LOGINKaitlyn Adams kehilangan ingatan setelah koma selama hampir satu tahun akibat kecelakaan. Sejak terbangun dari koma, Kaitlyn dapat melihat keberadaan seorang hantu tampan bernama Revan Khalfani. Hantu ini terus mengikuti Kaitlyn ke mana saja dan bersikap seakan sangat mengenal Kaitlyn dengan baik, bahkan di masa-masa ketika masih terbaring tak sadarkan diri. Di sisi lain Kaitlyn sebenarnya sudah memiliki seorang suami bernama Christian Adams. Begitu hangat dan mencintai dirinya. Namun seiring waktu berjalan, Kaitlyn mulai menemukan satu demi satu kepingan menakutkan nan janggal mengenai kehidupan di masa sebelumnya..
View MoreKlein's POV
The only sounds I can hear right now are the crack of whips and screams echoing off the stone walls. I watched them, trembling, begging, crying as the heartless guards punish them here in the dungeon.
I shake my head in disgust. “Pathetic. What good does crying and pleading do when they know it won’t change a thing? They’re all idiots.” I turn my gaze away from the scene.
A few more minutes pass before the noise finally dies down. I look back to see the guards dragging their unconscious bodies across the floor. They toss them back into their cells like trash, leaving them half-dead where they fall.
“Weak,” I mutter under my breath.
A moment later, Keno’s voice echoes in my mind. > “That’s not exactly surprising.” I let out a short, bitter laugh in response.
Before long, the door to my cell swings open and two guards step inside.
“You’re free to go,” one says arrogantly, making me hiss in irritation.
I push myself up from the dirty floor and hold out my hands for them to remove the chains. The guard scowls but yanks the restraints off roughly. I flex my wrists, shaking my head when I see fresh cuts from where the metal dug into my skin.
“Get out of here! And try to behave yourself this time so you don’t end up back in here,” the other guard snaps.
I lift my head to meet his glare. “Seems like I’m here every single day,” I say dryly as they start pulling me toward the exit.
“I can walk on my own!” I growl, trying to pull free from their grip.
They say nothing but keep hold of me until we finally step out of the dark, stinking dungeon into the light.
“Fuck!” I curse as they shove me forward hard, nearly sending me sprawling to the ground.
My legs still haven’t fully healed from the punishment I got three days ago, they beat me with iron rods after I caused trouble.
Speaking of which… how’s that fool Rafael doing? Is he even still alive?
We got into a massive fight three days back. He and his friends tried to kill me, but luck wasn’t on their side, I’m not ready to leave this world just yet.
The guards beat all of us that day, but from what I heard, Rafael and his friends got it worse. Their gang’s the top group of bullies in this university, so the guards have never liked them much anyway.
“Get out of here already! Why won’t someone just buy you already? You’re making our jobs harder than they need to be!” one guard shouts at me.
I just grin at them. “You get paid well enough, you should at least work harder!” I call out before turning my back and walking away.
I can hear them snarling in anger behind me, but I don’t look back.
As I cross the field toward the left wing of the university where the boys’ dorms are located, I notice the stares from other students. I ignore them. I’m used to the way they look at me by now.
Besides, people like them aren’t worth my attention. They walk around with their heads held high like they’re better than everyone else, but the truth is we’re all the same , low-rank werewolves forced to live like slaves. But I’m different from all of them.
I’m a pure Omega, but unlike the others, I won’t bow down to anyone. I’d rather be punished over and over than cry, beg, or kneel for mercy.
In this world we live in, they say obedience is the only way to survive this cruelty.
But me?
That word doesn’t exist in my vocabulary.
If I want to make it through this life, that’s not how I’ll do it. Instead of begging for their kindness, I refuse and fight back to survive on my own terms, even if it kills me. Actually, death might be the only real way to be free. When you’re dead, there’s no more pain, no more fear, no more worry weighing on you every single day. When you die, it’s over, no more suffering.
The moment I push open the door to our dorm, I’m greeted by my roommate, who looks like he’s been used as a human punching bag.
“You look like a mess,” he says, eyeing me up and down.
I raise an eyebrow at him. “And what about you, bastard? You look like you lost a fight with a brick wall.”
He lets out a small chuckle at my remarks. “Fair enough. So… how was it down there?”
Instead of answering right away, I let my body collapse onto the worn couch and let out a deep, heavy sigh. “Hell as always. Same shit, different day.”
Sandro stands up from his chair and heads to the tiny kitchen area. When he comes back, he’s holding two cans of beer. He tosses one toward me, thankfully, my reflexes are sharper than his, and I catch it easily before it hits my face.
I pop the tab and drink straight from the can, emptying it in just a few gulps. Those damn guards hadn’t given me any food or water for three full days, my throat feels like it’s been rubbed raw with sandpaper.
I set the empty can down and look him over again. “So what happened to you? You really do look like shit.”
He shakes his head, taking a slower sip from his own beer. “Got into a fight this morning. Some assholes from the east wing thought they could push me around.”
I laugh hard at that. “That’s fucking brilliant! Why didn’t they throw your ass in the dungeon with me?”
“Lucky me, they just beat the crap out of me right there on the field and let me go,” he says, wincing as he shifts his weight.
I let out an even louder laugh at that.
To be honest, I don’t really think of this bastard as my friend. He’s just one of the only people I bother talking to here. In this world, trust is a luxury you can’t afford , even the ones who seem kind might be your worst enemies in disguise.
Not that Sandro’s like that. I’ll admit it, he’s actually a good person. Kind, even. He was already here when I first got thrown into this hellhole of a university. Like me, he’s an Omega though his parents were both Betas, and he was the only one in their family born with our rank. The moment they found out, they brought him here and left him to suffer. Once they’d saved up enough money, they moved to another country and never looked back.
His story’s pretty damn sad, I’ll give him that.
Sekarang aku malah berakhir terkagum-kagum dengan sosok Kaitlyn Adams sebelum kehilangan ingatan setelah menengok semua foto dan video dalam galeri smartphone-ku sendiri.Tidak, bagaimana bisa aku sekarang menjadi wanita sehebat itu di masa lalu? Sudah entah berapa kali aku memutar ulang video saat dimana Kaitlyn berlenggak-lenggok di atas stage memanjang itu. Terpukau sepenuhnya oleh bagaimana Kaitlyn dapat mengekspresikan diri sekaligus keindahan setiap gaun tersebut dengan sempurna.Tapi sensasi rasa senang ini entah mengapa tidak terasa seperti menyaksikan diri sendiri, melainkan sedang melihat seseorang lain. Seakan-akan Kaitlyn di dalam video itu bukanlah bagian dari sosok 'aku'.Apa mungkin karena aku tidak dapat mengingat bagaimana rasa tercipta disaat momen-momen itu berlangsung? Sehingga aku tidak bisa merasakan atau bahkan membayangkan bagaimana itu bisa terjadi saat itu?Helaan nafas kemudian terhembus begitu saja. Seluruh foto d
Andai saja sebagian akal sehat tersisa tidak berusaha menolak buaian lumatan memabukkan itu dan tidak memaksaku sadar, mungkin sekarang Bryan sudah kembali berantakan sebagaimana sediakala.Sekarang aku berhasil menciptakan kembali jarak setelah menyudahi ciuman tersebut dan mendorong dada bidang Bryan menjauh dariku."Pergilah, Bryan. Di sana kamu sudah ditunggu, bukan?" ujarku berusaha mencairkan suasana setelah atmosfir bergairah tadi begitu memanas di dalam dapur ini. Sebenarnya aku sempat khawatir kalau-kalau saja tindakanku akan membuat Bryan kecewa dan kehilangan gairah terhadapku.Tapi aku beruntung setelah itu Bryan mendengus kecewa—namun tidak dengan cara menegangkan. Ia sekedar mencoba bergurau seakan-akan merajuk denganku. Sedikit kekanakan, namun terasa begitu menggemaskan bagiku."Kamu harus membayar semua ini setelah aku kembali, Sayang." dengus Bryan sembari membenahi letak dasi biru dongker miliknya. Sekarang berganti menjadi aku te
Sama seperti mencintai, bagiku, kata membenci juga sangat berat untuk diucapkan semudah itu. Aku tidak tahu mengapa Revan bisa dengan mudah mengatakan itu. Ia terlihat begitu yakin saat mengucapkan itu, seakan telah memendam itu sejak lama. Aku tidak dapat menghentikannya.Tapi aku juga tidak bisa menghentikan rasa tidak suka dalam diri ini akibat kata-kata mengisyaratkn kebencian Revan terhadap suami-ku itu.Itu memang benar, sekarang aku bahkan tidak memiliki ingatan sehingga tidak berhak untuk berkomentar. Namun bagiku rangkaian kata tersebut sangat menggangguk
Wangi semerbak dari mentega bersama roti bawang kemudian memenuhi udara dapur dengan style seperti mini bar ini dalam sekejap setelah Bryan memanggang roti tersebut.Sembari menunggu Bryan selesai menyiapkan sarapan, aku terlebih dahulu mengganjal lambungku dengan segelas susu stroberi dingin selagi bahu tegap berbalut kaos oblong milik Bryan itu sedang kujadikan sebagai tempat atensi kedua mataku bertumpu.Hari sudah sangat terik, aku dan Bryan benar-benar baru saja keluar usai mendiami kamar selama beberapa jam bahkan setelah terbangun. Yang dimana tentu saja dapur langsung menjadi destinasi berikutnya demi mengisi kembali daya energi tubuh. Tapi alih-alih membiarkanku menyiapkan sarapan, Bryan malah menyuruhku untuk duduk diam di kursistooldan membiarkan Bryan unjuk kepawaiannya dalam membuat sarapan setelah diti
Deru nafas kemudian mengisi kesunyian ruangan luas ini. Selagi memandang ke langit-langit kamar, baru aku sadari betapa luas dan besar ruangan ini bagi dua orang saja.Sinar matahari sekarang sudah menjadi lebih terik dari sebelumnya. Aku dan Bryan sama-sama masih terjaga set
Dalam kondisi setengah sadar aku merasakan seseorang sedang mencoba mengangkatku dari tempat semestinya aku berada dengan menggendongku. Spontan saja itu membuatku terbangun dari tidur, meski kesadaranku atas sekeliling masih belum begitu awas.Ternyata seseorang itu adalah B
Satu buket bunga mawar merah dalam sekejap sudah terulurkan kepadaku dari tangan Bryan. Sore ini aku dan Bryan sedang menjelajahi sekitar rumah sakit supaya aku tidak begitu suntuk menghabiskan waktu di ruanganku. Sekalian menikmati angin segar selagi matahari mulai terbenam di ujung sana.
Sekarang aku benar-benar mengharapkan sebuah kemungkinan dimana telingaku salah mendengar. Tapi itu tampak mustahil sebab sorot mata Bryan sama sekali tidak berkata demikian. Sehingga aku tidak dapat berkata-kata dan berujung menghindar dari melakukan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews