MasukMadeleine mengangkat pandangannya ke arah Alaric. “Bukankah suamiku juga ikut andil merebut benteng itu dulu? Sayang sekali kalau tempat dengan pemandian air hangat seindah itu jatuh ke tangan lawan hanya karena kelalaian kita.”Madeleine memutar cangkir porselen itu perlahan sebelum melanjutkan, “Lagipula, rumor tentang emas tersembunyi di sana bisa saja sampai ke pihak luar. Anda tidak ingin mereka bergerak lebih dulu, bukan?”“Perkiraan Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia,” ujar Alaric datar, meski dalam hati ia mulai mempertimbangkan setiap kata yang diucapkan wanita itu.“Saran saya tetap sama, Tuan Alaric. Namun, saya harap Anda memikirkannya dengan matang sebelum terlambat,” sahut Madeleine dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.Alaric menghabiskan sisa tehnya lalu berdiri dari kursi.Ia baru saja berbalik untuk pamit ketika langkahnya mendadak terhenti.Di ambang pintu paviliun, Lucas sudah berdiri di sana. Wajahnya dingin dan mengintimidasi.“Aku tidak menyangka seorang d
Madeleine memilih parfum yang akan ia kenakan. Ia menghirup aromanya sejenak sebelum menyemprotkannya ke pergelangan tangan. Dua bulan telah berlalu sejak ia terbangun sebagai Madeleine—artinya, waktu kematiannya di masa lalu sudah terlewati. Meski begitu, ia tidak boleh lengah. Takdir mungkin bisa berubah arah, tetapi jika ia ceroboh, akhirnya bisa tetap sama. Ia beralih menuju deretan gaun. Desain yang ia pesan dari Rumah Mode Starwell akhirnya tiba. Pengerjaan mereka memang tidak pernah mengecewakan. “Aku akan memakai yang ini,” ujar Madeleine, menunjuk sebuah gaun dengan kerah tinggi yang elegan. Warnanya lembut, tanpa banyak aksesori yang mencolok. Sebagai pelengkap, ia memilih sepasang anting teardrop mutiara. Sementara itu, rumor tentang keberhasilannya menekan pajak pangan dan meredakan bentrokan dua suku di Utara telah menyebar luas ke seantero ibu kota. Rakyat mulai memuja namanya. Undangan mulai membanjiri mejanya, termasuk satu yang paling ia nantikan. “Yang Mulia
Madeleine tak mengalihkan pandangan dari paras tenang Daphne yang kini duduk di hadapannya. Di antara mereka, kepul uap teh hangat dan aroma kue yang manis tersaji dengan apik. Daphne menyesap minumannya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. “Kau tampak sehat, Yang Mulia,” ujarnya dengan senyum hangat. “Tentu, Ibu,” jawab Madeleine singkat. “Aku sangat khawatir karena masalah yang menimpamu. Tuduhan yang dilemparkan padamu sangatlah kejam,” lanjut Daphne. Ada kilat kekesalan yang melintas di matanya yang semula lembut. “Mereka bahkan tidak meminta maaf setelah kau terbukti tak bersalah.” Madeleine hanya tersenyum tipis. “Biarkan saja, Ibu.” Daphne menghela napas lega, jarinya mengusap tepi cangkir porselen. “Kau jauh lebih dewasa sekarang. Beberapa bulan lalu kau masih merengek hanya karena Putra Mahkota mengabaikanmu. Ibu sempat ragu apakah putriku benar-benar sudah berubah atau tidak,” ujar Daphne lembut. Senyum Madeleine sempat memudar sesaat, s
Di kediaman Moore, Rocella menerobos masuk ke ruang kerja ayahnya. Sepatu peraknya bergaung di lantai marmer. “Ayah, rencanamu gagal!” serunya. Wajahnya memerah. “Ia terbebas dari hukuman, informan kita tertangkap, dan sekarang kakak justru makin kuat. Bagaimana aku bisa jadi ratu?” Wilder hanya menatapnya tajam. “Teruslah berteriak,” katanya tenang. “Siapa tahu ibumu mendengarnya.” “Wanita itu bukan ibuku!” bentak Rocella. “Kali ini aku akan bergerak sendiri,” katanya tajam. “Ayah memang menyuruhku diam. Tapi aku tidak akan membiarkan kakak terus menang. Ia harus tahu posisinya.” Napasnya memburu. “Lucas tidak pernah mencintainya. Aku akan membuatnya sadar bahwa semua usahanya sia-sia.” Wilder menatapnya tanpa tergesa. “Rocella,” ucapnya tenang, “jika kau menunjukkan kebencianmu di depan Lucas, ia akan kehilangan rasa hormat padamu. Itu hanya akan menguntungkan kakakmu.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Kalau ingin menjatuhkan seseorang, jangan terlihat sedang me
“Sejujurnya, saya tidak suka urusan wilayah saya dibawa ke meja dewan,” ujar Alaric dengan wajah mengeras. Tatapannya beralih tajam pada Madeleine. “Terlebih jika seorang wanita yang tidak memahami militer ikut memberi saran.” Madeleine membalas tatapan itu tanpa gentar. “Maaf jika itu mengganggu Anda, Duke. Saran saya hanya untuk menjaga stabilitas. Anda bebas mempertimbangkannya atau mengabaikannya.” Ketegangan di ruangan itu pecah saat Kaisar akhirnya bicara. “Duke Alaric,” panggilnya tenang. “Saran Putri Mahkota bukan untuk meragukan kemampuanmu, tetapi untuk memastikan rakyatmu tetap bisa makan.” Ia bersandar di singgasananya. “Seorang penguasa harus tahu kapan menggunakan kekuatan, dan kapan mendengarkan saran orang lain.” Tatapannya menajam. “Aku memercayaimu menyelesaikan masalah di utara. Tapi aku tidak ingin konflik itu merembet hingga mengganggu lumbung pangan kita. Anggap saja itu strategi politik.” Alaric terdiam sejenak sebelum akhirnya menundukkan kepala. Lu
Semua mata tertuju pada Madeleine. Semua orang tahu pertanyaan itu hanya untuk mengujinya. Lucas juga menunggu bagaimana sang putri menjawab Elowen. Madeleine menegakkan punggungnya. “Jika kita terus bergantung pada barang dari luar sambil menaikkan pajak, yang menanggung beban tetap rakyat,” ujarnya tenang. Pandangannya menyapu para anggota dewan. “Pertanyaannya sederhana. Siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh kebijakan ini? Rakyat atau para bangsawan?” Tak ada yang menjawab. Beberapa anggota dewan hanya saling melirik dengan wajah tidak senang. “Usulan saya,” lanjut Madeleine, “pajak barang mewah tetap seperti yang sudah disahkan. Tapi pajak bahan pangan seperti gandum, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya dikurangi.” Ia menoleh ke arah bendahara kerajaan. “Dengan begitu kita tetap bisa bekerja sama dengan negara lain, dan kas kekaisaran juga tidak kehilangan pemasukan.” Madeleine tahu kebijakan itu tidak akan merugikan kekaisaran. Pajak barang mewah justru akan menambah pe







