Compartir

Chapter 8

Autor: Dewa Amour
last update Fecha de publicación: 2026-02-23 09:52:18

Makan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin.

Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun.

Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin.

Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku.

Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya.

"Dave," sapanya lembut, berjalan hingga berdiri di samping suaminya. Celina tersenyum tipis. "Biarkan aku membantumu mencuci piring."

Dave tersentak, menoleh dengan gerakan yang sedikit kaku. "Tidak perlu, Celina. Aku bisa mengurus tumpukan ini dalam lima menit. Kau seharian bekerja, pergilah istirahat."

Celina tidak beranjak. Ia justru terpesona melihat kebiasaan kecil Dave; pria itu selalu membasahi bibirnya sebelum bicara, sebuah gestur yang bagi Celina terlihat sangat menggemaskan sekaligus... menggoda.

Jantung Dave berdebar kencang saat melihat senyum manis istrinya sedekat ini. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sangat fokus pada noda lemak di piring porselen.

"Besok aku cuti," ujar Celina tiba-tiba. "Aku pernah berjanji akan membelikanmu kemeja baru, ingat? Aku akan mengajakmu ke butik pusat kota. Kita butuh beberapa kemeja dan mantel baru, musim dingin nyaris tiba."

Dave menggeleng pelan, meski hatinya bersorak. "Nyonya Fortman tidak akan suka jika melihat kita pergi bersama."

Celina menatapnya tajam, keberanian muncul di matanya. "Kenapa Mommy harus melarangku pergi dengan suamiku sendiri?"

Mendengar kata "suami" keluar dari bibir Celina dengan begitu lugas, Dave merasa seolah ribuan bunga mekar di dalam dadanya. Ia merasa diakui, bukan sebagai pelayan, tapi sebagai pria yang sah di sisi wanita ini.

Celina kemudian meraih lengan Dave, membersihkan sisa busa sabun di tangan pria itu dengan sehelai kain bersih.

Sentuhan itu membuat tubuh Dave bergetar hebat.

Sebuah sengatan listrik seolah menjalar dari ujung jari Celina menuju jantungnya. "Bersiaplah besok pagi jam delapan. Kita pergi bersama," tegas Celina sebelum melepaskan tangan Dave dan berlalu pergi.

Dave memandangi punggung Celina hingga menghilang di balik lorong. Ia sadar, ia telah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada wanita yang secara hukum adalah miliknya, namun secara fisik masih haram untuk ia sentuh dengan penuh gairah.

..............................................

Pagi buta, Dave sudah terjaga. Setelah menata meja sarapan dengan sempurna, ia kembali ke kamarnya untuk bersiap. Di depan cermin kusam, ia mematut penampilannya.

Ia mengenakan celana kain hitam, namun dadanya masih polos, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk dari latihan militer selama bertahun-tahun di markas rahasia Roma.

BRAK!

Pintu kamar Dave ditendang hingga menghantam dinding. Arthur Desmond masuk dengan wajah penuh kebencian. Ia menghampiri Dave dengan langkah arogan, matanya menatap tajam pada tubuh atletis Dave yang bertelanjang dada.

"Bagaimana cara seorang pecundang sepertimu membentuk otot seperti ini?" Arthur bertanya dengan nada sinis yang kental. "Kau tidak pernah ke gym, tidak punya uang untuk protein, tapi tubuhmu lebih seperti petarung daripada pelayan."

Dave bersikap tenang, merendahkan bahunya agar terlihat tidak mengancam. "Dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang berat di mansion ini, otot-otot ini tumbuh sendiri, Tuan Arthur."

Arthur tertawa meremehkan, lalu tiba-tiba mencengkeram leher Dave dan menekannya ke dinding. "Siapa kau sebenarnya, Dave? James Fortman tidak pernah menceritakan latar belakangmu. Seorang yatim piatu yang ditemukan di jalanan? Aku tidak percaya."

Dave menahan napas, matanya menatap Arthur dengan kepatuhan palsu yang mematikan. "Saya hanya pria yatim yang beruntung karena Tuan James membawa saya ke sini. Tidak lebih."

Arthur mendengus, melepaskan cengkeramannya. "Dengar, saat ini Westalis sedang gencar dengan isu mata-mata Italia yang ingin mengambil alih kota. Jika aku menemukan bukti sedikit saja bahwa kau adalah bagian dari mereka, aku sendiri yang akan menyeretmu ke penjara bawah tanah."

Setelah Arthur keluar dengan angkuh, Celina muncul di pintu yang masih terbuka. Ia hendak memanggil Dave, namun pemandangan di depannya membuat napasnya tertahan.

Ia melihat punggung telanjang Dave yang kokoh, dan matanya membelalak saat melihat tato ular hitam yang melilit di pinggang Dave—sebuah simbol kegarangan yang sangat kontras dengan sifat penurut suaminya selama ini.

"Ah!" Celina menjerit kecil dan segera berbalik badan, wajahnya memerah padam.

"Maaf, Celina! Tunggu sebentar, aku belum memakai baju," Dave berseru panik sembari menyambar kemejanya.

Celina berdiri mematung di ambang pintu, namun ia tak tahan untuk tidak melirik sedikit lewat pantulan cermin di sudut ruangan. Postur tubuhnya... sangat sempurna, batin Celina bergejolak. Tato itu... apa arti tato ular hitam itu?

Suasana Mansion Fortman cukup aman karena Theresia sedang pergi berbelanja dengan teman sosialitanya. Namun, dari balkon lantai dua, Jesica memperhatikan dengan tatapan penuh selidik saat Celina dan Dave berjalan menuju mobil di pelataran.

Di dalam mobil, Celina duduk di kursi pengemudi. Dave duduk di sampingnya, tampak kaku. Ia merasa tidak enak hati membiarkan istrinya menyetir, namun di rumah ini, tak ada yang tahu bahwa Dave bisa mengemudikan kendaraan apa pun—mulai dari mobil balap hingga tank tempur.

Celina mengemudikan mobil dengan sangat santai. Sebenarnya, ia hanya ingin memperlama waktu berduaan dengan Dave.

Sesekali ia melirik ke arah pria di sampingnya yang terlihat tampan meski hanya mengenakan kemeja hitam murah.

"Apa yang dilakukan Arthur di kamarmu tadi?" tanya Celina, memecah keheningan.

"Dia... menanyakan sapu tangan yang tertinggal di meja makan," jawab Dave berbohong.

Mendengar kata sapu tangan, Celina teringat akan hadiah ulang tahunnya yang sangat mirip dengan milik Alen Parker. "Bicara soal sapu tangan... Dave, di mana kau membeli hadiah untukku itu?"

Dave terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Sapu tangan itu dipesan khusus melalui Luca dari pengrajin terbaik di Paris. Ia tidak mungkin jujur.

"Maafkan aku, Celina," Dave menunduk, memasang wajah menyesal. "Aku tidak punya banyak uang untuk hadiah mewah. Aku mendapatkan sapu tangan itu dari seorang pengepul barang lama di pasar loak. Aku melihat inisial 'CV' dan merasa itu sangat cocok untukmu. Apa kau marah karena aku memberimu barang bekas?"

Celina tertegun, lalu buru-buru menggeleng. "Tentu saja tidak! Aku sangat menyukainya, Dave. Aku bahkan selalu membawanya di dalam tas kerjaku. Jangan merasa bersalah."

Dave tersenyum tipis, merasa lega karena kebohongannya diterima dengan baik. Namun di dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri: Suatu hari nanti, Celina, aku tidak akan pernah berbohong lagi padamu. Semua yang kumiliki, Miracle Group, kekuasaanku, dan hidupku... semuanya akan menjadi milikmu.

Dave menatap jalanan di depan dengan tatapan yang kembali tajam. Ia harus bersabar.

Penyamaran ini adalah satu-satunya cara untuk mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan ayahnya, Anthony Parker, dan kecelakaan rekayasa yang merenggut nyawa Jeremy Fortman—pria yang sudah ia anggap seperti ayah kedua.

Jika identitasnya terbongkar sekarang, musuh-musuhnya yang bersembunyi di dalam kegelapan Westalis akan segera melenyapkannya dan mungkin akan membahayakan Celina. Ia harus tetap menjadi 'Si Kecoa' hingga waktu pembalasan itu tiba.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 102 - Warisan Klan Parker (Ending)

    Satu bulan telah berlalu sejak badai berdarah di Roma mereda. Langit sore di atas San Alexandria Barat memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan sinarnya pada permukaan fasad kaca sebuah mahakarya arsitektur modern yang berdiri angkuh di atas tebing pantai. Bangunan megah tiga lantai itu adalah Miracle Plaza, proyek raksasa yang dulunya dirintis oleh Maximilian Botticelli, namun kini telah jatuh dan rampung sepenuhnya di bawah kendali mutlak klan Parker. Di puncak gedung, logo besar Group Miracle berkilau diterpa cahaya senja, menjadi simbol dominasi baru yang tak tergoyahkan.​Dave Alen Parker berjalan santai di koridor lantai utama yang luas, menggandeng jemari istrinya, Celina Fortman. Langkah kaki mereka menggema di antara pilar-pilar marmer yang masih berbau cat baru. Rencananya, tepat pada malam pergantian tahun baru, plaza ini akan mulai beroperasi secara resmi sebagai pusat perbelanjaan terbesar dan paling mewah di wilayah tersebut.​Celina menghentikan langkahnya,

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 101

    Malam itu juga, tanpa membuang waktu sepeser pun, Dave memerintahkan penyiapan jet pribadinya. Ditemani oleh Luca Cassano dan lima orang bodyguard elit VEGA yang bersenjata lengkap, pesawat jet itu membelah langit malam dari Roma menuju Westalis dalam penerbangan darurat selama dua jam.Tengah malam buta, kesunyian di kediaman Fortman terusik oleh ketukan pintu yang tegas dan beritme khusus. Silvester, yang malam itu berjaga dengan kantuk yang berat, berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama. Begitu daun pintu jati itu terbuka, langkah Silvester seketika terkunci.Di ambang pintu, berdiri Dave Alen Parker dengan aura dingin yang pekat laksana kabut hitam, mengenakan kemeja hitam terikat longgar tanpa dasi dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Silvester dengan gemetar segera membungkuk hormat, memberikan jalan bagi sang Tuan Muda dan Luca untuk melangkah masuk ke dalam rumah."Selamat datang kembali, Tuan Muda Alen," bisik Silvester dengan suara bergetar.Saat Dave dan Luca m

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 100

    Sinar matahari meliuk rendah, menyentuh permukaan air laut yang berkilau laksana hamparan permata cair, menandai senja yang mulai merambat di pelataran belakang Hotel Victoria. Angin pesisir Roma berembus membawa sisa-sisa aroma mesiu dari pertempuran di Jembatan Garibaldi, namun di taman ini, dekorasi bunga mawar putih yang sempat porak-poranda telah ditata kembali dengan presisi yang menakjubkan. Para tamu undangan, setelah melewati ketegangan dari insiden penculikan dan penyamaran Bianca Casio, kini kembali duduk dengan anggun, menanti kelanjutan dari prosesi sakral yang sempat tertunda.Di atas altar, Dave Alen Parker berdiri tegak menantang angin senja. Setelah pembersihan taktis yang melelahkan dan konfrontasi berdarah melawan Georgio Botticelli, ia telah mengganti tuksedonya dengan setelan baru yang luar biasa rapi. Wajahnya yang tegas tampak segar, seolah ia baru saja kembali dari istirahat alih-alih dari medan pertempuran yang mempertaruhkan nyawa. Guratan senyum tipis t

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 99

    Matahari pagi Roma menyinari halaman belakang Hotel Victoria dengan kemegahan yang menakutkan. Kelopak-kelopak bunga mawar putih bertebaran di sepanjang red carpet yang membentang menuju altar. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit, mulai dari bangsawan berdarah biru hingga para penguasa industri Eropa, duduk dengan tertib di atas kursi-kursi berbalut kain satin. Di sekeliling perimeter, deretan bodyguard bersetelan hitam dari klan Parker dan tim elit VEGA berdiri dengan posisi siaga, menciptakan barikade yang tak tertembus.​Di depan altar, Dave Alen Parker berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama Italia. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, namun matanya yang tajam tak sedetik pun lepas dari pintu kaca besar hotel. Di sampingnya, seorang pendeta agung Roma memegang kitab suci, siap memimpin prosesi pemberkatan yang sakral ini."Di mana mempelai wanitanya?" tanya pendeta. Para tamu saling pandang. Dave menoleh jam tangannya. Kenapa Celina belum mun

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 98

    Matahari pagi Westalis bersinar terang, namun atmosfer di dalam kediaman Fortman terasa seperti badai yang siap meledak. Seisi rumah bergerak dalam ritme yang tergesa-gesa. Koper-koper kulit besar berjejer di pelataran, siap dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan. Lusa adalah hari paling bersejarah—pernikahan antara Celina Fortman dan Dave Alen Parker di Roma.Theresia Fortman berjalan dengan langkah tegas di koridor lantai dua, suaranya melengking memberikan instruksi kepada Jolie dan Jesica. "Pastikan gaun satin sutra dan kotak perhiasan dari Nona Wilson diletakkan di kompartemen khusus! Jangan sampai ada satu permata pun yang tertinggal!"Di balkon luar, Edward dan Arthur tampak sibuk dengan ponsel mereka, berulang kali membungkuk dan meminta maaf kepada para klien bisnis. "Ya, batalkan semua janji temu untuk dua hari ke depan. Keluarga Fortman akan bertolak ke Roma beberapa jam lagi," ujar Edward dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.Namun, di balik semua kemegahan dan kes

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 97

    Westalis tenggelam dalam kesunyian tengah malam yang mencekam saat lampu sorot dari Rolls-Royce Phantom hitam membelah kegelapan gerbang kediaman Fortman. Kendaraan mewah itu berhenti dengan presisi di pelataran, namun deru mesinnya seolah membawa aura kematian yang belum tuntas. Silvester, yang berjaga di ambang pintu, tersentak saat melihat Tuan Muda Alen keluar dari kemudi dengan wajah yang lebih gelap dari malam itu sendiri. ​Dave melangkah memutar, membuka pintu penumpang, dan memapah Celina. Wanita itu tampak seperti raga tanpa jiwa; bahunya merosot, tatapannya kosong, dan tubuhnya gemetar hebat dalam balutan jas besar milik Dave yang menutupi gaunnya yang terkoyak di balik sana. "Nyonya! Nona Celina sudah pulang bersama Tuan Muda Alen!" ​Theresia Fortman, yang tertidur gelisah di sofa ruang tengah, langsung terjaga saat Silvester melaporkan kedatangan mereka dengan suara tertahan. Disusul oleh Edward dan Jolie yang muncul dari kamar dengan wajah bantal, mereka semua berh

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status