Suara lolongan anjing membuat malam ini semakin mencekam, dimana malam ini seluruh anggota geng gagak akan melakukan penyerangan ke markas geng bar-bar yang dipimpin oleh Daniel.
Geng bar-bar adalah salah satu pesaing ku dalam perdagangan pasar gelap, selama ini Daniel menjadi penghalang dalam bisnis ku, kalau aku bisa menyingkirkannya semua bisnis yang aku jalani akan berjalan dengan baik. Tak lama berselang satu persatu seluruh anggota geng gagak pun tiba dengan membawa persenjataan lengkap, mereka sudah bersiap untuk menyerang ke markas geng bar-bar, sebelum berangkat seperti biasa kita berpesta terlebih dahulu. Setelah selesai berpesta kami pun bergegas pergi menuju markas geng bar-bar, dalam perjalanan kesana semua orang menghindar dan kabur saat melihat kami melintasi, sebelum kami sampai di markas geng bar-bar kami pun berkumpul mendengarkan arahan dari ku dan berpencar, saat kami mulai beranjak berpencar Dorr... "suara tembakan" salah satu anggota ku tewas tertembak. Tembak menembak pun tak bisa dihindari dari kedua geng tersebut, sambil mengendap-endap aku mencari Daniel, pertahanan pertama dari geng bar-bar berhasil kami terobos, aku melihat beberapa anggota ku banyak yang tertembak, aku memutuskan untuk ikut barisan bersama dengan anak buah ku. Ratusan peluru berlarian melesat dengan cepat mengenai benda-benda disekitar, dua jam lamanya kami masih tembak menembak, pada akhirnya pertahanan kedua dan ketiga berhasil kami taklukan, kami semua tiba di dalam markas Daniel, saat salah satu dari anggota ku mendobrak masuk, ternyata di dalam beberapa anak buah Daniel sudah bersiap menembak dengan cepat, kami pun langsung berpencar menyelamatkan diri tapi sayang banyak anggota ku yang tertembak dan tewas. Aku memerintahkan Albert dan Roy untuk membereskan mereka, saat lawan mulai lengah aku akan masuk kedalam untuk mencari Daniel, saat aku bersiap ingin berlari masuk, dengan cepat peluru melintasi ditelinga ku, membuat aku diam mematung, hampir saja aku mati sia-sia "ucap ku dalam hati". Tetapi perlu tersebut mengarah ke Albert Doorrr.... "sambil berteriak" Roy awas!!! saat Roy menoleh peluru langsung mengenai dada sebelah kiri, disitu Roy langsung tersungkur dan terjatuh, Albert bawa pergi Roy sekarang "ucap ku". Albert langsung berlari membawa Roy, aku menghubungi Jarot dan Musa untuk melindungi mereka berdua dari kejauhan, hingga akhirnya aku berhasil memasuki ke dalam ruangan Daniel dan di dalam ruangan tersebut hanya ada kita ber dua. Daniel : Selamat datang teman lama. Anggoro : "menyalakan rokok" Daniel : Akhirnya tiba juga kamu Anggoro. Anggoro : Sejak lama aku ingin membunuhmu Daniel. Daniel : Ha ha ha jangan terburu-buru Anggoro, mari kita nikmati terlebih dahulu, apa kamu yakin bisa keluar hidup-hidup dari sini. Anggoro : "langsung menembak ke arah Daniel". Daniel : "berhasil menghindar dengan cepat". Aksi tembak menembak pun tidak bisa dihindari lagi antara kita ber dua, suara senjata milik aku dan Daniel saling berbalas menembak Dorr.. Dorr.. mengakibatkan seisi ruangan menjadi porak poranda, dengan berlindung dibalik tembok aku bertubi-tubi menyerang Daniel. Hingga akhirnya peluru ku berhasil mengenai kaki kiri Daniel dan peluru Daniel juga menembus lengan kiri ku, Terlalu banyak peluru yang ku buang, senjata milik ku kehabisan peluru begitu pun dengan Daniel, senjata kita ber dua sudah tidak bisa menembak lagi. Saat Daniel berlari ke arah meja yang berbeda di dalam ruangan milik nya dan membuka laci, dia ingin mengambil senjata yang tersimpan didalam laci tersebut, ketika Daniel berhasil mengambil senjata itu, aku pun berlari ke arahnya dan memukuli diwajah Daniel berkali-kali, senjata yang berbeda di tangannya itu pun terlempar. Aku dan Daniel dengan tangan kosong saling membalas untuk memukul, hingga Daniel mengangkat meja kaca yang berada di dekatnya itu lalu melemparkannya ke arah ku dan mengenai kepala ku darah segar pun keluar dengan deras, hal tersebut membuat penglihatan ku menjadi kabur. Melihat aku kesulitan untuk melihat sekitar, aku menjadi Bulan-bulanan Daniel, bertubi-tubi pukulan masuk ke wajah dan kepala ku, ada apa Anggoro apa kamu sudah terlalu lemah "ucap Daniel", dengan sempoyongan aku mencoba memukul Daniel tetapi arah pukulan ku tidak beraturan, berkali-kali Daniel menendang dada ku membuat diriku tersungkur ke lantai, saat aku mencoba berdiri, lagi-lagi kaki Daniel menghajar ku, aku pun terjatuh kembali. Daniel tidak memberi ku ruang untuk membalas, dengan santainya Daniel menduduki tubuhku sambil membakar rokok. Daniel : Apakah ada permintaan kamu yang terakhir Anggoro? Anggoro : "uhuk uhuk" hanya terbatuk mengeluarkan darah. Daniel : Mungkin hari ini akhir perjalanan dari pemimpin geng gagak dengan julukan setan dari kegelapan. Anggoro : Ini semua belum berakhir Daniel. Daniel : Pantas kamu menjadi pemimpin geng gagak, tekad mu hebat juga Anggoro "memukul wajah ku". Perlahan tanganku mengambil pisau yang sudah aku persiapkan di pinggang sebelum berangkat menyerang, saat Daniel mulai lengah aku menusukkan pisau tersebut ke kaki Daniel, hingga Daniel berdiri dari tubuh ku dan berteriak kesakitan "AAAAAAHHHHH", sambil menahan kesakitan dengan cepat aku kembali menusukkan pisau yang ku bawa ke arah Daniel dan mengenai mata kanannya, dengan keadaan sempoyongan aku kembali menyerang Daniel berkali-kali, karena penglihatan nya terganggu beberapa kali pisau milik ku menggores tubuh dan lengan Daniel. Saat aku mulai menyerang sambil berlari dan mengarahkan pisau ke arah nya semakin dekat aku dengan Daniel hanya cuma berjarak beberapa meter saja, tiba-tiba istri Daniel berlari memeluk dirinya pisau ku pun merobek perut wanita itu, dengan tangan yang bersimbah darah Daniel masih sempat menendang ku hingga aku terpental beberapa meter darinya, sambil memeluk istrinya dengan pisau yang masih menancap di perut. Melihat istrinya yang sudah lemas Daniel pun mencoba membangunkannya, sambil menangis dengan tangan yang penuh darah Daniel memegang pipi kekasihnya itu, sayang... sayang bertahan sayang kamu tidak boleh pergi, aku janji akan menyelesaikan dan membereskan ini semua, aku akan membawa kamu ke rumah sakit jadi tolong bertahan sayang "ucap Daniel sambil menangis". Jangan... Jangan... Tolong jangan pergi sayang selesai ini kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia sayang, kamu ingat janji-janji yang pernah kita ucapkan sayang "menangis menjerit" TOLONG JANGAN PERGI SAYANG!!!. Dengan lemas istri Daniel hanya menjawab tolong jaga anak kita sampai dia tumbuh besar "nada yang terbata-bata", aku janji akan menjaga putri kesayangan kita sayang kamu harus bertahan "menangis", dengan tangan yang lemas, istri Daniel menyentuh wajah Daniel AKU MENCINTAI MU dengan tangan bersimbah darah hingga membekas di pipi Daniel, perlahan tangannya pun terjatuh, Daniel berteriak TIDAK kamu tidak boleh pergi jangan pergi tolong jangan pergi "menangis sejadi-jadinya". Dalam pelukan Daniel kekasih sekaligus istrinya itu tewas, melihat istrinya sudah tidak bernyawa lagi Daniel sangat terpukul dan mengisi di jasad istrinya. Dorr... Dorr... "suara tembakan" dua kali aku menembaki Daniel mengenai dada sebelah kiri dan kanan, senjata ini aku ambil saat Daniel lengah, senjata yang terpental saat Daniel mencoba mengambil dari dalam laci mejanya itu. Kamu tidak usah menangis lagi Daniel, aku sudah membantu mu untuk bertemu dengan istri mu itu, betapa baiknya aku, iya kan Daniel? Daniel hanya bisa melihat ku dengan tatapan tajam, apa yang kamu mau ucapkan Daniel sebut saja di detik-detik terakhir mu ini, saat Daniel menunjuk jarinya ke arah ku, selamat tinggal Daniel sampai bertemu lagi entah berapa lama aku menyusul mu "ucap ku". Ddoorr... Peluru ku melesat dengan kencang mengenai kepalanya, Daniel pun ambruk dan tewas sambil memeluk istri yang dia sayangi itu. Tewasnya Daniel menandakan peperangan antar kedua geng tersebut telah usai, geng gagak berhasil menyingkirkan salah satu dari rivalnya itu yaitu geng bar-bar persaingan bisnis pasar gelap pun semakin sedikit, geng gagak bisa leluasa menguasai peredaran pasar dagang.Mentari yang perlahan memudarkan cahayanya solah-olah ia merasakan ketegangan enggan untuk menyaksikan dua kelompok yang menyimpan dendam akan berperang, di sini kekuatan lah menentukan siapa yang masih pantas menginjakan kaki di atas bumi ini, langkah senyap dari ke 16 anggota geng gagak perlahan mulai memasuki gedung terbengkalai dimana di dalam gedung tersebut kelompok Tejo yang sedang mengincar Semi, tetapi di posisi mereka juga sedang di incar oleh geng gagak, Baret seorang sniper handal mengarahkan moncong senjata api miliknya itu dan memantau pergerakan dari kejauhan, melihat ke 16 anggota geng gagak tiba di lokasi sekaligus memantau perkembangan ia segera melaporkan kepada Albert kalau anggota geng gagak yang di tugaskan sudah memasuki ke gedung terbengkalai dimana saat ini tempat Semi bersembunyi dari kejaran kelompok Tejo.Albert yang sudah mengetahui berita terkini di tempat kejadian ia segera melaporkan hal tersebut kepada pemimpin geng gagak Anggoro, bos anggota kita
Albert yang kebingungan melihat Roy yang tiba-tiba menjatuhkan ponsel miliknya dengan raut wajah panik, Albert segera menghampiri dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, baru saja Albert beranjak dari tempat duduknya itu terdengar suara pintu terbuka dari dalam kamar Anggun, ternyata itu Anggoro, melihat di teras rumahnya ada Albert dan Roy yang sedang duduk Anggoro pun segera datang menghampiri.Anggoro : Akhirnya aku bisa melihat kalian berdua lagi.Albert : Aku dan Roy tidak mati semudah itu bos.Anggoro : Bagaimana dengan Robby dan Semi?Albert : Saat kami di kejar oleh kelompok Tejo Aku dan Roy terpisah oleh mereka ber dua bos.Anggoro : Kamu kenapa Roy terlihat sangat syok begitu?Roy : "Menundukkan kepala dan terdiam".Albert : "Berteriak" Roy apa yang sebenarnya terjadi?Roy : "Nada gugup dan lemas" Baru saja aku melihat berita dari ponselku Robby terbunuh oleh kelompok Tejo.Albert : Apa!!!Anggoro : Kamu jangan bercanda Roy.Roy : "Memberikan ponsel miliknya".Anggor
Semi yang melihat rekan satu gengnya itu telah di habisi oleh kelompok Tejo, seketika membuat jantungnya berhenti sejenak, karena ia menyaksikan langsung di depan mata kepalanya, Robby yang mencoba melakukan perlawanan dengan senjata api miliknya dan beberapa kali Robby melesatkan tembakan ke arah kelompok Tejo tapi selalu meleset oleh sebab itu Tejo mengambil keputusan untuk menembak Robby di tempat yang mengakibatkan ia tewas seketika.Robby yang tak mau teman seperjuangannya itu mati terbunuh dengan sekuat tenaga mendorong Semi agar ia bisa menyelamatkan nyawanya, Semi terus berlari sambil menahan kesedihan terlihat dari air yang menggenang di matanya ia sangat terpukul, tetapi bagaimana pun yang terjadi Semi harus tetap berlari dari pengejaran kelompok Tejo, ternyata jalan yang di ambil Semi adalah gang buntu yang menyebabkan ia kebingungan, langkah apa yang harus di ambil, apa aku harus nekat berperang melawan kelompok Tejo "gumam Semi dalam hati".Anggota Tejo : Bagaimana pa
Di keramaian pusat perbelanjaan aksi kejar-kejaran antara kelompok Tejo dan kedua anggota milik Anggoro terjadi, terlihat di beberapa sudut barang-barang berserakan di lantai akibat benturan dari ke dua kelompok, hingga mereka berada di pintu keluar pusat perbelanjaan itu tetapi kelompok Tejo yang masih belum kehilangan jejak masih mengejar dua orang dari anggota geng gagak yaitu Semi dan Robi.Semi : Bagaimana ini apa yang harus kita lakukan sekarang? "Sambil berlari".Robby : Terus saja berlari.Semi : Kemana perginya Roy dan Albert?Robby : Entahlah yang terpenting bagaimana pun kita jangan sampai tertangkap oleh kelompok Tejo.Semi : Baik.Di tengah kebingungan Semi dan Robby ia tak tau ke mana tempat yang ia tuju untuk bersembunyi dalam pikiran mereka ia hanya perlu berlari cepat hingga kelompok Tejo tidak lagi melihat kemana arah ia berlari, dalam kerumunan orang banyak dan kendaraan yang berlalu lalang kelompok Tejo kebingungan mencari Semi dan Robby berlari.Anggota Tejo :
Dimana Anggoro yang sedang asik bermain dengan Anggun ia sudah menugaskan Albert untuk memantau pergerakan satu keluarga yang sudah memaki-maki Anggoro di salah satu tempat wahana bermain anak.Albert : Bos target sudah terlihat "berbicara melalui telepon".Anggoro : Segera lakukan tugas kamu Albert.Albert : Baik Bos.Albert pun segera mengikuti satu keluarga tersebut, lalu Roy dan beberapa anggota yang lain bertugas untuk mengawasi Anggoro yang sedang asik bermain bersama Anggun, ditengah asik bermain Anggun berlari menghampiri Anggoro yang sedang memperhatikan dirinya dari ke jauhan.Anggun : Papah "berteriak" maafin Anggun ya pah, atas kejadian tadi, papah jadi di marahi.Anggoro : Tidak apa-apa Anggun, sana kamu lanjut bermain kembali.Anggun : Tetapi anak tadi kasian pah, soalnya anak itu selalu mengalah untuk Anggun bermain.Anggoro : "Terdiam" Oh jadi begitu, Yah sudah Anggun main lagi habis ini kita langsung pergi makan.Mendengar pengakuan Anggun barusan seketika hati
Mentari yang sudah terbangun dari tidur nyenyak malam itu membangunkan seisi bumi, terlihat dari dalam kediaman Anggoro Rara yang sudah terbangun lebih awal dari yang lain Rara pun sudah beres menyiapkan sarapan untuk Anggoro, karena malam itu Anggoro sempat berucap saat malam pesta ulang tahun Anggun, kalau hari ini ia ingin mengajak Anggun pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.Rara : Tok-tok (suara pintu di ketuk) maaf tuan kalau sarapan sudah saya siapkan di meja makan "ucap lembut sedikit takut".Anggoro : Ya nanti saya kesana.Rara : Baik tuan.Krek (suara pintu di buka) Anggoro yang baru keluar dari kamar tidurnya itu ia pun langsung melangkah berjalan menuju meja makan, satu persatu anak tangga di turunin oleh Anggoro, dimana dalam langkahnya sudah ada Anggun yang menanti Anggoro di meja makan bersama Rara.Anggun : Papah... (Berteriak) ayah sudah bangun.Anggoro : (hanya tersenyum senang).Rara : Silahkan duduk tuan "menarik bangku".Anggoro : Terima kasih "menatap