LOGINEnergi hijau keemasan terus-menerus masuk ke dalam tubuh Ye Tian, mengalir melalui pori-pori, meresap ke daging, tulang, dan meridian, menstabilkan energi qi yang kacau. Wajahnya tampak semakin segar. Setiap tarikan napas seakan menarik energi spiritual murni dunia kecil ke dalam tubuhnya, sementara setiap embusan napas perlahan membuang sisa-sisa energi hitam yang tertinggal di dalam tubuhnya. Aura di sekelilingnya berangsur menjadi tenang. Bao Liang berdiri di sisi batu giok hijau keemasan tempat Ye Tian terbaring. Wajahnya yang sejak tadi tegang akhirnya sedikit mengendur. "Syukurlah… keadaan Tuan Muda mulai berangsur membaik," ucapnya pelan sambil menghembuskan napas lega. Semua orang yang ada di ruangan itu bernapas lega melihat kondisi Ye Tian. *** Di malam hari, Ye Tian membuka matanya perlahan. Ia melihat Su Wan’er dan Jiang Ruolan berada di sisi kanan dan kirinya. "Maaf, jika sudah membuat kalian khawatir," ucapnya sambil tersenyum lembut. Ia lalu mengulurkan
Ye Tian tidak bergerak dari gendongan Bao Liang. Ia hanya mengangkat sedikit kepalanya, menatap pemandangan di hadapan mereka dengan sorot mata tenang. "Tempat ini," ucapnya pelan, suaranya terdengar jelas meski tubuhnya masih lemah, "akan menjadi tempat kalian tinggal. Kalian bisa berlatih dan meningkatkan tingkat kultivasi di sini dengan tenang tanpa adanya gangguan." Jiang Ruolan menarik napas dalam-dalam. Tatapannya masih terpaku pada istana emas dan pohon-pohon buah abadi yang berjejer rapi. Getaran energi spiritual yang pekat membuat jantungnya berdebar kencang. "Tian'er…," ujarnya perlahan, "tempat ini… bukan dunia biasa, bukan?" Ye Tian tersenyum tipis dari atas bahu Bao Liang. "Benar. Dunia kecil ini dulunya milik seorang leluhurku Ye Mo Tian. Beliau telah mewariskannya padaku untuk aku jaga dan merawatnya. Heylong menatap sekeliling dengan sorot mata berbeda dari sebelumnya. Senyum tipisnya perlahan memudar. Ia menengadah ke langit dunia kecil, merasakan aliran huku
“Cepat katakan, apa yang telah terjadi di dalam dunia kuno itu? Kenapa hanya murid-murid sekte, klan, ataupun keluarga besar yang kembali? Sedangkan murid-murid kami tidak ada satu pun yang kembali. Dan kalian adalah orang yang keluar terakhir dari gerbang dimensi dunia kuno itu sebelum hancur. Jadi… aku yakin pasti kalian mengetahui apa yang telah terjadi dengan murid-murid kami, atau bisa saja kalian yang telah membunuh mereka," tanya Tetua Sekte Huangquan sambil menatap ke arah Ye Tian beserta rombongannya. Ia telah bertanya pada murid Klan Ma, Klan Nan, Sekte Laut Biru, sekte-sekte lain, bahkan hingga murid keluarga besar sekalipun. Namun tidak satu pun dari mereka mengetahui keberadaan murid-muridnya setelah memasuki dunia kuno. Mereka menjelaskan bahwa setibanya di dunia itu, mereka terlempar ke tempat yang berbeda-beda. Karena itu, ia bersama tiga tetua lainnya mencurigai Ye Tian, Jiang Ruolan, dan rombongannya. Namun Tetua itu merasa sangat asing dengan wajah empat pria ya
Malam turun perlahan di dunia kuno itu. Langit yang retak akibat pertarungan sebelumnya perlahan menutup, namun bekas-bekas kehancuran masih jelas terlihat. Cahaya bintang pucat menggantung di langit, menerangi altar yang kini berubah menjadi puing-puing sunyi. Angin malam berembus dingin, membawa aroma debu batu dan sisa aura pertempuran yang belum sepenuhnya menghilang. Api unggun km dinyalakan tidak jauh dari altar runtuh. Jiang Ruolan duduk di samping Ye Tian yang terbaring di atas tikar. Wajah pemuda itu pucat, napasnya stabil namun lemah. Luka-luka di tubuhnya sudah menghilang tidak berbekas. Jiang Ruolan menggenggam tangan adiknya erat-erat, ia sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya itu. "Bodoh…" bisiknya lirih, suaranya bergetar. "Kau terlalu memakasakan diri, Tian'er. Di sekeliling mereka, Yinshen, Ming Liu, Bao Liang, Lin Hao, Meng Jin, Meng Rou serta para murid Sekte Bunga Salju berjaga dengan wajah serius. Tak ada yang berbicara keras. Bahkan Heylong pun dudu
"Kau terlalu percaya diri untuk menghadapiku seorang diri, bocah." Setelah berkata seperti itu, Du Zhuan menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul di hadapan Ye Tian seraya melayangkan serangan. Duar! Ye Tian terpental sejauh puluhan langkah terkena tinju Du Zhuan di dadanya. Tubuhnya menghantam lantai batu altar, menghancurkan lapisan batu hingga membentuk cekungan dalam. Debu dan pecahan batu menyembur ke udara. Darah segar merembes dari sudut bibirnya. Jiang Ruolan tersentak. "Tian’er…!" Du Zhuan berdiri tegak di udara, napasnya sedikit memburu. Tatapannya tajam, penuh kepuasan dingin. "Hmph. Jadi kau juga bisa terluka," ujarnya sinis. "Itu hanya baru permulaan, bocah." Tanpa memberi waktu— Du Zhuan menghilang. Wush... Ia muncul tepat di depan Ye Tian, telapak tangannya sudah diselimuti kabut hitam pekat yang berputar seperti pusaran neraka. "Telapak Penghancur Jiwa!" Duar! Telapak itu menghantam dada Ye Tian. Krak! Suara tulang retak terdengar je
Duar! Ledakan yang sangat keras terdengar ketika dua aura saling berbenturan antar Ye Tian dan Heylong. Kemudian simbol-simbol kuno yang berada di mengelilingi tubuh Ye Tian bergerak mengurung naga hitam. "Mu-mustahil... bagaimana mungkin dia bisa memeliki kekuatan seperti itu..." Hey Long tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Simbol-simbol kuno itu terus menekan tubuhnya. Ledakan itu membuat altar batu retak-retak. Pecahan batu beterbangan, namun langsung hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh tanah. Aura Heylong yang semula mengamuk tiba-tiba terhenti, seolah ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih tinggi tingkatannya. Simbol-simbol kuno itu berputar semakin cepat, membentuk lingkaran segel yang saling bertaut, mengunci tubuh naga hitam dari segala arah. Heylong menggeram keras, berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya. Sisik hitam di tubuhnya berkilau, namun tak satu pun rantai simbol itu retak. "Aaargh—!" raungnya tertahan. "Tubuhku… ditekan sepenuhnya olehnya,







