Beranda / Fantasi / Langkah di Jalan Keabadian / Bab 8 Kecurigaan Lin Hao

Share

Bab 8 Kecurigaan Lin Hao

Penulis: Kopi Senja
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 13:13:14

Namun Shen Long hanya mengibaskan telapak tangannya.

Wuuusshhh!

Serangan Ye Tian terhenti seketika, seolah membentur tembok tak terlihat yang kokoh seperti gunung.

"Lumayan. Tenagamu sudah melampaui kebanyakan kultivator," Shen Long menatap dingin, lalu auranya meledak bak badai. "Tapi itu belum cukup menghadapi musuh di luar sana!”

Boom!

Dengan satu gerakan ringan, Shen Long melontarkan cakar naga raksasa. Udara bergetar, tanah bergetar hebat, dan Ye Tian terpukul jatuh, menghantam tanah hingga kawah besar terbentuk.

"Seranganmu masih terlalu lemah, bocah. Kerahkan seluruh kemampuanmu!" seru Shen Long, suaranya bergema di udara.

Di dalam kawah, Ye Tian justru menyunggingkan senyum tipis. Pukulan sebelumnya hanyalah pengalih perhatian—serangan sebenarnya baru saja ia lepaskan.

Ngunggg…

Langit mendadak bergetar, ribuan pedang ilusi muncul dari pusaran cahaya di angkasa. Dalam sekejap, hujan pedang itu meluncur deras, mengurung Shen Long dari segala arah.

Swush! Swush! Swush!

Dengan gerakan lincah, Shen Long berkelebat di antara rentetan serangan. Satu demi satu pedang melewati tubuhnya hanya sejengkal, meninggalkan riak qi yang tajam. Ia tidak menyangka, bocah itu mampu menyiapkan jurus sebesar ini tanpa memberi celah sedikit pun.

Namun belum selesai ia menstabilkan langkah, sosok Ye Tian sudah melesat dari balik hujan pedang. Dengan kecepatan kilat, pemuda itu muncul tepat di hadapannya, tinju menyala dengan cahaya naga.

Shen Long terlonjak kaget dan segera menyilangkan kedua lengannya.

Boomm....!

Tubuh Shen Long terseret mundur sejauh sepuluh meter. Meski begitu, serangan Ye Tian tidak membuatnya terluka sedikitpun.

"Bagus," ujar Shen Long dengan senyum tipis, sorot matanya berkilat tajam. "Kau sangat cerdik, bocah. Mampu membaca situasi dengan cepat sambil menyiapkan serangan lain. Itu yang kuinginkan darimu."

"Hehe… kemampuanku masih jauh di bawah Senior," ucap Ye Tian sambil menangkupkan kedua tangan dengan penuh hormat. "Namun aku tidak akan pernah puas dengan pencapaian sekarang. Di luar sana, ada banyak kultivator yang kekuatannya jauh melampaui diriku."

Sebagai seorang kultivator, ia menyadari satu hal: meremehkan orang lain atau membanggakan diri sendiri hanya akan menjadi bumerang yang menghancurkan.

Shen Long tertawa dan matanya memancarkan rasa puas.

"Hahaha… bagus! Baru seperti itulah seorang kultivator sejati. Tidak jumawa, tapi juga tidak gentar. Kalau kau terus menjaga sikap seperti ini, jalanmu di dunia kultivasi akan semakin terbuka lebar."

Ye Tian mengibaskan tangannya, formasi serangan yang melingkupi tempat itu segera lenyap, bagaikan asap yang tersapu angin. Shen Long melangkah perlahan mendekati pemuda itu, lalu menepuk pundaknya dan menghilang dari tempat mereka berada.

Wushhh…

Sekejap kemudian, pandangan Ye Tian berputar. Saat kesadarannya kembali, matanya terbelalak lebar. Ia kini berdiri di hadapan sebuah istana megah yang menjulang anggun, dipenuhi aura kuno yang seakan menembus langit.

Di sisi kanan, berdiri deretan pohon berbuah cahaya—buah abadi yang selama ini hanya ia dengar dalam legenda.

Di sisi kiri, terbentang tiga kolam dengan warna berbeda: putih, hijau, dan merah. Masing-masing kolam memancarkan energi spiritual, riaknya membuat udara di sekitarnya bergetar halus.

"Tempat ini… luar biasa. Tapi istana ini milik siapa sebenarnya? Dan mengapa Senior membawaku ke sini?" Ye Tian bergumam dalam hati, wajahnya penuh keterkejutan.

Melihat kebingungan pemuda itu, Shen Long tersenyum tipis lalu berkata dengan suara yang dalam dan berwibawa.

"Istana di hadapanmu ini adalah milik leluhurmu semasa beliau masih hidup. Dan mulai saat ini, seluruh dunia kecil ini telah menjadi milikmu, Tuan Muda."

Ye Tian membeku, matanya menyipit. Ia tak mengerti mengapa Shen Long tiba-tiba memanggilnya demikian.

Shen Long lalu menangkupkan kedua tangannya, tubuhnya sedikit membungkuk memberi hormat.

"Dulu aku adalah hewan kontrak leluhurmu. Kini tugasku adalah membimbingmu hingga menjadi kuktivator terkuat di dunia ini. Shen Long memberi hormat kepada Tuan Muda."

"Hah…!!" Ye Tian hampir kehilangan kata-kata, mulutnya terbuka lebar. Kini ia sadar mengapa dirinya bisa berada di sini.

"Haih… Senior, tidak perlu memperlakukanku seperti ini," ucap Ye Tian sambil menggelengkan kepala. Tatapannya tajam namun penuh ketulusan. "Meski kamu pernah menjadi hewan kontrak leluhurku, di mataku engkau tetaplah seorang Senior yang patut kuhormati. Mulai sekarang, jangan lagi memberi hormat berlebihan kepadaku. Aku benar-benar tidak menyukainya."

Shen Long terdiam, kedua matanya sedikit bergetar. Perlahan ia menarik napas panjang, lalu menundukkan kepala dengan senyum penuh penghargaan.

“Jarang sekali ada pewaris yang bisa berkata demikian. Kerendahan hati semacam ini… lebih tajam daripada ribuan pedang. Tuan Muda, aku semakin yakin anda akan melampaui leluhurmu."

"Ucapan anda....membuatku teringat pada leluhurmu. Ia pun memiliki hati yang enggan dipuja, meski para penguasa dunia memberi hormat kepadanya. Dan kini, watak yang sama kulihat jelas dalam dirimu, Tuan Muda."

*****

Di Desa Qinghe…

Sudah lebih dari dua minggu Meng Han, Meng Jin, dan Lin Hao berkeliling mencari keberadaan Ye Tian. Namun usaha mereka tak kunjung membuahkan hasil.

"Kemana lagi kita harus mencari Tian’er, Ayah? Hampir semua tempat telah kita datangi, tapi tetap saja tidak ada jejaknya…" ujar Meng Jin dengan kepala tertunduk, nada suaranya penuh keputusasaan.

Meng Han menghela napas panjang, wajahnya tampak gusar. "Ayah pun bingung, Jin’er. Aku tak ingin membuat ibumu dan adikmu semakin larut dalam kesedihan. Engkau tahu sendiri, mereka begitu menyayangi Tian’er… sama seperti kita."

Lin Hao yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. Tatapannya menyipit, suaranya mengandung nada curiga. "Paman, jika dipikir-pikir, Ye Tian tidak mungkin menghilang tanpa sebab. Bukankah keluarga Zhao, Lin, dan Mei selalu memandangnya dengan kebencian? Terlebih Zhao Liang. Ia menaruh hati pada Meng Rou, itu sebabnya ia sangat membenci Ye Tian yang selalu berdekatan dengan putri Paman."

Ucapan Lin Hao menggantung di udara. Entah mengapa, dalam pikirannya timbul firasat kuat bahwa hilangnya Ye Tian pasti ada kaitannya dengan Zhao Liang, Lin Fei, ataupun Mei Lan.

Mendengar nama-nama itu, wajah Meng Han mengeras. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat di lengannya menegang, matanya memancarkan amarah yang ditahan. "Kalau benar mereka berani menyentuh Tian’er… meski harus melawan seluruh keluarga Zhao, Lin, maupun Mei, aku tidak akan takut sedikitpun!"

Meng Han menarik napas panjang, berusaha meredam amarah yang membara di dadanya. Setelah terdiam sejenak, ia menatap Meng Jin dan Lin Hao dengan sorot mata serius.

"Kita tidak boleh bertindak gegabah. Besok pagi, kita akan mulai melakukan penyelidikan terhadap keluarga Zhao, Lin, maupun Mei. Jika benar ada sangkut pautnya dengan hilangnya Tian’er, maka kita akan menuntut pertanggungjawaban dari mereka semua!"

Meng Jin dan Lin Hao menganggukkan kepala serempak.

"Baik, Paman. Besok kita lakukan sesuai yang Paman katakan," ujar Lin Hao mantap, sementara Meng Jin ikut menimpali, "Aku pun setuju, Ayah."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 150

    Melihat Jenderal Yan Guo beserta pasukannya berhasil dikalahkan membuat Jenderal Hei Luo murka dan menatap Ye Tian dengan penuh kebencian. Ia menyerang secara membabi buta, namun tidak ada satupun serangannya itu mengenai tubuh musuhnya tersebut. "Kenapa kau selalu menghindari seranganku? Apa kau tidak bisa melawanku, bocah?" ujarnya dengan frustasi. Jenderal Hei Luo menyadari jika tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadapi Ye Tian, sebab energi qi-nya sudah terkuras banyak. Bahkan ia mulai merasakan efek samping dari teknik terlarang yang digunakannya untuk melakukan transformasi iblis darah. Walaupun kekuatannya meningkat drastis, tapi dirinya kesulitan menghadapi musuh di depannya itu. Ye Tian hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Jenderal Hei Luo. "Kau saja yang terlalu lemah, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan energiku melawanmu," jawab Ye Tian dengan nada meremehkan. "Aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan satu serangan." Ye Tian kemudian menyemburkan api putih d

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 149

    Ye Tian mulai memfokuskan seluruh energinya. Sebuah aura keemasan muncul di sekeliling tubuhnya, memancarkan kekuatan dan simbol-simbol kuno mengelilingi tubuhnya. "Kalau begitu, akan ku tunjukkan kekuatan yang sebenarnya," ucap Ye Tian dengan serius. Ye Tian mengaktifkan teknik transformasi Dewa Naga. Tubuhnya mulai berubah, kulitnya ditutupi sisik emas, dan sepasang sayap muncul dari punggungnya. Roarrrrr!!! Raungan naga yang dahsyat mengguncang seluruh area pertempuran. Kekuatan Ye Tian meningkat secara drastis, melampaui batas kemampuannya sebelumnya. "Apa... apa itu?!" Jenderal Yan Guo terkejut melihat transformasi Ye Tian. "Kekuatan macam apa itu?! mustahil? bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sekuat ini?" Jenderal Hei Luo juga merasakan kekuatan yang luar biasa dari Ye Tian. Dia tahu bahwa dia tidak bisa meremehkan lawannya lagi. "Aku akan menghancurkanmu! Meski kau berubah wujud menjadi naga kau tidak bisa mengalahkanku, Ye Tian," teriak Jenderal Hei Luo denga

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 148

    Tak berselang lama, Jenderal Lang Wu, Komandan Lang Shen Tong beserta empat ratus prajurit mendarat tidak jauh dari desa di mana Dua jenderal iblis dan pasukannya berada. Namun keberadaan mereka sudah diketahui dan langsung dikepung dari segala sisi. "Hahaha! Kalian benar-benar bodoh!" Jenderal Hei Luo tertawa terbahak-bahak. "Berani-beraninya kalian masuk ke dalam perangkap kami!" Jenderal Lang Wu tetap tenang. "Kami tidak pernah berniat untuk bersembunyi," jawabnya dengan nada dingin. "Kami datang untuk menghancurkan kalian." "Sombong sekali!" Jenderal Yan Guo maju selangkah. "Kalian pikir bisa mengalahkan kami hanya dengan empat ratus orang? Kalian akan mati di sini!" Jenderal Lang Wu menyeringai. "Kita lihat saja nanti siapakah yang akan mati." tidak jauh dari tempat itu, Yinshen maupun Ming Liu menggerakkan kedua tangan dengan cepat membentuk segel formasi pengurung dari sisi yang berbeda. Cahaya keemasan membentuk sebuah jaring raksasa mengelilingi area pertempuran. M

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 147

    Menjelang sore, Ye Tian bersama rombongannya sampai di kawasan luar Pegunungan Ansha dan mendarat di tempat Jenderal Lang Wu beserta pasukannya berada. "Selamat datang, Tuan Muda," ucap Jenderal Lang Wu. Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, serta para pasukan turut menyambut kedatangan Ye Tian dan rombongannya dengan penuh hormat. Ye Tian mengangguk pelan sambil tersenyum hangat. Ia bisa merasakan bahwa kultivasi kedua jenderal, para komandan, maupun seribu pasukan Raja Lang Xuan telah mengalami peningkatan. Mereka kini berada di ranah Raja dan Kaisar tingkat awal hingga tingkat puncak. "Selamat atas kenaikan tingkat kultivasi Jenderal Lang Wu, Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, dan para prajurit," ucap Ye Tian dengan senyum puas. "Dengan begini kita bisa menghadapi musuh dan meminimalisir jatuhnya korban di pihak kita. Namun, pertempuran kali ini tidaklah mudah. Pihak musuh pasti telah menyiapkan strategi untuk menghad

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 146

    Sepeninggalan Ye Tian dan Shen Long, Jenderal Gong Da menoleh ke arah Gong Jun yang terkapar. "Bawa dia ke ruang tahanan," perintahnya dingin. Dua prajurit segera bergerak, dan menyeret Jenderal Gong Jun menjauh dari halaman istana. Dua prajurit segera bergerak, menyeret tubuh Gong Jun yang tak lagi berdaya. Jeritannya memecah halaman istana yang mulai sunyi, lalu perlahan melemah, hingga akhirnya hanya tersisa erangan tertahan. Puluhan prajurit menunduk, enggan menatapnya terlalu lama. Sosok yang dahulu mereka hormati sebagai jenderal kini tak lebih dari seorang tahanan tanpa kultivasi, tanpa kekuatan, dan tanpa masa depan. Jenderal Gong Da memejamkan mata sesaat. Saat membukanya kembali, sorot matanya tajam dan tidak ada lagi keraguan sedikitpun. "Perketat penjagaan istana," perintahnya pada para komandan. "Mulai hari ini, tidak boleh ada satu pun celah. Kota Nanlin tidak akan jatuh karena pengkhianatan dari dalam." "Baik, Jenderal!" jawab para prajurit serempak. Wa

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 145

    Namun sorot mata Jenderal Gong Jun penuh kebencian dan kemarahan pada Ye Tian. Baginya, pemuda di hadapannya itu tidak lebih dari orang luar yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan. Seseorang yang tidak berhak mencampuri urusan kekuasaan kota Nanlin. Ia mengeratkan genggaman pada pedangnya. Meski tangannya masih bergetar, Gong Jun memaksa dirinya berdiri tegak. "Tch!" Ia mendengus kasar, menatap Ye Tian dengan tajam. "Orang luar sepertimu tidak seharusnya ikut campur urusanku." Aura pendekar Kaisarnya mencoba menahan aura pendindasan milik Ye Tian. "Jangan pikir hanya karena kau punya sedikit kemampuan, kau bisa melawanku," lanjutnya dingin. "Aku tidak butuh persetujuanmu… dan bagiku kau hanya pemuda lemah yang mudah untuk aku kalahkan." Mendengar perkataan Jenderal Gong Jun Ye Tian hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Jika demikian buktikan ucapanmu itu. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu." Senyum tipis di wajahnya memudar, berganti ketenangan yang d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status