Share

Bab 3

Author: Tears
Dia mengambil botol porselen itu, lalu memaksa untuk mengoleskan salep padaku.

Aku menolaknya dan mendorongnya menjauh. "Ibu, aku nggak mau pakai malam ini."

"Nggak boleh, pokoknya harus pakai. Karena sudah disentuh laki-laki, kamu harus pakai salep lebih banyak lagi malam ini."

Nada suaranya sangat dingin dan keras.

Aku sudah berpacaran dengan Satya selama dua tahun. Kegilaan tiba-tibanya di ranjang terus-terusan menghantui pikiranku.

Bukannya menghiburku, ibuku malah sangat dingin dan kasar kepadaku.

Aku tidak mampu lagi menahan perasaanku lagi dan akhirnya menangis tersedu-sedu.

Aku membuka botol porselen itu dengan keras, lalu bertanya dengan nada menuntut, "Ini obat apa sebenarnya? Dadaku kenapa sebenarnya?"

Melihatku menangis tersedu-sedu, ibuku tiba-tiba menghela napas panjang.

Dia melembutkan suaranya dan berkata dengan pelan, "Di hari ulang tahunmu yang ke-25, nanti Ibu ceritakan semuanya."

"Tapi, kamu harus percaya Ibu. Semua yang Ibu lakukan itu demi kebaikanmu."

Aku menatap ibuku dengan mata berkaca-kaca.

Setelah sekian lama, aku akhirnya menyerah.

Aku berbaring di tempat tidur dengan patuh, membiarkan ibuku mengoleskan salep itu dengan lembut.

"Obat ini harus kamu jaga baik-baik. Ini harta berharga kita, sama pentingnya dengan dadamu. Jangan sampai hilang."

Kami menetap di kota baru, dan kehidupan kami segera berjalan normal kembali.

Tepat ketika aku mengira Satya akan perlahan menghilang dari hidupku, aku tiba-tiba bertemu dengannya lagi di kota asing ini.

"Cantika!"

Begitu melihatku, Satya langsung berlari ke arahku dengan penuh kegembiraan dan memelukku erat-erat.

"Akhirnya aku menemukanmu."

Aku menatapnya dengan tidak percaya.

Meski ibuku sudah memberitahuku pada hari kami pindah bahwa Satya sudah kembali normal, aku tetap terkejut saat melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia tidak gila lagi.

Air mata menggenang di mataku, dan tanpa sadar aku ingin membalas pelukannya.

Namun, kata-kata dingin ibuku tiba-tiba bergema di benakku ....

"Ingat kata-katamu. Kalau sampai terulang lagi, laki-laki ini pasti akan mati."

Tanganku yang tadinya hendak membalas pelukannya berubah membeku. Akhirnya, aku perlahan mendorong Satya.

"Satya, kita sudah putus. Jangan cari aku lagi."

Aku berbalik pergi, tetapi Satya meraih pergelangan tanganku dengan kuat.

"Nggak! Aku nggak mau putus. Kenapa putus? Apa salahku?"

Dengan suara tercekat, aku berkata, "Kamu nggak salah apa-apa, tapi kita memang nggak cocok. Kamu sudah lupa kejadian waktu itu? Kamu nggak takut kalau sampai terjadi apa-apa?"

Satya memelukku erat dari belakang. "Aku nggak takut. Aku bisa menunggu sampai kamu 25 tahun. Selama bisa bersamamu, aku nggak takut mati."

Air mata yang kutahan akhirnya tumpah. Aku menangis, berpelukan erat dengan Satya di pinggir jalan.

Ibu sedang dinar luar kota untuk beberapa hari, jadi dia tidak akan memeriksa kami. Malam itu, dengan hati yang berdebar, aku dan Satya pergi ke hotel lagi.

Aku berulang kali mengingatkan, "Kita cuma tiduran saja, nggak melakukan apa-apa, oke?"

Satya bersumpah sambil menunjuk ke langit, "Aku janji nggak akan memaksamu kalau kamu nggak mau."

Kami berdua mengenakan pakaian rapat.

Aku bersandar di pelukannya, dan kami berdua tidak bisa menahan diri membayangkan masa depan setelah aku berumur 25 tahun, saat kami menikah dan memiliki anak.

Sudah hampir pukul 10 malam, saatnya mengoleskan salep.

Aku bangkit ke kamar mandi untuk mengoleskan salep.

Satya memandangi botol porselen itu dengan penasaran. "Mau kubantu?"

Aku menjawab dengan malu-malu, "Nggak usah, ini untuk dada."

Satya mengerutkan kening. "Dioleskan di dada? Memangnya itu apa?"

Aku teringat nasihat ibuku, akhirnya menjawab dengan nada menghindar, "Cuma salep kecantikan biasa."

Saat memasuki kamar mandi, kakiku tiba-tiba terpeleset.

Tepat saat aku hampir terjatuh ke lantai, Satya menangkapku dengan sigap.

Botol porselen itu pun jatuh ke lantai dan pecah. Salepnya berceceran ke wajahku dan Satya.

Satya beberapa saat sebelumnya masih tenang. Tiba-tiba, matanya memerah dan dia merobek baju di dadaku dengan liar.

Pakaian dalamku dilucuti paksa, dan payudaraku sekali lagi terpampang di hadapan Satya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 9

    Aku mengambil ponsel Linda.Setelah membuka-buka isinya sebentar, darahku seketika mendidih.Pantas saja Linda tidak perlu bekerja di luar, tapi tetap bisa hidup dengan sangat nyaman.Ternyata akulah sumber penghasilannya!Dia bahkan mengirimkan foto-fotoku kepada "klien", termasuk beberapa foto sembunyi-sembunyi yang sangat terbuka.Aku membuka pesan teratas, dan baru saat itulah aku mengerti mengapa Linda melarang keras aku berhubungan intim dengan pria.Dia melelang keperawananku. Seorang klien kaya raya sudah memesannya sejak hari ulang tahunku yang ke-18.Itulah sebabnya Linda selama ini sangat ketat mengawasiku, tidak mengizinkanku melakukan hal-hal yang melampaui batas dengan Satya.Melihat foto-foto itu, aku tidak bisa berhenti menangis.Keyakinan yang telah kubangun selama bertahun-tahun tiba-tiba hancur berkeping-keping. Adakah hal yang lebih menakutkan daripada menyadari bahwa orang terdekat di sisiku ternyata adalah seorang iblis?Saat aku merasa ketakutan dan tak berdaya,

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 8

    Aku menatap Satya dengan marah dan berkata dengan susah payah, "Aku nggak akan tes DNA. Jangan coba-coba menipuku."Satya mengambil botol di tanganku dengan lembut."Kebenaran macam apa yang dikarang Linda untukmu? Dia bilang Desa Gunung Kembar dikutuk, dan kutukan itu berasal dari leluhurku, begitu?""Haha, pengkhianat yang mengkhianati Desa Gunung Kembar ini sangat licik.""Pengkhianat?" Kata itu seketika memicu saraf sensitifku. "Siapa yang kamu sebut pengkhianat?"Satya menggelengkan kepala dan menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.Dalam ceritanya, Linda adalah pengkhianat yang tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati Desa Gunung Kembar. Dia ingin memanfaatkan ciri khas para wanita desa, yaitu payudara sempurna, untuk dijadikan bisnis ilegal prostitusi. Sehingga seluruh wanita di desa menjadi objeknya.Penduduk desa sangat marah dan langsung mengusirnya dari desa.Siapa sangka, sebelum meninggalkan desa, Linda menculik seorang bayi yang baru lahir dari desa itu.Bayi itu

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 7

    Wajahku langsung muram. "Mau apa kamu? Mengancamku?"Satya tampak sedikit cemas, menatap botol porselen itu dengan rasa berat hati. "Oke, apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu."Aku pun terharu dan memeluknya. "Aku semalaman nggak tidur. Ayo tidur dulu, aku ngantuk. Kita bicarakan lagi besok, ya?"Aku memberikan botol air minum kepada Satya. Setelah meminumnya, dia segera tertidur lelap.Setelah memastikan napas Satya sudah teratur dan panjang, aku diam-diam bangkit dan menusuk ujung jarinya dengan sebatang jarum.Darah berwarna merah gelap mengalir dari ujung jarum ke dalam botol yang sudah kusiapkan sebelumnya.Baru saja aku memasang tutup botolnya, tiba-tiba ada beban berat di atas kepalaku.Satya mengelus kepalaku dan bertanya dengan datar, "Cantika, kamu perlu apa dengan darahku?"Punggungku seketika merinding.Dengan canggung, aku menoleh ke belakang. Satya yang seharusnya sedang tidur nyenyak ternyata sudah bangun entah sejak kapan."K-kamu belum tidur?"Satya melirik sebent

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 6

    Ibu menceritakan sebuah kisah kepadaku.Dia mengatakan bahwa kami berasal dari sebuah desa misterius bernama Desa Gunung Kembar.Semua wanita di desa itu memiliki sepasang payudara yang sempurna tanpa cela.Awalnya, hal ini merupakan sumber kebanggaan bagi para wanita di desa tersebut. Namun, karena payudara itu jugalah, desa tersebut menjadi incaran orang-orang yang berniat jahat.Suatu hari, seorang dukun misterius datang ke desa itu. Dia mengutuk Desa Gunung Kembar, agar payudara para wanita di desa itu memproduksi hormon aneh setelah menstruasi pertama mereka.Di bawah pengaruh hormon tersebut, gairah seksual para wanita itu akan meningkat drastis. Jika keperawanan mereka direnggut sebelum usia 25 tahun, mereka akan menjadi budak nafsu mereka.Mereka akan tunduk sepenuhnya pada pria yang merenggut keperawanan mereka, menjadi budak dan pelayan, tanpa akal sehat, menuruti segala perintah.Untuk melawan hormon tersebut, Desa Gunung Kembar menghabiskan waktu bertahun-tahun hingga akhir

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 5

    Jantungku berdebar kencang.Aku berusaha memaksakan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. "Bu, aku cuma kaget saja, kamu tiba-tiba muncul di belakangku.""Aku bosan malam-malam sendirian di rumah, jadi mau jalan-jalan ke taman. Ibu mau ikut?"Ibu membuka kunci pintu rumah dan masuk ke dalam."Ibu baru pulang dari luar kota, capek, mau apa pergi ke taman? Ambilkan minum, Ibu haus."Sambil menahan tatapan ibuku, aku meletakkan tasku dengan santai di lemari di serambi.Setelah menuangkan segelas air hangat untuk ibuku, aku mengenakan ranselku kembali. "Kalau begitu, aku pergi sendirian dulu. Ibu istirahat saja di rumah."Saat membungkuk untuk memakai sepatu dan bersiap pergi, ibuku tiba-tiba mengingatkanku, "Kamu kelupaan sesuatu.""Apa?" Aku mendongak dengan bingung, dan seketika melihat botol porselen itu.Mataku sontak melebar.Tanganku spontan memeriksa isi tas. Botol porselen yang tadi kumasukkan ke dalamnya sudah tidak ada lagi.Ibu tertawa dingin. "Mau apa kamu bawa salepku malam-

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 4

    Di saat-saat genting, aku tiba-tiba melonjak dan mendorong Satya dengan keras ke dalam bak mandi.Air dingin membasahi seluruh tubuhnya, membangunkan dirinya dari kegilaan.Aku berbalik dan buru-buru mengancingkan bra-ku. Saat aku hendak mengulurkan tangan untuk mengambil botol porselen itu, aku mendengar Satya berteriak, "Jangan! Salep itu nggak baik!"Aku langsung terdiam kaget."Aku sudah lebih dari sepuluh tahun pakai salep ini. Efeknya cuma untuk memperbesar dan mempercantik payudara saja. Apalagi, ini kan dari ibuku. Kenapa nggak baik?"Mendengar salep itu diberikan oleh ibuku, Satya mendekatkan hidungnya ke botol porselen itu dengan hati-hati untuk mengendus baunya.Setelah beberapa saat, dia mendongak menatapku, ekspresinya sangat serius."Cantika, kamu tahu aku kuliah kedokteran. Dari baunya saja, aku langsung tahu di dalam salep ini ada banyak bahan terlarang. Kalau kamu percaya padaku, biarkan aku bawa salep ini untuk diuji."Mataku membelalak."Mana mungkin? Ini kan dari ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status