LOGINEverything came crashing as she finally returned. Despite being married to Amelia for three years, his heart still wanted her, Jenny Cole. Alex Hall threatens Amelia with a divorce, unaware that she's with his child. Amelia only wanted to be loved by her dear husband. She realizes he knows how to treat a woman right, but that woman is not her. Jenny Cole, her half sister, is on a mission to destroy everything Amelia has, her relationship, her family, and her reputation. She finally agrees to get a divorce after being accused wrongly, insulted, humiliated, and lost every precious thing she had. Just when she agrees to get a divorce, he changes his mind… What is he really up to now?
View MorePRANG!
Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga. "KYAAAAA! Panas! Panas sekali!" Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romansa kerajaan. Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung. Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pendeknya telah raib, berganti gaun merah darah berbahan sutra tebal dengan renda emas yang menyapu rumput. Di pinggangnya, korset melilit begitu erat seolah memaksa tulang rusuk menyatu, membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa dijatah. Tangan kanannya pun tampak asing, terlalu putih, terlalu halus, dengan kuku panjang bercat merah yang masih menggenggam gagang cangkir patah. "Apa yang ...," gumam Kirana. Suara yang keluar dari bibirnya membuatnya tertegun-lebih tinggi, dingin, dan berbalut keangkuhan yang tak pernah ia miliki. "Valeriana! Apa kau sudah gila?!" Bentakan itu menyambar keras. Kirana mendongak perlahan, mendapati seorang pria dengan ketampanan nyaris tak nyata berdiri beberapa langkah di hadapannya. Rambut pirang keemasannya berkilau diterpa matahari sore, kontras dengan mata biru jernih yang kini menatap Kirana penuh kebencian. Pria itu merangkul bahu gadis mungil yang menangis tersedu-sedu. Gadis itu tampak rapuh dengan rambut cokelat madu dan wajah bak boneka porselen. Gaun putihnya ternoda cairan cokelat di bagian dada, di mana uap panas masih mengepul tipis dari kulit lehernya yang mulai memerah. "S-sakit ... Yang Mulia, perih sekali ...," rintih gadis itu gemetar. Otak Kirana berputar cepat bak prosesor tua yang dipaksa bekerja keras. Pria tampan itu dipanggil Yang Mulia. Gadis polos itu menjadi korban. Dan dirinya sendiri ... dipanggil Valeriana. Darah seketika menyurut dari wajah Kirana. Tidak mungkin. Ini adalah adegan pembuka novel Cinta Sang Pangeran yang baru saja ia tamatkan! Kirana bukan lagi pegawai swasta yang gemar rebahan. Ia kini terjebak di tubuh Valeriana de Vallas. Sang Villainess. Istri durhaka yang terobsesi pada Putra Mahkota, wanita gila yang takdirnya tertulis dengan tinta darah: mati dipenggal di alun-alun kota disaksikan sorak sorai rakyat. Lututnya melemas. Jika bukan karena rangka penyangga gaun yang kaku, ia pasti sudah ambruk. "Jawab aku, Valeriana!" Pangeran Arthur melangkah maju, memancarkan aura intimidasi yang kuat. "Tega-teganya kau menyiram Elena dengan teh panas di pesta ulang tahunku sendiri! Di mana kau simpan otak dan hati nuranimu, hah?!" Taman istana mendadak sunyi. Musik orkestra terhenti. Puluhan pasang mata kini tertuju pada Kirana, diiringi bisik-bisik tajam para bangsawan di balik kipas bulu mereka. "Lihat itu, Duchess Vallas kumat lagi." "Benar-benar tak tahu malu. Sudah bersuami masih mengejar Pangeran." "Kasihan Nona Elena. Tak heran Duke Kael tak pernah membawa istrinya ke perbatasan." Cemoohan itu menusuk bagai jarum halus. Tatapan mereka bukan kekaguman, melainkan jijik—seolah Kirana adalah serangga kotor di pesta mewah. Tubuh Kirana gemetar hebat. Nyeri di kaki akibat sepatu hak tinggi, cekikan korset, dan sorot membunuh Pangeran Arthur terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Dalam novel, Valeriana asli takkan gentar. Ia akan mendongak angkuh dan berteriak bahwa gadis kampung itu pantas disiram air mendidih. Teriakan yang menjadi paku pertama di peti matinya. Namun, Kirana hanyalah gadis biasa yang ingin hidup tenang. "A-aku ...." Lidahnya kelu. Tenggorokannya kering kerontang. Elena yang masih dalam pelukan Arthur perlahan mendongak. Air mata sebening kristal mengalir sempurna di pipi meronanya. Akting kelas Oscar. "Yang Mulia," isak Elena lembut, namun cukup keras untuk memuaskan telinga yang haus drama. "Sudahlah. Tolong jangan marahi Duchess Valeriana. Mungkin ... mungkin beliau sedang banyak pikiran karena Duke Kael jarang pulang. Saya mengerti perasaan beliau." Sialan. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan malaikat, padahal isinya racun murni. Tanpa menuduh langsung, Elena menanamkan stigma bahwa Valeriana adalah istri frustrasi yang melampiaskan amarah rumah tangganya pada orang tak bersalah. Rahang Arthur mengeras begitu nama Kael disebut. "Jangan berani-berani membawa nama Duke Kael yang terhormat untuk menutupi kelakuan busukmu," geramnya seraya menunjuk wajah Valeriana. "Duke Kael adalah pahlawan perang! Pria malang yang bernasib sial karena terikat pernikahan politik dengan wanita sepertimu! Dia pasti malu setengah mati memiliki istri seperti dirimu!" Kata-kata itu menghantam ulu hati. Bukan karena harga diri, melainkan karena Kirana tahu itu benar. Duke Kael de Vallas. Ingatan tentang karakter favoritnya itu seketika membanjiri benak Kirana. Suami sah dari tubuh ini. Pria dingin yang kerap dihina Valeriana asli sebagai "Monster Bau Darah", padahal sesungguhnya ia mencintai istrinya sepenuh hati. Kael adalah perisai yang selalu membereskan kekacauan Valeriana dalam diam. Dan akhirnya? Ia mati tragis. Dituduh memberontak demi melindungi istrinya yang bodoh, disiksa, hingga akhirnya bunuh diri saat mendengar Valeriana dieksekusi. 'Aku tidak mau mati,’ jerit batin Kirana panik. Aku juga tidak mau Kael mati! Kenapa aku harus masuk di momen seburuk ini?!' "Minta maaf!" Suara dingin Arthur memutus lamunannya. "Sekarang juga. Berlutut dan minta maaf pada Elena di depan semua orang." Mata Kirana membelalak. Berlutut? Permintaan itu membuat kerumunan menahan napas. Memaksa seorang Duchess berlutut pada putri Baron rendahan adalah penghinaan luar biasa yang akan menyeret martabat keluarga Vallas ke dalam lumpur. Jika ia menolak, Arthur makin murka. Jika ia menurut, ia menghancurkan nama baik suaminya. Maju salah, mundur pun celaka. "Kau tuli, Valeriana?" desak Arthur, melangkah seolah hendak memaksanya tunduk secara fisik. Kirana mundur selangkah, jantungnya serasa hendak meledak. Ia sendirian di dunia asing, dikelilingi musuh. 'Tuhan ... tolong aku. Siapa saja ....' Saat tangan Arthur terulur hendak mencengkeram bahunya, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba menggema. Bukan langkah biasa. Itu bunyi sepatu bot militer yang menghantam jalan setapak batu-keras, teratur, dan mengintimidasi. Irama asing di tengah pesta yang dipenuhi sepatu dansa. Kerumunan bangsawan yang tadinya sibuk bergosip seketika terbelah dengan wajah pucat penuh segan. Kirana menoleh, mengikuti arah pandang semua orang. Napasnya tercekat. Di ujung jalan setapak, berdiri sosok tinggi menjulang dalam seragam militer hitam berornamen perak. Jubah hitamnya berkibar pelan, membawa hawa dingin yang kontras dengan terik matahari. Wajahnya datar tanpa emosi bak pahatan pualam, namun sepasang mata abu-abu setajam badai itu menyapu area sebelum berhenti tepat pada Kirana.Amelia thought about it. With Alex’s temper, if he didn’t want people to know something, those around him wouldn’t dare leak any information. If the assistant were the talkative type, he wouldn’t be able to stay by Alex’s side.That meant there was someone else—she just didn’t know who.But whoever had leaked her identity, she couldn’t admit it. Alex’s warning still echoed in her ears.“I don’t know what you’re talking about.”Amelia didn’t turn around. She brushed it off and continued cleaning.The woman wasn’t angry. She took out her phone and filmed Amelia cleaning the bathroom. A smile slowly spread across her face.“It doesn’t matter if you don’t admit it. I believe the public will help us identify you!”She stepped forward, grabbed Amelia’s hand, forced her to stop working, and made her face the camera. After snapping a close-up of Amelia’s face, she put the phone away.“No wonder you look so familiar. That seductive face—betraying President Alex, and now you come here to clean
Alex stood up from his seat and walked over to the huge floor-to-ceiling window, lowering his eyes to look at Amelia and Emily on the floor who were rushing out of the press circle. The reporters' cell phones rang one after another, and people who had wanted to block Emily's way forward consciously dispersed a path, allowing Emily to drive away from the Hall Group's building in her car. Emily was speeding along the way and arrived back at the villa in just half an hour. "Amelia tell me what's going on." Emily asked worriedly as she sat on the bed and held Amelia's hand tightly. From what she knew about Amelia, there was no way that Amelia, with such a noble character, would accept such humiliation from Alex. But now that it has happened, it means that Alex has threatened Amelia with something again, and the biggest possibility is that it is related to Grace. Amelia lifted her eyes, already red and swollen like walnuts, and after looking at Emily, choked up again. "I was just ple
Amelia thought about it. With Alex’s temper, if he didn’t want people to know something, those around him wouldn’t dare leak any information. If the assistant were the talkative type, he wouldn’t be able to stay by Alex’s side.That meant there was someone else—she just didn’t know who.But whoever had leaked her identity, she couldn’t admit it. Alex’s warning still echoed in her ears.“I don’t know what you’re talking about.”Amelia didn’t turn around. She brushed it off and continued cleaning.The woman wasn’t angry. She took out her phone and filmed Amelia cleaning the bathroom. A smile slowly spread across her face.“It doesn’t matter if you don’t admit it. I believe the public will help us identify you!”She stepped forward, grabbed Amelia’s hand, forced her to stop working, and made her face the camera. After snapping a close-up of Amelia’s face, she put the phone away.“No wonder you look so familiar. That seductive face—betraying President Alex, and now you come here to clean
Alex leaned against the bathroom doorframe and watched Amelia’s busy figure with mock disdain.Amelia’s body stiffened for a moment, then quickly regained composure without answering, continuing the work in her hands.“Amelia, when you did those things, you should have thought about what would happen to you now. One always needs to make atonement for the sins committed!”Seeing that Amelia didn’t respond, Alex wasn’t angry and continued speaking.This time, Amelia finally straightened up, stopped what she was doing, turned around, walked straight to Alex, raised her head, and gave him a cold look.When Alex saw Amelia’s reaction, the mockery in his eyes deepened. He was just about to continue his sarcasm when—“It’s cleaned up. Please move aside. It’s my off time. You have no right to interfere!”After saying that, Amelia directly rammed the cart into Alex’s body and left the office without looking back, leaving Alex frozen at the bathroom door.It was 4:30 a.m. when Amelia finally la
The reason for not working for too long makes her feel restless and depressed in this environment.“If I remember correctly, you’re supposed to be at home taking care of Jenny right now.”Alex finally put down the paper in his hand and gazed up at Amelia.Alex’s deep gaze and the aura around him im
And Alex didn’t just talk the talk. He even assigned someone to oversee her cleaning of each toilet.In this building, a janitor cleaning the bathroom, not bad-looking, followed by a supervisor—how could such a scene not attract attention?In just one morning, the whole building knew about Amelia c
Amelia seemed not to have heard Louis’s words, still staring dully at the ceiling.Louis couldn’t take it anymore. He couldn’t even count how many times Amelia had been sent to the hospital — and that was only after he had found her again. What about before that?How much suffering had Amelia endur
Alex forcibly turned Amelia around and grabbed both of Amelia’s arms tightly with both hands.Alex’s strength was immense, as if he meant to crush her arms. Amelia winced in pain but didn’t scream. She only bit her lip and raised her eyes, their reflection catching Alex’s furious face.In her clea






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore