LOGINKota Ostia, pelabuhan satelit Westalis yang menjadi pusat ekonomi baru, pagi itu didera hiruk-pikuk yang tak biasa. Di depan markas besar Miracle Group—sebuah menara kaca hitam yang menjulang seolah hendak menusuk langit—sekumpulan wartawan telah berkumpul seperti kawanan serigala yang mencium bau darah.
Kamera-kamera dengan lensa panjang membidik pintu utama saat sebuah SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di sana. Luca keluar dari kursi penumpang dengan setelan jas yang licin dan wajah sedingin es. "Tuan Luca! Benarkah Tuan Muda Alen Parker akan menghadiri pesta di Westalis pekan depan?" "Apakah benar pimpinan tertinggi Miracle Group sudah berada di daratan ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Luca layaknya peluru, namun ia tak sedikit pun melambatkan langkah. Di balik kacamata hitamnya, Luca hanya bisa mendengus geli. Para wartawan ini mengejar bayangan yang bahkan tak mereka kenali wajahnya. Luca tahu benar di mana "bos" mereka saat ini: mungkin sedang sibuk mengelap marmer atau mencuci tumpukan piring di kediaman Fortman yang menyesakkan. Pikiran itu sungguh ironis—sang penguasa Eropa lebih memilih memegang sapu daripada memegang kendali perusahaan di depan publik. Di dalam gedung, suasana tidak jauh berbeda. Para staf di lobi hingga meja resepsionis sedang berbisik-bisik. Nama Alen Parker disebut dengan nada penuh pemujaan sekaligus rasa penasaran yang membuncah. Mereka ingin melihat sosok mistis itu, pria yang selama ini hanya muncul dalam laporan keuangan sebagai tumpukan digit tak terhingga. Namun, saat Luca melintas, semua staf segera terdiam dan membungkuk hormat dengan sinkronisasi yang sempurna. Luca memasuki ruang kerjanya yang luas di lantai teratas. Eli, sekretaris setianya, sudah menunggu dengan tumpukan dokumen. Di atas meja jati itu, sebuah amplop hitam elegan dengan segel lilin berwarna emas menarik perhatian Luca. "Undangan pesta topeng dari Group Foster, Tuan," ucap Eli dengan nada tertahan. "Miracle Group mendapatkan satu dari tiga undangan khusus di seluruh Westalis. Undangan ini sudah tiba sepekan lalu, saya menyimpannya karena menunggu kepulangan Anda dari Italia." Luca mengangguk pelan sembari menyentuh kertas bertekstur mahal itu. "Pimpinan tidak mungkin datang ke pesta memuakkan seperti ini, Eli." Eli terdiam sejenak, lalu keberaniannya muncul untuk bertanya. "Tuan... bolehkah saya tahu? Selama tiga tahun saya bekerja, saya hanya pernah melihat Tuan Muda Alen Parker satu kali dari kejauhan. Mengapa beliau begitu tertutup? Apakah dunia luar begitu berbahaya baginya?" Luca menatap Eli dengan tatapan tajam yang membuat sekretaris itu langsung menunduk. "Tuan Muda Alen Parker memiliki jam terbangnya sendiri. Ia muncul saat ia ingin, bukan saat dunia menuntutnya. Tak perlu mempertanyakan hal yang sudah menjadi standar bagi seorang elit setingkat dia." Setelah Eli pergi dengan permintaan maaf yang tulus, Luca memandangi undangan itu lagi. Ia melirik jam tangannya—pukul sembilan pagi. Dave pasti sedang sibuk mengurus pekerjaan rumah, pikir Luca. Ia harus menghubungi bosnya itu malam nanti untuk menolak undangan konyol dari Group Foster ini. ..................................... Di pusat kota Westalis, kantor Mikro Pusat—perusahaan properti tempat Celina bekerja—tampak lebih sibuk dari biasanya. Saat Celina melangkah masuk ke lobi, telinganya langsung menangkap nama yang sama: Alen Parker. Di mesin kopi, di lorong-lorong, hingga di pantry, semua orang sedang membicarakan kedatangan raksasa bisnis Eropa itu. Mereka mendewakan Miracle Group, membayangkan kemewahan yang dibawa sang pimpinan, tanpa sadar bahwa pimpinan yang mereka bicarakan baru saja menyiapkan sarapan untuk salah satu karyawan di gedung ini. Celina tidak tertarik. Mood-nya sudah hancur sejak di meja makan pagi tadi. Ia segera menuju lift. Tracy, rekan satu timnya, berlari kecil menyusul sebelum pintu tertutup. "Celina! Kau dengar?" Tracy bertanya dengan mata berbinar-binar saat lift mulai bergerak naik. "Andai aku bisa menyelinap ke pesta di Ostia itu. Bayangkan, melihat si tampan Alen Parker secara langsung! Kau tidak tertarik? Seluruh kota sedang membicarakan pria itu!" Celina menggeleng lemah, matanya menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. "Aku tidak ingin pergi ke pesta mana pun, Tracy. Aku hanya ingin fokus bekerja." "Yah, kau selalu begitu," Tracy menghela napas, lalu merendahkan suaranya. "Bagaimana hubunganmu dengan Wiliam Dakosta? Kudengar dia sangat mengejarmu." Di luar rumah Fortman, memang tak ada yang tahu bahwa Celina sudah menikah. Bagi Westalis, Celina adalah gadis elit lajang yang paling diinginkan. "Kami tidak cocok. Aku lebih suka sendirian saat ini," jawab Celina datar. Namun, di balik wajah tenangnya, hati Celina terasa seperti diremas. Ia sedih, bahkan merasa berdosa. Ia terpaksa menyembunyikan statusnya karena ancaman Theresia dan saudari-saudarinya. Mereka malu jika dunia tahu bahwa putri keluarga Fortman menikah dengan seorang "pelayan laki-laki". Celina meremas tepi rok pendeknya hingga kainnya kusut. Ini tidak adil bagi Dave. Suaminya adalah pria paling sabar di dunia, dan ia justru memberinya penghinaan dengan merahasiakan keberadaannya. Seandainya Daddy masih ada... batinnya pilu. Menjelang siang, matahari Westalis tertutup awan mendung, memberikan nuansa melankolis di halaman Mansion Fortman. Dave sedang bekerja di taman, tangannya yang kuat memegang sapu lidi dengan gerakan yang teratur. Ia berhenti sejenak di depan semak bunga Camelia yang sedang mekar dengan indahnya. Kelopak putihnya tampak segar tersiram sisa embun. Dave tersenyum kecil. Ia teringat Celina tadi pagi—bagaimana wanita itu membelanya di depan ibu mertuanya, bagaimana matanya yang hijau berkilat penuh kesetiaan. Dia adalah wanita hebat, batin Dave. Hanya butuh sedikit waktu lagi, Celina. Hanya sedikit lagi. Tiba-tiba, suara umpatan keras memecah lamunannya. Di tepi kolam renang yang tak jauh dari sana, Arthur Desmond sedang menelepon dengan wajah merah padam. "Apa?! Gagal lagi?! Fabrizio itu benar-benar tidak berguna!" teriak Arthur ke ponselnya. "Siapa sebenarnya yang mengacaukan jalur kita? Apa?! Black Snake?" Arthur berhenti, wajahnya menunjukkan ketakutan sekaligus kemarahan. "Siapa Black Snake itu? Kenapa dia ada di Westalis?! Brengsek!" Panggilan terputus dengan kasar. Arthur menendang kursi santai di dekatnya sebelum melenggang pergi dengan napas memburu. Dave menatap punggung kakak iparnya itu dengan senyum remeh yang mematikan. Cecunguk kelas teri seperti dia ingin menyenggol jalurnya? Arthur bahkan tidak sadar dia sedang menggali kuburannya sendiri. "Hei, Kecoak Busuk! Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri?!" Suara Theresia yang melengking membuat Dave tersentak. Ia segera membungkuk dan kembali menyapu halaman. Theresia menghampirinya dengan wajah penuh kebencian. "Pekerjaanmu masih menumpuk dan kau malah berdiri seperti orang gila! Apa aku harus memanggil rumah sakit jiwa untuk menjemputmu siang ini?!" maki Theresia. Pikirannya sedang kalut karena krisis perusahaan Arthur dan utang-utang Jesica yang menumpuk demi gaya hidup elit. "Selesaikan semuanya sebelum malam, atau kau tidak akan mendapat jatah makan!" Setelah Theresia pergi dengan angkuh, Dave segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia masuk ke kamarnya yang terpencil, membersihkan diri di bawah guyuran air dingin shower. Saat ia keluar dengan handuk melilit pinggang, memperlihatkan tubuh atletis penuh bekas luka dan tato serigala yang garang, ponsel rahasia di laci bawah bergetar. Luca yang menghubungi. David mengangkatnya. "Bos, undangan dari Group Foster sudah di tanganku. Saya akan membuangnya seperti biasa—" "Jangan dibuang, Luca," potong Dave pelan namun tegas. Luca terdiam di seberang sana. "Maksud Anda...?" "Aku akan datang ke pesta itu. Siapkan segalanya. Pakaian, pengamanan, dan topeng terbaik," perintah Dave sembari menatap pantulan dirinya di cermin. "Dan satu lagi... hubungi sekretaris Group Foster. Katakan secara anonim bahwa Miracle Group ingin melihat keluarga Fortman hadir di sana. Kirimkan mereka undangan tambahan atas permintaanku." Luca terkesiap, namun segera menjawab patuh. "Siap, Bos. Akan segera saya laksanakan." Panggilan tertutup. Dave menatap keluar jendela, ke arah kamar Celina. Sebuah senyum penuh misteri tersungging di bibirnya. Ia sudah bisa membayangkan wajah Theresia dan para iparnya saat melihatnya nanti—meski di balik topeng. Tapi lebih dari itu, ia ingin berdansa dengan istrinya di bawah cahaya lilin, tanpa rasa takut, tanpa status "pelayan", dan menunjukkan pada Celina bahwa pria yang ia lindungi selama ini adalah penguasa yang akan menjaganya selamanya.Angin musim semi di Westalis bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon maple di luar jendela Kediaman Fortman dengan suara gesekan yang terdengar seperti bisikan rahasia. Namun, di dalam ruang makan yang megah itu, suasana justru terasa membeku. Udara seolah memadat, menyisakan keheningan yang begitu tipis hingga suara napas pun terdengar seperti ancaman.Dave Alen Parker duduk dengan tenang di kursi utama—singgasana yang biasanya diduduki oleh mendiang James Fortman. Ia tidak lagi mengenakan topeng peraknya. Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan sorot mata biru yang tajam, kini terpampang nyata tanpa penghalang. Di samping kiri dan kanannya berdiri Luca dan Silvester, dua bayangan setia yang memberikan kesan bahwa meja makan itu kini adalah pusat komando kerajaan bisnis global.Edward dan Arthur berdiri kaku di sisi kanan, tangan mereka mengepal namun gemetar di samping jahitan celana. Jolie dan Jesica di sisi kiri tampak seolah nyawa mereka telah dicabut paksa
Langit Roma sore itu tampak seperti terbakar, membiaskan warna merah tembaga yang memantul di atas genangan darah di pelataran Miracle Hospital.Puluhan tentara bayaran Carlos Stanza dan Frozman kini tak lebih dari onggokan daging tak bernyawa, berserakan di antara puing-puing kendaraan baja yang hancur. Di tengah-tengah pemakaman masal itu, Dave Alen Parker berdiri tegak. Luka di dadanya berdenyut hebat, darah segar mengalir dari pelipisnya, namun aura dominasinya justru semakin mengintimidasi.Celina berlari keluar dari lobi rumah sakit yang baru saja selamat dari kehancuran. Begitu melihat sosok Dave yang masih berdiri, air matanya tumpah. Ia menghambur ke pelukan suaminya, menghirup aroma maskulin yang bercampur bau mesiu."Dave! Kau hidup... kau selamat," isak Celina.Dave tersenyum tipis, mengusap pipi Celina dengan jemarinya yang kasar. "Kau harus pulang, Celina. Tempat ini terlalu kotor untukmu sekarang."Di sekeliling mereka, tim penjinak bom yang dipimpin Luca baru saja men
Lorong rumah sakit yang biasanya hening kini berubah menjadi arena gladiator yang bersimbah darah. Luca Cassano, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai perisai tak tertembus keluarga Parker, mulai mencapai titik nadirnya. Dominico—pembunuh bayaran paling brutal kiriman Carlos Stanza—bergerak seperti bayangan yang haus nyawa. Pisau kerambit di tangannya telah merobek jas Luca, meninggalkan luka menganga di bahunya. Luca terpojok di dinding, napasnya memburu, matanya mulai mengabur akibat hantaman bertubi-tubi.Dominico menyeringai, mengangkat pisaunya untuk satu serangan fatal ke arah tenggorokan Luca. Namun, tepat sebelum besi dingin itu menyentuh kulit, sebuah dentuman keras menghancurkan kesunyian.BRAKK!Pintu ruang ICU didobrak dari dalam dengan kekuatan yang mustahil dimiliki oleh seseorang yang baru saja sekarat. Dari balik kepulan uap dingin alat medis, Alen Parker muncul. Ia bukan lagi pria yang terbaring lemah dengan selang oksigen; ia berdiri tegak dengan pakaian takt
Koridor Miracle Hospital Roma berubah menjadi pusaran kepanikan. Di dalam ruang ICU, bau ozon dari alat defibrilator dan aroma tajam obat-obatan bercampur dengan aroma kematian yang kian menebal. Dave Alen Parker masih terbaring kaku, wajahnya sepucat marmer Carrara, sementara garis di layar monitor Electrocardiogram kian mendatar, hanya menyisakan getaran-getaran lemah yang menandakan sisa nyawa yang hampir padam.Di ambang pintu, Celina berdiri dengan napas tersengal. Rambutnya berantakan, gaunnya kusut setelah penerbangan darurat paling gila dalam hidupnya menggunakan jet pribadi yang dikirim Luca. Matanya yang sembab menatap pemandangan mengerikan di depannya: Dave, suaminya, pria yang beberapa jam lalu ia maki sebagai monster, kini tampak begitu rapuh di bawah kepungan selang medis.Ia mungkin tak pernah mengerti dengan kehidupan yang Dave jalani, tentang bagaimana ia menjadi seorang yang sukses di usia mudanya, tentang masa lalu keluarga Parker dan para musuh yang merenggut se
Deru helikopter medis membelah keheningan malam Roma, mendarat dengan urgensi yang mencekam di landasan Miracle Hospital. Di dalam ambulans khusus yang menyambut, Luca Cassano menggenggam tangan Dave Alen Parker yang sedingin es. Kemeja putih yang dikenakan Dave kini telah berubah menjadi kanvas merah yang mengerikan. Darah terus merembes, menantang maut yang kian mendekat."Tahan, Tuan Muda! Jangan menyerah sekarang!" teriak Luca, suaranya parau oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Begitu pintu ambulans terbuka, tim dokter terbaik klan Parker segera melarikan brankar Dave menuju ruang operasi. Lampu merah di atas pintu menyala—sebuah tanda bahwa di balik sana, seorang pewaris takhta sedang bertarung mempertahankan napas terakhirnya.Luca berdiri mematung di koridor yang sunyi, tangannya yang bersimbah darah gemetar hebat. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-memecah keheningan. Keluarga Wilson tiba. Marquez Wilson memimpin di depan dengan wajah yan
Matahari Westalis mulai tenggelam, membasahi langit dengan warna oranye yang tampak seperti luka yang menganga. Di kediaman megah keluarga Fortman, kesunyian terasa mencekam. Silvester berdiri kaku di gerbang, sementara Luca—tangan kanan setia keluarga Parker—membukakan pintu mobil hitam mengkilap yang baru saja membelah kesunyian pelataran.Sesosok pria keluar dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia mengenakan topeng, sebuah simbol perlindungan sekaligus kutukan. Dave Alen Parker berjalan cepat, langkah sepatunya beradu dengan marmer teras, menciptakan irama urgensi yang menggetarkan udara. Ia mengabaikan kemegahan pilar-pilar rumah itu; pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Celina."Nona Celina ada di teras belakang, Tuan Muda. Dekat kolam renang," bisik Silvester tanpa berani menatap mata di balik topeng itu.Dave melangkah lebar, melintasi koridor luas hingga udara segar dari taman belakang menyapu wajahnya. Di sana, di tepi kolam renang yang airnya memantulkan cahaya senj







