Masuk“Sejujurnya, saya tidak suka urusan wilayah saya dibawa ke meja dewan,” ujar Alaric dengan wajah mengeras. Tatapannya beralih tajam pada Madeleine. “Terlebih jika seorang wanita yang tidak memahami militer ikut memberi saran.” Madeleine membalas tatapan itu tanpa gentar. “Maaf jika itu mengganggu Anda, Duke. Saran saya hanya untuk menjaga stabilitas. Anda bebas mempertimbangkannya atau mengabaikannya.” Ketegangan di ruangan itu pecah saat Kaisar akhirnya bicara. “Duke Alaric,” panggilnya tenang. “Saran Putri Mahkota bukan untuk meragukan kemampuanmu, tetapi untuk memastikan rakyatmu tetap bisa makan.” Ia bersandar di singgasananya. “Seorang penguasa harus tahu kapan menggunakan kekuatan, dan kapan mendengarkan saran orang lain.” Tatapannya menajam. “Aku memercayaimu menyelesaikan masalah di utara. Tapi aku tidak ingin konflik itu merembet hingga mengganggu lumbung pangan kita. Anggap saja itu strategi politik.” Alaric terdiam sejenak sebelum akhirnya menundukkan kepala. Lu
Semua mata tertuju pada Madeleine. Semua orang tahu pertanyaan itu hanya untuk mengujinya. Lucas juga menunggu bagaimana sang putri menjawab Elowen. Madeleine menegakkan punggungnya. “Jika kita terus bergantung pada barang dari luar sambil menaikkan pajak, yang menanggung beban tetap rakyat,” ujarnya tenang. Pandangannya menyapu para anggota dewan. “Pertanyaannya sederhana. Siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh kebijakan ini? Rakyat atau para bangsawan?” Tak ada yang menjawab. Beberapa anggota dewan hanya saling melirik dengan wajah tidak senang. “Usulan saya,” lanjut Madeleine, “pajak barang mewah tetap seperti yang sudah disahkan. Tapi pajak bahan pangan seperti gandum, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya dikurangi.” Ia menoleh ke arah bendahara kerajaan. “Dengan begitu kita tetap bisa bekerja sama dengan negara lain, dan kas kekaisaran juga tidak kehilangan pemasukan.” Madeleine tahu kebijakan itu tidak akan merugikan kekaisaran. Pajak barang mewah justru akan menambah pe
Aula itu sudah dipenuhi tujuh anggota dewan yang duduk berderet di sisi kanan dan kiri.Kaisar berada di singgasana utama. Lucas duduk di kursi yang lebih rendah di sisi kanan, sementara Madeleine menempati kursi di sebelahnya.Di bawah sisi kiri singgasana berdiri sekretaris istana, Sedrik Connor.Madeleine menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Wajah para bangsawan tampak kaku dan serius.‘Jadi beginilah rapat dewan kekaisaran,’ pikirnya. ‘Tegang sekali … hampir seperti rapat panjang yang hanya membahas anggaran desa.’Sejak ia melangkah masuk, tujuh anggota dewan itu sudah menatapnya dengan pandangan yang jelas tidak bersahabat. Tak satu pun berusaha menyembunyikannya.Melihat suasana yang mulai memanas, sekretaris istana akhirnya angkat bicara.“Kehadiran Putri Mahkota hari ini merupakan keputusan Kaisar Agung,” ujar Sedrik dengan suara tenang. “Jika ada yang keberatan, silakan menyampaikannya sekarang.”Seorang pria segera berdiri dari barisan dewan. Ia adalah Perwakilan Bangsa
Ucapan Lucas membuat Madeleine tersentak pelan. Seolah ada sesuatu yang baru saja ia lewatkan. Lucas menyandarkan tubuhnya di kursi, menatapnya dengan ekspresi dingin. “Kau selalu seperti ini,” katanya datar. “Ceroboh dan bertindak sesuka hati.” Madeleine menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Maaf, Yang Mulia. Aku tidak menyadari kalau kelalaianku bisa menimbulkan masalah sebesar itu.” Lucas menatapnya beberapa saat. Wajahnya tidak lagi setegang tadi. “Setidaknya sekarang kau menyadarinya,” ujar Lucas singkat. Madeleine hanya mengangguk tipis. “Aku akan meminta Kael memberi hukuman pada prajurit yang menjaga gerbang samping. Mereka jelas lalai.” Lucas berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. “Namun sebelum itu, aku sempat mengira dayang itu keluar atas perintahmu.” Tatapannya meneliti wajah Madeleine. “Bukankah dia pergi untuk menemui ayahmu?” Madeleine langsung menggeleng. “Tidak, Yang Mulia. Dia keluar tanpa izinku.” Namun pertanyaan itu membu
Madeleine tetap berdiri tenang, seolah semua yang baru saja terjadi hanyalah bagian dari rutinitas istana yang melelahkan. “Kau bekerja dengan sangat baik, Erin.” Erin segera menunduk hormat. Bahunya sedikit menegang, tetapi nada suaranya tetap terjaga. “Semua karena kepercayaan Anda, Yang Mulia.” Erin memperhatikannya sejenak sebelum berkata lagi, suaranya tenang namun terukur. “Maaf, Yang Mulia … saya tidak begitu mengerti mengapa Anda melakukan semua ini?” tanya Erin akhirnya. Keraguan tampak jelas dari jemarinya yang saling menggenggam di depan tubuhnya. Madeleine menatapnya sejenak sebelum menjawab dengan tenang. “Velum itu tidak mungkin sampai ke tangan dewan begitu saja,” katanya pelan. “Ada seseorang di dalam paviliunku yang memberi mereka informasi.” Erin terdiam. Matanya sedikit membesar, seolah mencoba memahami arah pembicaraan tuannya. “Dan orang itu,” lanjut Madeleine dengan nada tetap tenang, “akan bereaksi terhadap salah satu rencanaku besok.” Erin masih tidak
Turnamen itu selesai tanpa hambatan berarti. Namun euforianya masih bertahan. Orang-orang lebih sibuk membicarakan para pemenang dan besarnya hadiah yang diperebutkan. Pembicaraan tentang sekte terlarang pun pelan-pelan memudar, tergeser oleh sorak sorai dan cerita kemenangan.“Kau tahu cara memainkan situasi dengan baik, Lucas,” ujar Kaisar.Lucas hanya mengangguk singkat. “Aku menjalankan tugasku.”“Dan hasilnya terlihat jelas.” Kaisar mengangkat cangkir tehnya sebelum menyesapnya perlahan. “Dengan isu itu mereda, para bangsawan mulai kembali memuji kepemimpinanmu. Mereka yang ingin meremehkanmu kini kehilangan celah.”Lucas sudah terbiasa menerima pujian dari Kaisar. Namun, ucapan itu tidak lagi meninggalkan kesan apa pun baginya. Entah mengapa, ungkapan terima kasih Madeleine yang terdengar tulus justru terus terngiang di pikirannya.Tanpa sadar, langkahnya membawanya hingga ke dekat paviliun Madeleine, meski malam telah larut.“Yang Mulia, Putri Mahkota kemungkinan sudah beristi







