공유

Chapter 6

작가: Dewa Amour
last update 게시일: 2026-02-20 20:13:33

Kota Ostia, pelabuhan satelit Westalis yang menjadi pusat ekonomi baru, pagi itu didera hiruk-pikuk yang tak biasa. Di depan markas besar Miracle Group—sebuah menara kaca hitam yang menjulang seolah hendak menusuk langit—sekumpulan wartawan telah berkumpul seperti kawanan serigala yang mencium bau darah.

Kamera-kamera dengan lensa panjang membidik pintu utama saat sebuah SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di sana. Luca keluar dari kursi penumpang dengan setelan jas yang licin dan wajah sedingin es.

"Tuan Luca! Benarkah Tuan Muda Alen Parker akan menghadiri pesta di Westalis pekan depan?"

"Apakah benar pimpinan tertinggi Miracle Group sudah berada di daratan ini?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Luca layaknya peluru, namun ia tak sedikit pun melambatkan langkah. Di balik kacamata hitamnya, Luca hanya bisa mendengus geli.

Para wartawan ini mengejar bayangan yang bahkan tak mereka kenali wajahnya. Luca tahu benar di mana "bos" mereka saat ini: mungkin sedang sibuk mengelap marmer atau mencuci tumpukan piring di kediaman Fortman yang menyesakkan.

Pikiran itu sungguh ironis—sang penguasa Eropa lebih memilih memegang sapu daripada memegang kendali perusahaan di depan publik.

Di dalam gedung, suasana tidak jauh berbeda. Para staf di lobi hingga meja resepsionis sedang berbisik-bisik. Nama Alen Parker disebut dengan nada penuh pemujaan sekaligus rasa penasaran yang membuncah.

Mereka ingin melihat sosok mistis itu, pria yang selama ini hanya muncul dalam laporan keuangan sebagai tumpukan digit tak terhingga. Namun, saat Luca melintas, semua staf segera terdiam dan membungkuk hormat dengan sinkronisasi yang sempurna.

Luca memasuki ruang kerjanya yang luas di lantai teratas. Eli, sekretaris setianya, sudah menunggu dengan tumpukan dokumen. Di atas meja jati itu, sebuah amplop hitam elegan dengan segel lilin berwarna emas menarik perhatian Luca.

"Undangan pesta topeng dari Group Foster, Tuan," ucap Eli dengan nada tertahan. "Miracle Group mendapatkan satu dari tiga undangan khusus di seluruh Westalis. Undangan ini sudah tiba sepekan lalu, saya menyimpannya karena menunggu kepulangan Anda dari Italia."

Luca mengangguk pelan sembari menyentuh kertas bertekstur mahal itu. "Pimpinan tidak mungkin datang ke pesta memuakkan seperti ini, Eli."

Eli terdiam sejenak, lalu keberaniannya muncul untuk bertanya. "Tuan... bolehkah saya tahu? Selama tiga tahun saya bekerja, saya hanya pernah melihat Tuan Muda Alen Parker satu kali dari kejauhan. Mengapa beliau begitu tertutup? Apakah dunia luar begitu berbahaya baginya?"

Luca menatap Eli dengan tatapan tajam yang membuat sekretaris itu langsung menunduk. "Tuan Muda Alen Parker memiliki jam terbangnya sendiri. Ia muncul saat ia ingin, bukan saat dunia menuntutnya. Tak perlu mempertanyakan hal yang sudah menjadi standar bagi seorang elit setingkat dia."

Setelah Eli pergi dengan permintaan maaf yang tulus, Luca memandangi undangan itu lagi. Ia melirik jam tangannya—pukul sembilan pagi. Dave pasti sedang sibuk mengurus pekerjaan rumah, pikir Luca. Ia harus menghubungi bosnya itu malam nanti untuk menolak undangan konyol dari Group Foster ini.

.....................................

Di pusat kota Westalis, kantor Mikro Pusat—perusahaan properti tempat Celina bekerja—tampak lebih sibuk dari biasanya. Saat Celina melangkah masuk ke lobi, telinganya langsung menangkap nama yang sama: Alen Parker.

Di mesin kopi, di lorong-lorong, hingga di pantry, semua orang sedang membicarakan kedatangan raksasa bisnis Eropa itu.

Mereka mendewakan Miracle Group, membayangkan kemewahan yang dibawa sang pimpinan, tanpa sadar bahwa pimpinan yang mereka bicarakan baru saja menyiapkan sarapan untuk salah satu karyawan di gedung ini.

Celina tidak tertarik. Mood-nya sudah hancur sejak di meja makan pagi tadi. Ia segera menuju lift. Tracy, rekan satu timnya, berlari kecil menyusul sebelum pintu tertutup.

"Celina! Kau dengar?" Tracy bertanya dengan mata berbinar-binar saat lift mulai bergerak naik. "Andai aku bisa menyelinap ke pesta di Ostia itu. Bayangkan, melihat si tampan Alen Parker secara langsung! Kau tidak tertarik? Seluruh kota sedang membicarakan pria itu!"

Celina menggeleng lemah, matanya menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. "Aku tidak ingin pergi ke pesta mana pun, Tracy. Aku hanya ingin fokus bekerja."

"Yah, kau selalu begitu," Tracy menghela napas, lalu merendahkan suaranya. "Bagaimana hubunganmu dengan Wiliam Dakosta? Kudengar dia sangat mengejarmu."

Di luar rumah Fortman, memang tak ada yang tahu bahwa Celina sudah menikah. Bagi Westalis, Celina adalah gadis elit lajang yang paling diinginkan. "Kami tidak cocok. Aku lebih suka sendirian saat ini," jawab Celina datar.

Namun, di balik wajah tenangnya, hati Celina terasa seperti diremas. Ia sedih, bahkan merasa berdosa.

Ia terpaksa menyembunyikan statusnya karena ancaman Theresia dan saudari-saudarinya. Mereka malu jika dunia tahu bahwa putri keluarga Fortman menikah dengan seorang "pelayan laki-laki".

Celina meremas tepi rok pendeknya hingga kainnya kusut. Ini tidak adil bagi Dave. Suaminya adalah pria paling sabar di dunia, dan ia justru memberinya penghinaan dengan merahasiakan keberadaannya. Seandainya Daddy masih ada... batinnya pilu.

Menjelang siang, matahari Westalis tertutup awan mendung, memberikan nuansa melankolis di halaman Mansion Fortman. Dave sedang bekerja di taman, tangannya yang kuat memegang sapu lidi dengan gerakan yang teratur.

Ia berhenti sejenak di depan semak bunga Camelia yang sedang mekar dengan indahnya. Kelopak putihnya tampak segar tersiram sisa embun.

Dave tersenyum kecil. Ia teringat Celina tadi pagi—bagaimana wanita itu membelanya di depan ibu mertuanya, bagaimana matanya yang hijau berkilat penuh kesetiaan. Dia adalah wanita hebat, batin Dave. Hanya butuh sedikit waktu lagi, Celina. Hanya sedikit lagi.

Tiba-tiba, suara umpatan keras memecah lamunannya. Di tepi kolam renang yang tak jauh dari sana, Arthur Desmond sedang menelepon dengan wajah merah padam.

"Apa?! Gagal lagi?! Fabrizio itu benar-benar tidak berguna!" teriak Arthur ke ponselnya. "Siapa sebenarnya yang mengacaukan jalur kita? Apa?! Black Snake?"

Arthur berhenti, wajahnya menunjukkan ketakutan sekaligus kemarahan. "Siapa Black Snake itu? Kenapa dia ada di Westalis?! Brengsek!"

Panggilan terputus dengan kasar. Arthur menendang kursi santai di dekatnya sebelum melenggang pergi dengan napas memburu.

Dave menatap punggung kakak iparnya itu dengan senyum remeh yang mematikan. Cecunguk kelas teri seperti dia ingin menyenggol jalurnya? Arthur bahkan tidak sadar dia sedang menggali kuburannya sendiri.

"Hei, Kecoak Busuk! Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri?!"

Suara Theresia yang melengking membuat Dave tersentak. Ia segera membungkuk dan kembali menyapu halaman. Theresia menghampirinya dengan wajah penuh kebencian.

"Pekerjaanmu masih menumpuk dan kau malah berdiri seperti orang gila! Apa aku harus memanggil rumah sakit jiwa untuk menjemputmu siang ini?!" maki Theresia.

Pikirannya sedang kalut karena krisis perusahaan Arthur dan utang-utang Jesica yang menumpuk demi gaya hidup elit. "Selesaikan semuanya sebelum malam, atau kau tidak akan mendapat jatah makan!"

Setelah Theresia pergi dengan angkuh, Dave segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia masuk ke kamarnya yang terpencil, membersihkan diri di bawah guyuran air dingin shower.

Saat ia keluar dengan handuk melilit pinggang, memperlihatkan tubuh atletis penuh bekas luka dan tato serigala yang garang, ponsel rahasia di laci bawah bergetar.

Luca yang menghubungi. David mengangkatnya.

"Bos, undangan dari Group Foster sudah di tanganku. Saya akan membuangnya seperti biasa—"

"Jangan dibuang, Luca," potong Dave pelan namun tegas.

Luca terdiam di seberang sana. "Maksud Anda...?"

"Aku akan datang ke pesta itu. Siapkan segalanya. Pakaian, pengamanan, dan topeng terbaik," perintah Dave sembari menatap pantulan dirinya di cermin. "Dan satu lagi... hubungi sekretaris Group Foster. Katakan secara anonim bahwa Miracle Group ingin melihat keluarga Fortman hadir di sana. Kirimkan mereka undangan tambahan atas permintaanku."

Luca terkesiap, namun segera menjawab patuh. "Siap, Bos. Akan segera saya laksanakan."

Panggilan tertutup. Dave menatap keluar jendela, ke arah kamar Celina. Sebuah senyum penuh misteri tersungging di bibirnya. Ia sudah bisa membayangkan wajah Theresia dan para iparnya saat melihatnya nanti—meski di balik topeng.

Tapi lebih dari itu, ia ingin berdansa dengan istrinya di bawah cahaya lilin, tanpa rasa takut, tanpa status "pelayan", dan menunjukkan pada Celina bahwa pria yang ia lindungi selama ini adalah penguasa yang akan menjaganya selamanya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 102 - Warisan Klan Parker (Ending)

    Satu bulan telah berlalu sejak badai berdarah di Roma mereda. Langit sore di atas San Alexandria Barat memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan sinarnya pada permukaan fasad kaca sebuah mahakarya arsitektur modern yang berdiri angkuh di atas tebing pantai. Bangunan megah tiga lantai itu adalah Miracle Plaza, proyek raksasa yang dulunya dirintis oleh Maximilian Botticelli, namun kini telah jatuh dan rampung sepenuhnya di bawah kendali mutlak klan Parker. Di puncak gedung, logo besar Group Miracle berkilau diterpa cahaya senja, menjadi simbol dominasi baru yang tak tergoyahkan.​Dave Alen Parker berjalan santai di koridor lantai utama yang luas, menggandeng jemari istrinya, Celina Fortman. Langkah kaki mereka menggema di antara pilar-pilar marmer yang masih berbau cat baru. Rencananya, tepat pada malam pergantian tahun baru, plaza ini akan mulai beroperasi secara resmi sebagai pusat perbelanjaan terbesar dan paling mewah di wilayah tersebut.​Celina menghentikan langkahnya,

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 101

    Malam itu juga, tanpa membuang waktu sepeser pun, Dave memerintahkan penyiapan jet pribadinya. Ditemani oleh Luca Cassano dan lima orang bodyguard elit VEGA yang bersenjata lengkap, pesawat jet itu membelah langit malam dari Roma menuju Westalis dalam penerbangan darurat selama dua jam.Tengah malam buta, kesunyian di kediaman Fortman terusik oleh ketukan pintu yang tegas dan beritme khusus. Silvester, yang malam itu berjaga dengan kantuk yang berat, berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama. Begitu daun pintu jati itu terbuka, langkah Silvester seketika terkunci.Di ambang pintu, berdiri Dave Alen Parker dengan aura dingin yang pekat laksana kabut hitam, mengenakan kemeja hitam terikat longgar tanpa dasi dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Silvester dengan gemetar segera membungkuk hormat, memberikan jalan bagi sang Tuan Muda dan Luca untuk melangkah masuk ke dalam rumah."Selamat datang kembali, Tuan Muda Alen," bisik Silvester dengan suara bergetar.Saat Dave dan Luca m

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 100

    Sinar matahari meliuk rendah, menyentuh permukaan air laut yang berkilau laksana hamparan permata cair, menandai senja yang mulai merambat di pelataran belakang Hotel Victoria. Angin pesisir Roma berembus membawa sisa-sisa aroma mesiu dari pertempuran di Jembatan Garibaldi, namun di taman ini, dekorasi bunga mawar putih yang sempat porak-poranda telah ditata kembali dengan presisi yang menakjubkan. Para tamu undangan, setelah melewati ketegangan dari insiden penculikan dan penyamaran Bianca Casio, kini kembali duduk dengan anggun, menanti kelanjutan dari prosesi sakral yang sempat tertunda.Di atas altar, Dave Alen Parker berdiri tegak menantang angin senja. Setelah pembersihan taktis yang melelahkan dan konfrontasi berdarah melawan Georgio Botticelli, ia telah mengganti tuksedonya dengan setelan baru yang luar biasa rapi. Wajahnya yang tegas tampak segar, seolah ia baru saja kembali dari istirahat alih-alih dari medan pertempuran yang mempertaruhkan nyawa. Guratan senyum tipis t

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 99

    Matahari pagi Roma menyinari halaman belakang Hotel Victoria dengan kemegahan yang menakutkan. Kelopak-kelopak bunga mawar putih bertebaran di sepanjang red carpet yang membentang menuju altar. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit, mulai dari bangsawan berdarah biru hingga para penguasa industri Eropa, duduk dengan tertib di atas kursi-kursi berbalut kain satin. Di sekeliling perimeter, deretan bodyguard bersetelan hitam dari klan Parker dan tim elit VEGA berdiri dengan posisi siaga, menciptakan barikade yang tak tertembus.​Di depan altar, Dave Alen Parker berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama Italia. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, namun matanya yang tajam tak sedetik pun lepas dari pintu kaca besar hotel. Di sampingnya, seorang pendeta agung Roma memegang kitab suci, siap memimpin prosesi pemberkatan yang sakral ini."Di mana mempelai wanitanya?" tanya pendeta. Para tamu saling pandang. Dave menoleh jam tangannya. Kenapa Celina belum mun

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 98

    Matahari pagi Westalis bersinar terang, namun atmosfer di dalam kediaman Fortman terasa seperti badai yang siap meledak. Seisi rumah bergerak dalam ritme yang tergesa-gesa. Koper-koper kulit besar berjejer di pelataran, siap dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan. Lusa adalah hari paling bersejarah—pernikahan antara Celina Fortman dan Dave Alen Parker di Roma.Theresia Fortman berjalan dengan langkah tegas di koridor lantai dua, suaranya melengking memberikan instruksi kepada Jolie dan Jesica. "Pastikan gaun satin sutra dan kotak perhiasan dari Nona Wilson diletakkan di kompartemen khusus! Jangan sampai ada satu permata pun yang tertinggal!"Di balkon luar, Edward dan Arthur tampak sibuk dengan ponsel mereka, berulang kali membungkuk dan meminta maaf kepada para klien bisnis. "Ya, batalkan semua janji temu untuk dua hari ke depan. Keluarga Fortman akan bertolak ke Roma beberapa jam lagi," ujar Edward dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.Namun, di balik semua kemegahan dan kes

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 97

    Westalis tenggelam dalam kesunyian tengah malam yang mencekam saat lampu sorot dari Rolls-Royce Phantom hitam membelah kegelapan gerbang kediaman Fortman. Kendaraan mewah itu berhenti dengan presisi di pelataran, namun deru mesinnya seolah membawa aura kematian yang belum tuntas. Silvester, yang berjaga di ambang pintu, tersentak saat melihat Tuan Muda Alen keluar dari kemudi dengan wajah yang lebih gelap dari malam itu sendiri. ​Dave melangkah memutar, membuka pintu penumpang, dan memapah Celina. Wanita itu tampak seperti raga tanpa jiwa; bahunya merosot, tatapannya kosong, dan tubuhnya gemetar hebat dalam balutan jas besar milik Dave yang menutupi gaunnya yang terkoyak di balik sana. "Nyonya! Nona Celina sudah pulang bersama Tuan Muda Alen!" ​Theresia Fortman, yang tertidur gelisah di sofa ruang tengah, langsung terjaga saat Silvester melaporkan kedatangan mereka dengan suara tertahan. Disusul oleh Edward dan Jolie yang muncul dari kamar dengan wajah bantal, mereka semua berh

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 88

    Lampu kristal yang menggantung di plafon Queen Hotel memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun atmosfer di dalam restoran eksklusif itu terasa membeku. Edward menepikan mobilnya tepat waktu, dan Celina melangkah masuk dengan keanggunan seorang pemimpin. Sebagai CEO Micro Company, ia mengesampingk

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 87

    Langit San Alexandria sore itu tampak seperti kanvas yang terbakar, semburat oranye dan merah darah menghiasi ufuk barat. Helikopter AgustaWestland milik Dave Alen Parker terbang rendah, membelah angin dengan deru mesin yang ritmis. Dari ketinggian, gedung kantor gubernur lama tampak seperti raksa

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 86

    Ruang tamu utama Kediaman Fortman yang biasanya dianggap sebagai puncak kemewahan di distrik elit Westalis, pagi ini mendadak terasa sempit dan pengap. Lima orang pria paruh baya dengan stelan jas seharga mobil mewah duduk di sofa beludru, mata mereka yang tajam memindai sekeliling dengan tatapan

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 84

    Pasukan bantuan klan Wilson tiba bagai badai yang menyapu daratan. Mobil-mobil baja menerjang barisan pertahanan anak buah Carlos, memuntahkan peluru yang membuat area gedung gubernur lama berubah menjadi ladang pembantaian. Melihat pasukannya berjatuhan satu per satu, nyali Carlos Stanza ciut. Pr

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status