author-banner
Nuur mommy kembar
Nuur mommy kembar
Author

Novels by Nuur mommy kembar

Ku Miskinkan Suamiku

Ku Miskinkan Suamiku

Khalisa percaya, satu tahun pernikahan adalah awal kebahagiaan. Tapi semua runtuh ketika ia menemukan suaminya, Fahri, hidup bersama wanita lain yang hamil besar—dan keluarganya justru mendukung perselingkuhan itu. Dikhianati, dianggap tak berguna hanya karena belum bisa memberi keturunan, Khalisa bersumpah bangkit. Jika dulu ia hanya istri yang setia, kini ia akan menjadi wanita yang membuat suaminya berlutut. Air mata akan ia ganti dengan dendam. Dan satu-satunya cara membayar pengkhianatan itu adalah: membuat suaminya jatuh miskin di tangannya sendiri.
Read
Chapter: Bab 106.
Biasanya, setelah pertemuan penting seperti tadi, seseorang akan kembali menghubunginya. Sekadar bertanya apakah ia sudah makan, sudah beristirahat, atau memastikan keadaannya baik-baik saja.Namun Zidan tidak.Pria itu seolah menghilang begitu saja setelah menyampaikan keseriusannya.Khalisa mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan dagunya di atas lutut. Angin malam terasa semakin dingin menyapu teras lantai dua tempatnya duduk sendiri.Dari bawah masih terdengar suara Tami yang sedang berbicara di telepon dengan beberapa kerabat. Sesekali terdengar tawa kecil penuh kelegaan.Sementara Khalisa justru sibuk dengan pikirannya sendiri.Ia kembali membuka profil Zidan.Tetap sama.Foto profil kosong.Tidak ada bio.Tidak ada status.Bahkan unggahan media sosialnya pun hampir tidak ada.“Ini orang hidupnya isinya kerja doang apa gimana…” gumamnya pelan.Tanpa sadar, rasa penasarannya justru semakin besar.Jemarinya sempat berhenti di kolom chat. Beberapa kali ia ingin mengetik lebih dul
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Bab 105. Menghargai
Percakapan di ruang tamu masih berlanjut, tetapi suasananya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Sesekali terdengar suara Tami dan Ibu Halimah yang mulai membahas hal-hal sederhana tentang persiapan acara. Yono lebih banyak diam sambil sesekali mengangguk, mendengarkan pembicaraan dengan wajah serius namun lebih rileks.Sementara itu, Khalisa hanya duduk memperhatikan.Pikirannya perlahan mengikuti arah pembicaraan yang sejak tadi terasa begitu nyata.Pernikahan.Kata itu kini bukan lagi sesuatu yang jauh atau sekadar bayangan.Di tengah obrolan, Zidan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara.“Baik, Bu… Om, Tante,” ucapnya tenang.Semua langsung menoleh ke arahnya.“Kali ini biarkan saya yang menentukan konsep pernikahan kami.”Kalimat itu diucapkan sederhana, tanpa nada berlebihan. Namun cukup membuat suasana hening sesaat.Khalisa ikut menoleh. Tatapannya tertahan pada Zidan beberapa detik. Ia tidak menyangka pria itu akan mengatakan hal seperti itu.Yono terseny
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 104. Terima dengan ikhlas
Yono memecah keheningan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu.“Bagaimana dengan Khalisa?”Suasana kembali hening. Semua mata tertuju pada Khalisa.Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha menenangkan gugup yang sejak tadi ia sembunyikan. Tatapannya jatuh pada Zidan.Pria itu juga sedang menatapnya.Tenang.Lurus.Tidak mendesak, tetapi penuh keseriusan.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Seolah hanya ada tatapan mereka berdua di tengah ruangan itu.Khalisa mencoba mencari keraguan di wajah Zidan.Namun yang ia temukan justru keteguhan.Tidak ada janji manis.Tidak ada rayuan berlebihan.Tetapi cara Zidan menatapnya membuat Khalisa merasa dihargai dan diperlakukan dengan sungguh-sungguh.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian menghadapi hidupnya.Khalisa menarik napas perlahan.Lalu dengan suara pelan, tetapi jelas, ia berkata,“Aku terima, Om.”Hening sesaat memenuhi ruangan.Tatapan Khalisa belum le
Last Updated: 2026-05-07
Chapter: Bab 103. Meminang
Khalisa masih menggenggam lengan Zidan. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu—ada luka tipis di sudut bibirnya, tetapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada amarah, tidak pula emosi yang berlebihan. Justru ketenangan itu membuat Khalisa terdiam lebih lama. Ia menyadari, sikap Zidan bukan sekadar diam, melainkan bentuk kendali diri yang ia pilih.“Ayo masuk,” ucap Khalisa pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut. Ia kemudian menoleh ke arah ibu Zidan. “Tante, silakan.”Ibu Zidan mengangguk kecil. Raut wajahnya tetap tenang, meski jelas ia menyaksikan semua yang terjadi sejak awal. Tanpa banyak bicara, Zidan melangkah masuk. Sebelum itu, ia sempat melirik sekilas ke arah Adit—singkat, datar, lalu berlalu begitu saja.“Cemen lu!”Suara Adit terdengar keras dari belakang, sengaja dilontarkan untuk memancing. Langkah Khalisa sempat terhenti. Ia menoleh.Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Khalisa benar-benar melihat Adit dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sosok yang pernah ia tungg
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Bab 102. Perkelahian
Adit membeku di tempatnya.Wajahnya yang tadi tegang perlahan memucat. Tatapannya berpindah dari meja yang penuh hidangan… ke Khalisa… lalu ke Yono.“Khalisa… aku minta maaf,” ucapnya cepat. “Kemarin keadaannya mendesak.”Tidak ada yang langsung menjawab.Sebelum Khalisa sempat berbicara—“Cukup.”Suara Yono tegas. Tidak keras, tapi langsung menghentikan suasana.“Sekarang kamu pergi dari sini.”Adit menelan ludah, tapi tidak mundur.“Om, saya tahu saya salah. Tapi saya harus jelasin semuanya.”“Tidak perlu penjelasan lagi,” potong Yono, lebih dingin.Adit mengepalkan tangan. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia tetap bertahan.“Khalisa belum dengar dari saya, Om. Dia berhak tahu.”Yono melangkah satu langkah mendekat.“Yang dia butuh itu kehadiran kamu kemarin. Bukan penjelasan hari ini.”Adit terdiam sesaat.Lalu suaranya mulai naik. “Kemarin itu bukan hal sepele. Saya gak mungkin ninggalin semuanya kalau bukan karena penting.”Tami menggeleng kesal. “Semua orang punya masalah. Tap
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 101. Terlambat
Setelah pembicaraan tentang lamaran selesai, suasana ruang tamu kembali tenang. Tidak ada lagi yang dibahas, tetapi semua orang memahami satu hal—keputusan sudah ditetapkan.Zidan berdiri dari duduknya.“Om, Tante, Khalisa… aku pamit,” ucapnya sopan. “Insyaallah besok aku datang bersama ibu.”Yono mengangguk. “Iya, Nak. Kami tunggu kedatangan kamu besok dengan niat yang baik.”“Iya, Om, insyaallah,” jawab Zidan singkat.Ia melangkah menuju pintu. Tidak ada tatapan ke arah Khalisa, tidak ada kalimat tambahan. Seperti biasa—tegas, seperlunya, dan langsung.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali setelah ia keluar.Khalisa masih duduk di tempatnya. Matanya mengikuti arah pintu, meski sosok itu sudah tidak terlihat. Ia berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.Semua terasa cepat. Terlalu cepat. Seolah semuanya sudah disiapkan tanpa sepengetahuannya.“Om…” suara Khalisa akhirnya terdengar pelan.Yono dan Tami menoleh ke arahnya.“Apa semua ini… rencana Om sama Tante?” tanyanya langsung.Y
Last Updated: 2026-04-20
Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI

Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI

Menjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
Read
Chapter: Bab 21. Rahasia
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Bogor, akhirnya mobil yang membawa Aisyah berhenti di depan rumah. Hari sudah mulai sore. Langit mendung sejak tadi membuat suasana terasa lebih suram dari biasanya.Aisyah turun perlahan dari mobil. Wajahnya terlihat lelah. Bukan hanya karena perjalanan, tapi juga karena pikirannya yang sejak tadi tidak berhenti berputar.Dadanya masih terasa sesak mengingat semua yang baru saja terjadi.Tentang Nadya.Tentang Raka.Dan tentang Hana yang sama sekali belum mengetahui apa pun.Aisyah menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berusaha menenangkan wajahnya sebisa mungkin. Ia tidak boleh terlihat terlalu kacau, terutama di depan Ahmad.Kondisi suaminya belum benar-benar pulih setelah serangan jantung beberapa waktu lalu.Ia tidak ingin membuat keadaan semakin buruk.Pintu rumah terbuka.“Assalamualaikum,” ucap Aisyah pelan.“Waalaikumsalam.”Ahmad yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh. Televisi masih menyal
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Bab 16. Rasa bersalah
Aisyah menghapus air matanya kasar. Dadanya masih naik turun menahan sesak yang terasa semakin menumpuk. Ia sudah tidak sanggup lagi mendengar apa pun dari keduanya. Semua terasa terlalu menyakitkan. “Jangan halangi Umi lagi,” ucapnya lirih dengan suara bergetar. “Umi mau pulang sekarang.” Nadya langsung melangkah mendekat. “Umi…” Namun Aisyah mundur. Tatapannya kini benar-benar dipenuhi kekecewaan. “Dan dengar baik-baik,” lanjutnya sambil menatap Nadya dalam-dalam, “Umi tidak akan merestui hubungan kalian.” Kalimat itu terdengar begitu tegas dan dingin hingga membuat wajah Nadya semakin pucat. “Camkan itu, Nadya.”Setelah mengatakan itu, Aisyah langsung berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu tanpa menoleh lagi. Tidak ada lagi yang ingin ia lihat selain rasa sakit yang terus memenuhi kepalanya. “Umi… jangan pergi kayak gini…” suara Nadya pecah sambil menangis. Namun Aisyah tidak berhenti. Pintu kamar terbuka lalu tertutup kembali dengan keras. Suara itu menggema di ruangan kecil ters
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Bab 19. Perdebatan
Aisyah menarik napas panjang dengan dada yang masih terasa sesak. Tangannya gemetar saat mengambil tas di atas tempat tidur. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan itu lebih lama.Rasanya terlalu sempit.Terlalu penuh.Dan terlalu menyakitkan.“Umi mau pulang,” ucapnya lirih tanpa menatap keduanya lagi.Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi jelas menunjukkan bahwa hatinya sudah terlalu lelah menghadapi semua kenyataan di depan mata.Aisyah berjalan menuju pintu dengan langkah cepat.Namun baru beberapa langkah—“Umi, tolong ngerti perasaan Nadya…”Suara Nadya membuat langkahnya terhenti.Aisyah memejamkan mata sesaat.Sementara Nadya terus mendekat dengan wajah penuh air mata.“Nadya juga anak Umi…” lanjutnya lirih, tapi kali ini ada nada memohon sekaligus bertahan. “Kenapa dari tadi Umi cuma lihat Hana?”Kalimat itu langsung membuat Aisyah menoleh cepat.Tatapannya berubah.Bukan hanya kecewa.Tapi juga terluka.“Apa?” suaranya pelan, namun terasa tajam.Nadya menangis sambil meng
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 18. Cinta pertama
Aisyah menatap Raka dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. Dada perempuan itu naik turun menahan sesak yang terasa semakin menumpuk sejak tadi. Ia bahkan sampai harus berpegangan pada sisi pintu agar tubuhnya tetap tegak. “Kamu, Raka…” suaranya lirih, tapi justru terdengar lebih menekan. “Kalau memang kamu menyukai Nadya… kenapa kamu memberi harapan pada Hana?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada nada tinggi di sana. Tapi justru itulah yang membuat suasana terasa lebih menyakitkan. Raka menunduk. Untuk pertama kalinya sejak tadi, wajahnya terlihat benar-benar sulit menjawab. “Maaf, Umi…” ucapnya pelan. Aisyah langsung memejamkan mata sesaat mendengar panggilan itu lagi. Namun kali ini ia tidak memotong. “Aku gak tahu kalau Hana itu adiknya Nadya,” lanjut Raka cepat. “Aku kenal Nadya jauh sebelum Hana.” Nadya langsung menunduk semakin dalam. “Aku suka sama Nadya sejak SMA, Mi,” sambung Raka. “Tapi waktu itu Nadya selalu nolak aku. Dia cuma mau fokus sek
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 17. Laki-laki itu lagi
Nadya langsung melangkah maju begitu melihat tubuh Aisyah sedikit goyah.“Umi, tenang dulu… biar Nadya jelaskan,” ucapnya cepat. Suaranya berusaha stabil, meski wajahnya sendiri sudah pucat. Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan ibunya sekarang.Namun Aisyah justru mundur satu langkah.Matanya masih menatap laki-laki di samping Nadya dengan penuh keterkejutan.“Bagaimana caranya Umi bisa tenang, Nadya?” suaranya lirih, tapi penuh tekanan. Air matanya mulai jatuh satu per satu. “Bagaimana?”Nadya menunduk sesaat.Sementara laki-laki itu akhirnya memberanikan diri membuka suara.“Umi… saya minta maaf.”Kalimat itu justru membuat emosi Aisyah pecah.“Kamu!” ucapnya tajam.Rahangnya mengeras. Tangannya sampai bergetar menahan amarah.Nadya langsung memegang lengan ibunya. “Umi…”“Cukup, Nadya!” bentak Aisyah untuk pertama kalinya.Suasana kamar kos itu langsung terasa sesak.Air mata Aisyah jatuh semakin deras. Bibirnya bergetar hebat.“Kamu mau jelasin apa lagi sama Umi, hah?” suarany
Last Updated: 2026-05-07
Chapter: Bab 16. Kenapa?
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.Cahaya matahari baru saja masuk melalui sela tirai ketika Hana sudah bersiap di kamarnya. Hijab syar’i yang rapi, pakaian yang sederhana tapi pantas, dan wajah yang tetap apa adanya—tanpa riasan berlebih. Ia berdiri di depan cermin beberapa detik, memastikan semuanya sudah tepat.Hari ini ada tes lanjutan.Langkah berikutnya dari sesuatu yang kemarin masih terasa asing… tapi kini mulai ia jalani dengan lebih sadar.Hana keluar dari kamar dan menuruni tangga. Suasana rumah sudah hidup, meski belum sepenuhnya ramai. Di ruang tengah, ia melihat Aisyah sudah siap dengan tas di tangan.Hana berhenti.“Loh, mau ke mana, Umi?” tanyanya.Aisyah menoleh. “Mau ke Bogor, Nak. Kakakmu minta Umi ke sana.”Hana mengernyit pelan. “Emang Kak Nadya kenapa, Umi? Dia sakit?”“Nggak tahu,” jawab Aisyah jujur. “Tadi subuh dia telepon. Minta Umi datang… tapi gak jelasin banyak.”Nada suaranya terdengar biasa, tapi jelas menyimpan kekhawatiran.Hana terdiam sejenak.Su
Last Updated: 2026-05-05
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status