalah:
membuat suaminya jatuh miskin di tangannya sendiri.
読む
Chapter: Bab 143. Siap berangkatSetelah tengah malam, satu per satu teman-teman Zidan akhirnya berpamitan. "Terima kasih sudah menerima kami malam-malam begini," ujar Reza sambil tersenyum. Zidan menggeleng pelan. "Kalau lain kali mau datang, kabari dulu." "Kalau dikabari, nanti bukan kejutan lagi," sahut salah satu temannya. Zidan hanya tersenyum tipis. "Ya sudah. Hati-hati di jalan." Setelah semua temannya pergi, Zidan menutup pintu rumah lalu memastikan pintu sudah terkunci. Rumah kembali sunyi. Ia kemudian berjalan menuju kamar. Begitu pintu dibuka, Zidan mendapati Khalisa sudah tertidur. Perempuan itu berbaring menyamping dengan wajah yang terlihat tenang. Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur. Pikirannya kembali teringat pada percakapan bersama teman-temannya malam itu. Tentang Fatimah. Zidan menghela napas pelan. Ia tidak tahu kenapa nama itu masih sempat terlintas di pikirannya. Padahal selama ini, ia sudah tidak pernah memikirkan perempuan itu. Zidan menatap waj
最終更新日: 2026-07-20
Chapter: Bab 142. Kedatangan tamuZidan membalas pelukan Khalisa sebentar, lalu mengusap pelan punggung istrinya. "Sudah?" Khalisa tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mas." "Mas bikin aku kaget." Zidan tersenyum tipis. "Memang sengaja." "Biar ada yang diingat." Khalisa kembali melihat e-ticket di tangannya. "Mas, ini benar-benar sudah dibayar?" "Sudah." "Nggak bisa dibatalin lagi?" Zidan menggeleng pelan. "Bisa saja." "Tapi kenapa harus dibatalkan?" Khalisa tertawa kecil. "Soalnya masih terasa seperti mimpi." Zidan mengambil map itu lalu menaruhnya di atas meja. "Kita berangkat beberapa hari lagi." "Besok mulai siapkan barang yang perlu dibawa." "Kalau ada yang kurang, kita beli." Khalisa mengangguk. "Iya, Mas." "Tapi aku belum pernah ke negara yang dingin." "Aku juga nggak tahu harus bawa apa." "Nanti kita belanja secukupnya." "Nggak perlu berlebihan." Khalisa tersenyum. "Baik." Zidan melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah hampir malam." "Ayo makan dul
最終更新日: 2026-07-15
Chapter: Bab 141. Perjalanan esokMobil yang dikendarai Zidan akhirnya memasuki halaman rumah. Begitu mesin dimatikan, suasana langsung terasa berbeda. Rumah yang beberapa hari terakhir ramai oleh kehadiran Tante Tami dan Om Yono kini kembali sunyi. Khalisa memandang sekeliling rumah beberapa saat. Lalu ia mengembuskan napas pelan. "Rumah jadi sepi ya, Mas." Zidan tersenyum kecil sambil membuka sabuk pengamannya. "Iya." "Om Yono dan Tante Tami kan langsung pulang ke kampung." "Jadi rumah terasa kosong lagi." Khalisa mengangguk pelan. "Padahal baru beberapa hari bersama." "Rasanya sudah terbiasa ada mereka." Zidan menggenggam lembut tangan istrinya. "Nggak apa-apa." "Nanti rumah ini juga bakal ramai lagi." Khalisa menoleh sambil tersenyum tipis. "Ramai bagaimana, Mas?" Zidan menyeringai jahil. "Ya sama anak-anak kita nanti." Pipi Khalisa langsung memerah. "Ih... Mas." Zidan tertawa pelan. "Aamiin." "Semoga Allah segera mengabulkan doa kita." Khalisa mengangguk pelan. "
最終更新日: 2026-07-14
Chapter: Bab 140. Keromantisan Zidan dan KhalisaMobil melaju meninggalkan gang sempit itu. Suasana di dalam mobil hening untuk beberapa saat. Khalisa masih memandangi jalan di depan. Bayangan wajah Arlina yang terus berusaha tegar membuat hatinya belum benar-benar tenang. Zidan melirik istrinya sekilas. Ia tahu, perempuan di sampingnya sedang memikirkan banyak hal. Dengan senyum tipis, ia akhirnya memecah keheningan. "Khalisa." "Hm?" "Aku mau ngajak kamu bulan madu." Khalisa menoleh cepat. "Wah..." "Bulan madu?" Zidan terkekeh pelan. "Iya." "Kemana, Mas?" tanya Khalisa penasaran. Zidan mengangkat bahu sambil tetap fokus mengemudi. "Itu tergantung kamu." "Kamu ingin pergi ke mana?" Khalisa tersenyum kecil. Ia menggeleng pelan. "Nggak perlu, Mas." "Aku sudah senang kok." "Bisa hidup tenang sama Mas saja sudah lebih dari cukup." Jawaban itu membuat Zidan menghela napas sambil tersenyum. "Kamu ini." "Selalu bilang nggak perlu." Khalisa terkekeh pelan. "Memang nggak perlu." "Aku b
最終更新日: 2026-07-13
Chapter: Bab 139. Menjaga amanahPak Yoko tersenyum tipis melihat wajah Arlina yang kini jauh lebih tenang. Suasana di ruangan itu perlahan berubah hangat. Khalisa menatap Arlina beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. "Arlina." "Iya, Kak." "Kakak rasa..." Khalisa memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Alangkah baiknya kalau kamu mencari tempat tinggal yang lebih dekat dari sini." Arlina tampak terkejut. "Pindah kontrakan, Kak?" Khalisa mengangguk pelan. "Iya." "Kalau setiap hari harus menempuh perjalanan hampir satu jam untuk berangkat dan satu jam lagi untuk pulang, tenaga dan waktumu akan banyak habis di jalan." "Belum lagi kalau harus berangkat pagi sekali." Arlina menundukkan kepala. "Tapi, Kak..." "Aku tinggal sama Bapak dan Ibu." "Kalau aku pindah..." "...siapa yang menemani mereka?" Khalisa terdiam sejenak. Ia memahami kegelisahan gadis itu. "Kakak bukan menyuruhmu meninggalkan mereka." "Kamu tetap bisa pulang setiap akhir pekan atau saat libur." "Yang Kakak pik
最終更新日: 2026-07-10
Chapter: Bab 138. Dapat kerjaArlina mengusap air matanya berkali-kali. Namun tangisnya tak kunjung berhenti. Ia menatap Khalisa dengan wajah penuh kebingungan. "Terus... aku harus gimana sekarang, Kak?" "Aku harus kerja." "Kalau aku nggak kerja..." "...kami mau makan apa?" Kalimat itu membuat Khalisa terdiam. Ia menoleh sekilas ke arah Zidan. Dalam hati, ia ingin membantu Arlina. Namun ia juga tidak ingin kembali membuka pintu agar keluarga Fahri ikut masuk ke dalam kehidupannya. Pengalaman pahit di masa lalu membuatnya harus lebih berhati-hati. Tatapan mereka bertemu. Zidan seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan istrinya. Ia tersenyum tipis, lalu melangkah mendekati Arlina. "Arlina." Gadis itu langsung mengangkat wajah. "Iya, Kak?" "Aku punya kenalan." "Beliau punya toko sembako dan toko campuran." "Setahuku mereka memang sedang mencari pegawai." Mata Arlina langsung membesar. "Benarkah, Kak?" Zidan mengangguk. "Insyaallah." "Kalau kamu memang mau bekerja dengan
最終更新日: 2026-07-08
Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI
Wanita KuatCinta yang ManisDramaDokterPolisiLuar BiasaDiam-diam PerhatianTantangan PernikahanBenci jadi Cinta
Menjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya.
Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya.
Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya…
atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
読む
Chapter: Bab 35. Restu?Malam itu, Raka tidak langsung beristirahat. Setelah percakapannya dengan Desi dan Zainal berakhir, pikirannya terus tertuju kepada Nadya. Ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan.Aku ingin bertemu.Beberapa menit kemudian, balasan dari Nadya masuk.Sekarang?Raka mengetik singkat.Iya. Aku ke kosmu.Nadya tidak langsung membalas. Namun beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk.Baik.Tidak lama kemudian, Raka sudah berada di depan kos Nadya. Nadya keluar setelah mendengar suara mobil berhenti di halaman. Wajahnya terlihat lelah. Sejak meninggalkan rumah, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Begitu melihat Raka, langkahnya terhenti."Kamu datang?"Raka mengangguk. "Aku ingin bicara."Nadya memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya membuka pintu pagar. "Masuk."Raka mengikuti Nadya menuju ruang tamu kecil di lantai bawah. Mereka duduk berhadapan, tetapi beberapa saat tidak ada yang berbicara. Nadya menunduk dengan jemari yang saling menggenggam di atas pangkuannya."Bag
最終更新日: 2026-07-20
Chapter: Bab 34. Tanpa rasa bersalahDi sisi lain... Raka baru saja tiba di rumah. Ia melepaskan topinya lalu duduk di ruang tamu dengan wajah masih dipenuhi kekesalan. Desi yang sejak tadi menunggu langsung menghampiri. "Gimana? Orang tua Nadya tetap menolak?" tanyanya. Raka mengembuskan napas kasar. "Iya, Bu. Om Ahmad mengusir Raka." Desi mendecakkan lidah. "Memang keluarga itu keras kepala." Raka mengangguk. "Semuanya jadi begini gara-gara Hana." Desi langsung menatap putranya. "Nah, itu baru benar." "Kalau saja Hana dari awal sadar diri, dia pasti sudah mundur." Raka menghela napas. "Hana terlalu baper. Padahal Raka sudah berusaha jujur sebelum menikah." "Iya lah. Daripada menikah tanpa cinta." Desi menggeleng sambil menyilangkan tangan di dada. "Memang salah kamu juga." Raka menoleh. "Kenapa, Bu?" "Ngapain dulu kamu dekat sama Hana?" Desi mendengus. "Dia cuma penjual baju. Sedangkan Nadya calon dokter." "Jelas kamu lebih cocok sama Nadya." Raka mengangguk pelan. "Dulu
最終更新日: 2026-07-13
Chapter: Bab 33. Bicara hati ke hatiMalam mulai turun. Setelah Azzam pamit untuk pulang, rumah itu kembali sunyi.Ahmad masih duduk di ruang tamu. Pandangannya kosong menatap halaman depan.Aisyah keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan salah satunya di hadapan suaminya."Bi... minum dulu."Ahmad mengangguk pelan, tetapi tangannya tidak juga menyentuh cangkir itu.Beberapa saat mereka hanya diam.Suara jangkrik dari luar rumah terdengar semakin jelas.Aisyah akhirnya duduk di samping Ahmad."Masih memikirkan Nadya?"Ahmad menarik napas panjang."Bagaimana Abi tidak memikirkannya?"Suaranya terdengar lelah."Itu anak yang Abi gendong sejak lahir."Aisyah menundukkan kepala.Air matanya mulai menggenang lagi."Umi juga sama."Ahmad mengusap wajahnya kasar."Yang membuat Abi sakit bukan karena Nadya mencintai Raka."Aisyah menoleh."Tapi karena Nadya memilih membela laki-laki itu daripada mempercayai orang tuanya."Kalimat itu membuat air mata Aisyah jatuh."Selama ini... apa kita salah mendidiknya,
最終更新日: 2026-07-10
Chapter: Bab 32. PersiapanUcapan Ahmad membuat ruangan itu kembali hening.“Kalau begitu... Abi percaya sama kamu, Azzam.”Kalimat itu terdengar sederhana.Namun maknanya begitu besar.Azzam yang selama ini selalu tenang akhirnya sedikit menundukkan kepala lebih dalam.“Terima kasih, Abi.”Ahmad mengangguk pelan.“Jangan sia-siakan kepercayaan itu.”“InsyaAllah tidak akan, Abi.”Aisyah tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, ia merasa sedikit lebih tenang.Setidaknya ada seseorang yang hadir bukan untuk melukai putrinya.Hana sendiri masih terdiam.Dadanya terasa hangat mendengar ayahnya mengucapkan kepercayaan itu secara langsung.Sebab ia tahu betul, Ahmad bukan orang yang mudah memberikan kepercayaan kepada siapa pun.Apalagi setelah apa yang terjadi dengan Raka.Ahmad lalu menoleh kepada Hana.“Dan kamu.”Hana langsung mengangkat kepalanya.“Iya, Abi?”“Abi tidak peduli berapa kali kamu jatuh.”Suara Ahmad terdengar tegas.“Tapi Abi ingin kamu selalu bangkit lagi.”Mata Hana mulai be
最終更新日: 2026-06-25
Chapter: Bab 31. Masa depan HanaAzzam menatap Hana lebih lama sebelum akhirnya berkata pelan, suaranya tenang tapi tegas. “Kita fokus ke pernikahan kita, Hana.” Hana mengangguk pelan. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan—hanya penerimaan yang masih diselimuti sisa luka yang belum sepenuhnya reda. “Ayo masuk,” lanjut Azzam sambil bangkit dari kursi. Ia mengulurkan tangan ke arah Hana. “Kamu jangan kelihatan rapuh di depan Abi dan Umi. Mereka akan terluka kalau melihat kamu seperti ini.” Hana menatap tangan itu sejenak. Tangan yang tidak memaksa, tapi menawarkan sandaran. “Baik,” jawabnya singkat. Suara itu terdengar stabil di luar, tetapi di dalam dirinya masih ada gemuruh yang belum selesai. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan meraih tangan Azzam. Mereka berdiri bersamaan. Langkah mereka menuju pintu terasa lebih berat daripada saat mereka keluar tadi. Begitu memasuki rumah, suasana yang sempat panas sebelumnya kini masih menyisakan ketegangan. Ahmad dud
最終更新日: 2026-06-21
Chapter: Bab 30. Hati HanaHana menunduk. Air matanya yang sejak tadi berusaha ditahan akhirnya jatuh lagi. Bukan karena ia masih berharap pada Raka, tetapi karena semua pengakuan laki-laki itu seolah membuka kembali luka yang belum benar-benar sembuh. Melihat kondisi Hana yang semakin terpukul, Azzam perlahan berdiri dari duduknya. "Om, Tante... saya izin membawa Hana keluar sebentar." Ahmad yang masih dipenuhi emosi hanya mengangguk pelan. Sementara Aisyah menatap Hana dengan penuh rasa khawatir. Azzam lalu berjalan mendekati Hana. "Ayo." Hana tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Azzam keluar rumah. Mereka duduk di kursi kayu yang berada di teras depan. Angin siang berembus pelan, tetapi tidak mampu mengurangi sesak yang memenuhi dada Hana. Beberapa saat keduanya hanya diam. Azzam sengaja membiarkan Hana menenangkan dirinya terlebih dahulu. Di dalam rumah masih terdengar suara Ahmad dan Raka yang sesekali meninggi, namun suara itu terdengar samar dari tempat mereka duduk. Azzam meno
最終更新日: 2026-06-18