LOGINMadeleine nyaris meluapkan seluruh kekesalannya. Namun, ia tahan. Ia tahu, satu reaksi saja darinya akan memberi kepuasan bagi Lucas.
Dahulu, ia akan menyambut dengan penuh antusias setiap cerita kecil tentang Lucas. Namun kini, keterbukaan pria itu justru terasa menekan, seperti berita yang datang terlalu tiba-tiba. “Sebenarnya, Yang Mulia, aku tidak terlalu memedulikan kegiatanmu,” ucap Madeleine tenang. “Namun terima kasih telah menyampaikannya padaku. Jadi, mari kita minum teh sekarang, karena aku masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan.” “Apa yang sedang kau urus?” Kedua alis Madeleine terangkat tipis. Lucas menarik napas singkat, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. “Maksudku, apa yang membuatmu begitu sibuk akhir-akhir ini?” Madeleine menatap sejenak sebelum mengalihkan pandangan. “Tidak ada yang istimewa. Hanya mempelajari beberapa hal tentang tugasku sebagai Putri Mahkota.” Madeleine tahu Putri Mahkota yang asli adalah wanita yang menyedihkan. Ia bahkan tidak memahami sedikit pun bagaimana menjalankan perannya sebagai istri seorang Putra Mahkota. Karena kebodohan itulah ia dengan mudah dimanipulasi oleh ayah dan adiknya sendiri, hingga akhirnya menjadi bahan tontonan memalukan di kalangan bangsawan. Kali ini, Madeleine tak akan membiarkan tubuh yang lemah ini—tubuh putri mahkota yang asli—menyeretnya menuju kematian yang sama. Lucas tersenyum miring. “Baguslah, Putri Mahkota Auvrellis. Sepertinya otakmu mulai bekerja.” “Benar, Yang Mulia,” balas Madeleine tanpa ragu, meski tetap lembut dan penuh hormat. “Aku menyadari kekuranganku, karena dulu aku membuang waktu hanya untuk mengejarmu.” Lucas terdiam. Madeleine menangkap rahangnya yang mengeras, sementara sepasang mata itu berkilat tajam. “Kau cukup tau diri sekarang.” Lucas terkekeh singkat, nadanya jelas mengejek. “Benar, Yang Mulia.” Bukannya tersinggung, Madeleine menerimanya dengan baik. “Karena itu aku harap Yang Mulia tak perlu lagi merasa cemas. Aku tidak akan mengusik ketenanganmu lagi.” Lucas terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Itu … kabar yang bagus.” Madeleine tersenyum tipis. Lucas memberi isyarat pada pelayan untuk menuangkan teh ke dalam cangkir mereka berdua. Teh putih itu hampir tak beraroma. Lucas tidak menanyakan apakah Madeleine menyukainya. Ia hanya berkata singkat, “Rasanya tidak terlalu kuat.” Madeleine tersentak. Tenggorokannya mengencang saat ia menelan ludah yang terasa pahit. Ia tak merasa diperhatikan, hanya merasa alur yang ia kenal mulai menyimpang, Lucas yang ini tidak seharusnya ada. Pria ini seharusnya dingin, acuh, sama sekali tak memperhatikannya. Dalam ingatannya, dunia Lucas hanya berputar pada satu nama: Adelynn Vaelthorne, pemeran utama wanita dalam cerita ini. Tapi kali ini, kata itu membuatnya gelisah. “Minumlah,” perintah Lucas. “Aku tidak menaruh racun di dalamnya.” “Aku tak pernah berpikir Yang Mulia akan meracuniku.” Madeleine mengangkat cangkir itu dan mencicipinya. Rasanya ringan, nyaman, dan hampir menenangkan. Lucas mengerutkan kening. “Kenapa kau berpikir begitu?” Madeleine menatapnya lurus, tepat ke dalam mata Lucas. “Jika Yang Mulia berniat membunuhku, kau akan melakukannya pada malam pertama pernikahan kita.” Suaranya tetap tenang. “Namun aku masih hidup sampai sekarang. Itu berarti sejak awal Yang Mulia memang tidak berniat membunuhku.” ‘Dengan tanganmu sendiri,’ tambahnya dalam hati. “Aku memang tidak berniat melakukannya,” ujar Lucas tenang sambil menyesap minumannya dengan tenang. ‘Tapi membiarkanku mati di tangan orang lain itu juga termasuk pembunuhan,’ batin Madeleine, menatap sendu sang Putra Mahkota. Lucas menaikkan alis, menangkap perubahan halus pada ekspresinya. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan tehnya?” Pandangannya meluncur ke arah para pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Seketika mereka menunduk dalam, punggung mereka menegang oleh tekanan tak kasatmata. Madeleine menggeleng pelan. “Tidak ada yang salah, Yang Mulia.” “Lalu apa arti tatapanmu barusan?” Madeleine menurunkan pandangannya dengan anggun, jemarinya merapat di atas cangkir teh. “Tidak ada apa-apa, Yang Mulia,” jawabnya lembut, penuh tata krama. Lucas mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya dengan sikap santai di sandaran kursi. “Lusa akan ada pesta,” ucapnya. Madeleine mengangkat pandangan. “Kaisar akan mengadakan Jamuan Agung di Aula Istana,” lanjut Lucas. Ingatan Madeleine langsung bergerak dua hari ke depan. Malam itu, Aula Agung akan dipenuhi bangsawan dari berbagai wilayah. Di antara mereka, akan hadir Adelynn Vaelthorne. Undangan atas nama Putra Mahkota sendiri. Sebuah keputusan yang memicu kemarahan Kaisar. “Apa kau akan hadir?” tanya Lucas. Madeleine menjawab tanpa ragu, suaranya tenang dan terukur. “Ya. Aku akan hadir, Yang Mulia.” Dalam ingatannya, malam itu berakhir buruk. Ia mengamuk, kehilangan kendali, dan bertingkah kasar hingga mendorong Adelynn, dan sebuah tamparan dari Lucas menjadi penutup yang memalukan. Ia mengingat panel itu dengan sangat jelas hingga rasa perih tamparan itu terasa di pipinya, seolah baru saja terjadi. Lucas pasti telah mengundang Adelynn sejak lama. Mengabaikan titah Kaisar, bertindak sesuka hati. Definisi pria berbahaya. “Baik,” ucap Lucas akhirnya. “Pastikan kau tidak membuat keributan di sana.” “Tentu, Yang Mulia.” Madeleine tersenyum tipis, tenang. “Aku akan mengingatnya.” Lucas mengangkat alisnya sekilas, lalu keningnya mengerut. Setelah jeda singkat, ia menghela napas pelan. “Lady Vaelthorne akan hadir. Aku mengundangnya secara khusus. Pastikan kau tidak ada di dekatku selama acara berlangsung.” **Rocella mengepalkan tangannya erat. Dari sudut matanya ia menyadari para dayang dan pelayan di sekitar mereka diam-diam memperhatikan, meskipun berpura-pura tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Madeleine tahu Rocella berada dalam posisi yang sulit. Jika wanita itu bereaksi terlalu keras, orang-orang yang mendengar bisa saja menilai bahwa ia memang menyukai pria yang sudah beristri. Tapi jika ia menyangkalnya, Madeleine justru memiliki alasan untuk segera menanyakan siapa pria yang dimaksud dan menentukan waktu pernikahan mereka.“Jadi bagaimana, Lady?” tanya Madeleine dengan nada tenang. “Siapa pria yang kau maksud? Apa aku mengenalnya?”Mata Rocella memerah menahan rasa malu yang tiba-tiba menyeruak, namun ia tetap mengangkat dagunya dengan keras kepala. “Yang Mulia, tetap saja kau tidak bisa memaksaku menikah dengan pria pilihanmu!” balasnya.Madeleine tidak terpancing oleh nada itu. Ia hanya menatap Rocella dengan tenang sebelum berkata, “Kalau begitu katakan saja siapa or
“Ayah!” panggil Rocella saat ia memasuki ruang kerja Wilder. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat Daphne juga berada di sana. Namun dengan cepat ia merapikan ekspresinya dan membentuk senyum lembut di wajahnya. “Oh, Ibu juga ada di sini,” katanya ringan sebelum berjalan mendekat dan duduk di sofa di dekat kedua orang tuanya. Daphne menatapnya dengan penuh perhatian. “Bagaimana pestanya? Apa kau bertemu kakakmu?” Rocella mengangguk. “Ya, aku bertemu Kakak. Pestanya juga cukup menyenangkan,” jawabnya santai. “Bahkan aku mulai berpikir untuk tinggal lebih lama di istana.” Saat mengatakan itu, bayangan wajah Lucas sempat terlintas di pikirannya. Namun ekspresi cerahnya perlahan memudar ketika ia teringat bagaimana pria itu tadi menyuruhnya pergi agar bisa berbicara berdua dengan Madeleine. Rocella menghela napas pelan. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Daphne dengan suara lembut dan tatapan penuh perhatian. Rocella segera menggeleng pelan. “Tidak ada, Ibu. A
Lucas terus memikirkan hubungan antara Madeleine dan Alaric. Ia bahkan tidak diberi kesempatan mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan atau rencana apa yang sedang disusun wanita itu. Dulu Madeleine selalu berbicara panjang lebar kepadanya tentang berbagai hal, sampai ia merasa bosan dan berharap wanita itu berhenti berceloteh. Namun sekarang justru sebaliknya, sikap Madeleine yang dingin dan tak acuh membuat dadanya terasa panas oleh kejengkelan yang sulit ia abaikan. “Kael, panggil Edwig kemari! Kenapa dia tidak lagi melaporkan apa yang dilakukan Putri Mahkota beberapa hari ini?” seru Lucas. Ia menatap Kael dengan tajam. Namun Kael tetap berdiri tenang sebelum menjawab, “Akhir-akhir ini Yang Mulia memang sangat sibuk. Selain itu, Edwig sedang menjalankan tugas di wilayah timur dan sampai sekarang belum kembali.” Lucas terdiam sejenak, baru menyadari bahwa ia memang yang memberi perintah itu. “Begitu dia kembali, suruh dia langsung menemuiku,” ujar Lucas tegas.
Bab 104. Madeleine terdiam beberapa detik setelah mendengar pertanyaan itu. Bukan karena tersinggung, melainkan seolah sedang menimbang apakah pertanyaan tersebut memang layak ia tanggapi.Akhirnya ia tersenyum tipis.“Lady Moore,” ujarnya tenang, “aku tidak menyadari bahwa kau begitu tertarik pada perubahan perasaan orang lain.”Nada bicaranya ringan, hampir terdengar santai, tetapi tatapannya tetap tajam.Rocella membalas dengan senyum yang sama halusnya. “Bukan karena saya tertarik, Yang Mulia,” katanya. “Hanya saja Anda menolak Yang Mulia Lucas begitu terang-terangan di depan saya.”Ia melanjutkan dengan nada yang seolah polos.“Padahal saya cukup tahu bagaimana dulu Anda sangat terobsesi pada beliau.”Sambil berkata begitu, Rocella melirik sekilas ke arah Lucas, mencoba menangkap reaksi pria itu.Kemudian ia memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya masih terpasang.“Atau mungkin sekarang Anda sudah menemukan orang lain untuk dikejar,” lanjutnya pelan, “setelah tidak lagi mendapa
Tatapan dingin Lucas membuat Rocella segera menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Namun di tengah para bangsawan yang berdiri tidak jauh dari mereka, ia tentu tidak bisa menunjukkan rasa tersinggungnya.Senyum tipis pun kembali menghiasi wajahnya.“Tentu saja, Yang Mulia,” ujarnya lembut. “Saya hanya berpikir akan terlihat lebih sopan jika Anda menyapa mereka lebih dulu di hadapan para bangsawan.”Ia menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.“Namun tentu saja, keputusan itu sepenuhnya ada pada Anda.”Rocella lalu melirik sekilas ke arah balkon tempat Madeleine masih berbincang dengan Duke Alaric.“Lagipula,” lanjutnya ringan, “saya yakin Putri Mahkota akan senang menyambut Anda kapan pun Anda memutuskan untuk menghampirinya.”Di balik senyum sopannya, jemari Rocella menggenggam gaunnya sedikit lebih erat.Lucas tidak lagi menoleh padanya.“Jika kau ingin menyapa mereka lebih dulu, silakan.”Nada suaranya tenang, namun jelas siapa yang memegang kendali dalam percakapa
Madeleine menatap Alaric beberapa saat. Sorot matanya tetap tenang, seolah memastikan pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.Setelah beberapa detik, senyum tipis muncul di bibirnya.“Saya bisa saja memberi tahu apa yang saya ketahui,” katanya ringan. “Namun apakah itu akan langsung membuat Anda mempercayainya?”Madeleine menjeda sebelum melanjutkan, “Lagipula, apa yang saya miliki baru sebatas perkiraan. Itu bisa saja benar, tapi bisa juga meleset.”Madeleine lalu mengangkat satu jari, seolah menandai sesuatu.“Satu informasi, satu alasan untuk percaya. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan kepercayaanmu seutuhnya.”Alaric menatapnya dalam diam. Ia tidak langsung menjawab, seolah menimbang kata-kata Madeleine dengan hati-hati. Ia masih belum sepenuhnya yakin. Namun rasa penasarannya jelas belum hilang.“Namun sebelum itu, saya ingin tahu satu hal,” kata Alaric. “Jika saya berdiri di pihak Anda, apa yang sebenarnya menjadi taruhannya bagi saya?”Madeleine jelas menangkap kecuriga







