LOGINLampu-lampu gedung itu menyala dingin, putih, tanpa jendela.Bukan karena ingin terlihat modern—melainkan agar siapa pun di dalamnya lupa waktu.Dewi duduk di ujung meja kaca panjang. Di seberangnya, layar besar menampilkan peta dunia. Bukan peta politik. Bukan peta militer.Peta alur uang.“Perhatikan baik-baik,” katanya, suaranya tenang namun menekan.“Perang modern tidak lagi dimulai dengan tembakan.”Ia menyentuh layar. Garis-garis cahaya muncul—mengalir dari negara berkembang menuju pusat-pusat lama dunia.“Inilah kolonialisme versi baru,” lanjutnya. “Bukan penjajahan wilayah. Tapi penjajahan standar.”Salah satu hadirin mengernyit.“Standar… pembayaran?”“Bukan cuma pembayaran,” Dewi mengoreksi. “Bahasa teknologi. Protokol. Aturan main. Siapa yang menentukan standar—dialah yang mengatur aliran nilai.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan,“Dan selama ini, bukan kita.”Di ruangan itu, semua paham. Negara boleh merdeka secara bendera, tapi selama sistemnya mengikuti desain
“Mereka datang dengan helikopter. Kami menjawab dengan persatuan.”Deru baling-baling memecah udara, tapi tak lagi menakutkan. Di kampung itu—yang tak tercatat di peta, yang disebut wilayah mati—orang-orang berdiri tegak. Bukan sebagai tameng. Sebagai saksi. Lampu-lampu rumah menyala bergantian, seperti denyut nadi yang menemukan ritmenya kembali.Dewi melangkah ke tengah lapangan kecil. Tanah basah menahan sepatunya, namun ia tak goyah. Di atas, helikopter berputar ragu, sorot lampunya menyapu—dan berhenti. Bukan pada Dewi. Pada rakyat.Rizal berdiri di sampingnya, wajahnya tenang. “Mereka tak menyangka ini,” katanya pelan.“Karena mereka menghitung angka,” jawab Dewi. “Bukan manusia.”Siaran nasional kembali hidup—namun kali ini retak. Di layar-layar publik, tayangan terbelah dua. Di satu sisi, kurator kebijakan mengulang frasa keamanan. Di sisi lain, kanal alternatif menampilkan hal sederhana: mata air yang kembali mengalir, warga menanam kembali bantaran sungai, data izin yang run
“Tempat yang mereka sebut mati, sering kali adalah tempat kebenaran bertahan hidup.”Bayangan itu tidak bergerak ketika truk berhenti. Ia berdiri di seberang sungai dengan jaket lusuh, wajahnya separuh tertutup cahaya fajar yang pucat. Air mengalir pelan di bawah jembatan sempit, memantulkan langit abu-abu seperti kaca retak.Dewi turun pertama. Tanah basah menempel di sepatunya. Ia mengenali postur itu sebelum wajahnya jelas—cara berdiri yang tidak pernah menantang, tapi juga tidak pernah tunduk.“Sudah lama,” kata sosok itu.“Tidak selama yang seharusnya,” jawab Dewi.Pria itu melangkah maju. Wajahnya muncul utuh—garis-garis usia yang tidak tercatat, mata yang menyimpan peta lebih lengkap daripada layar manapun. Rizal Rahman. Ayahnya. Tidak ada pelukan. Hanya jeda singkat yang sarat.“Mereka menyebut namaku,” kata Rizal. “Berarti waktumu sempit.”“Dan waktumu lebih sempit,” sahut Dewi.Rin dan warga menutup perimeter dengan gerak senyap. Tidak ada senjata terbuka, hanya mata yang wa
“Tempat yang mereka sebut mati, sering kali adalah tempat kebenaran bertahan hidup.”Bayangan itu tidak bergerak ketika truk berhenti. Ia berdiri di seberang sungai dengan jaket lusuh, wajahnya separuh tertutup cahaya fajar yang pucat. Air mengalir pelan di bawah jembatan sempit, memantulkan langit abu-abu seperti kaca retak.Dewi turun pertama. Tanah basah menempel di sepatunya. Ia mengenali postur itu sebelum wajahnya jelas—cara berdiri yang tidak pernah menantang, tapi juga tidak pernah tunduk.“Sudah lama,” kata sosok itu.“Tidak selama yang seharusnya,” jawab Dewi.Pria itu melangkah maju. Wajahnya muncul utuh—garis-garis usia yang tidak tercatat, mata yang menyimpan peta lebih lengkap daripada layar manapun. Rizal Rahman. Ayahnya. Tidak ada pelukan. Hanya jeda singkat yang sarat.“Mereka menyebut namaku,” kata Rizal. “Berarti waktumu sempit.”“Dan waktumu lebih sempit,” sahut Dewi.Rin dan warga menutup perimeter dengan gerak senyap. Tidak ada senjata terbuka, hanya mata yang wa
“Jika kebenaran harus dibayar dengan darah, maka yang takut bukanlah kami—melainkan mereka.”Hujan menyamarkan langkah Dewi saat ia menyeberang lorong sempit di antara bangunan tua. Lampu kota redup, seolah ikut menahan napas. Di kepalanya, hitungan berjalan tanpa suara—jarak, waktu, sudut pandang. Ayahnya selalu bilang: yang paling berbahaya bukan senjata, tapi arah.Di balik dinding beton, Rin menghentikan mobil tanpa mematikan mesin. “Sinyal mereka kuat. Terlalu rapi,” katanya. “Ini panggung.”Dewi menarik hoodie lebih rapat. “Kalau begitu, kita ganti skrip.”Mereka berpisah. Rin menuju gang kiri, menyusup di balik deretan kios tutup. Dewi melangkah lurus ke titik temu—sebuah gudang logistik tua yang bau oli dan besi basahnya menempel di tenggorokan. Pintu geser setengah terbuka. Dari dalam, cahaya dingin memotong hujan seperti pisau.“Masuk,” suara itu memantul dari dinding. Netral. Terlalu tenang.Di dalam, kursi tunggal menghadap meja logam. Di belakangnya, layar besar menampilk
“Kebenaran tidak pernah mati. Ia hanya di penjara sementara.” Pintu besi menutup di belakang Dewi dengan bunyi berat yang menggema terlalu lama. Ruangan itu dingin, terlalu bersih, dan berbau antiseptik—tempat yang dibuat bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk mematahkan keberanian. Lampu putih menggantung rendah, seolah menekan siapa pun yang berdiri di bawahnya. Seorang pria berseragam abu-abu duduk di seberang meja. Tanpa nama. Tanpa tanda pangkat. “Kau membuat negara kacau,” katanya datar. Dewi mengangkat wajah. Tangannya terborgol, tapi punggungnya tegak. “Negara sudah kacau sebelum saya bicara.” Pria itu mengetuk tablet. Layar menampilkan grafik: banjir, longsor, korban, lalu satu garis turun tajam—kepercayaan publik. “Komisi Darurat dibentuk satu jam lalu. Mandatnya jelas: stabilisasi.” “Stabilisasi narasi,” sahut Dewi pelan. Senyum tipis muncul. “Narasi adalah fondasi ketertiban.” Di luar gedung, hujan berhenti mendadak. Awan terbelah, menyisakan langit pucat.







