LOGIN"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.
Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat I*******m story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut. "Sengaja, biar jadi kejutan." "Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya." "Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu." "Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?" "Iya, silakan." Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare dan dua buah gantungan kunci dan gantungan ponsel yang sedang viral di Jepang sana. "Iiiih ini lucu banget, Sayang. Makasih, ya, kamu udah beliin hadiah buat aku." "Iya, hitung-hitung itu sebagai hadiah ulang tahun dari aku. Maaf, ya, waktu itu aku nggak ngerayain dan cuma inget buat ngasih bunga doang." "Nggak apa-apa, kok, Sayang. Aku seneng, kok, karena kamu masih perhatian sama aku." Vivan tersenyum. Kali ini ia mengajak Inditha makan siang di sebuah kafe yang tidak jauh dari kompleks perumahannya. Di malam harinya, Vivan memainkan biola sambil merekam. Kali ini ia memainkan lagu dari band Indonesia, Radja yang berjudul Jujur. Intronya yang dimulai oleh suara piano dan disusul oleh alunan biola dan alat musik lainnya. Vivan meng-cover lagu tersebut menggunakan biola yang sering digunakan latihan ketika di rumah. Melodi yang mengalun terdengar begitu sedih dan menyayat hati, semua emosi Vivan seolah keluar semua dan lagu itu mengatakan perasaan Vivan yang sebenarnya. Vivan juga manusia, ia bisa sedih ketika hatinya patah karena cinta. Kadang ia menangis kalau permasalahannya begitu berat, tetapi bukan menangis yang berlebihan, hanya menangis seperti mata yang kemasukan debu. Perih. Ketika dibagian interlude lagu, Vivan memainkan biolanya dengan sepenuh hati, siapa saja yang mendengarnya akan langsung merasakan patah dan sakit hati yang teramat. Kalau dalam bahasa gaul, Vivan memainkan musiknya seperti orang yang diceraikan sebanyak tujuh kali. Rasanya benar-benar menusuk. Setelah selesai memainkan lagu tersebut, Vivan mengeditnya sebentar kemudian menguploadnya ke seluruh akun media sosial miliknya. Ternyata teman-teman dan para kenalannya banyak yang merespon baik itu respon candaan dan yang serius. ["Kamu kenapa, Sayang?"] Inditha me-replay W******p story milik Vivan karena di akun I*******m Vivan kini sedang ramai orang yang berkomentar. ["Gpp."] Vivan menjawab dengan singkat, itupun dibalas satu jam kemudian. Setelah itu ia tidak merespon Inditha lagi bahkan teleponnya pun tidak ia angkat. Vivan saat ini benar-benar ingin menyendiri sambil mengintai alat pelacak yang sudah ia tanamkan pada gantungan kunci milik Inditha yang kini tanpa rasa curiga sudah gadis itu pakai sejak benda tersebut diberikan. *** Pagi ini wajah Vivan sangat keruh sekali karena Pak Hartawan benar-benar tidak membiarkan dirinya menjadi concertmaster lagi, bahkan sekarang Vivan yang harus menjadi bayang-bayang dari Ega. Benar-benar tidak habis pikir, kok bisa seorang pemusik andal dikalahkan oleh selembaran berwarna merah. Kewibawaan seorang Pak Hartawan yang sangat Vivan segani kini benar-benar kehilangan kredibilitasnya. Orang-orang yang sangat mengagumi dan mempercayai Pak Hartawan kini merasa sangat kecewa akibat perlakuan Nepo Baby tersebut. "Pak, saya akan menerima dengan lapang hati kalau posisi saya diganti oleh Brian atau Terry karena kemampuannya hampir sama dengan saya. Tapi ini Ega, bahkan banyak nada yang masih meleset." "Van, kamu cuti dari orkestra hampir sekitar enam bulan dan kamu sekarang belum mengetahui kemampuan Ega yang baru. Lagipula kontrak kamu sebentar lagi akan berakhir, jadi apa salahnya kalau kamu membimbing Ega untuk menjadi pengganti posisi kamu." Deg! Hati Vivan benar-benar tertegun sejenak. Teman-teman Vivan yang mendengar hal tersebut juga ikut terkejut. "Jika bapak masih punya kredibilitas, adakan seleksi untuk concertmaster sekarang. Baru saya bisa terima." "Kami juga setuju, Pak." Pak Hartawan menghela napas. "Maaf, Vivan dan teman-teman sekalian. Meskipun kalian kembali mengadakan petisi, tetapi jika para jajaran direksi sudah setuju kalian harus berlapang dada menerimanya." Pak Hartawan menepuk pundak Vivan kemudian melangkah meninggalkan ruang latihan. Belum sempat sampai diambang pintu, tanpa orang-orang duga, tiba-tiba Vivan melayangkan pukulan telak ke pipi kiri sang konduktor utama itu. Para anggota perempuan menjerit histeris, sementara anggota laki-laki mencoba memisahkan Vivan supaya tidak lagi menyerang Pak Hartawan secara membabi buta. *** "Gila kau, Van! Aku tau kau lagi emosi tapi gak harus mukul Pak Hartawan juga." Aji menceramahi Vivan habis-habisan di markas mereka. Sebenarnya bukan Pak Hartawan saja yang kena pukul, tapi yang lain juga sama saat tadi Vivan benar-benar sedang kalap. "Dua minggu lagi kita ada konser. Kalau keadaannya kayak gini bisa kacau, apalagi kalau hal ini menyebar keluar dan terdengar oleh pemusik yang lain, karir kau bakal tamat, Van." "Sorry." Vivan hanya bisa tertunduk pasrah. Menyesal atas apa yang sudah dilakukannya. Vivan merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosi dan tidak memikirkan dampak pada dirinya dan pada para anggota orkestra yang lain. "Aku tau kau juga lagi kesal sama si Ega, harusnya jangan dibawa ke tempat kerja. Urus saja urusan pribadimu itu diluar." Andhika menepuk punggung Vivan. "Menurut kabar yang aku dengar, tadi jajaran pengurus lagi ngadain rapat. Kayaknya lagi ngebahas tentangmu, Van. Kalau besok kamu dapat surat peringatan, kamu jangan mengulangi kesalahan lagi, berbuatlah hal yang baik dan menerima Ega ya meskipun kami juga gak setuju Ega jadi concertmaster, kami benar-benar tersiksa waktu latihan sama dia. Dengerin aku ya, Van. Kalau kamu dapat surat skorsing, kamu jangan banyak protes lagi. Cukup terima dan renungkan perbuatanmu." "Skorsing?" Joseph kaget bukan main. Andhika mengangguk. "Ya kemungkinannya ada dua, dikasih peringatan karena masalahnya ringan dan ya diskorsing kalau masalahnya berat. Itu tergantung para petinggi." "Tapi aku kayaknya bakal diskorsing," ucap Vivan pelan. "Tau sendiri, kan, bapaknya Ega termasuk jajaran orang penting di orkestra kita." Teman-teman Vivan hanya bisa menghela napas pasrah. Ya mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa melawan orang yang punya kuasa dan juga uang. Ponsel Vivan berdering, ada sebuah notif yang masuk. Vivan mengerutkan kening, ia kemudian berdiri dan menatap lantai bawah dengan mata tajam seperti elang. "Ada apa?" Aji bertanya dan ia pun ikut mengamati lantai bawah. "Inditha ada di sini..., sama Ega," jawab Vivan sambil memasang earphone. "Apa?!" "Kok kita baru tau kalau mereka suka ke sini," ucap Joseph. "Mereka baru ke sini." "Jadi kau benar-benar pasang alat pelacak, Van?" Aji bertanya dengan nada tak percaya. Vivan hanya mengangguk. "Gila." Posisi markas mereka sebenarnya di kafe milik kakak perempuan Andhika. Kafe yang I*******m-able dengan dua lantai. Lantai atas adalah markas mereka, markas di pojok kanan yang dihalangi oleh sebuah tanaman merambat dan di situ sudah ditulis 'ruangan CEO' oleh Joseph. Entah CEO apa, mungkin CEO PT Mencari Cinta Sejati. "Mereka lagi ngomongin aku." Ketiga orang itu melirik ke arah Vivan. Joseph iseng mencabut sebelah earphone-nya dan memasangnya di telinga kanan. Joseph mendengarkannya dengan penuh konsentrasi. Vivan mendengus sebal. "Aku bakal putusin Inditha sekarang." "Serius kau, Van?" "Aku serius, Ji. Bukti perselingkuhan mereka sudah banyak terkumpul. Aku sudah muak dengan mereka." Vivan langsung turun kebawah untuk menghampiri pasangan sejoli yang hobinya bermain belakang. "Aku yakin dia bakal ngamuk lagi. Ayo kita hentikan sebelum kafe kakakmu tinggal puing reruntuhan, Dhik." Aji berlari menyusul Vivan dan diikuti oleh Joseph juga Andhika.Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak
Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?
Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva
"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare
Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja
"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da







