Share

Bab 8. Kau baik-baik saja, Maddie?

Author: Ralonya
last update Last Updated: 2026-01-30 22:00:12

Aula besar Istana Auvrellis berkilau oleh cahaya ratusan lilin kristal. Pilar-pilar marmer menjulang tinggi, memantulkan kilau emas dari ornamen kekaisaran yang tertanam di dinding. Di bawah langit-langit berkubah, musik gesek mengalun lembut, mengiringi percakapan para bangsawan.

“Yang Mulia Putri Mahkota, apakah Anda tidak ingin menemui adik serta kedua orang tua Anda?” tanya Erin.

Madeleine menatap Rocella. Wanita itu tampak percaya diri dalam gaun glamor. Di sisinya berdiri sepasang suami istri.

‘Jadi itu orang tua asli tubuh ini,’ batin Madeleine.

Count Wilder Moore dan Countess Daphne Moore.

Tatapannya tertahan pada sang Countess. Mata wanita itu teduh, hangat, seakan menyalurkan rasa sayang dan perlindungan tanpa kata. Di tengah semua intrik dan masalah yang menantinya, di sanalah sandarannya.

Jantungnya berdetak cepat. Bertemu Count Wilder itu terasa jauh lebih berat daripada yang dibayangkan.

“Nanti saja,” jawabnya pelan. “Aku masih menunggu Yang Mulia Putra Mahkota Lucas.” Hanya sebuah alasan.

Madeleine menahan napas, perlahan meluruskan punggung, mencoba menenangkan dirinya.

“Baik, Yang Mulia.” Erin menunduk dalam.

Madeleine kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling Aula Besar. Namun Lucas tak terlihat di mana pun.

‘Dia pasti pergi menjemput Lady Adelynn,’ gumamnya dalam hati.

Perhatiannya kemudian jatuh pada sosok yang paling mencolok, Sang Kaisar. Mahkota emas bertatahkan permata menghiasi kepalanya, sementara barisan penjagaan ketat mengiringi setiap langkahnya memasuki aula dengan wibawa yang tak terbantahkan.

Satu per satu para bangsawan menundukkan kepala. Madeleine ikut menunduk di antara mereka.

“Salam, Yang Mulia Kaisar Auvrellis.”

Suara itu menggema serempak di Aula Besar.

Tak lama kemudian, Madeleine menangkap sosok Lucas yang memasuki aula diikuti oleh Adelynn di sisinya.

Suasana seketika berubah. Bisikan meredup. Langkah-langkah terhenti. Satu per satu para tamu menundukkan kepala memberi penghormatan.

Madeleine ikut menunduk. Dari sudut matanya, ia menangkap kilat amarah di wajah Kaisar, namun tetap terkontrol.

“Salam, Yang Mulia Kaisar Auvrellis,” ucap Lucas tenang sembari memberi penghormatan.

“Apa yang sedang kau lakukan, Putra Mahkota?” suara Kaisar rendah, namun cukup untuk membuat seluruh Aula Besar terdiam.

Tatapannya beralih pada Adelynn yang berdiri beberapa langkah di belakang Lucas.

“Dia adalah pengkhianat,” lanjutnya dingin. “Darah pengkhianat mengalir di tubuhnya, dan kau membawanya ke hadapanku.”

Nada suaranya tetap tertahan. “Itu penghinaan terhadap kekaisaran.”

Kaisar menatap putranya lekat-lekat. “Apa kau tahu hukuman bagi mereka yang menghina kekaisaran?”

“Aku mengetahuinya dengan jelas, Yang Mulia Kaisar,” jawab Lucas, sikapnya tetap hormat.

Bibir Kaisar mengeras tipis. “Kalau begitu, mengapa kau tetap membawanya ke sini?”

Ketegangan itu begitu nyata hingga Madeleine merasa dadanya sesak. Kemarahan Kaisar jauh lebih gelap saat dihadapi secara langsung.

“Suruh dia pergi, Putra Mahkota Auvrellis!”

“Maaf, Yang Mulia,” Lucas masih menunduk, sikapnya tetap tenang. “Dia adalah tamuku.”

Wajah Kaisar mengeras.

“Kau adalah Putra Mahkota negeri ini,” ucapnya pelan, namun penuh tekanan. “Kau sudah menikah, namun masih berani menggandeng wanita lain ke hadapanku dan ke hadapan seluruh bangsawan?”

Lucas melirik sekeliling Aula Besar, lalu kembali menatap Kaisar.

“Yang Mulia Kaisar,” katanya tenang dan sopan. “Mohon pertimbangan Anda. Di ruangan ini hadir tamu dari berbagai aliansi dan negeri. Apa jadinya bila keributan terjadi di malam Jamuan Agung?”

Ia berhenti sejenak, sebelum kembali bersuara, “Lady Adelynn bukan penjahat. Ia hanya korban dari dosa keluarganya.”

Madeleine menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil.

‘Lucas Auvrellis …,’ batinnya. ‘Ia benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi.’

Jamuan Agung bukan medan hukuman, melainkan panggung kekuasaan.

Dan Lucas memahaminya dengan sangat baik.

Kaisar tak bisa menjatuhkan hukuman secara langsung. Tidak di hadapan para jenderal, pejabat tinggi, dan aliansi besar yang sebagian di antaranya berdiri di pihak Putra Mahkota.

Madeleine tahu bagaimana panel ini akan berakhir.

Kaisar akan menerimanya dengan terpaksa.

Di tengah hiruk Aula Besar, Madeleine menangkap sosok Lucas yang berjalan ke arahnya. Tangan pria itu mencengkram pergelangan Adelynn, menariknya ikut serta. Namun Madeleine tetap berdiri tenang.

“Salam, Yang Mulia Putri Mahkota Auvrellis,” sapa Adelynn lebih dulu.

Madeleine membalasnya dengan senyum lembut. “Salam, Lady Adelynn.”

Alis Lucas terangkat tipis. Adelynn pun melirik ke arahnya, heran karena reaksi ini jauh dari yang mereka duga.

“Nikmati pestanya, Lady Adelynn,” lanjut Madeleine dengan nada cerah, terlalu santai untuk ukuran seorang Putri Mahkota. “Kue-kue di sini sangat lezat. Di sudut sana ada beberapa yang patut dicoba. Mungkin kau ingin mencobanya?”

Erin, yang berdiri di sampingnya berdehem pelan sebagai peringatan.

Madeleine segera meluruskan punggungnya. Ia teringat pesan Erin: harus bersikap sopan, elegan, dan berwibawa. Di mana pun ia berada, selalu ada mata yang menilai.

Ia adalah Putri Mahkota negeri ini.

“Maafkan aku, Lady,” ucap Madeleine kembali. Nada suaranya kini tenang dan terukur. “Aku terlalu bersemangat.”

Lucas semakin bingung. Biasanya, Madeleine akan berusaha mengusir Adelynn dari sisinya, tapi kali ini berbeda. Madeleine tampak tenang. Tidak cemburu. Tidak bereaksi.

Lucas dan Adelynn saling bertukar pandang, sama bingungnya. Sesuatu terasa janggal. Seorang Madeleine biasanya mudah tersulut emosi. Namun wanita di hadapan mereka kini tampak berbeda.

Waktu terus berjalan, suasana kembali mencair. Musik mengalun lembut mengiringi langkah Madeleine menuju meja hidangan di dekat pilar besar yang sejak tadi menarik perhatiannya.

Namun, di sana, ia kembali bertemu Adelynn.

Madeleine tersenyum tipis, Adelynn membalas dengan senyum kaku, lalu memberi salam hormat.

“Kau menyukai kuenya?” tanya Madeleine, nadanya akrab, seolah mereka hanya dua tamu biasa.

Adelynn mengangguk sopan. “Suka, Yang Mulia.”

“Syukurlah.” Madeleine tersenyum singkat lalu berbalik, tak sabar ingin menikmati hidangan yang sejak tadi ia incar.

“Yang Mulia Putri Mahkota?” panggil Adelynn ragu.

Madeleine menoleh. “Ya?”

“Apakah anda … baik-baik saja?”

Madeleine menaikan alis tipis, tampak heran. “Tentu saja. Aku baik-baik saja.”

Adelynn mengangguk kecil. “Itu kabar yang baik,” katanya tersenyum sopan.

Di tengah percakapan itu, derit halus logam terdengar dari puncak pilar besar. Baut besi tua yang menyangga dekorasi tombak di sana perlahan terlepas, membuat logam berat itu meluncur pelan ke arah mereka.

“AWAS!”

Adelynn dan Madeleine sontak berbalik. Namun, derit tajam itu justru memaksa Madeleine menoleh ke belakang. Di sana, sebuah tombak besar meluncur—mulanya lambat, lalu melesat cepat. Sebelum sempat bereaksi, sebuah seruan disusul tarikan kuat di pinggangnya menariknya paksa ke belakang.

Sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, dentuman logam menghantam lantai dengan keras, menggetarkan marmer di bawah kakinya.

Madeleine memejamkan mata rapat-rapat. Saat ia memberanikan diri membuka mata, ia sudah terperangkap dalam dekapan seorang pria.

Dari sudut matanya, Madeleine menangkap Adelynn yang terduduk gemetar di lantai sendirian. Tatapan wanita itu terpaku ke arah mereka—mata yang membesar sesaat, bergetar halus, lalu perlahan meredup.

Madeleine tersentak kecil ketika tubuhnya diangkat sedikit, sementara tangan pria yang mendekapnya masih melingkar erat di pinggangnya.

“Kau baik-baik saja, Maddie?”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 107. Menunggu terlalu lama

    Rocella mengepalkan tangannya erat. Dari sudut matanya ia menyadari para dayang dan pelayan di sekitar mereka diam-diam memperhatikan, meskipun berpura-pura tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Madeleine tahu Rocella berada dalam posisi yang sulit. Jika wanita itu bereaksi terlalu keras, orang-orang yang mendengar bisa saja menilai bahwa ia memang menyukai pria yang sudah beristri. Tapi jika ia menyangkalnya, Madeleine justru memiliki alasan untuk segera menanyakan siapa pria yang dimaksud dan menentukan waktu pernikahan mereka.“Jadi bagaimana, Lady?” tanya Madeleine dengan nada tenang. “Siapa pria yang kau maksud? Apa aku mengenalnya?”Mata Rocella memerah menahan rasa malu yang tiba-tiba menyeruak, namun ia tetap mengangkat dagunya dengan keras kepala. “Yang Mulia, tetap saja kau tidak bisa memaksaku menikah dengan pria pilihanmu!” balasnya.Madeleine tidak terpancing oleh nada itu. Ia hanya menatap Rocella dengan tenang sebelum berkata, “Kalau begitu katakan saja siapa or

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 106. Bukan milik wanita lain

    “Ayah!” panggil Rocella saat ia memasuki ruang kerja Wilder. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat Daphne juga berada di sana. Namun dengan cepat ia merapikan ekspresinya dan membentuk senyum lembut di wajahnya. “Oh, Ibu juga ada di sini,” katanya ringan sebelum berjalan mendekat dan duduk di sofa di dekat kedua orang tuanya. Daphne menatapnya dengan penuh perhatian. “Bagaimana pestanya? Apa kau bertemu kakakmu?” Rocella mengangguk. “Ya, aku bertemu Kakak. Pestanya juga cukup menyenangkan,” jawabnya santai. “Bahkan aku mulai berpikir untuk tinggal lebih lama di istana.” Saat mengatakan itu, bayangan wajah Lucas sempat terlintas di pikirannya. Namun ekspresi cerahnya perlahan memudar ketika ia teringat bagaimana pria itu tadi menyuruhnya pergi agar bisa berbicara berdua dengan Madeleine. Rocella menghela napas pelan. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Daphne dengan suara lembut dan tatapan penuh perhatian. Rocella segera menggeleng pelan. “Tidak ada, Ibu. A

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 105. Membuatku menyesal

    Lucas terus memikirkan hubungan antara Madeleine dan Alaric. Ia bahkan tidak diberi kesempatan mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan atau rencana apa yang sedang disusun wanita itu. Dulu Madeleine selalu berbicara panjang lebar kepadanya tentang berbagai hal, sampai ia merasa bosan dan berharap wanita itu berhenti berceloteh. Namun sekarang justru sebaliknya, sikap Madeleine yang dingin dan tak acuh membuat dadanya terasa panas oleh kejengkelan yang sulit ia abaikan. “Kael, panggil Edwig kemari! Kenapa dia tidak lagi melaporkan apa yang dilakukan Putri Mahkota beberapa hari ini?” seru Lucas. Ia menatap Kael dengan tajam. Namun Kael tetap berdiri tenang sebelum menjawab, “Akhir-akhir ini Yang Mulia memang sangat sibuk. Selain itu, Edwig sedang menjalankan tugas di wilayah timur dan sampai sekarang belum kembali.” Lucas terdiam sejenak, baru menyadari bahwa ia memang yang memberi perintah itu. “Begitu dia kembali, suruh dia langsung menemuiku,” ujar Lucas tegas.

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 104. Sikap yang mengganggunya

    Bab 104. Madeleine terdiam beberapa detik setelah mendengar pertanyaan itu. Bukan karena tersinggung, melainkan seolah sedang menimbang apakah pertanyaan tersebut memang layak ia tanggapi.Akhirnya ia tersenyum tipis.“Lady Moore,” ujarnya tenang, “aku tidak menyadari bahwa kau begitu tertarik pada perubahan perasaan orang lain.”Nada bicaranya ringan, hampir terdengar santai, tetapi tatapannya tetap tajam.Rocella membalas dengan senyum yang sama halusnya. “Bukan karena saya tertarik, Yang Mulia,” katanya. “Hanya saja Anda menolak Yang Mulia Lucas begitu terang-terangan di depan saya.”Ia melanjutkan dengan nada yang seolah polos.“Padahal saya cukup tahu bagaimana dulu Anda sangat terobsesi pada beliau.”Sambil berkata begitu, Rocella melirik sekilas ke arah Lucas, mencoba menangkap reaksi pria itu.Kemudian ia memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya masih terpasang.“Atau mungkin sekarang Anda sudah menemukan orang lain untuk dikejar,” lanjutnya pelan, “setelah tidak lagi mendapa

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 103. Menunggu jawaban

    Tatapan dingin Lucas membuat Rocella segera menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Namun di tengah para bangsawan yang berdiri tidak jauh dari mereka, ia tentu tidak bisa menunjukkan rasa tersinggungnya.Senyum tipis pun kembali menghiasi wajahnya.“Tentu saja, Yang Mulia,” ujarnya lembut. “Saya hanya berpikir akan terlihat lebih sopan jika Anda menyapa mereka lebih dulu di hadapan para bangsawan.”Ia menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.“Namun tentu saja, keputusan itu sepenuhnya ada pada Anda.”Rocella lalu melirik sekilas ke arah balkon tempat Madeleine masih berbincang dengan Duke Alaric.“Lagipula,” lanjutnya ringan, “saya yakin Putri Mahkota akan senang menyambut Anda kapan pun Anda memutuskan untuk menghampirinya.”Di balik senyum sopannya, jemari Rocella menggenggam gaunnya sedikit lebih erat.Lucas tidak lagi menoleh padanya.“Jika kau ingin menyapa mereka lebih dulu, silakan.”Nada suaranya tenang, namun jelas siapa yang memegang kendali dalam percakapa

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 102. Ketika orang lain memintanya

    Madeleine menatap Alaric beberapa saat. Sorot matanya tetap tenang, seolah memastikan pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.Setelah beberapa detik, senyum tipis muncul di bibirnya.“Saya bisa saja memberi tahu apa yang saya ketahui,” katanya ringan. “Namun apakah itu akan langsung membuat Anda mempercayainya?”Madeleine menjeda sebelum melanjutkan, “Lagipula, apa yang saya miliki baru sebatas perkiraan. Itu bisa saja benar, tapi bisa juga meleset.”Madeleine lalu mengangkat satu jari, seolah menandai sesuatu.“Satu informasi, satu alasan untuk percaya. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan kepercayaanmu seutuhnya.”Alaric menatapnya dalam diam. Ia tidak langsung menjawab, seolah menimbang kata-kata Madeleine dengan hati-hati. Ia masih belum sepenuhnya yakin. Namun rasa penasarannya jelas belum hilang.“Namun sebelum itu, saya ingin tahu satu hal,” kata Alaric. “Jika saya berdiri di pihak Anda, apa yang sebenarnya menjadi taruhannya bagi saya?”Madeleine jelas menangkap kecuriga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status