Share

Bab 2

Author: Tears
Aku terkejut melihat raut wajah Satya, lalu dengan panik berusaha mengenakan pakaian dalamku.

Namun, tangan Satya lebih cepat dariku.

Dia meremasnya dengan kasar, dan akhirnya bahkan mendekatkan kepalanya ke arahku dengan liar.

"Ah ...!" Aku mengerang tertahan, merasakan kenikmatan yang tak tertandingi ini untuk pertama kalinya.

Pada saat itu, kepalaku seolah-olah menjadi bubur, seluruh tubuhku terasa melayang di awan.

Ternyata, hal seperti ini sangat nikmat, mengapa ibuku tidak mengizinkannya?

Aku memejamkan mata dan menikmati sepenuhnya, tapi seketika itu juga, aku mendengar jeritan melengking.

Seketika, aku membuka mata. Yang kulihat adalah Satya yang mencengkeram leher dengan kedua tangannya sendiri. Matanya merah padam seperti orang gila.

Gairah yang semula menggebu-gebu seketika memudar, dan aku menangis ketakutan melihat pemandangan itu.

"Satya, kamu kenapa?"

Sambil menangis, aku mencoba melepaskan cengkeraman Satya dari lehernya, tetapi dia terlalu kuat. Aku bahkan tidak bisa melepaskan satu jari pun.

Bola matanya semakin melotot. Jika tidak segera diselamatkan, dia pasti akan mencekik dirinya sendiri sampai mati. Aku hanya bisa menelepon ibuku dengan panik.

Ibuku segera bergegas datang, dan begitu melihat kondisi Satya, matanya langsung memicing.

"Dia menyentuh payudaramu?"

Aku tergagap, tidak berani menjawab.

Melihat ekspresiku, ibuku tentu saja langsung mengerti. Dia pun menampar keras pipiku dengan marah.

"Pembangkang! Kan sudah kuperingatkan, jangan biarkan siapa pun menyentuh payudaramu!"

Aku menutupi wajahku, tidak berani membantah, hanya bisa memohon dengan rendah hati kepada ibuku, "Maafkan aku, Bu. Ibu pasti tahu Satya kenapa, 'kan? Tolong selamatkan Satya, aku janji nggak akan mengulanginya lagi."

Ibu menatapku dalam-dalam. "Ya sudah, ingat kata-katamu. Kalau sampai terulang lagi, laki-laki ini pasti akan mati."

Dia mengusirku keluar dari kamar.

Aku berusaha mendekatkan telingaku ke pintu, tapi tidak mendengar suara apa-apa.

Satu jam kemudian, pintu kamar akhirnya terbuka.

Melalui celah pintu, aku melihat Satya yang tadinya gila akhirnya kembali tenang. Saat ini, dia sedang berbaring tenang di tempat tidur.

Hanya bekas merah di lehernya yang menunjukkan bahwa dia tadi benar-benar menggila.

Ibu langsung membawaku pindah ke kota lain pada malam itu juga.

Malam harinya, aku berbaring gelisah, tidak bisa tidur. Setiap mataku terpejam, yang terlintas di pikiranku hanya reaksi Satya yang di luar nalar setelah melihat payudaraku, serta kegilaannya yang tiba-tiba.

Ibuku selalu memperingatkan agar tidak membiarkan siapa pun melihat payudaraku. Bahkan melarangku mengenakan pakaian yang mungkin memperlihatkan dadaku.

Aku selalu mengira ibuku hanya berpikiran kuno saja. Meskipun aku patuh, aku tidak terlalu memikirkan peringatannya.

Namun, reaksi Satya hari ini tiba-tiba membuatku sadar bahwa kedua payudaraku pasti menyembunyikan rahasia yang tidak diketahui orang lain.

Pandanganku tanpa sadar beralih pada botol porselen di lemari samping tempat tidur.

Sejak aku berusia 13 tahun dan mengalami menstruasi pertama, ibuku memberikan salep ini kepadaku dengan sikap misterius. Dia menyuruhku mengoleskannya ke payudaraku setiap malam, tidak boleh terlewat satu kali pun.

Aku awalnya tidak mengerti apa-apa, hanya patuh mengikuti perintahnya.

Kemudian, setelah menyadari bahwa salep ini bisa membuat payudaraku menjadi lebih montok dan halus, aku mulai memakainya sendiri secara sadar.

Namun sekarang, apakah aku masih harus terus memakainya?

Saat aku sedang dilanda dilema, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Ibuku bertanya dengan suara lembut, "Kamu sudah pakai salep malam ini?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Melihat reaksiku, wajah ibuku tiba-tiba menjadi dingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 9

    Aku mengambil ponsel Linda.Setelah membuka-buka isinya sebentar, darahku seketika mendidih.Pantas saja Linda tidak perlu bekerja di luar, tapi tetap bisa hidup dengan sangat nyaman.Ternyata akulah sumber penghasilannya!Dia bahkan mengirimkan foto-fotoku kepada "klien", termasuk beberapa foto sembunyi-sembunyi yang sangat terbuka.Aku membuka pesan teratas, dan baru saat itulah aku mengerti mengapa Linda melarang keras aku berhubungan intim dengan pria.Dia melelang keperawananku. Seorang klien kaya raya sudah memesannya sejak hari ulang tahunku yang ke-18.Itulah sebabnya Linda selama ini sangat ketat mengawasiku, tidak mengizinkanku melakukan hal-hal yang melampaui batas dengan Satya.Melihat foto-foto itu, aku tidak bisa berhenti menangis.Keyakinan yang telah kubangun selama bertahun-tahun tiba-tiba hancur berkeping-keping. Adakah hal yang lebih menakutkan daripada menyadari bahwa orang terdekat di sisiku ternyata adalah seorang iblis?Saat aku merasa ketakutan dan tak berdaya,

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 8

    Aku menatap Satya dengan marah dan berkata dengan susah payah, "Aku nggak akan tes DNA. Jangan coba-coba menipuku."Satya mengambil botol di tanganku dengan lembut."Kebenaran macam apa yang dikarang Linda untukmu? Dia bilang Desa Gunung Kembar dikutuk, dan kutukan itu berasal dari leluhurku, begitu?""Haha, pengkhianat yang mengkhianati Desa Gunung Kembar ini sangat licik.""Pengkhianat?" Kata itu seketika memicu saraf sensitifku. "Siapa yang kamu sebut pengkhianat?"Satya menggelengkan kepala dan menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.Dalam ceritanya, Linda adalah pengkhianat yang tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati Desa Gunung Kembar. Dia ingin memanfaatkan ciri khas para wanita desa, yaitu payudara sempurna, untuk dijadikan bisnis ilegal prostitusi. Sehingga seluruh wanita di desa menjadi objeknya.Penduduk desa sangat marah dan langsung mengusirnya dari desa.Siapa sangka, sebelum meninggalkan desa, Linda menculik seorang bayi yang baru lahir dari desa itu.Bayi itu

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 7

    Wajahku langsung muram. "Mau apa kamu? Mengancamku?"Satya tampak sedikit cemas, menatap botol porselen itu dengan rasa berat hati. "Oke, apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu."Aku pun terharu dan memeluknya. "Aku semalaman nggak tidur. Ayo tidur dulu, aku ngantuk. Kita bicarakan lagi besok, ya?"Aku memberikan botol air minum kepada Satya. Setelah meminumnya, dia segera tertidur lelap.Setelah memastikan napas Satya sudah teratur dan panjang, aku diam-diam bangkit dan menusuk ujung jarinya dengan sebatang jarum.Darah berwarna merah gelap mengalir dari ujung jarum ke dalam botol yang sudah kusiapkan sebelumnya.Baru saja aku memasang tutup botolnya, tiba-tiba ada beban berat di atas kepalaku.Satya mengelus kepalaku dan bertanya dengan datar, "Cantika, kamu perlu apa dengan darahku?"Punggungku seketika merinding.Dengan canggung, aku menoleh ke belakang. Satya yang seharusnya sedang tidur nyenyak ternyata sudah bangun entah sejak kapan."K-kamu belum tidur?"Satya melirik sebent

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 6

    Ibu menceritakan sebuah kisah kepadaku.Dia mengatakan bahwa kami berasal dari sebuah desa misterius bernama Desa Gunung Kembar.Semua wanita di desa itu memiliki sepasang payudara yang sempurna tanpa cela.Awalnya, hal ini merupakan sumber kebanggaan bagi para wanita di desa tersebut. Namun, karena payudara itu jugalah, desa tersebut menjadi incaran orang-orang yang berniat jahat.Suatu hari, seorang dukun misterius datang ke desa itu. Dia mengutuk Desa Gunung Kembar, agar payudara para wanita di desa itu memproduksi hormon aneh setelah menstruasi pertama mereka.Di bawah pengaruh hormon tersebut, gairah seksual para wanita itu akan meningkat drastis. Jika keperawanan mereka direnggut sebelum usia 25 tahun, mereka akan menjadi budak nafsu mereka.Mereka akan tunduk sepenuhnya pada pria yang merenggut keperawanan mereka, menjadi budak dan pelayan, tanpa akal sehat, menuruti segala perintah.Untuk melawan hormon tersebut, Desa Gunung Kembar menghabiskan waktu bertahun-tahun hingga akhir

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 5

    Jantungku berdebar kencang.Aku berusaha memaksakan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. "Bu, aku cuma kaget saja, kamu tiba-tiba muncul di belakangku.""Aku bosan malam-malam sendirian di rumah, jadi mau jalan-jalan ke taman. Ibu mau ikut?"Ibu membuka kunci pintu rumah dan masuk ke dalam."Ibu baru pulang dari luar kota, capek, mau apa pergi ke taman? Ambilkan minum, Ibu haus."Sambil menahan tatapan ibuku, aku meletakkan tasku dengan santai di lemari di serambi.Setelah menuangkan segelas air hangat untuk ibuku, aku mengenakan ranselku kembali. "Kalau begitu, aku pergi sendirian dulu. Ibu istirahat saja di rumah."Saat membungkuk untuk memakai sepatu dan bersiap pergi, ibuku tiba-tiba mengingatkanku, "Kamu kelupaan sesuatu.""Apa?" Aku mendongak dengan bingung, dan seketika melihat botol porselen itu.Mataku sontak melebar.Tanganku spontan memeriksa isi tas. Botol porselen yang tadi kumasukkan ke dalamnya sudah tidak ada lagi.Ibu tertawa dingin. "Mau apa kamu bawa salepku malam-

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 4

    Di saat-saat genting, aku tiba-tiba melonjak dan mendorong Satya dengan keras ke dalam bak mandi.Air dingin membasahi seluruh tubuhnya, membangunkan dirinya dari kegilaan.Aku berbalik dan buru-buru mengancingkan bra-ku. Saat aku hendak mengulurkan tangan untuk mengambil botol porselen itu, aku mendengar Satya berteriak, "Jangan! Salep itu nggak baik!"Aku langsung terdiam kaget."Aku sudah lebih dari sepuluh tahun pakai salep ini. Efeknya cuma untuk memperbesar dan mempercantik payudara saja. Apalagi, ini kan dari ibuku. Kenapa nggak baik?"Mendengar salep itu diberikan oleh ibuku, Satya mendekatkan hidungnya ke botol porselen itu dengan hati-hati untuk mengendus baunya.Setelah beberapa saat, dia mendongak menatapku, ekspresinya sangat serius."Cantika, kamu tahu aku kuliah kedokteran. Dari baunya saja, aku langsung tahu di dalam salep ini ada banyak bahan terlarang. Kalau kamu percaya padaku, biarkan aku bawa salep ini untuk diuji."Mataku membelalak."Mana mungkin? Ini kan dari ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status