共有

Chapter 7

作者: Dewa Amour
last update 最終更新日: 2026-02-23 09:51:29

Jam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya.

Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung.

Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya.

Deg!

Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh.

Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan."

"Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya meraba tekstur kain yang terasa lebih halus dari kulit bayi. "Ini bukan sembarang sapu tangan, Celina. Ini sangat mirip... tidak, ini identik dengan milik Tuan Muda Alen Parker!"

Celina mendengus, merampas kembali sapu tangannya dengan gerakan agak kasar. "Jangan mulai lagi dengan obsesimu pada pria misterius itu, Tracy. Tidak mungkin sapu tanganku milik penguasa Eropa. Ini pemberian su... maksudku, ini hanya barang biasa."

Tracy tidak menyerah. Ia segera merogoh ponselnya, jemarinya menari lincah di atas layar hingga ia menyodorkan sebuah akun sosialita ke depan wajah Celina. Akun dengan centang biru vertikal dan angka pengikut yang nyaris menyentuh 800 juta.

Celina menatap malas ke arah layar, namun matanya seketika terpaku. Di sana, pada unggahan terbaru, terlihat sebuah foto yang diambil dengan pencahayaan sinematik.

Foto itu hanya memperlihatkan pergelangan tangan seorang pria yang mengenakan jam tangan Patek Philippe seharga ratusan juta dolar. Di jemarinya yang panjang dan berwibawa, ia memegang sapu tangan putih dengan inisial 'CV' yang disulam benang emas.

Keterangannya singkat namun mematikan: "Untuk satu-satunya permata dalam hidupku."

Darah Celina seolah berhenti mengalir. Inisial itu... sulaman itu... bahkan pola serat sutranya sama persis dengan yang ia genggam saat ini.

"Barang apa pun yang diunggah oleh akun Alen Parker adalah barang langka yang diproduksi terbatas, terkadang hanya satu di semesta!" seru Tracy dengan mata berbinar. "Celina, katakan padaku, dari mana kau mendapatkannya?"

Celina terkesiap, kebingungan mencari alasan. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa 'pelayan' di rumahnya—yang sebenarnya suaminya—memberikan barang ini. "Aku... aku membelinya di sebuah mall saat liburan di Ostia beberapa bulan lalu," bohongnya, meski suaranya sedikit bergetar.

"Oh, mungkin itu barang tiruan yang sangat bagus," Tracy bergumam, meski matanya tetap jeli menatap sapu tangan Celina.

"Tapi tetap saja, melihat inisial 'CV' itu... kau benar-benar beruntung memiliki tiruan yang semirip ini."

Celina hanya terdiam, matanya turun menatap kain putih di tangannya. Dave, dari mana kau sebenarnya mendapatkan benda ini?

........................................

Sementara itu, di sisi lain kota, Dave berjalan santai di trotoar sembari menenteng dua kantong besar belanjaan dapur. Ia baru saja memenuhi daftar pesanan Theresia yang cerewet. Langkahnya terhenti di sebuah persimpangan menuju area pegunungan yang sepi.

Matanya yang setajam elang menyipit saat melihat sebuah sedan hitam metalik menepi sebentar sebelum memacu mesinnya ke arah jalan menanjak. Dave hafal plat nomor itu—kode untuk jaringan mafia Lake Como yang mencoba merayap masuk ke wilayahnya.

"Cecunguk ini tidak tahu cara mengetuk pintu," desis Dave.

Tanpa membuang waktu, Dave menghentikan sebuah taksi kuning yang melintas. Ia melompat ke kursi belakang.

"Ikuti mobil hitam itu. Cepat!"

Namun, jalanan Westalis sedang dalam kondisi terburuknya. Barisan truk kontainer mengular panjang, menciptakan kemacetan yang memuakkan. Sopir taksi itu hanya bisa menghela napas pasrah.

"Maaf, Tuan, kita tidak bisa terbang melewati kontainer ini," keluh sang sopir.

Dave tidak punya waktu untuk birokrasi jalanan. Ia melompati kursi, berpindah ke depan dalam satu gerakan gesit yang membuat sopir itu berteriak kaget.

"Pindah ke samping atau pegangan yang kuat!" perintah Dave.

BROOOM!

Dave menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai. Taksi tua itu meraung kencang. Dengan keahlian balap liar yang ia pelajari di jalanan Roma, Dave meliuk di antara celah-celah sempit kontainer. Ban taksi itu menjerit, bergesekan dengan aspal saat Dave melakukan manuver slalom ekstrem yang mustahil dilakukan sopir biasa.

"Tutup matamu jika takut!" teriak Dave. Taksi itu melesat, membelah kemacetan seperti peluru yang menembus sasaran, hingga akhirnya mereka mencapai jalanan kosong menuju pegunungan.

Di sebuah tikungan tajam, Dave memutar kemudi secara radikal, melakukan drift sempurna yang memblokir jalan tepat di depan sedan hitam tadi.

Dua pria Italia, Dallas dan Matos, terkejut luar biasa. Matos, yang memiliki temperamen pendek, segera keluar dengan senapan otomatis di tangannya. Ia menendang pintu taksi Dave.

"Keluar kau, brengsek! Berani-beraninya mengadang jalan kami!" teriak Matos, jarinya sudah menempel di pelatuk.

BAM!

Satu tendangan dari dalam mobil membuat pintu taksi itu terlepas dari engselnya, menghantam Matos hingga pria itu terhuyung nyaris terjungkal.

Dave keluar dari mobil. Tatapannya dingin, aura haus darah memancar begitu kuat hingga udara di sekitar mereka seolah membeku.

Dallas, yang baru saja keluar dari kursi kemudi, membeku. Wajahnya memucat seketika saat mengenali sosok di depannya.

"Matos, jangan! Berhenti!"

Tapi Matos terlambat. Ia mencoba membidikkan senjatanya. Tungkai panjang Dave bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia.

Sebuah tendangan melingkar menghantam pergelangan tangan Matos hingga senjatanya terpental, disusul satu hantaman ke dada yang membuat Matos terjungkal tak berdaya.

Dallas segera berlutut di aspal yang kasar. "Maafkan kami, Black Snake! Rekanku ini bodoh, dia tidak tahu siapa Anda!"

Dave mendekat, suaranya rendah namun mengancam seperti guntur yang tertahan. "Aku tidak mau melihat orang-orang Lake Como beroperasi di Westalis atau Ostia lagi. Jika besok matahari terbit dan kalian masih ada di sini, aku sendiri yang akan mengirim kepala kalian dalam kotak ke bos kalian di Como. Paham?"

"Paham, Bos! Kami akan segera pergi!" Dallas menyeret Matos masuk kembali ke mobil dan memutar balik dengan kecepatan penuh.

Dave kembali ke taksi. Sopir tua itu menatapnya dengan mulut ternganga. "Tuan... Anda... Anda aktor Hollywood?"

Dave tersenyum tipis sembari merapikan pakaiannya. "Bukan. Saya hanya pria biasa yang sedang terburu-buru pulang untuk memasak."

Ia turun di pinggiran kota, memberikan segepok uang tunai kepada sopir tersebut. "Ini untuk pintu yang rusak dan untuk diammu." Dave kembali berjalan kaki, menenteng kantong belanjaannya seolah baru saja menyelesaikan jalan-santai di taman.

Sore menjelang saat mobil Celina memasuki pelataran mansion. Dari jendela dapur, Dave memperhatikan istrinya turun dengan langkah yang terlihat letih. Jas kremnya tersampir lesu di lengan, wajah cantiknya tampak kuyu.

Dave menatap salad buah segar yang sudah ia siapkan khusus di atas meja. Dia butuh energi, pikirnya.

Di ruang tengah, Jolie sudah menunggu. Ia langsung merangkul adiknya, mengajaknya duduk di sofa mewah dengan antusiasme yang dipaksakan.

"Celina! Lihat ini!" Jolie menunjukkan layar ponselnya. "Tas GUCCI edisi terbatas. Hanya ada tiga di dunia! Kita harus mendapatkannya sebelum orang lain!"

Celina hanya menatap malas. "Aku sedang tidak ingin tas baru, Kak."

Tak lama, Nyonya Fortman muncul sembari menggendong anjing kecilnya, Molly. "Jangan membantah, Celina. Kau harus tampil sempurna untuk pesta topeng di Ostia pekan depan. Aku ingin Tuan Muda Alen Parker melirikmu. Bayangkan jika kau menjadi permaisuri Miracle Group!"

Celina bangkit dengan sisa energinya. "Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi ke pesta itu. Keputusanku sudah bulat." Ia menaiki tangga tanpa menoleh lagi.

Dave yang sedang menata piring di ruang makan mendengar setiap kata. Ia menatap punggung Celina dengan kasih sayang yang mendalam.

Tas GUCCI itu? Kau akan mendapatkannya besok pagi, Celina. Dan mengenai pesta topeng itu... kau tidak akan hanya datang, kau akan menjadi bintang utama di sana bersama suamimu.

Strategi besar sudah disusun. Pesta topeng itu bukan sekadar acara sosial, melainkan panggung di mana sang penguasa akan menjemput permatanya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 11

    Suasana Ballroom Hotel Cleopatra kian memanas, namun bagi Celina, udara di sekitarnya terasa tipis dan menyesakkan. Dari sudut ruangan yang remang, ia diam-diam memperhatikan sosok pria yang menjadi pusat semesta malam itu. Tuan Muda Alen Parker sedang berdiri di antara Tuan Nigel Foster dan para diplomat tinggi Eropa. Gerak-geriknya tenang, setiap kata yang keluar dari balik topengnya tampak seperti titah yang diperebutkan. Pria itu seperti magnet, dan semua orang di sana adalah serbuk besi yang rela melakukan apa saja demi mendekat. Namun, bukan tumpukan uang atau kekuasaan absolut yang membuat jantung Celina berpacu tidak karuan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bersifat naluriah. Cara pria itu memiringkan kepala, cara ia menumpukan berat badan pada satu kaki, hingga tatapan tajam yang sesekali menyapu ruangan—semuanya memicu memori sensorik di otak Celina. Kenapa kehadirannya terasa begitu mirip dengan Dave? "Celina! Lihat dia!" Jolie tiba-tiba menghampiri, mem

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 10

    Tiga hari telah berlalu seperti hembusan angin yang membawa aroma badai. Pesta topeng yang digelar oleh raksasa Westalis, Group Foster, kini hanya tinggal hitungan jam. Seantero kota—bahkan seluruh daratan Eropa—seolah menahan napas. Headline surat kabar dan media sosial tak henti-hentinya menggaungkan satu nama: Alen Parker. Sang penguasa Miracle Group yang mistis akhirnya akan muncul dari balik tirai emasnya. Para wanita lajang dari klan bangsawan dan putri-putri konglomerat telah menghabiskan ribuan dolar hanya untuk memastikan helai rambut mereka jatuh dengan sempurna malam ini. Di kediaman Fortman, sore itu suasana lebih mirip medan perang estetika daripada sebuah rumah. Jolie dan Jesica sudah sibuk berhias sejak matahari masih tinggi. Gaun-gaun sutra dan brokat berserakan di lantai marmer tanpa dipedulikan, sementara tiga orang perias profesional dan penata rambut bergerak lincah di sekitar mereka. Celina muncul di ambang pintu dengan wajah murung. Matanya redup, tak ada

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 9

    Mobil sedan perak milik Celina meluncur mulus memasuki area parkir sebuah mall kelas atas di pusat Westalis. Begitu mesin mati, Dave menunjukkan inisiatif yang lahir dari insting perlindungannya yang tajam; ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Celina dengan gerakan yang sangat sopan. Celina menatap suaminya, hatinya menghangat melihat perlakuan manis itu, meski di mata dunia, tindakan Dave hanyalah standar operasional seorang pelayan. Mereka melangkah masuk ke dalam mall yang megah. Dave berjalan di samping Celina dengan dagu tegak dan langkah yang tenang. Ia tidak terlihat norak atau kagok meski berada di tengah kemewahan—sesuatu yang membuat Celina tersenyum lega. Namun, ketenangan itu terusik saat tiga orang wanita dengan pakaian bermerek dan aroma parfum yang menusuk hidung muncul dari arah gerai perhiasan. Mereka adalah teman-teman sosialita Celina. "Celina! Oh, Tuhan, sudah lama tidak bertemu!" salah satu dari mereka berseru, menghampiri dengan

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 8

    Makan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin. Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun.Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin. Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku.Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya."Dave," sapanya lembut, berja

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 7

    Jam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya. Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung. Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya. Deg! Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan." "Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya m

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 6

    Kota Ostia, pelabuhan satelit Westalis yang menjadi pusat ekonomi baru, pagi itu didera hiruk-pikuk yang tak biasa. Di depan markas besar Miracle Group—sebuah menara kaca hitam yang menjulang seolah hendak menusuk langit—sekumpulan wartawan telah berkumpul seperti kawanan serigala yang mencium bau darah. Kamera-kamera dengan lensa panjang membidik pintu utama saat sebuah SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di sana. Luca keluar dari kursi penumpang dengan setelan jas yang licin dan wajah sedingin es. "Tuan Luca! Benarkah Tuan Muda Alen Parker akan menghadiri pesta di Westalis pekan depan?" "Apakah benar pimpinan tertinggi Miracle Group sudah berada di daratan ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Luca layaknya peluru, namun ia tak sedikit pun melambatkan langkah. Di balik kacamata hitamnya, Luca hanya bisa mendengus geli. Para wartawan ini mengejar bayangan yang bahkan tak mereka kenali wajahnya. Luca tahu benar di mana "bos" mereka saat ini: mungkin sedang sibuk me

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status