Mag-log inSuasana istana perlahan kembali dipenuhi kehidupan.Ketegangan yang beberapa hari terakhir menyelimuti lorong-lorong istana mulai memudar. Saat Madeleine melintas, para pelayan segera membungkuk hormat sambil menyunggingkan senyum tulus.Pemandangan itu membuat sudut bibir Madeleine ikut terangkat.Setidaknya, strategi yang ia susun untuk meredakan keresahan di dalam istana mulai membuahkan hasil.Ia akhirnya bisa mengembuskan napas lega.Dengan langkah ringan, Madeleine menuruni tangga menuju penjara bawah tanah. Di tangannya tergenggam selembar surat kabar yang sengaja ia bawa.Namun, begitu tiba di depan sel, langkahnya terhenti. Alisnya terangkat tipis.Tirai hitam tebal yang sebelumnya menutupi ruangan itu sudah tidak ada. Tiang tempat Adelynn diikat kini berdiri kosong. Wanita itu juga telah mendapatkan perawatan. Perban membalut beberapa bagian tubuhnya, sementara rona wajahnya jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu.Tatapan Madeleine menyapu seluruh perubahan itu dal
Madeleine memekik pelan sewaktu Lucas merebahkannya ke kasur. Pergerakan pria itu cepat, namun tetap berhati-hati.“Kau tidak sabaran sekali,” gumam Madeleine begitu Lucas menopang tubuh di atasnya.Hembusan napas hangat Lucas menyapu leher Madeleine. Usapan ujung hidung dan sentuhan bibir pria itu menjangkau perpotongan leher hingga tulang selangka, membuat tubuh Madeleine bergetar halus. Jemarinya meremas lengan sang suami, lalu beralih melingkari leher Lucas untuk menariknya semakin dekat.Sentuhan Lucas bergerak lambat mengikis jarak. Telapak tangannya merayap menyusuri pinggul hingga jemarinya menyenggol paha dalam. Madeleine tidak mampu memendam desahan yang sejak tadi menahan di tenggorokan. Gaun tidurnya sudah melorot melintasi bahu, membiarkan kulit bagian atasnya tersiram cahaya temaram lampu kamar.Namun, tepat saat Lucas merendahkan posisi untuk melanjutkan sentuhannya, pergerakan pria itu mendadak terkunci.Lucas mematung. Matanya tertuju pada memar keunguan di lenga
Bibir mereka bertemu dalam kecupan lembut yang berlangsung tanpa tergesa. Tidak ada luapan emosi yang membabi buta, hanya kehangatan yang perlahan mengalir di antara keduanya.Madeleine memejamkan mata. Ia menikmati setiap kecupan yang perlahan menjadi semakin dalam, seperti melepas rindu yang telah lama dipendam.Kali ini, ia tidak lagi memikirkan apa yang ada di benak Lucas atau berusaha menafsirkan setiap sikap pria itu. Ia hanya ingin menikmati momen yang akhirnya menjadi milik mereka.Saat tautan mereka terlepas, Lucas langsung memeluknya dengan hati-hati. Pelukan itu terasa begitu ringan, seolah ia takut memberikan tekanan sedikit saja.Madeleine mengembuskan napas pelan. Kali ini, ia yang lebih dulu mengeratkan pelukan, merapatkan tubuhnya ke dada Lucas, lalu menyandarkan kepala di bahu pria itu.Sesaat, Lucas membeku."Kau tidak akan menyakitiku," bisik Madeleine.Perlahan, kekakuan itu menghilang. Lengan yang semula melingkar dengan ragu kini memeluknya lebih mantap.Pada akh
Lucas terdiam.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Madeleine tanpa berkedip. Kedua matanya sedikit membesar sebelum perlahan menyipit, lalu senyum tipis mengembang di sudut bibirnya."Aku penasaran." Ia menopang dagunya dengan jemari yang saling bertaut. "Kau belajar mengucapkan kalimat manis seperti itu dari mana?"Madeleine tampak berpikir sesaat."Hm..."Kemudian sudut bibirnya melengkung kecil."Rahasia."Lucas mengembuskan tawa pelan."Dari tadi kau terus menyembunyikan sesuatu dariku." Ia menggeleng pasrah. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa."Senyum di bibir Madeleine mengendur, lalu perlahan memudar. Ia menatap wajah Lucas lekat-lekat, mencoba mencari celah emosi yang tersembunyi di sana.Namun, Lucas hanya membalas tatapannya dengan senyuman tenang, seakan kalimat yang baru saja ia ucapkan adalah hal yang sangat wajar.Dadanya mendadak dipenuhi rasa penasaran."... kau tidak suka pujian itu?" tanyanya hati-hati.Alis Lucas terangkat. "Kenapa kau berpikir begitu?""Karena ...
"Karena Erin sudah kembali, sekarang ikut aku."Sebelum Lucas sempat mengucapkan sepatah kata pun, Madeleine sudah lebih dulu meraih tangannya. Jemarinya menggenggam erat, lalu membawanya menjauh dari lorong itu seolah ingin meninggalkan seluruh kecanggungan yang baru saja terjadi."Kita mau ke mana?" tanya Lucas."Ikut saja."Madeleine terus melangkah tanpa menoleh. Lucas pun tidak berusaha melepaskan genggamannya. Ia hanya mengikuti wanita itu hingga keduanya tiba kembali di kediaman mereka.Begitu pintu ruang makan dibuka, aroma masakan yang masih hangat langsung memenuhi indra penciuman. Uap tipis mengepul dari aneka hidangan yang tertata rapi di atas meja, seolah semuanya baru saja selesai dimasak.Madeleine segera menarik sebuah kursi untuk Lucas."Duduk."Nada suaranya terdengar ringan, disertai senyum kecil yang sulit disembunyikan."Aku menyiapkan semua ini untuk kita. Aku meminta koki memasakkan makanan hangat yang paling kau sukai. Kau pasti belum sempat makan sejak tadi."
Erin tampak hendak kembali menolak, tetapi Madeleine lebih dahulu menggeleng."Jangan membantah kali ini." Ia menggenggam pelan tangan Erin yang tidak terluka. "Kau harus benar-benar pulih. Bukan agar bisa segera kembali bekerja, melainkan karena tubuhmu memang berhak mendapatkan waktu untuk sembuh. Aku tidak ingin kau terus menahan sakit."Erin terdiam. Tatapannya melunak, seolah tak lagi menemukan alasan untuk menyanggah perhatian itu.Lucas menyaksikan semua itu dari ambang pintu. Bahunya bersandar santai pada kusen, sementara kedua lengannya terlipat di depan dada.Beberapa pelayan yang berada di dalam ruangan saling berpandangan tipis. Senyum kecil yang muncul di wajah mereka sulit disembunyikan. Bukan karena tingkah Madeleine berlebihan, melainkan karena mereka dapat melihat ketulusannya. Setiap perhatian yang ia berikan terasa begitu alami, seolah ia benar-benar menganggap kesehatan Erin lebih penting daripada hal lain.Tatapan Lucas masih tertuju pada Madeleine.Wanita itu







