INICIAR SESIÓNJam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya.
Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung. Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya. Deg! Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan." "Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya meraba tekstur kain yang terasa lebih halus dari kulit bayi. "Ini bukan sembarang sapu tangan, Celina. Ini sangat mirip... tidak, ini identik dengan milik Tuan Muda Alen Parker!" Celina mendengus, merampas kembali sapu tangannya dengan gerakan agak kasar. "Jangan mulai lagi dengan obsesimu pada pria misterius itu, Tracy. Tidak mungkin sapu tanganku milik penguasa Eropa. Ini pemberian su... maksudku, ini hanya barang biasa." Tracy tidak menyerah. Ia segera merogoh ponselnya, jemarinya menari lincah di atas layar hingga ia menyodorkan sebuah akun sosialita ke depan wajah Celina. Akun dengan centang biru vertikal dan angka pengikut yang nyaris menyentuh 800 juta. Celina menatap malas ke arah layar, namun matanya seketika terpaku. Di sana, pada unggahan terbaru, terlihat sebuah foto yang diambil dengan pencahayaan sinematik. Foto itu hanya memperlihatkan pergelangan tangan seorang pria yang mengenakan jam tangan Patek Philippe seharga ratusan juta dolar. Di jemarinya yang panjang dan berwibawa, ia memegang sapu tangan putih dengan inisial 'CV' yang disulam benang emas. Keterangannya singkat namun mematikan: "Untuk satu-satunya permata dalam hidupku." Darah Celina seolah berhenti mengalir. Inisial itu... sulaman itu... bahkan pola serat sutranya sama persis dengan yang ia genggam saat ini. "Barang apa pun yang diunggah oleh akun Alen Parker adalah barang langka yang diproduksi terbatas, terkadang hanya satu di semesta!" seru Tracy dengan mata berbinar. "Celina, katakan padaku, dari mana kau mendapatkannya?" Celina terkesiap, kebingungan mencari alasan. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa 'pelayan' di rumahnya—yang sebenarnya suaminya—memberikan barang ini. "Aku... aku membelinya di sebuah mall saat liburan di Ostia beberapa bulan lalu," bohongnya, meski suaranya sedikit bergetar. "Oh, mungkin itu barang tiruan yang sangat bagus," Tracy bergumam, meski matanya tetap jeli menatap sapu tangan Celina. "Tapi tetap saja, melihat inisial 'CV' itu... kau benar-benar beruntung memiliki tiruan yang semirip ini." Celina hanya terdiam, matanya turun menatap kain putih di tangannya. Dave, dari mana kau sebenarnya mendapatkan benda ini? ........................................ Sementara itu, di sisi lain kota, Dave berjalan santai di trotoar sembari menenteng dua kantong besar belanjaan dapur. Ia baru saja memenuhi daftar pesanan Theresia yang cerewet. Langkahnya terhenti di sebuah persimpangan menuju area pegunungan yang sepi. Matanya yang setajam elang menyipit saat melihat sebuah sedan hitam metalik menepi sebentar sebelum memacu mesinnya ke arah jalan menanjak. Dave hafal plat nomor itu—kode untuk jaringan mafia Lake Como yang mencoba merayap masuk ke wilayahnya. "Cecunguk ini tidak tahu cara mengetuk pintu," desis Dave. Tanpa membuang waktu, Dave menghentikan sebuah taksi kuning yang melintas. Ia melompat ke kursi belakang. "Ikuti mobil hitam itu. Cepat!" Namun, jalanan Westalis sedang dalam kondisi terburuknya. Barisan truk kontainer mengular panjang, menciptakan kemacetan yang memuakkan. Sopir taksi itu hanya bisa menghela napas pasrah. "Maaf, Tuan, kita tidak bisa terbang melewati kontainer ini," keluh sang sopir. Dave tidak punya waktu untuk birokrasi jalanan. Ia melompati kursi, berpindah ke depan dalam satu gerakan gesit yang membuat sopir itu berteriak kaget. "Pindah ke samping atau pegangan yang kuat!" perintah Dave. BROOOM! Dave menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai. Taksi tua itu meraung kencang. Dengan keahlian balap liar yang ia pelajari di jalanan Roma, Dave meliuk di antara celah-celah sempit kontainer. Ban taksi itu menjerit, bergesekan dengan aspal saat Dave melakukan manuver slalom ekstrem yang mustahil dilakukan sopir biasa. "Tutup matamu jika takut!" teriak Dave. Taksi itu melesat, membelah kemacetan seperti peluru yang menembus sasaran, hingga akhirnya mereka mencapai jalanan kosong menuju pegunungan. Di sebuah tikungan tajam, Dave memutar kemudi secara radikal, melakukan drift sempurna yang memblokir jalan tepat di depan sedan hitam tadi. Dua pria Italia, Dallas dan Matos, terkejut luar biasa. Matos, yang memiliki temperamen pendek, segera keluar dengan senapan otomatis di tangannya. Ia menendang pintu taksi Dave. "Keluar kau, brengsek! Berani-beraninya mengadang jalan kami!" teriak Matos, jarinya sudah menempel di pelatuk. BAM! Satu tendangan dari dalam mobil membuat pintu taksi itu terlepas dari engselnya, menghantam Matos hingga pria itu terhuyung nyaris terjungkal. Dave keluar dari mobil. Tatapannya dingin, aura haus darah memancar begitu kuat hingga udara di sekitar mereka seolah membeku. Dallas, yang baru saja keluar dari kursi kemudi, membeku. Wajahnya memucat seketika saat mengenali sosok di depannya. "Matos, jangan! Berhenti!" Tapi Matos terlambat. Ia mencoba membidikkan senjatanya. Tungkai panjang Dave bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia. Sebuah tendangan melingkar menghantam pergelangan tangan Matos hingga senjatanya terpental, disusul satu hantaman ke dada yang membuat Matos terjungkal tak berdaya. Dallas segera berlutut di aspal yang kasar. "Maafkan kami, Black Snake! Rekanku ini bodoh, dia tidak tahu siapa Anda!" Dave mendekat, suaranya rendah namun mengancam seperti guntur yang tertahan. "Aku tidak mau melihat orang-orang Lake Como beroperasi di Westalis atau Ostia lagi. Jika besok matahari terbit dan kalian masih ada di sini, aku sendiri yang akan mengirim kepala kalian dalam kotak ke bos kalian di Como. Paham?" "Paham, Bos! Kami akan segera pergi!" Dallas menyeret Matos masuk kembali ke mobil dan memutar balik dengan kecepatan penuh. Dave kembali ke taksi. Sopir tua itu menatapnya dengan mulut ternganga. "Tuan... Anda... Anda aktor Hollywood?" Dave tersenyum tipis sembari merapikan pakaiannya. "Bukan. Saya hanya pria biasa yang sedang terburu-buru pulang untuk memasak." Ia turun di pinggiran kota, memberikan segepok uang tunai kepada sopir tersebut. "Ini untuk pintu yang rusak dan untuk diammu." Dave kembali berjalan kaki, menenteng kantong belanjaannya seolah baru saja menyelesaikan jalan-santai di taman. Sore menjelang saat mobil Celina memasuki pelataran mansion. Dari jendela dapur, Dave memperhatikan istrinya turun dengan langkah yang terlihat letih. Jas kremnya tersampir lesu di lengan, wajah cantiknya tampak kuyu. Dave menatap salad buah segar yang sudah ia siapkan khusus di atas meja. Dia butuh energi, pikirnya. Di ruang tengah, Jolie sudah menunggu. Ia langsung merangkul adiknya, mengajaknya duduk di sofa mewah dengan antusiasme yang dipaksakan. "Celina! Lihat ini!" Jolie menunjukkan layar ponselnya. "Tas GUCCI edisi terbatas. Hanya ada tiga di dunia! Kita harus mendapatkannya sebelum orang lain!" Celina hanya menatap malas. "Aku sedang tidak ingin tas baru, Kak." Tak lama, Nyonya Fortman muncul sembari menggendong anjing kecilnya, Molly. "Jangan membantah, Celina. Kau harus tampil sempurna untuk pesta topeng di Ostia pekan depan. Aku ingin Tuan Muda Alen Parker melirikmu. Bayangkan jika kau menjadi permaisuri Miracle Group!" Celina bangkit dengan sisa energinya. "Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi ke pesta itu. Keputusanku sudah bulat." Ia menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Dave yang sedang menata piring di ruang makan mendengar setiap kata. Ia menatap punggung Celina dengan kasih sayang yang mendalam. Tas GUCCI itu? Kau akan mendapatkannya besok pagi, Celina. Dan mengenai pesta topeng itu... kau tidak akan hanya datang, kau akan menjadi bintang utama di sana bersama suamimu. Strategi besar sudah disusun. Pesta topeng itu bukan sekadar acara sosial, melainkan panggung di mana sang penguasa akan menjemput permatanya.Satu bulan telah berlalu sejak badai berdarah di Roma mereda. Langit sore di atas San Alexandria Barat memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan sinarnya pada permukaan fasad kaca sebuah mahakarya arsitektur modern yang berdiri angkuh di atas tebing pantai. Bangunan megah tiga lantai itu adalah Miracle Plaza, proyek raksasa yang dulunya dirintis oleh Maximilian Botticelli, namun kini telah jatuh dan rampung sepenuhnya di bawah kendali mutlak klan Parker. Di puncak gedung, logo besar Group Miracle berkilau diterpa cahaya senja, menjadi simbol dominasi baru yang tak tergoyahkan.Dave Alen Parker berjalan santai di koridor lantai utama yang luas, menggandeng jemari istrinya, Celina Fortman. Langkah kaki mereka menggema di antara pilar-pilar marmer yang masih berbau cat baru. Rencananya, tepat pada malam pergantian tahun baru, plaza ini akan mulai beroperasi secara resmi sebagai pusat perbelanjaan terbesar dan paling mewah di wilayah tersebut.Celina menghentikan langkahnya,
Malam itu juga, tanpa membuang waktu sepeser pun, Dave memerintahkan penyiapan jet pribadinya. Ditemani oleh Luca Cassano dan lima orang bodyguard elit VEGA yang bersenjata lengkap, pesawat jet itu membelah langit malam dari Roma menuju Westalis dalam penerbangan darurat selama dua jam.Tengah malam buta, kesunyian di kediaman Fortman terusik oleh ketukan pintu yang tegas dan beritme khusus. Silvester, yang malam itu berjaga dengan kantuk yang berat, berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama. Begitu daun pintu jati itu terbuka, langkah Silvester seketika terkunci.Di ambang pintu, berdiri Dave Alen Parker dengan aura dingin yang pekat laksana kabut hitam, mengenakan kemeja hitam terikat longgar tanpa dasi dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Silvester dengan gemetar segera membungkuk hormat, memberikan jalan bagi sang Tuan Muda dan Luca untuk melangkah masuk ke dalam rumah."Selamat datang kembali, Tuan Muda Alen," bisik Silvester dengan suara bergetar.Saat Dave dan Luca m
Sinar matahari meliuk rendah, menyentuh permukaan air laut yang berkilau laksana hamparan permata cair, menandai senja yang mulai merambat di pelataran belakang Hotel Victoria. Angin pesisir Roma berembus membawa sisa-sisa aroma mesiu dari pertempuran di Jembatan Garibaldi, namun di taman ini, dekorasi bunga mawar putih yang sempat porak-poranda telah ditata kembali dengan presisi yang menakjubkan. Para tamu undangan, setelah melewati ketegangan dari insiden penculikan dan penyamaran Bianca Casio, kini kembali duduk dengan anggun, menanti kelanjutan dari prosesi sakral yang sempat tertunda.Di atas altar, Dave Alen Parker berdiri tegak menantang angin senja. Setelah pembersihan taktis yang melelahkan dan konfrontasi berdarah melawan Georgio Botticelli, ia telah mengganti tuksedonya dengan setelan baru yang luar biasa rapi. Wajahnya yang tegas tampak segar, seolah ia baru saja kembali dari istirahat alih-alih dari medan pertempuran yang mempertaruhkan nyawa. Guratan senyum tipis t
Matahari pagi Roma menyinari halaman belakang Hotel Victoria dengan kemegahan yang menakutkan. Kelopak-kelopak bunga mawar putih bertebaran di sepanjang red carpet yang membentang menuju altar. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit, mulai dari bangsawan berdarah biru hingga para penguasa industri Eropa, duduk dengan tertib di atas kursi-kursi berbalut kain satin. Di sekeliling perimeter, deretan bodyguard bersetelan hitam dari klan Parker dan tim elit VEGA berdiri dengan posisi siaga, menciptakan barikade yang tak tertembus.Di depan altar, Dave Alen Parker berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama Italia. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, namun matanya yang tajam tak sedetik pun lepas dari pintu kaca besar hotel. Di sampingnya, seorang pendeta agung Roma memegang kitab suci, siap memimpin prosesi pemberkatan yang sakral ini."Di mana mempelai wanitanya?" tanya pendeta. Para tamu saling pandang. Dave menoleh jam tangannya. Kenapa Celina belum mun
Matahari pagi Westalis bersinar terang, namun atmosfer di dalam kediaman Fortman terasa seperti badai yang siap meledak. Seisi rumah bergerak dalam ritme yang tergesa-gesa. Koper-koper kulit besar berjejer di pelataran, siap dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan. Lusa adalah hari paling bersejarah—pernikahan antara Celina Fortman dan Dave Alen Parker di Roma.Theresia Fortman berjalan dengan langkah tegas di koridor lantai dua, suaranya melengking memberikan instruksi kepada Jolie dan Jesica. "Pastikan gaun satin sutra dan kotak perhiasan dari Nona Wilson diletakkan di kompartemen khusus! Jangan sampai ada satu permata pun yang tertinggal!"Di balkon luar, Edward dan Arthur tampak sibuk dengan ponsel mereka, berulang kali membungkuk dan meminta maaf kepada para klien bisnis. "Ya, batalkan semua janji temu untuk dua hari ke depan. Keluarga Fortman akan bertolak ke Roma beberapa jam lagi," ujar Edward dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.Namun, di balik semua kemegahan dan kes
Westalis tenggelam dalam kesunyian tengah malam yang mencekam saat lampu sorot dari Rolls-Royce Phantom hitam membelah kegelapan gerbang kediaman Fortman. Kendaraan mewah itu berhenti dengan presisi di pelataran, namun deru mesinnya seolah membawa aura kematian yang belum tuntas. Silvester, yang berjaga di ambang pintu, tersentak saat melihat Tuan Muda Alen keluar dari kemudi dengan wajah yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Dave melangkah memutar, membuka pintu penumpang, dan memapah Celina. Wanita itu tampak seperti raga tanpa jiwa; bahunya merosot, tatapannya kosong, dan tubuhnya gemetar hebat dalam balutan jas besar milik Dave yang menutupi gaunnya yang terkoyak di balik sana. "Nyonya! Nona Celina sudah pulang bersama Tuan Muda Alen!" Theresia Fortman, yang tertidur gelisah di sofa ruang tengah, langsung terjaga saat Silvester melaporkan kedatangan mereka dengan suara tertahan. Disusul oleh Edward dan Jolie yang muncul dari kamar dengan wajah bantal, mereka semua berh







