Share

BAB 97

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-05 21:05:49

Beberapa hari setelah gerhana berlalu, kehidupan di daratan atau di dalam laut kembali berjalan seperti biasa, namun bagi Maris, ada sesuatu yang sedikit berubah. Ia tidak bisa menjelaskannya dengan tepat, bukan karena laut berbeda atau nyanyian laut kuno kembali terdengar seperti biasanya. Tapi karena… beberapa hal terasa terlalu teratur akhir-akhir ini.

Maris berenang perlahan melewati jalur karang yang sama, ia tidak bertemu Seraphine sejak beberapa waktu terakhir. Bukan karena menghindar, h
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 98

    Malam di pemukiman duyung berjalan tenang seperti biasanya. Maris baru saja kembali setelah menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah bersama Seraphine, ia bahkan tidak menyadari sudah berapa lama berada di luar. Begitu memasuki rumah, aroma makanan langsung menyambutnya.Maris sedikit terkejut."Ibu?" ucapnya. Ibunya yang sedang merapikan meja langsung menoleh."Kau sudah pulang."Maris mengangguk lalu matanya jatuh pada hidangan di meja. Ada makanan favoritnya yang dulu selalu membuatnya senang."Oh..." ucap ibunya saat menyadari tatapan Maris. Ibunya tersenyum kecil."Ibu kebetulan menemukannya tadi."Itu jelas bukanlah kebetulan. Karena Maris tahu makanan itu tidak mudah ditemukan. Namun ia tidak memikirkannya lebih jauh."Terima kasih, Ibu."Ibunya mengajaknya duduk dan mencicipi makanan itu sedikit. Rasanya masih sama, tetap enak dan hangat. Namun entah kenapa ia tidak terlalu lapar malam itu.Pikirannya masih tertinggal pada percakapannya dengan Lycander beberapa mal

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 97

    Beberapa hari setelah gerhana berlalu, kehidupan di daratan atau di dalam laut kembali berjalan seperti biasa, namun bagi Maris, ada sesuatu yang sedikit berubah. Ia tidak bisa menjelaskannya dengan tepat, bukan karena laut berbeda atau nyanyian laut kuno kembali terdengar seperti biasanya. Tapi karena… beberapa hal terasa terlalu teratur akhir-akhir ini.Maris berenang perlahan melewati jalur karang yang sama, ia tidak bertemu Seraphine sejak beberapa waktu terakhir. Bukan karena menghindar, hanya saja tidak ada kesempatan yang tepat. Dan anehnya, tidak ada yang benar-benar membicarakan Seraphine di sekitarnya.“Apa kabar Seraphine, ya? Sudah lama aku tak bertemu dengannya,” gumamnya dalam hati.Maris tak pernah lagi datang ke rumah Seraphine sejak terakhir kali ke sana dan bertemu ibunya Seraphine. Sekarang ia hanya berenang ke tempat-tempat yang biasanya didatangi Seraphine. Tetapi ia tak menemukan Seraphine sama sekali.Maris tak ingin bertanya ke duyung lain, sebab ia sudah tahu

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 96

    Beberapa hari terakhir terasa berbeda bagi Seraphine. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nerion tinggal lebih lama di pemukiman jadi bisa ditemui kapan saja tanpa harus menunggu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Dan itu sudah cukup membuat hatinya terasa lebih ringan.Malam itu, Seraphine duduk di dekat rumah Nerion. Cahaya tumbuhan laut menerangi sekeliling mereka dengan warna biru lembut, sementara arus bergerak perlahan, tenang, tanpa gangguan. Nerion sedang memperbaiki salah satu batu yang retak di dinding luar rumahnya dan Seraphine memperhatikannya sejak tadi tanpa berkedip."..."Nerion menghela napas pelan."Kau sudah menatapku cukup lama, bisa-bisa wajahku berlubang."Seraphine langsung tertawa ringan."Wajahmu sepertinya tak berlubang. Tapi aku memang sedang menatapmu. Meskipun Itu bukan sesuatu yang seharusnya kubanggakan."Nerion menoleh dan menemukan senyum puas di wajahnya. Ia hanya menggeleng kecil."Kau tidak berubah,” ucapnya akhirnya."Aku bisa mengatakan

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 95

    Malam kembali terasa sunyi diantara Maris dan Lycander setelah Robert pergi. Hanya tersisa suara ombak dan angin laut yang bergerak perlahan di antara mereka. Maris masih berada di perairan dangkal, sementara Lycander duduk di batu di dekatnya, kakinya sesekali tersapu air laut. Tidak ada yang langsung berbicara diantara keduanya, seakan masih terhanyut dalam pikiran masing-masing tentang hal yang samaㅡgerhana. Malam yang hanya berlangsung beberapa jam, namun telah mengubah terlalu banyak hal. Maris menundukkan pandangannya ke permukaan air.“Aku masih tidak percaya itu benar-benar terjadi.”Lycander tersenyum tipis.“Bagian yang mana?” tanya Lycander. Maris menelan ludah pelan sebelum menjawabnya.“Semuanya,” jawab Maris. Jawaban itu membuat Lycander mengalihkan pandangannya ke laut. Ia kembali teringat banyak kejadian dalam waktu singkat. Tentang gerhana, sentuhan dan pelukan serta mutiara hitam yang kini digenggamnya dengan erat itu. Beberapa jam yang terasa seperti mimpi.“Aku

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 94

    Maris menatap Robert beberapa saat sebelum akhirnya menundukkan kepala pelan.“Terima kasih.”Ucapan itu sederhana. Namun cukup membuat Robert menghentikan langkahnya sejenak.“Kau tidak perlu berterima kasih.”“Jika kau tidak membawaku kembali ke laut...” Maris berhenti sesaat. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”Robert menatapnya sebentar.“Berterima kasihlah pada lautmu. Bukan padaku.”Jawaban itu terdengar datar seperti biasa. Namun cukup membuat Maris menahan napasnya karena ucapan Robert itu. Ia akhirnya hanya mengangguk pelan.Keheningan singkat muncul. Lalu Robert mengalihkan pandangannya kepada Lycander yang masih berdiri tidak jauh dari sana.“Aku akan pergi.”Lycander mengangkat alis.“Begitu saja?” tanyanya. “Aku tidak melihat alasan untuk tetap berada di sini,” jawab Robert. Jawaban itu membuat Lycander mendengus kecil. Tanpa menunggu, Robert berbalik. Tidak ada perpisahan panjang atau percakapan tambahan, hanya langkah kaki yang perlahan menjauh dari pesisir.Dan u

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 93

    Kesadaran kembali perlahan, Maris membuka matanya sedikit demi sedikit. Air laut bergerak di sekeliling tubuhnya, membawa rasa sejuk yang menenangkan. Untuk beberapa saat, ia hanya diam.Tubuhnya terasa berat. Seakan seluruh tenaganya terkuras habis."..."Ia mencoba menggerakkan tangannya perlahan, tidak ada sensasi terbakar yang membuatnya menjerit seperti sebelumnya. Namun kelemahan yang tertinggal masih nyata, membuatnya mengerutkan dahinya. Lalu ingatan malam sebelumnya mulai kembaliㅡgerhana, kehangatan dari pelukan serta mutiara hitam.Dan kemudian—rasa sakit yang mengerikan, napasnya tertahan sesaat. Ia langsung menunduk memeriksa lengannya, kulitnya kembali seperti semulaㅡtidak ada luka atau bekas terbakar. Bahkan tidak ada retakan merah yang sempat menyebar di tubuhnya.“Ini…” batinnya.Seolah semuanya tidak pernah terjadi. Namun tubuhnya tahu itu bukan mimpi. Karena rasa lelah yang tertinggal masih terlalu nyata."Maris."Suara yang familiar membuatnya menoleh. Lycander bera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status