Share

Bab 9

Suasana di tim data control cukup heboh setelah mendengar Richard dipindah tugaskan ke bagian prosesing, bagian yang berada satu tingkat dibawah tim data control. Banyak karyawan yang bekerja di bagian prosesing punya mimpi suatu saat bisa pindah ke tim data control, jadi dalam kasus Richard ia mengalami penurunan kelas dengan dipindahkan ke bagian prosesing.

Sebelum Richard ada pak Burhan yang dimutasi menjadi staff pemasaran setelah sebelumnya menjadi kepala produksi. Baik pak Burhan dan Richard sama-sama terkena mutasi setelah berkonflik dengan Maman, setidaknya itulah pemikiran orang luar, terutama karyawan di tim data control sendiri.

Hari-hari berlalu seperti biasa, aktifitas pekerjaan di tim data control tetap dalam kesibukannya. Sudah beberapa hari ini Maman merasakan beberapa keganjilan dalam proses pengambilan data dari beberapa karyawan tim data control, namun ia belum bisa memastikan dengan akurat di bagian mana keganjilan itu terjadi, dan seberapa besar pengaruhnya. 

Sesaat setelah bel jam pulang karyawan berbunyi, Maman menghampiri Simon yang sedang bersiap-siap untuk pulang.

"Mon...ke ruanganku yuk!? Ada yang mau aku obrolkan!."

"Oke siip boss..." Kata Simon sambil mengikuti Maman.

Sesampai di ruang kerja, Maman mempersilahkan Simon untuk duduk, ia sendiri kemudian mengambil beberapa buah lembar kertas yang berisi data-data yang diambil beberapa hari terakhir. Sambil membaca dengan teliti, Maman mendekati Simon sambil mengangsurkan lembaran kertas tersebut ke Simon. 

"Coba kau perhatikan data-data yang ada di tiga hari terakhir ini!?."

Simon membaca dan memperhatikan kumpulan data-data tersebut, jika dibaca sepintas lalu memang tidak ada yang aneh, namun jika diperhatikan lebih teliti lagi akan nampak sebuah hal yang mencolok bahkan akan sangat fatal jika dibiarkan berlarut-larut.

"Ini?...harusnya hasil terakhirnya tidak seperti ini?...ini rekayasa lagi?."

"Itulah yang membuatku risau beberapa hari ini, banyak karyawan data control yang masih terus melakukan kebiasaan lama, itu malah jadi duri dalam tim."

Simon menganggukkan kepala tanda paham, ia kemudian mengeluarkan buku catatan kecilnya dari saku, Simon memindahkan sejumlah angka dari data yang ada ke catatannya.

"Malam ini akan saya uji data-data ini, besok pagi saya akan laporkan hasilnya."

"Sebaiknya kamu juga mencari siapa pelaku yang sengaja melakukannya, mungkin kalau kita tahu dimana durinya kita bisa segera mencabutnya sebelum semakin mengganggu."

Simon kemudian berdiri pamit, ia segera keluar dari ruang kerja Maman. 

Sementara itu di sudut gelap tak terlihat seorang karyawan tim data control melakukan panggilan.

"Halo pak?."

"Bagaimana tugasmu?." Suara dari ujung telepon bertanya.

"Sudah saya laksanakan pak, sesuai dengan instruksi bapak".

"Bagus!, Sekarang kamu tutup telponnya tunggu info selanjutnya dari saya!."

"Baik pak!".

Setelah melakukan panggilan karyawan itu segera meninggalkan lokasi tersebut dan berbaur dengan karyawan lain yang meninggalkan lokasi perusahaan. Karyawan tersebut tak menyangka jika ada sepasang mata yang telah menangkap kegiatan dan percakapannya tadi, Sepasang mata itu milik Simon. 

"Baiklah...aku akan ikuti permainanmu!."

Pagi-pagi sekali Simon telah sampai di lokasi kerja tim data control, kali ini dia tidak langsung ke pusat pengumpulan data namun langsung ke area produksi. Sebelum ia memeriksa data yang masuk per hari itu, ia harus mencari fakta sebenarnya tentang sirkulasi produksi mulai tahap pertama sampai tahap akhir. Di bagian pengelolaan bahan baku, dia menemukan banyak sekali bahan baku yang dinyatakan rusak padahal setelah ia periksa masih masuk dalam kategori layak ke proses selanjutnya.

"Ini pekerjaan siapa?...bahan-bahan ini masih bagus semua malah dibuang!?."

"Permisi pak, ini yang membuang bahan-bahan ini siapa?." Tanya Simon ke seorang karyawan bagian produksi yang kebetulan baru saja sampai di lokasi kerjanya.

"Oh itu bahan yang kemarin dinyatakan tidak oleh data control." Kata karyawan tersebut. 

"Siapa data controlnya?."

"Yang bertugas kemarin itu si Nahar namanya."

Mendengar nama itu, Simon berusaha mengingat-ingat yang mana yang bernama Nahar di tim data control. Tiba-tiba dia teringat, bukankah si Nahar itu yang kemarin dia dapati melakukan panggilan rahasia dan mencurigakan kemarin sore?. Semuanya serasa kebetulan, sekarang semuanya akan lebih mudah diungkap.

Simon buru-buru menuju ke ruang kerja Maman untuk melaporkan sejumlah fakta yang ia temui. Ia yakin Maman sudah ada di ruang kerjanya saat ini, tepat ketika ia sudah berada di tangga menuju ke ruang kerja Maman, seseorang tiba-tiba memblokir jalannya.

Karyawan tersebut menyeringai dan dengan senyuman yang mengancam ia berkata. "Apa yang membuatmu buru-buru Simon?, Jangan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan buatmu".

Simon mengerutkan kening. "Kamu Nahar, kan?".

"Iya saya Nahar, saya anggota senior tim data control, bahkan lebih senior dari kamu, jadi kamu..."

"Saya tak peduli anda senior atau bukan!." Sebelum karyawan tersebut melanjutkan perkataannya, Simon langsung memotong sambil memberi isyarat ke karyawan tersebut untuk tidak menghalangi jalannya.

Karyawan senior seperti ini tidak perlu mendapatkan penghormatan yang lebih darinya.

Wajah karyawan tersebut terlihat merah padam, awalnya ia mengira dengan keseniorannya ia bisa menekan Simon. Namun ternyata Simon tidak memberikan respek yang ia harapkan sebagai karyawan senior.

"Minggirlah!, Saya mau bertemu pak Maman."

"Jangan melaporkan hal-hal yang tidak perlu ke dia!." Kali ini karyawan tersebut berkata dengan tegas.

"Semua hal perlu saya laporkan, apakah ada laporan saya yang merugikan anda?." Simon menatap tajam kearah karyawan tersebut sambil menekan kalimat yang ia katakan barusan.

Tiba-tiba Maman keluar dari ruang kerjanya, dan saat ia hendak turun tangga ia melihat di bawah Simon dan seorang karyawan sedang bersitegang.

"Hei Simon, ada apa disitu?." Teriak Maman ke Simon.

Saat Simon melihat Maman, ia sedikit lega dan dia lalu berjalan ke arah Maman sambil menabrakkan tubuhnya ke tubuh karyawan tersebut.

Karyawan yang menahan Simon tadi melihat Simon mendekati Maman dengan pandangan jengkel dan kecewa. Ia lalu pergi dengan mengeluarkan celotehan yang tak jelas.

"Itu Nahar kan?." Tanya Maman setelah Simon ada di dekatnya.

"Iya...kamu kenal?." 

"Dia dulu salah satu data control kepercayaannya pak Burhan."

"Aku gak terlalu kenal sama dia, cuma tahu nama dan wajah saja." 

Maman lalu melihat jam tangannya, ia kemudian memberi kode ke Simon untuk mengikutinya. Suara bel jam masuk kerja berbunyi, biasanya sebelum aktifitas pekerjaaan dimulai Maman akan memberikan pertemuan singkat.

"Aku tahu ada yang salah di bagian bahan baku." Kata Maman ke Simon sebelum masuk ke ruang pertemuan.

Simon terkejut, dari mana koordinatornya ini tau soal tersebut?, padahal dia belum melapor. 

"Baru saja aku mau melaporkan hal itu."

"Baiklah...sekarang saatnya kita mencari duri-duri itu".

Maman masuk ke ruang pertemuan dan diikuti Simon di belakangnya, semua anggota tim data control sudah hadir. Simon mengambil tempat duduk di bagian depan tepat segaris lurus dengan tempat duduk Maman yang ada di balik meja panjang. 

"Selamat pagi semua!."

"Selamat pagi pak!." Beberapa suara balasan terdengar, namun tidak semua anggota tim data control yang hadir disitu membalas sapaan Maman.

Dengan senyuman sinis, Maman dingin berkata. "Memang masih banyak duri di ruangan ini!."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status