FAZER LOGINMakan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin.
Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun. Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin. Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku. Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya. "Dave," sapanya lembut, berjalan hingga berdiri di samping suaminya. Celina tersenyum tipis. "Biarkan aku membantumu mencuci piring." Dave tersentak, menoleh dengan gerakan yang sedikit kaku. "Tidak perlu, Celina. Aku bisa mengurus tumpukan ini dalam lima menit. Kau seharian bekerja, pergilah istirahat." Celina tidak beranjak. Ia justru terpesona melihat kebiasaan kecil Dave; pria itu selalu membasahi bibirnya sebelum bicara, sebuah gestur yang bagi Celina terlihat sangat menggemaskan sekaligus... menggoda. Jantung Dave berdebar kencang saat melihat senyum manis istrinya sedekat ini. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sangat fokus pada noda lemak di piring porselen. "Besok aku cuti," ujar Celina tiba-tiba. "Aku pernah berjanji akan membelikanmu kemeja baru, ingat? Aku akan mengajakmu ke butik pusat kota. Kita butuh beberapa kemeja dan mantel baru, musim dingin nyaris tiba." Dave menggeleng pelan, meski hatinya bersorak. "Nyonya Fortman tidak akan suka jika melihat kita pergi bersama." Celina menatapnya tajam, keberanian muncul di matanya. "Kenapa Mommy harus melarangku pergi dengan suamiku sendiri?" Mendengar kata "suami" keluar dari bibir Celina dengan begitu lugas, Dave merasa seolah ribuan bunga mekar di dalam dadanya. Ia merasa diakui, bukan sebagai pelayan, tapi sebagai pria yang sah di sisi wanita ini. Celina kemudian meraih lengan Dave, membersihkan sisa busa sabun di tangan pria itu dengan sehelai kain bersih. Sentuhan itu membuat tubuh Dave bergetar hebat. Sebuah sengatan listrik seolah menjalar dari ujung jari Celina menuju jantungnya. "Bersiaplah besok pagi jam delapan. Kita pergi bersama," tegas Celina sebelum melepaskan tangan Dave dan berlalu pergi. Dave memandangi punggung Celina hingga menghilang di balik lorong. Ia sadar, ia telah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada wanita yang secara hukum adalah miliknya, namun secara fisik masih haram untuk ia sentuh dengan penuh gairah. .............................................. Pagi buta, Dave sudah terjaga. Setelah menata meja sarapan dengan sempurna, ia kembali ke kamarnya untuk bersiap. Di depan cermin kusam, ia mematut penampilannya. Ia mengenakan celana kain hitam, namun dadanya masih polos, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk dari latihan militer selama bertahun-tahun di markas rahasia Roma. BRAK! Pintu kamar Dave ditendang hingga menghantam dinding. Arthur Desmond masuk dengan wajah penuh kebencian. Ia menghampiri Dave dengan langkah arogan, matanya menatap tajam pada tubuh atletis Dave yang bertelanjang dada. "Bagaimana cara seorang pecundang sepertimu membentuk otot seperti ini?" Arthur bertanya dengan nada sinis yang kental. "Kau tidak pernah ke gym, tidak punya uang untuk protein, tapi tubuhmu lebih seperti petarung daripada pelayan." Dave bersikap tenang, merendahkan bahunya agar terlihat tidak mengancam. "Dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang berat di mansion ini, otot-otot ini tumbuh sendiri, Tuan Arthur." Arthur tertawa meremehkan, lalu tiba-tiba mencengkeram leher Dave dan menekannya ke dinding. "Siapa kau sebenarnya, Dave? James Fortman tidak pernah menceritakan latar belakangmu. Seorang yatim piatu yang ditemukan di jalanan? Aku tidak percaya." Dave menahan napas, matanya menatap Arthur dengan kepatuhan palsu yang mematikan. "Saya hanya pria yatim yang beruntung karena Tuan James membawa saya ke sini. Tidak lebih." Arthur mendengus, melepaskan cengkeramannya. "Dengar, saat ini Westalis sedang gencar dengan isu mata-mata Italia yang ingin mengambil alih kota. Jika aku menemukan bukti sedikit saja bahwa kau adalah bagian dari mereka, aku sendiri yang akan menyeretmu ke penjara bawah tanah." Setelah Arthur keluar dengan angkuh, Celina muncul di pintu yang masih terbuka. Ia hendak memanggil Dave, namun pemandangan di depannya membuat napasnya tertahan. Ia melihat punggung telanjang Dave yang kokoh, dan matanya membelalak saat melihat tato ular hitam yang melilit di pinggang Dave—sebuah simbol kegarangan yang sangat kontras dengan sifat penurut suaminya selama ini. "Ah!" Celina menjerit kecil dan segera berbalik badan, wajahnya memerah padam. "Maaf, Celina! Tunggu sebentar, aku belum memakai baju," Dave berseru panik sembari menyambar kemejanya. Celina berdiri mematung di ambang pintu, namun ia tak tahan untuk tidak melirik sedikit lewat pantulan cermin di sudut ruangan. Postur tubuhnya... sangat sempurna, batin Celina bergejolak. Tato itu... apa arti tato ular hitam itu? Suasana Mansion Fortman cukup aman karena Theresia sedang pergi berbelanja dengan teman sosialitanya. Namun, dari balkon lantai dua, Jesica memperhatikan dengan tatapan penuh selidik saat Celina dan Dave berjalan menuju mobil di pelataran. Di dalam mobil, Celina duduk di kursi pengemudi. Dave duduk di sampingnya, tampak kaku. Ia merasa tidak enak hati membiarkan istrinya menyetir, namun di rumah ini, tak ada yang tahu bahwa Dave bisa mengemudikan kendaraan apa pun—mulai dari mobil balap hingga tank tempur. Celina mengemudikan mobil dengan sangat santai. Sebenarnya, ia hanya ingin memperlama waktu berduaan dengan Dave. Sesekali ia melirik ke arah pria di sampingnya yang terlihat tampan meski hanya mengenakan kemeja hitam murah. "Apa yang dilakukan Arthur di kamarmu tadi?" tanya Celina, memecah keheningan. "Dia... menanyakan sapu tangan yang tertinggal di meja makan," jawab Dave berbohong. Mendengar kata sapu tangan, Celina teringat akan hadiah ulang tahunnya yang sangat mirip dengan milik Alen Parker. "Bicara soal sapu tangan... Dave, di mana kau membeli hadiah untukku itu?" Dave terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Sapu tangan itu dipesan khusus melalui Luca dari pengrajin terbaik di Paris. Ia tidak mungkin jujur. "Maafkan aku, Celina," Dave menunduk, memasang wajah menyesal. "Aku tidak punya banyak uang untuk hadiah mewah. Aku mendapatkan sapu tangan itu dari seorang pengepul barang lama di pasar loak. Aku melihat inisial 'CV' dan merasa itu sangat cocok untukmu. Apa kau marah karena aku memberimu barang bekas?" Celina tertegun, lalu buru-buru menggeleng. "Tentu saja tidak! Aku sangat menyukainya, Dave. Aku bahkan selalu membawanya di dalam tas kerjaku. Jangan merasa bersalah." Dave tersenyum tipis, merasa lega karena kebohongannya diterima dengan baik. Namun di dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri: Suatu hari nanti, Celina, aku tidak akan pernah berbohong lagi padamu. Semua yang kumiliki, Miracle Group, kekuasaanku, dan hidupku... semuanya akan menjadi milikmu. Dave menatap jalanan di depan dengan tatapan yang kembali tajam. Ia harus bersabar. Penyamaran ini adalah satu-satunya cara untuk mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan ayahnya, Anthony Parker, dan kecelakaan rekayasa yang merenggut nyawa Jeremy Fortman—pria yang sudah ia anggap seperti ayah kedua. Jika identitasnya terbongkar sekarang, musuh-musuhnya yang bersembunyi di dalam kegelapan Westalis akan segera melenyapkannya dan mungkin akan membahayakan Celina. Ia harus tetap menjadi 'Si Kecoa' hingga waktu pembalasan itu tiba.Angin musim semi di Westalis bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon maple di luar jendela Kediaman Fortman dengan suara gesekan yang terdengar seperti bisikan rahasia. Namun, di dalam ruang makan yang megah itu, suasana justru terasa membeku. Udara seolah memadat, menyisakan keheningan yang begitu tipis hingga suara napas pun terdengar seperti ancaman.Dave Alen Parker duduk dengan tenang di kursi utama—singgasana yang biasanya diduduki oleh mendiang James Fortman. Ia tidak lagi mengenakan topeng peraknya. Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan sorot mata biru yang tajam, kini terpampang nyata tanpa penghalang. Di samping kiri dan kanannya berdiri Luca dan Silvester, dua bayangan setia yang memberikan kesan bahwa meja makan itu kini adalah pusat komando kerajaan bisnis global.Edward dan Arthur berdiri kaku di sisi kanan, tangan mereka mengepal namun gemetar di samping jahitan celana. Jolie dan Jesica di sisi kiri tampak seolah nyawa mereka telah dicabut paksa
Langit Roma sore itu tampak seperti terbakar, membiaskan warna merah tembaga yang memantul di atas genangan darah di pelataran Miracle Hospital.Puluhan tentara bayaran Carlos Stanza dan Frozman kini tak lebih dari onggokan daging tak bernyawa, berserakan di antara puing-puing kendaraan baja yang hancur. Di tengah-tengah pemakaman masal itu, Dave Alen Parker berdiri tegak. Luka di dadanya berdenyut hebat, darah segar mengalir dari pelipisnya, namun aura dominasinya justru semakin mengintimidasi.Celina berlari keluar dari lobi rumah sakit yang baru saja selamat dari kehancuran. Begitu melihat sosok Dave yang masih berdiri, air matanya tumpah. Ia menghambur ke pelukan suaminya, menghirup aroma maskulin yang bercampur bau mesiu."Dave! Kau hidup... kau selamat," isak Celina.Dave tersenyum tipis, mengusap pipi Celina dengan jemarinya yang kasar. "Kau harus pulang, Celina. Tempat ini terlalu kotor untukmu sekarang."Di sekeliling mereka, tim penjinak bom yang dipimpin Luca baru saja men
Lorong rumah sakit yang biasanya hening kini berubah menjadi arena gladiator yang bersimbah darah. Luca Cassano, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai perisai tak tertembus keluarga Parker, mulai mencapai titik nadirnya. Dominico—pembunuh bayaran paling brutal kiriman Carlos Stanza—bergerak seperti bayangan yang haus nyawa. Pisau kerambit di tangannya telah merobek jas Luca, meninggalkan luka menganga di bahunya. Luca terpojok di dinding, napasnya memburu, matanya mulai mengabur akibat hantaman bertubi-tubi.Dominico menyeringai, mengangkat pisaunya untuk satu serangan fatal ke arah tenggorokan Luca. Namun, tepat sebelum besi dingin itu menyentuh kulit, sebuah dentuman keras menghancurkan kesunyian.BRAKK!Pintu ruang ICU didobrak dari dalam dengan kekuatan yang mustahil dimiliki oleh seseorang yang baru saja sekarat. Dari balik kepulan uap dingin alat medis, Alen Parker muncul. Ia bukan lagi pria yang terbaring lemah dengan selang oksigen; ia berdiri tegak dengan pakaian takt
Koridor Miracle Hospital Roma berubah menjadi pusaran kepanikan. Di dalam ruang ICU, bau ozon dari alat defibrilator dan aroma tajam obat-obatan bercampur dengan aroma kematian yang kian menebal. Dave Alen Parker masih terbaring kaku, wajahnya sepucat marmer Carrara, sementara garis di layar monitor Electrocardiogram kian mendatar, hanya menyisakan getaran-getaran lemah yang menandakan sisa nyawa yang hampir padam.Di ambang pintu, Celina berdiri dengan napas tersengal. Rambutnya berantakan, gaunnya kusut setelah penerbangan darurat paling gila dalam hidupnya menggunakan jet pribadi yang dikirim Luca. Matanya yang sembab menatap pemandangan mengerikan di depannya: Dave, suaminya, pria yang beberapa jam lalu ia maki sebagai monster, kini tampak begitu rapuh di bawah kepungan selang medis.Ia mungkin tak pernah mengerti dengan kehidupan yang Dave jalani, tentang bagaimana ia menjadi seorang yang sukses di usia mudanya, tentang masa lalu keluarga Parker dan para musuh yang merenggut se
Deru helikopter medis membelah keheningan malam Roma, mendarat dengan urgensi yang mencekam di landasan Miracle Hospital. Di dalam ambulans khusus yang menyambut, Luca Cassano menggenggam tangan Dave Alen Parker yang sedingin es. Kemeja putih yang dikenakan Dave kini telah berubah menjadi kanvas merah yang mengerikan. Darah terus merembes, menantang maut yang kian mendekat."Tahan, Tuan Muda! Jangan menyerah sekarang!" teriak Luca, suaranya parau oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Begitu pintu ambulans terbuka, tim dokter terbaik klan Parker segera melarikan brankar Dave menuju ruang operasi. Lampu merah di atas pintu menyala—sebuah tanda bahwa di balik sana, seorang pewaris takhta sedang bertarung mempertahankan napas terakhirnya.Luca berdiri mematung di koridor yang sunyi, tangannya yang bersimbah darah gemetar hebat. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-memecah keheningan. Keluarga Wilson tiba. Marquez Wilson memimpin di depan dengan wajah yan
Matahari Westalis mulai tenggelam, membasahi langit dengan warna oranye yang tampak seperti luka yang menganga. Di kediaman megah keluarga Fortman, kesunyian terasa mencekam. Silvester berdiri kaku di gerbang, sementara Luca—tangan kanan setia keluarga Parker—membukakan pintu mobil hitam mengkilap yang baru saja membelah kesunyian pelataran.Sesosok pria keluar dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia mengenakan topeng, sebuah simbol perlindungan sekaligus kutukan. Dave Alen Parker berjalan cepat, langkah sepatunya beradu dengan marmer teras, menciptakan irama urgensi yang menggetarkan udara. Ia mengabaikan kemegahan pilar-pilar rumah itu; pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Celina."Nona Celina ada di teras belakang, Tuan Muda. Dekat kolam renang," bisik Silvester tanpa berani menatap mata di balik topeng itu.Dave melangkah lebar, melintasi koridor luas hingga udara segar dari taman belakang menyapu wajahnya. Di sana, di tepi kolam renang yang airnya memantulkan cahaya senj







