Se connecter“Pengkhianatan jarang datang dengan pisau. Ia datang dengan akses.”Lampu di ruang komando meredup sepersekian detik—cukup lama untuk membuat semua orang menahan napas. Di layar utama, akses itu bergerak pelan, presisi, seperti tangan berpengalaman yang tahu persis mana pintu rahasia.“Dia menuju arsip inti,” kata Rin, suaranya stabil tapi tegang. “Bukan menyalin. Dia… menandai.”“Menandai apa?” tanya Damar.Rizal menyipitkan mata. “Target. Untuk penyerahan terarah.”Dewi tidak bergerak. Matanya mengikuti garis-garis kode yang merambat seperti akar gelap. Ia mengenali ritmenya—ritme seseorang yang pernah dilatih oleh orang yang sama. Oleh ayahnya.“Jangan putuskan aksesnya,” kata Dewi tiba-tiba.Rin menoleh cepat. “Kalau dibiarkan—”“—kita akan tahu siapa yang menunggu di ujung sana,” potong Dewi. “Biarkan dia membuka pintu. Kita pasang cermin.”Perintah dikirim. Jalur dibelokkan tanpa jejak, meniru arus asli. Arsip terbuka—namun yang terlihat hanya bayangan yang telah disiapkan: kont
“Ada waktu ketika mundur berarti mati, dan maju berarti berperang sendirian.”Hitungan mundur itu menghilang begitu saja, seperti ejekan. Tidak ada ledakan. Tidak ada sirene. Justru keheningan yang datang—sunyi yang terlalu rapi untuk dipercaya.Dewi berdiri tegak, menatap layar kosong. “Mereka ingin kita salah langkah,” katanya tenang. “Membuat kita panik, membuka semuanya tanpa kendali.”Rin mengangguk. “Atau memancing kita saling curiga.”Seolah menanggapi, lampu ruangan meredup sesaat. Generator cadangan menyala otomatis. Damar menghela napas pendek. “Pemadaman tersegmentasi. Mereka menguji respons kita.”Rizal menutup tablet, lalu menatap Dewi dengan sorot yang sulit dibaca. “Dulu, mereka selalu memulai begini. Mengacaukan jam. Membuat orang lupa urutan sebab-akibat.”Dewi menoleh. “Dan kau bertahan dengan apa?”“Dengan disiplin,” jawab Rizal. “Dan dengan satu prinsip: jangan bereaksi pada bayangan.”Dewi tersenyum tipis. Ia lalu mengetik cepat. Di layar lain, jaringan intelijen
“Setiap kebenaran punya harga. Masalahnya, siapa yang dipaksa membayar?”Langit Jakarta sore itu tampak kusam, seperti diselimuti debu tak kasatmata. Dewi berdiri di balik kaca gedung tinggi, memandang kota yang terus bergerak—seakan tak peduli bahwa di balik denyutnya, ada perang sunyi yang baru saja memasuki fase paling berbahaya.“Nama itu muncul lagi,” ujar Rizal pelan, meletakkan tablet di meja. “Bukan di berita. Tapi di jalur transaksi.”Dewi menunduk, menelusuri data yang mengalir di layar. Polanya rapi. Terlalu rapi. Dana bergerak melalui tiga benua, berlapis yayasan, konsultan, dan proyek ‘pembangunan’. Skema lama, wajah baru.“Mereka tidak menyerang langsung,” kata Dewi. “Mereka membeli waktu. Dan orang.”Di sudut ruangan, Damar menyandarkan tubuhnya ke dinding. Matanya merah, bukan karena kurang tidur, tapi karena beban yang mulai terasa personal. “Satu negara kecil sudah goyah. Elite mereka ditawari bailout. Dengan syarat…” Ia menggantung kalimatnya.“…mereka keluar dari b
“Kebenaran tidak pernah hilang—ia hanya dipaksa berjalan lebih jauh.”Lampu-lampu pelabuhan berpendar pucat ketika Dewi tiba. Bau solar, garam, dan hujan sisa malam menempel di udara. Arga sudah menunggu dengan peta terbuka di kap mobil—garis perbatasan ditandai merah, jalur sungai biru kusam, dan satu titik hitam yang berdenyut pelan.“Jejak saksi terakhir berhenti di sini,” katanya. “Kampung nelayan. Sinyal mati tiga jam lalu.”Laila menambahkan, “Bukan mati. Diredam.”Mereka bergerak cepat. Tak ada sirene. Tak ada rombongan. Intelijen lingkungan bekerja dengan senyap—orang-orang biasa yang tahu kapan air surut, kapan angin berbalik, kapan suara mesin terdengar tak wajar. Seorang nelayan tua menyodorkan termos kopi tanpa banyak tanya. Ia hanya menunjuk ke muara.“Perahu hitam lewat saat hujan reda,” katanya. “Mesinnya baru. Tidak untuk ikan.”Di muara, mereka menemukan bekas tambatan yang masih basah. Jejak sepatu di pasir—ukuran berbeda, langkah terburu-buru. Dewi berjongkok, menye
“Jika hukum dibeli, maka kebenaran akan berjalan kaki—mengetuk pintu satu per satu.”Subuh belum selesai ketika pesan itu menyebar tanpa pusat. Bukan selebaran. Bukan seruan resmi. Hanya potongan video pendek—tangan-tangan yang membuka buku kas UMKM, peta banjir yang ditimpa izin lama, grafik harga air yang turun setelah sumbernya dikembalikan. Tak ada logo. Tak ada wajah Dewi.“Ini bergerak organik,” kata Laila, matanya menyapu layar-layar kecil yang berkedip. “Tak bisa diputus dari satu tombol.”Arga mengangguk. “Karena tidak ada tombolnya.”Di sisi lain kota, Wilayah Mati—yang dulu sunyi dan dilabeli tak produktif—mulai bernapas. Truk-truk kecil bergerak, bukan membawa kayu, tapi kamera. Bukan menebang, tapi menandai. Intelijen lingkungan bekerja tanpa seragam: nelayan, guru, sopir, jurnalis lepas. Mereka mencatat suhu tanah, tinggi air, suara mesin di malam hari. Data hidup.Dewi tiba di pos lapangan menjelang pagi. Bau tanah basah menyambutnya. Seorang ibu menunjukkan garis air d
“Mereka tak datang membawa senjata. Mereka datang membawa pasal.”Pagi itu, matahari terbit tanpa dramatis. Justru itulah yang membuat Dewi curiga.Di layar utama, berita mengalir rapi—terlalu rapi. Tak ada kecaman frontal, tak ada makian. Yang muncul adalah opini “netral”, kajian hukum, dan diskusi akademik yang tiba-tiba serempak membahas satu hal: legalitas Protokol Cahaya.“Mereka masuk lewat hukum,” kata Arga, menyesap kopi yang sudah dingin. “Judicial review, gugatan administratif, audit kepatuhan. Semua jalur dibuka bersamaan.”Dewi mengangguk. “Serangan tanpa peluru selalu yang paling mematikan.”Di ruang rapat, peta kekuatan diperbarui. Negara kecil yang semalam menyatakan dukungan kini disorot merah—tekanan ekonomi mulai dijatuhkan. Jalur dagang diperlambat. Asuransi dinaikkan. Kredit ditahan.“Mereka ingin memberi contoh,” ujar Laila, analis kebijakan. “Siapa pun yang berdiri di belakangmu akan ‘dipersulit’.”Dewi berdiri, menatap layar. “Dan siapa yang memimpin orkestranya