หน้าหลัก / Thriller / Langkah Dewi : Warisan Rahasia / BAB 116 — Ketika Yang Kecil Melawan (Bagian Gelapnya Dunia)

แชร์

BAB 116 — Ketika Yang Kecil Melawan (Bagian Gelapnya Dunia)

ผู้เขียน: T.Y.LOVIRA
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-26 07:40:53

“Tidak ada hutan gundul,” kata pejabat itu di layar, suaranya tenang, jasnya rapi, senyumnya seperti doa yang dihafal.

Namun di belakangnya—tanpa ia sadari—air bah telah berbicara lebih jujur daripada pidatonya.

Di Sumatra, gelondongan kayu menghantam jembatan. Batang-batang raksasa itu berputar di arus banjir, saling berbenturan, membawa serta kode registrasi, cap konsesi, dan nomor izin yang masih tercetak jelas. Alam tidak berdebat. Alam menunjukkan bukti.

Dewi menatap layar satelit di markas sementara mereka. Tangannya mengepal.

“Lihat itu,” bisik Rin.

“Kayu-kayu itu… masih punya nomor.”

Damar berdiri kaku.

Ia pernah melihat perang.

Ia pernah melihat kebohongan.

Tapi tidak pernah melihat kebenaran muncul sebrutal ini.

“Ini bukan bencana,” kata Dewi pelan.

“Ini kesaksian.”

Di ibu kota sebuah negara kecil di Afrika Barat, presiden muda itu berdiri tanpa podium. Tidak ada bendera mewah. Tidak ada tepuk tangan.

“Kami menolak perpanjangan konsesi,” katanya ke kamera dunia.

“Hutan kami
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 131 — Jam yang Tidak Pernah Berhenti

    “Ada waktu ketika mundur berarti mati, dan maju berarti berperang sendirian.”Hitungan mundur itu menghilang begitu saja, seperti ejekan. Tidak ada ledakan. Tidak ada sirene. Justru keheningan yang datang—sunyi yang terlalu rapi untuk dipercaya.Dewi berdiri tegak, menatap layar kosong. “Mereka ingin kita salah langkah,” katanya tenang. “Membuat kita panik, membuka semuanya tanpa kendali.”Rin mengangguk. “Atau memancing kita saling curiga.”Seolah menanggapi, lampu ruangan meredup sesaat. Generator cadangan menyala otomatis. Damar menghela napas pendek. “Pemadaman tersegmentasi. Mereka menguji respons kita.”Rizal menutup tablet, lalu menatap Dewi dengan sorot yang sulit dibaca. “Dulu, mereka selalu memulai begini. Mengacaukan jam. Membuat orang lupa urutan sebab-akibat.”Dewi menoleh. “Dan kau bertahan dengan apa?”“Dengan disiplin,” jawab Rizal. “Dan dengan satu prinsip: jangan bereaksi pada bayangan.”Dewi tersenyum tipis. Ia lalu mengetik cepat. Di layar lain, jaringan intelijen

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 130 — Harga Sebuah Kebenaran

    “Setiap kebenaran punya harga. Masalahnya, siapa yang dipaksa membayar?”Langit Jakarta sore itu tampak kusam, seperti diselimuti debu tak kasatmata. Dewi berdiri di balik kaca gedung tinggi, memandang kota yang terus bergerak—seakan tak peduli bahwa di balik denyutnya, ada perang sunyi yang baru saja memasuki fase paling berbahaya.“Nama itu muncul lagi,” ujar Rizal pelan, meletakkan tablet di meja. “Bukan di berita. Tapi di jalur transaksi.”Dewi menunduk, menelusuri data yang mengalir di layar. Polanya rapi. Terlalu rapi. Dana bergerak melalui tiga benua, berlapis yayasan, konsultan, dan proyek ‘pembangunan’. Skema lama, wajah baru.“Mereka tidak menyerang langsung,” kata Dewi. “Mereka membeli waktu. Dan orang.”Di sudut ruangan, Damar menyandarkan tubuhnya ke dinding. Matanya merah, bukan karena kurang tidur, tapi karena beban yang mulai terasa personal. “Satu negara kecil sudah goyah. Elite mereka ditawari bailout. Dengan syarat…” Ia menggantung kalimatnya.“…mereka keluar dari b

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 129 — Jejak yang Dipadamkan

    “Kebenaran tidak pernah hilang—ia hanya dipaksa berjalan lebih jauh.”Lampu-lampu pelabuhan berpendar pucat ketika Dewi tiba. Bau solar, garam, dan hujan sisa malam menempel di udara. Arga sudah menunggu dengan peta terbuka di kap mobil—garis perbatasan ditandai merah, jalur sungai biru kusam, dan satu titik hitam yang berdenyut pelan.“Jejak saksi terakhir berhenti di sini,” katanya. “Kampung nelayan. Sinyal mati tiga jam lalu.”Laila menambahkan, “Bukan mati. Diredam.”Mereka bergerak cepat. Tak ada sirene. Tak ada rombongan. Intelijen lingkungan bekerja dengan senyap—orang-orang biasa yang tahu kapan air surut, kapan angin berbalik, kapan suara mesin terdengar tak wajar. Seorang nelayan tua menyodorkan termos kopi tanpa banyak tanya. Ia hanya menunjuk ke muara.“Perahu hitam lewat saat hujan reda,” katanya. “Mesinnya baru. Tidak untuk ikan.”Di muara, mereka menemukan bekas tambatan yang masih basah. Jejak sepatu di pasir—ukuran berbeda, langkah terburu-buru. Dewi berjongkok, menye

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 128 — Ketika Rakyat Menjadi Bukti

    “Jika hukum dibeli, maka kebenaran akan berjalan kaki—mengetuk pintu satu per satu.”Subuh belum selesai ketika pesan itu menyebar tanpa pusat. Bukan selebaran. Bukan seruan resmi. Hanya potongan video pendek—tangan-tangan yang membuka buku kas UMKM, peta banjir yang ditimpa izin lama, grafik harga air yang turun setelah sumbernya dikembalikan. Tak ada logo. Tak ada wajah Dewi.“Ini bergerak organik,” kata Laila, matanya menyapu layar-layar kecil yang berkedip. “Tak bisa diputus dari satu tombol.”Arga mengangguk. “Karena tidak ada tombolnya.”Di sisi lain kota, Wilayah Mati—yang dulu sunyi dan dilabeli tak produktif—mulai bernapas. Truk-truk kecil bergerak, bukan membawa kayu, tapi kamera. Bukan menebang, tapi menandai. Intelijen lingkungan bekerja tanpa seragam: nelayan, guru, sopir, jurnalis lepas. Mereka mencatat suhu tanah, tinggi air, suara mesin di malam hari. Data hidup.Dewi tiba di pos lapangan menjelang pagi. Bau tanah basah menyambutnya. Seorang ibu menunjukkan garis air d

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 127 — Serangan Tanpa Peluru

    “Mereka tak datang membawa senjata. Mereka datang membawa pasal.”Pagi itu, matahari terbit tanpa dramatis. Justru itulah yang membuat Dewi curiga.Di layar utama, berita mengalir rapi—terlalu rapi. Tak ada kecaman frontal, tak ada makian. Yang muncul adalah opini “netral”, kajian hukum, dan diskusi akademik yang tiba-tiba serempak membahas satu hal: legalitas Protokol Cahaya.“Mereka masuk lewat hukum,” kata Arga, menyesap kopi yang sudah dingin. “Judicial review, gugatan administratif, audit kepatuhan. Semua jalur dibuka bersamaan.”Dewi mengangguk. “Serangan tanpa peluru selalu yang paling mematikan.”Di ruang rapat, peta kekuatan diperbarui. Negara kecil yang semalam menyatakan dukungan kini disorot merah—tekanan ekonomi mulai dijatuhkan. Jalur dagang diperlambat. Asuransi dinaikkan. Kredit ditahan.“Mereka ingin memberi contoh,” ujar Laila, analis kebijakan. “Siapa pun yang berdiri di belakangmu akan ‘dipersulit’.”Dewi berdiri, menatap layar. “Dan siapa yang memimpin orkestranya

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 126 — Protokol Cahaya

    “Transparansi adalah pisau bermata dua: ia bisa menyelamatkan, atau memotong sampai ke tulang.”Lampu-lampu server menyala serempak, hijau—lalu biru. Angka-angka bergerak seperti arus laut yang tak bisa dibendung. Dewi berdiri di depan panel kaca, bayangannya terbelah oleh pantulan layar, seolah ada dua dirinya: satu yang memikul idealisme, satu lagi yang siap menanggung akibat.“Penguncian dibuka,” kata Arga. “Repositori publik aktif. Log transaksi, perizinan, alur pembiayaan—semuanya.”“Termasuk yang sensitif?” tanya Dewi tanpa menoleh.“Termasuk,” jawab Arga. “Nama, waktu, jalur. Tidak ada sensor.”Di ruang kendali, seseorang menarik napas panjang. Mereka tahu, setelah ini tak ada jalan pulang. Protokol Cahaya bukan sekadar rilis data—ia adalah pengakuan bahwa negara ini berani berdiri di bawah sorot lampu, tanpa bayangan.Di luar, dunia bergerak cepat. Editor menekan tombol terbit. Analis menyalakan grafik. Para pelobi berhenti tersenyum.Ponsel Dewi bergetar. Pesan masuk, terenkr

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status