LOGINByuuur!!!
Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega. Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya. "Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini." "Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira." "Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya." "Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham." "Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang. "Kau tega ya sama aku, Tha." Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya. "Iya, kita emang main api di belakang kau, Van." "Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur. Vivan menarik kerah bajunya kemudian ia kembali memukul wajah Ega. Kegaduhan yang mereka lakukan membuat para pengunjung kafe penasaran, bahkan ada yang dari awal merekam kejadian tersebut. "Bagaimana rasanya kalah, Van? Apakah enak. Semua yang kau punya sekarang bukan milikmu lagi. Tapi sekarang punyaku!" "Baji—" Vivan belum selesai berbicara tetapi teman-temannya langsung menyeret Vivan. Bahkan security pun ikut andil. "Kenapa kalian tega melakukan ini padaku, hah? Apa salahku pada kalian? Inditha, kenapa kau mengkhianatiku?" Inditha mengusap air matanya. "Aku selingkuh karena kamu sibuk terus, Van. Kamu sibuk mikirin ini-itu tanpa mempedulikan aku. Kamu juga jarang memberikan apa yang aku mau. Berbeda dengan Ega yang selalu ada buat aku dan selalu mengertiin aku. Ega nggak pelit kayak kamu, Ega juga nggak perhitungan." "Aku sibuk karena aku mau cepat-cepat lulus setelah itu biar nanti aku selalu ada waktu buat kamu, Tha. Aku sibuk kuliah sambil kerja juga buat masa depan kita yang selalu kamu impikan. Aku selalu berusaha buat ngebahagiain kamu, Tha. Tapi kenapa kamu nggak pernah melihat perjuangan aku?" "Omong kosong! Kamu selalu aja ngasih alesan yang sama. Bilang aja kamu udah nggak cinta sama aku." "Aku kalau nggak cinta sama kamu aku udah mutusin kamu dari lama, Tha." "Ya udah mulai sekarang kita putus, Van! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu! Lagipula aku cape harus sembunyi-sembunyi terus sama Ega. Sekarang karena kamu udah tau, aku jadi puas! Kita putus dan kamu jangan ganggu aku lagi." Sebelum pergi, Inditha menampar dulu pipi Vivan karena gara-gara Vivan wajah Inditha jadi berantakan dan juga ia dipermalukan di depan umum seperti ini membuatnya tambah kesal saja pada mantan pacarnya itu. Setelah dua sejoli itu pergi, Andhika dan para pegawai yang lain sibuk memohon-mohon pada para pengunjung untuk menghapus video yang sudah diambil dan melarang mereka meng-upload video atau foto tersebut ke media sosial. Andhika males jika viralnya sebuah aib. Kalau viral karena sebuah prestasi mah ya nggak apa-apa mau di-upload sampai ke planet mars juga. *** Vivan mengacak rambutnya. Satu jam yang lalu ia baru saja dipanggil oleh petinggi orkestra dan tadinya ia akan diberikan surat peringatan tetapi tidak jadi dan malah diganti oleh surat skorsing gara-gara pemukulan terhadap Ega. Dan masa skorsing dirinya selama enam bulan lamanya. Selain itu, ia juga kena kasus menabrak gerobak pedagang kaki lima. Untung saja tidak ada korban jiwa, hanya saja Vivan harus mengganti rugi gerobak bapak pedagang es cendol. Untung (lagi) keluarganya memilih jalur kekeluargaan. Tapi tetap saja polisi menindak tegas Vivan karena berkendara dalam keadaan mabuk. Oleh karena itu SIM A maupun SIM C-nya dicabut. "Puas kamu menghancurkan masa depanmu sendiri?" Ibunya Vivan, Bu Herlina berucap ketus pada anaknya itu. "Papa, kan, sudah pernah bilang, kamu jangan dulu pacaran sebelum lulus S2, eh malah nggak denger. Emang enak sekarang kamu kena batunya. Padahal kalau kamu deket dulu sama Inditha jangan langsung pacaran kan pasti kejadiannya nggak bakal kayak gini." Pak Sujiwo juga ikut menceramahi anak bungsunya itu. "Kamu memang harus dikasih pelajaran biar jadi manusia yang berguna." "Maafin Vivan karena udah ngecewain Mama sama Papa. Vivan janji nggak akan mengulangi hal seperti ini lagi." Bu Herlina membaca kembali surat skorsing dari pihak orkestra. Vivan masih bisa berpartisipasi dalam kegiatan orkestra sebagai pemain panggilan atau mengikuti audisi untuk sebuah acara, tetapi jika kegiatan acara tersebut masih ada kerjasama dengan Arsyanendra Orchestra, maka Vivan tidak bisa berpartisipasi. Skorsingnya mulai berlaku dari bulan Juni sampai dengan bulan November. "Biar pikiran kamu jernih, Mama mau kirim kamu ke kampung biar kamu tinggal di sana sama kakek dan nenek selama enam bulan." "Ta-tapi, Ma, bagaimana dengan kerjaan aku di sini? Aku masih harus ngajar di sekolah sama di studio." Bu Herlina melotot. "Kamu mau menantang Mama, hah? Mama suruh kamu buat nenangin diri biar nggak malu muka ketemu sama pemain orkestra. Nih, jernihin otak dan kepala kamu yang udah semerawut begini." Tangan Bu Herlina memutar-mutar kepala anaknya itu. "Kamu bisa ngasih surat cuti ke sekolah, kalau buat di studio kamu bisa mengajar secara daring. Gitu aja kok nggak bisa kepikiran." Pak Sujiwo juga ikut berkomentar pedas. Vivan mendengus dingin. "Kunci mobil, kunci motor, dan SIM biar Mama dulu yang pegang. Selama kamu di kampung, kamu nggak boleh nyetir ke jalan raya. Paham?" "Tapi aku nggak mau ke kampung, Ma. Aku males harus mandi ke empang." "Sekarang di rumah kakek udah ada kamar mandi. Kamu pikir di kampung sekarang masih gitu-gitu aja? Nggak berkembang? Di kampung juga sekarang sudah mengikuti jaman. Sinyal juga sekarang sudah bagus, jalanan sudah diaspal." "Tapi, Ma..." "Nggak ada tapi-tapian lagi. Pokoknya minggu depan kita berangkat ke kampung. Awas aja kalau kamu kabur. Mama akan kasih hukuman yang lebih berat daripada ini." Dan begitulah awal mula cerita kenapa Vivan bisa tiba-tiba terdampar di kampung halaman ibunya dan harus tinggal bersama kakek dan neneknya. Vivan harus bekerja layaknya orang-orang di desa yang setiap hari mereka harus pergi ke sawah, ladang ataupun kebun. Harus bekerja di bawah sinar matahari yang terik bukan di tempat indoor yang sejuk karena ruangannya ber-AC. Vivan juga harus beradaptasi dengan makanannya yang rata-rata banyak makanan sayur dan lalapan. Makanan yang terlihat sederhana namun sebenarnya menyehatkan. Kalau Vivan seorang vegetarian ya itu surganya tetapi sayangnya Vivan tidak terlalu suka makan sayur. Vivan juga tidak suka bekerja berat seperti ini. Ah, Vivan rasanya ingin kabur saja ke luar negeri.Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak
Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?
Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva
"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare
Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja
"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da







