Short
Kutukan Desa Gunung Kembar

Kutukan Desa Gunung Kembar

By:  TearsCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sejak aku pertama kali menstruasi, ibuku memberiku sebotol salep dengan sikap misterius dan menyuruhku mengoleskannya ke dada setiap malam. Setelah mengoleskan salep misterius itu selama sepuluh tahun, aku benar-benar memiliki sepasang "gunung kembar" yang paling sempurna. Namun, harta karun yang begitu sempurna itu hanya bisa disembunyikan di balik pakaian. Ibuku melarang keras aku berhubungan intim dengan laki-laki, dan bahkan melarangku mengenakan pakaian apa pun yang memperlihatkan buah dadaku. "Jangan biarkan pria mana pun melihat dadamu. Kalau nggak, pria itu bisa mati!" Pada ulang tahunku yang ke-24, aku berhubungan intim dengan pacarku untuk pertama kalinya. Tidak sanggup menahan rayuan manisnya, aku perlahan melepas pakaianku. Melihat payudara indah itu, pacarku menjadi seperti gila dan langsung menerjangku.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Cantika, kita sudah pacaran selama ini. Beneran nggak boleh?"

Pacarku, Satya, memelukku sambil terus merengek. Kepalanya bersandar di dadaku, membuat payudaraku teremas-remas dengan setiap gerakannya.

Dengan wajah memerah karena malu, aku mendorongnya. "Nggak boleh. Ibuku bilang aku nggak boleh hubungan intim dengan laki-laki sebelum umurku 25 tahun."

"Kenapa?" tanya Satya bingung. "Sekarang sudah zaman modern, kenapa pemikiran ibumu masih kuno? Cantika, jangan khawatir, aku pasti akan bertanggung jawab padamu."

Dia memajukan pinggangnya ke depan dengan penuh isyarat. "Kamu nggak kasihan?"

Mataku menatap ke antara kakinya, melihat tonjolan besar itu, dan wajahku seketika memerah seperti tomat.

Payudaraku yang baru mendapat sentuhan dari Satya mulai terasa panas. Ombak gairah membuncah dari dalam hatiku.

Aku menggigit bibir dan bergumam, "Kalau begitu ... kamu nggak boleh lihat payudaraku, apalagi menyentuhnya ...."

Mata Satya berbinar, dan dia menindihku di atas tempat tidur dengan girang.

"Sayang, kamu terbaik!"

Dia melepas semua pakaiannya dengan antusias, lalu mulai bergerak membuka kancing kemejaku.

Saat kemejaku perlahan terlepas, payudara montok yang terbungkus bra itu terpampang di hadapan orang lain untuk pertama kalinya.

Satya menelan ludah dengan keras, jari-jarinya secara naluriah meraba ke atas.

Aku cepat-cepat melindungi payudaraku dan mundur, menatapnya dengan marah. "Mau apa kamu? Tadi kamu sudah janji nggak akan menyentuhku."

"Maaf, Sayang." Mulut Satya meminta maaf, tapi matanya seperti ditarik magnet, menempel erat pada dadaku dan enggan berpaling sedikit pun.

Hatiku mau tak mau merasa bangga.

Namun, saat memikirkan bahwa payudara yang begitu sempurna ini hanya bisa tersembunyi di balik pakaian dan tidak bisa dilihat oleh siapa pun, aku pun merasa agak sayang.

"Kamu masih mau melakukan sesuatu denganku nggak?" Aku mengingatkan Satya dengan malu-malu.

Baru saat itu Satya mengalihkan pandangannya dengan berat hati. Sambil melepas rok pendekku, dia bertanya tanpa menyerah, "Sayang, beneran nggak boleh lihat payudaramu? Nggak akan kusentuh, jangan khawatir, cuma lihat sebentar saja."

Aku tampak khawatir dan menjawab, "Nggak, aku sudah janji dengan ibuku."

Namun, semakin aku menolak, semakin besar keinginan Satya.

"Cuma lihat sebentar. Atau begini saja, kamu balik badan menghadap cermin, nanti aku lihat bayanganmu di cermin. Kalau begitu kan kamu nggak melanggar perintah ibumu."

Aku benar-benar tidak bisa menolak rayuan Satya.

Ditambah lagi, aku juga sangat penasaran mengapa ibuku tidak mengizinkan orang lain melihat payudaraku? Apa yang akan terjadi jika dilihat?

Akhirnya, dengan ragu-ragu, aku pun setuju.

Satya segera membawa sebuah cermin besar setinggi badan.

Aku berdiri menghadap cermin, melirik dengan malu-malu pada Satya yang sangat bersemangat sampai napasnya menjadi berat. Perlahan-lahan, aku melepas lapisan kain terakhir yang menutupi dadaku.

Saat payudaraku terbuka sepenuhnya, Satya seperti kesurupan. Mata merah menyala. Dia menerjang padaku dan kedua tangannya meraih payudaraku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status