"Agammm...!" teriak Mama Ratih.
Ia memukul kasar anak laki-lakinya yang tengah tertidur di atas ranjang menggunakan bantal. Pukulan yang mendarat tepat di atas lutut Agam itu mengejutkan pria tampan yang sedang bermimpi indah tersebut.
"Astaga, Ma... Kenapa sih pakai mukul-mukul?" protes Agam kesal. Ia segera bangun dan duduk di tepi kasur, masih dengan mata terpicing menahan kantuk.
"Heh! Ayo bangun, Gam! Jangan tidur terus kamu ini...!" seru Mama Ratih.
Ucapan itu tak lantas membuat Agam membuka matanya lebar-lebar. Ia malah kembali menjatuhkan tubuh tegapnya ke atas kasur, mengabaikan sang mama yang masih berdiri menatapnya.
"Ini aku sudah bangun, Ma..." jawab Agam malas, suara gumamannya hampir tak terdengar.
"Duh Gusti... Anak perawan ini ya..." ucap Mama Ratih kesal. Ia kembali memukul kaki anak sulungnya dengan bantal, lalu terdiam saat Agam mendadak membuka mata dan langsung duduk untuk protes.
"Aku ini laki-laki, Ma! Aku ini laki-laki! Astaga..." protes Agam frustrasi. Ia mengacak rambut hitam legamnya yang berantakan sambil mendengus kesal.
"Aku ini lelaki tulen, Ma... Bisa tidak kata 'perawan' itu dihilangkan? Ganti dengan 'anak jejaka', kan lebih enak didengar?" protesnya lagi.
"Kalau memang benar kamu ini lelaki tulen, cepat buruan nikah! Buktikan ke Mama kalau kamu bisa kasih Mama cucu!" jawab Mama Ratih.
Sentilan itu membuat anak sulungnya berdecak kesal. Agam segera turun dari ranjang dan menatap mamanya.
"Aku bisa kasih Mama cucu, Ma... Astaga... Kok tidak percayaan banget sih sama anak sendiri? Mau cucu berapa, Ma? Empat? Lima? Enam?" tantang Agam, sebelum kemudian menggosok cepat lengan kanannya yang baru saja dipukul sang mama.
"Jangan bercanda kamu, ya! Mumpung Mama masih hidup, cepat kamu nikah!"
"Ah! Kenapa malah ngomongin mati sih? Horor tau tidak, Ma?" ucap Agam. Ia lalu mencondongkan tubuh tegapnya untuk memeluk sang mama.
"Jangan berani mati sebelum aku mengizinkan, Ma..." bisik Agam di telinga mamanya, sebelum akhirnya memekik karena pukulan kembali mendarat di lengannya.
"Kamu pikir kamu ini Tuhan, hah?" ucap Mama Ratih.
"Ya Tuhan... Sebenarnya aku ini anak Mama bukan, sih? Senang sekali menyiksa anak sendiri?" protes Agam, lalu tertawa saat Mama Ratih mencubit gemas hidung mancungnya.
"Mama gemas ya sama ketampananku?" goda Agam manja dengan kerlingan mata. Ia beradu pandang dengan Mama Ratih yang mencebikkan bibir sambil mengulurkan tangan mendekati wajahnya.
"Lebai, lebai, lebai!" Mama Ratih menepuk pelan bibir merah putra sulungnya itu berulang kali.
Pukulan itu terhenti karena Agam tertawa melangkah mundur untuk menghindar.
"Ayo cepat mandi sana! Sekretaris kamu sudah menunggu di bawah!" ucap Mama Ratih seraya mengayunkan langkah ke arah ranjang untuk merapikan seprai yang berantakan.
Berbarengan dengan itu, Agam mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang menggantung di kamar.
"Astaga...! Sudah jam sembilan! Kok Mama tidak membangunkan aku dari tadi?" ucap Agam. Ia segera berlari hendak masuk ke kamar mandi, mengabaikan Mama Ratih yang menegakkan tubuh dan menatapnya.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, ia membalikkan badan dan menatap mamanya kembali.
"Ahh... Tapi aku kan pimpinannya, Ma! Pemilik perusahaan! Kenapa juga harus tergesa-gesa!" ucap Agam lalu tertawa. Ia dengan sigap menangkap bantal yang kembali melayang ke arahnya.
"Jangan sombong kamu, ya! Mau jadi apa kalau tidak disiplin?" sungut Mama Ratih.
"Jadi anak salehnya Mama," jawab Agam asal. Ia kembali tertawa dan segera masuk ke dalam kamar mandi, menghindari serangan bantal di tangan mamanya.
Ia meninggalkan Mama Ratih yang tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah sableng putra sulungnya—anak laki-laki satu-satunya yang telah menjadi tumpuan hidup sejak kematian suaminya.
Anak sulung yang tak pernah berhenti menggodanya hanya demi memastikan ada tawa di bibir sang mama. Agam tak ingin melihat mamanya bersedih, meskipun hanya sejenak.
Ya... Dia adalah Agam Dirgantara. Seorang pengusaha sukses di bidang properti di kotanya, dengan berbagai proyek perumahan elite yang ia pegang di dalam maupun luar kota.
Agam merupakan pemilik PT Dirgantara Property, perusahaan pengembang ternama yang memiliki banyak proyek perumahan mewah berharga fantastis untuk setiap unit yang dijual.
Namun sayang, di usianya yang sudah tergolong matang—31 tahun—Agam belum juga menemukan pasangan hidup yang akan menemaninya dalam suka dan duka.
Bukan karena ia tidak tampan. Kenyataannya, Agam sangat rupawan dengan bola mata cokelat, hidung mancung, rahang tegas, serta kulit putih mulus yang melengkapi tubuh tegap dan berotot proporsional.
Penyebabnya adalah rasa trauma. Hatinya belum bisa terbuka untuk wanita lain selain almarhumah calon istrinya yang meninggal dua hari sebelum pernikahan mereka, enam tahun lalu. Kecelakaan naas itu telah merenggut nyawa kekasih hatinya, belahan jiwanya, calon istri terbaiknya.
"Selamat pagi, Kak..." sapa Andien, adik satu-satunya Agam yang berusia 21 tahun. Gadis itu adalah mahasiswi semester akhir di salah satu universitas ternama di kota mereka, sekaligus seorang atlet taekwondo yang telah mengharumkan nama kampusnya di kejuaraan nasional.
Andien sedang menikmati sarapan roti bakar selai cokelat di meja makan ketika matanya beradu pandang dengan Agam yang baru keluar dari kamar.
"Selamat pagi, An... Kamu tidak kuliah?" tanya Agam yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya.
"Malas, Kak!" jawab Andien.
Jawaban itu membuat mata Agam membulat. Secara refleks, Agam meraih sendok di dekatnya dan melemparnya cepat ke arah sang adik.
Hap!
Andien berhasil menangkapnya dengan sigap, lalu menyeringai menatap kakak laki-lakinya.
"Lumayan..." puji Agam atas kegesitan adiknya, lalu menyantap roti bakar yang telah disiapkan di atas piring.
"Kuliah siang, Kak," jawab Andien di sela kunyahannya.
Tanpa membalas ucapan adiknya lagi, Agam menikmati roti bakar isi selai kacang kesukaannya. Pandangannya kemudian beralih kepada Fahmi (31 tahun), sekretaris utama sekaligus sahabat terbaik yang menemaninya berjuang dari nol hingga kini menjadi sosok yang berpengaruh.
"Makan, Fa," tawar Agam.
"Aku sudah sarapan nasi goreng spesial buatan istriku yang spesial!" jawab Fahmi seraya menarik salah satu kursi makan di seberang Andien.
Agam mencebikkan bibir sambil terus menikmati sarapannya.
"Istriku punya teman, Gam. Cantik, badannya juga aduhai."
"Aduhaian mana sama badan istri kamu?" potong Agam, merasa kesal dengan sahabatnya yang terus-menerus melontarkan penawaran untuk mengenalkannya pada wanita lain.
"Astaga... Lancang sekali mulut anak perawan ini, ya..." sungut Mama Ratih yang berjalan mendekati meja makan.
"Ayolah, Ma... Aku ini laki-laki..." protes Agam. Ia segera meneguk segelas air putih di dekatnya, lalu memperhatikan sang mama yang duduk di sebelah adiknya.
"Apa kamu percaya dia laki-laki, Fa?" goda Mama Ratih, mengalihkan pandangan ke sahabat anaknya.
"Sepertinya tidak, Tante. Tidak ada laki-laki yang takut menikah," jawab Fahmi, yang langsung disambut tawa ejekan dari Agam.
"Kamu percaya kan, Ndin, kalau kakakmu ini laki-laki?" ucap Agam pada Andien, berusaha mencari pembelaan. "Bilang iya, atau aku potong uang jajan kamu!" ancamnya.
"Hahaha..." Andien tertawa kikuk, lalu melirik mamanya.
"Aku berangkat dulu ya, Ma?" pamit Andien tanpa berniat menjawab pertanyaan kakaknya. Ia segera berdiri setelah mencium tangan Mama Ratih.
"Ke mana?" tanya Agam.
"Ketemu teman," jawab Andien.
"Laki-laki atau perempuan?" selidik Agam.
"Perempuan, cantik, atlet taekwondo juga, dan masih jomblo. Mau aku kenalkan?" tawarnya.
"Bau kencur!" sahut Agam seraya memalingkan wajah dan mencebikkan bibirnya.
Mama Ratih menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya, lalu beralih menatap Andien.
"Hati-hati ya, Ndin," pesan Mama Ratih, yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Andien. Gadis itu lalu balik badan hendak mencium tangan kakaknya.
"Apa?" sewot Agam.
"Salim, Kak... Sensi banget sih?" jawab Andien sebelum mencium tangan sang kakak.
"Apa lagi?" tanya Agam saat melihat tangan kanan adiknya kembali terulur.
"Uang jajan," jawab Andien tersenyum lebar.
Agam ikut menyeringai, lalu menaikkan sudut bibirnya menatap sang adik.
"Nanti aku transfer," jawab Agam membuang muka, disambut sorak gembira dari adiknya.
"Lima puluh ribu," lanjut Agam, seketika menghentikan sorakan Andien.
"Astaga... Sekalian saja dua puluh ribu, Kak!"
"Ya sudah," jawab Agam santai, lalu beralih menatap Fahmi. "Transfer ke rekening Andien dua puluh ribu, Fa."
"Ayolah, Kak..." rengek Andien, lalu meminta bantuan mamanya.
"Tolonglah, Ma... Jangan panggil Kak Agam anak perawan lagi. Apa Mama tidak bisa lihat betapa gantengnya kakakku ini? Dia laki-laki tulen, Ma. Dia jejaka, bukan perawan," ucap Andien membela kakaknya demi uang jajan.
"Transfer dua juta, Fa," sahut Agam mendadak, membuat wajah adiknya berganti senyum sumringah.
Hanya dalam hitungan menit, bunyi notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Andien di dalam tas selempangnya.
"Terima kasih, Kak..." ucap Andien, yang dijawab dengan anggukan pelan dari Agam.
"Tapi... Apa Kakak yakin masih perjaka?" goda Andien sambil tertawa, membuat Agam menatapnya tajam. Di saat yang sama, Fahmi menahan tawa sambil menundukkan kepala.
"Aku berangkat ya, Ma? Kak Agam, Kak Fahmi... Assalamu'alaikum," pamit Andien, lalu segera melarikan diri dari tatapan tajam kakak laki-lakinya.
"Kamu masih perjaka kan, Gam?" tanya Mama Ratih tiba-tiba.
Pertanyaan itu menciptakan tawa kikuk di bibir putra sulungnya, sementara Fahmi hanya terdiam menunduk menahan tawa.
Sinar mentari belum begitu terik karena jarum jam baru menunjukkan pukul 09.30. Sebuah sepeda motor sport hitam melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota yang cukup lengang.
Kendaraan itu ditunggangi oleh seorang wanita yang mengenakan jaket kulit hitam dan helm full face berwarna senada yang membungkus kepala serta rambut kuncir kudanya.
Ia menghentikan laju motornya di area parkir sebuah minimarket, mematikan mesin, lalu menegakkan standar motor sport-nya.
Begitu membuka helm, paras cantiknya yang berdarah blasteran langsung menyita perhatian banyak pasang mata di depan minimarket. Meski berpenampilan tomboi, kecantikan alaminya tetap terpancar jelas.
Tanpa merasa terganggu oleh tatapan orang-orang, ia turun dari motor dan melangkah santai memasuki minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan.
Gadis itu adalah Inez Letezia, seorang mahasiswi semester akhir berusia 21 tahun. Ia dianugerahi wajah blasteran Jerman yang cantik dengan hidung mancung proporsional, bulu mata lentik alami, serta manik mata hitam yang indah. Kulit putih mulusnya tampak begitu kontras dengan bibirnya yang kemerahan dan ranum.
Inez merupakan putri kedua dari Raimon Atmaja, pemilik Atmaja Group—salah satu perusahaan ternama dan terbesar di kota tersebut.
[Bersambung]
reviewsMore