Share

Bab 3. Mak Comblang

Flashback sehari sebelum pertemuan Andien dengan Inez.

Mentari hampir terbenam, tak meninggalkan sinarnya beranjak pergi menuju peraduan.

Terlihat di rumah mewah berlantai dua kediaman Agam, Andien berlari masuk ke dalam rumah, melewati pintu utama mencari keberadaan mamanya.

"Mama mana Bi?" tanya Andien, kepada Bi Rina wanita paruh baya asisten rumah tangga di rumahnya.

"Di kamar Mbak," jawab Bi Rina.

"Terimakasih Bi...," ucap Andien, kembali Mengayunkan langkahnya cepat, setengah berlari menuju salah satu kamar yang ada di lantai satu.

"Ma...Mama..." Teriak Andien, menggedor pintu kamar mamanya yang tertutup, mengejutkan hati Mama Ratih.

Baru keluar dari dalam kamar mandi  yang ada di dalam kamarnya, masih memakai jubah handuk putih yang membungkus badannya yang masih terlihat langsing di usianya yang tak lagi muda.

"Mama....Ma....," teriak Andien lagi, merasa tak sabar ingin bertemu Mamanya.

"Aduh Gusti...anak ini ya...perempuan kok nggak ada kalem-kalemnya!" gerutu Mama Ratih, mengayunkan langkahnya cepat menuju pintu kamarnya.

"Ma...," teriak Andien lagi, masih mengetuk pintu berulang kali, sebelum berteriak, menghentikan ketukannya karena serangan Mama Ratih yang tiba-tiba menjewer salah satu telinganya, sesaat setelah pintu kamar yang di ketuknya terbuka.

"Ya Allah Ya Gusti..." sungut Mama Ratih, berbarengan dengan rintihan keras Andien yang berusaha melindungi telinganya.

"Ampun Ma...ampun..." ucap Andien, menahan tawanya mengayunkan langkahnya masuk ke dalam kamar, mengikuti langkah Mama ratih yang masih menjewer telinganya.

"A... a...sakit Mah...lepasin dong...aku punya informasi penting ini buat Mama! kandidat untuk calon mantu Mama..." ucap Andien, membulatkan mata Mama Ratih segera melepaskan jewerannya.

"Oh ya? cantik nggak? cantikan mana sama Mama?" tanya Mama Ratih antusias, beradu pandang dengan anak perempuannya.

Mencebikkan bibir Andien yang menggosok pelan telinganya.

"Cantikan Bi Rani!" jawab Andien asal, sebelum tertawa, menghindari serangan mamanya yang hendak memukul lengannya.

Segera menjatuhkan tubuhnya, duduk bersila di atas ranjang kamar tidur mamanya.

"Mama nggak ingin ganti baju dulu?" tanya Andien.

Menyadarkan mama Ratih yang masih berdiri di tempatnya, segera mengalihkan pandangannya, menatap tubuhnya sendiri yang masih terbalut jubah handuk.

"Ah... iya..." gumam Mama Ratih, sebelum mengayunkan langkahnya, hendak duduk di samping anak bungsunya.

"Kelamaan kalau ganti baju dulu! mana calon mantu Mama?" tanya Mama Ratih tak sabar.

"Sebentar," jawab Andien segera merogoh tas kuliahnya, ingin mengambil ponsel yang ada didalamnya.

Sebelum menggeser layar ponselnya, untuk mencari foto temannya Inez segera menyerahkannya kepala Mamanya.

"Gimana? cantikkan Ma? blasteran Jerman!"

"Kalau ini sih cantik banget Ndien... Mama lewat kemana-mana ini..." jawab Mama Ratih, mengulaskan senyum harapannya menatap lekat foto Inez yang ada di dalam ponsel Andien.

Menciptakan tawa kikuk di bibir Andien, menggaruk tengkuknya karena kalimat mamanya.

"Dia juga tomboy Ma, sama seperti calon istri Kakak dulu," ucap Andien, mengalihkan pandangan Mama Ratih menatapnya.

"Garis wajahnya pun hampir sama...," jawab Mama Ratih, menghilangkan senyum di bibirnya, kembali mengingat almarhumah calon menantunya.

Menciptakan rasa bersalah di hati Andien, segera memeluk tubuh mamanya yang masih terbalut jubah handuk, meletakkan salah satu pipinya di bahu mamanya ikut melihat foto temannya.

"Apa Mama nggak merasa iri? secara kan cantikan Inez kemana-mana kan dibanding Mama?" ucap Andien lirih, masih dengan pandanganya, sebelum menahan tawanya karena kalimat mamanya.

"Iri sekali Ndin! tapi gimana? Mama nggak ada keturunan blasteran" jawab Mama Ratih, membelai pipi anak perempuannya tak membuang pandangannya.

"Lha Mama kan juga punya wajah blasteran?"

"Iya Blasteran Cibinong," jawab Mama Ratih terkekeh, kembali mencubit gemas hidung Andien yang masih bersandar di bahunya.

Menciptakan tawa di bibir Andien, sebelum menegakkan kepalanya, beradu pandang dengan Mama Ratih yang kembali semringah, menanyakan cara agar anak laki-lakinya bisa bertemu dengan calon menantu harapannya.

"Tadi Inez minta tolong sama aku Ma, dia ingin melakukan penelitian untuk skripsinya di perusahaan Kak Agam!" ucap Andien, menaik turunkan kedua alisnya, yang di sambut dengan senyum seringai Mama Ratih yang mengerti maksud dari anak gadisnya

"Oookeh...serahkan semuanya sama Mama!" jawab Mama Ratih, tersenyum senang mencubit kembali hidung anak perempuannya.

Flasback Selesai

******

"Selamat Siang Mbak," Sapa Andien, kepada Resepsionis di perusahaan Kakaknya.

"Selamat siang Mbak," jawab gadis cantik berjilbab hijau muda, mengulaskan senyumnya menatap Andien.

"Aku ke atas ya?" tambah Andien, yang di jawab dengan anggukan pelan kepala Resepsionis.

"Silahkan Mbak,"

"Terimakasih," jawab Andien, di ikuti dengan senyum di bibir Inez yang menganggukan kepala pelan sebagai bentuk sapaannya, segera mengayunkan langkah bersama masuk ke dalam lift, menuju ruangan kerja Agam yang ada di lantai dua.

"Halo Kak, Kak Agamnya dimana? ada di ruangannya kan?" tanya Andien, setelah menggeser layar ponselnya menghubungi Fahmi.

"Masih meeting, ini hampir selesai, tunggu aja di ruangan ya?" jawab Fahmi, setengah berbisik dari dalam ponsel Andien.

"Okeh...," jawab Andien, balas berbisik masih mengayunkan langkahnya.

"Kak Agam masih meeting Nez, kita tunggu di ruangannya aja ya?" ucap Andien setelah mematikan panggilan teleponnya menatap Inez.

"Nggak papa?"

"Ya nggak papa lah...!" jawab Andien santai, mengapit lengan Inez masih mengayunkan langkahnya.

****

"Ayo diminum dulu Nez," ucap Andien, memberikan satu kaleng soda yang baru di ambilnya dari dalam kulkas mini yang ada di ruangan Agam.

"Terimakasih," jawab Inez, sudah duduk di atas sofa yang ada di ruangan Agam, menerima soda pemberian Andien.

"Kakak kamu juga suka soda merk ini ya Ndin?" tanya Inez, membuka kaleng soda beradu pandang dengan Andien yang mengangguk pelan, hendak duduk di atas sofa kosong yang ada di seberangnya.

Hanya mengulaskan senyum di bibir ranumnya, segera menenggak soda yang baru di bukanya, berbarengan dengan pandangannya yang mengalih ke arah pintu ruangan yang terbuka sebelum....

"Uhuk uhuk...," batuk Inez, tersedak soda yang di minumnya, hingga menyemburkan semua soda yang ada di dalam mulutnya ke arah Andien.

Karena dirinya yang terkejut, beradu pandang dengan Agam yang hendak masuk ke dalam ruangan.

"Kenapa sih Nez? kadaluarsa ya sodanya?" protes Andien, berdiri dari duduknya, mengibaskan kasar kedua tangannya ke atas bajunya yang sedikit basah.

"Maaf! maaf Ndin!" jawab Inez, merasa tak enak hati segera berdiri dari duduknya mendekati Andien.

"Ngapain kamu kesini?" sewot Agam, dengan muka datarnya, merasa tak suka dengan kehadiran Inez.

Menegakkan kepala Andien, menyadari kaedatangan kakaknya segera mengalihkan pandangannya.

"Kok gitu? nggak boleh ya aku kesini?" protes Andien salah paham.

"Bukan kamu! tapi dia! wanita gila yang ada di samping kamu itu ngapain dia kesini?" jawab Agam, dengan wajah tak sukanya mengejutkan Andien.

"Kakak kenal Inez?" tanya Andien bingung, mengalihkan pandangannya ke arah Inez, sebelum mengalihkan kembali pandangannya menatap Agam.

Tak membuat Agam bersuara, hanya mencebikkan bibirnya, tak merasa kenal dan tak ingin mengenal wanita gila yang ada di depannya.

"Aku nggak ada level kenal wanita gila seperti dia!" jawab Agam, menyilangkan kedua tangannya di atas dada, dengan tampang menyepelekannya memancing rasa kesal di hati Inez.

"Wah...," ucap Inez membuang pandangannya, menyunggingkan senyum setengah di bibir ranumnya sebelum mengalihkan pandangannya menatap Andien.

"Jadi laki-laki arogan ini kakak kamu Ndin?" tanya Inez, semakin membuat bingung Andien yang mengalihkan pandangan menatapnya.

"Siapa yang kamu sebut laki-laki arogan?" sewot Agam tak terima.

"Kamu! kenapa? tak terima?" jawab Inez tak kalah sengitnya.

Semakin memperburuk mood Agam yang sudah buruk, membuang pandanganya ke sembarang arah sebelum menurunkan tangannya yang bersendekap.

"Keluar!" usir Agam, dengan sorot mata tajamnya menatap Inez.

"Oke!" jawab Inez, segera meraih tas ranselnya yang ada di atas sofa hendak mengayunkan langkahnya.

Sebelum tertahan oleh suara Fahmi yang sedari tadi berdiri di dekat pintu menghentikan langkahnya.

"Mama kamu ingin bicara Gam," ucap Fahmi, memberikan ponselnya kepada Agam, sesaat setelah mengayunkan langkahnya mendekati Agam.

"Halo Ma?" ucap Agam, menempelkan ponsel Fahmi ke telinganya.

"Itu video call Gam!" jawab Fahmi.

"Ha?" ucap Agam, menurunkan ponselnya spontan menyadari kesalahannya.

Sebelum terdiam, bersitatap dengan Inez yang menggelengkan kepala pelan dengan senyum mengejeknya.

"Halo Ma?" jawab Agam, mencoba bersikap senormal mungkin, menutupi mood buruknya di depan Mamanya.

"Tolong bantu temannya Andien ya Gam?" ucap Mama Ratih, mengerutkan kening Agam, kembali menatap Inez yang terdiam tak menatapnya.

"Tolong apa Ma? aku bukan polisi yang tugasnya menolong orang," jawab Agam.

"Kamu kan anak Sholehnya Mama? anak Sholeh itu harus mau membantu sesama..." jawab Mama Ratih.

Menundukkan kepala Andien dan Fahmi kompak menahan tawa.

Menciptakan helaan nafas di bibir Agam, kembali mengalihkan pandangannya, dengan sorot mata tajammya menatap Inez yang kini balik menatapnya.

"Jaga mata kamu Gam! jangan sakiti hati anak perempuan Mama!" ucap Mama Ratih, menyadari tatapan tak bersahabat di mata anaknya.

"Aku nggak menyakiti Andien Ma."

"Bukan Andien, tapi Inez!" ucap Mama Ratih, menyentakkan hati Inez yang mendengarnya.

"Mama kenal dia?"

"Ya nggak sih.. tapi dia kan teman Andien, otomatis dia juga anak perempuan Mama!" jawab asal Mama Ratih.

"Nggak ada ilmu yang seperti itu Ma..." protes Agam.

"Ini buktinya ada!" jawab Mama Ratih, sebelum memutus panggilan teleponnya, sesaat setelah menitipkan Inez, gadis yang belum di kenalnya kepada anaknya.

Segera mengembalikan ponsel milik Fahmi, sebelum mengalihkan pandangannya menatap Inez.

"Kamu butuh bantuan apa?" tanya Agam kepada Inez, karena dirinya yang tak lagi punya pilihan, ingin segera mengusir wanita cantik yang ada di depannya setelah memberikan bantuannya.

"Penelitian untuk skripsi!" jawab Inez, menurunkan egonya demi skripsi yang harus dibuatnya.

"Bantu dia Fa!" ucap Agam kepada Fahmi.

"Aku nggak bisa, tadi kan aku sudah izin  sama kamu? setelah meeting aku harus pulang," jawab Fahmi mengecewakan hati Agam.

"Ya sudah antar saja dia ke bagian yang bisa membantu dia!" tambah Agam, segera mengayunkan langkahnya hendak duduk di kursi kebesarannya.

Memancing rasa kesal di hati Inez, karena hatinya yang merasa di sepelekan.

"Ya jangan gitu dong Kak... Mama kan sudah menitipkannya kepada kamu..," ucap Andien merayu.

"Nggak usah Ndin, nggak papa, aku bisa cari perusahaan lain! nggak harus di sini juga kok!" ucap Inez, mengulaskan senyum tipisnya menatap Andien.

"Tapi kan Nes...,"

"Terimakasih, ayo pulang..." tambah Inez, karena rasa kesal di hatinya, merasa tersinggung dengan perlakuan Agam yang tak menghargainya.

Segera mengayunkan langkahnya, berbarengan dengan Andien yang mengalihkan pandangan menatap Agam.

"Mama...," ancam Andien tak bersuara, menunjukkan ponsel di tangannya kepada kakaknya.

"Tunggu!" ucap Agam akhirnya, menghentikan langkah Inez, setelah menghela nafasnya panjang karena ancaman adiknya.

"Aku akan membantumu!" lanjut Agam malas, beradu pandang dengan Inez yang membalikkan badan menatapnya.

Menciptakan senyum di bibir Andien, sebelum menaik turunkan alisnya, beradu pandang dengan Fahmi yang mengedipkan salah satu mata menatapnya.

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status