LOGINYe Tian tidak ingin membuang-buang waktu. Sejak keluar dari ruang ilusi, ia langsung menekuni latihan dengan penuh tekad. Tinju Naga Surga ia latih berulang kali, setiap pukulan semakin mantap, setiap raungan semakin kuat.
Ia paham, jurus itu memiliki tiga tahapan—pertama Tinju Naga Surga, kedua Amarah Naga, dan puncaknya Raungan Naga. Hanya dengan menembus semuanya, barulah ia bisa disebut benar-benar menguasai teknik tingkat dewa itu. Menjelang siang, ia membuka kitab formasi. Ia berlatih menyusun dan mengendalikan formasi pertahanan maupun serangan, menguji bagaimana qi bisa digabungkan menjadi kekuatan yang lebih besar. Sore harinya, ia mengayunkan pedang pemberian Shen Long. Tebasannya ia ulangi ratusan kali, hingga gerakannya makin halus dan pedang seolah menyatu dengan tubuhnya. Hari-hari Ye Tian dipenuhi latihan. Tak ada waktu untuk beristirahat panjang. Baginya, hanya dengan terus menguat, ia bisa bertahan hidup dan melindungi orang-orang yang berharga. Tak terasa, enam bulan sudah Ye Tian berdiam di dunia kecil dalam Batu Semesta. Hari-harinya hanya dipenuhi latihan tanpa henti. Kini, teknik-teknik yang ia pelajari telah mencapai tahap sempurna. Setiap kali menggerakkan Tinju Naga Surga, raungan naga menggema dan mengguncang langit dunia kecil itu. Formasi yang ia susun begitu rapat dan kuat, seakan mampu menahan serangan ribuan musuh. Jurus pedangnya pun tajam dan lincah, meninggalkan jejak cahaya yang mengoyak udara. Ye Tian tersenyum puas. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Semua penderitaan, rasa sakit, dan pengorbanan yang ia tanggung selama enam bulan terakhir kini membuahkan hasil. Dari kejauhan, Shen Long yang tengah mengawasi hanya bisa menggeleng pelan, matanya menyipit takjub. "Benar-benar monster…" gumamnya dengan nada tercengang. "Hanya dalam waktu enam bulan, dia sudah mampu menguasai ketiga kitab itu dengan sempurna. Padahal di luar sana, para kultivator membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Bahkan banyak yang gagal sebelum menyentuh separuhnya. Tapi bocah ini… dia menelan semua itu seakan bukan apa-apa." Shen Long mendekat, tatapannya menyapu tubuh Ye Tian yang sedang duduk bersila. Saat mengamati lebih dalam, matanya langsung melebar kaget. "Ini… bagaimana mungkin?!" serunya, seakan akan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ye Tian membuka mata, sedikit bingung. "Ada apa, Senior?" tanya Ye Tian dengan penuh tanda tanya. Shen Long menarik napas panjang, masih sulit percaya dengan apa yang dilihatnya. "Bocah, kekuatan jiwamu… sudah menembus ranah inti tingkat sembilan! Padahal kau baru berlatih enam bulan di sini." Ye Tian terkejut, matanya berkilat tajam. "Ranah inti… tingkat sembilan?” gumamnya tak percaya. Namun Shen Long belum selesai. Ia kembali memeriksa, lalu matanya kembali melebar kaget. "Tidak hanya itu… tulangmu juga telah berevolusi menjadi Tulang Naga Emas! Bocah, kau tahu seberapa jarangnya hal ini? Bahkan di antara naga sejati, hampir tidak ada yang memilikinya!" Ye Tian mengepalkan tinjunya erat, dadanya bergetar hebat. “Tulang Naga Emas… berarti aku benar-benar sudah melangkah lebih jauh.” Shen Long menatapnya dalam-dalam, kali ini bukan hanya kagum, tapi juga mengandung rasa hormat. "Kau bukan sekadar jenius lagi, Bocah. Dengan fondasi seperti ini… suatu saat nanti, bahkan para leluhur pun akan menoleh padamu." Ye Tian masih terdiam, mencoba mencerna ucapan Shen Long. Namun, naga itu tiba-tiba menatapnya dengan sorot serius, auranya mendadak berubah berat. "Bocah, jangan senang dulu. Kekuatan sebesar ini bukan hanya berkah… tapi juga kutukan. Begitu orang-orang tahu kau memiliki Tulang Naga Emas dan Tubuh Kaisar Langit, para kultivator akan mengincarmu. Baik golongan hitam maupun putih, mereka semua menganggapmu ancaman yang harus disingkirkan." Tatapan Shen Long semakin tajam, bagai menembus jiwa. "Itulah sebabnya kau harus tumbuh menjadi yang terkuat. Jika tidak, kekuatanmu sendiri akan menjadi alasan kehancuranmu." Ye Tian mengepalkan tinjunya, napasnya memburu. Matanya bersinar dengan tekad yang membara. "Senior, aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan kekuatan ini menjadi kutukan. Aku akan menggunakannya untuk melindungi orang-orang yang penting bagiku… dan untuk menghancurkan mereka yang berani mengincarku." Shen Long memandangi wajah pemuda itu lama, lalu tersenyum samar. "Hmph, begitu seharusnya. Ingat baik-baik kata-katamu hari ini, Bocah. Karena jalan yang kau pilih bukan jalan hidup… melainkan jalan di antara hidup dan mati." Shen Long menghela napas, lalu berdiri tegak. Aura agungnya kembali menyelimuti sekeliling. "Baiklah, bocah. Jika kau benar-benar ingin melindungi orang-orangmu, maka kau harus menguji kekuatanmu. Jurus dan teknik hanyalah kosong jika tidak diuji di medan tempur." Ye Tian menatapnya penuh semangat. "Senior ingin aku berlatih tanding denganmu?" "Benar." Shen Long menyeringai kecil, lalu melangkah ke tengah lapangan luas itu. "Anggap saja ini ujian berikutnya. Tahanlah satu serangan dariku, dan aku akan mengakui bahwa kau sudah pantas melangkah ke tahap berikutnya." Aura Shen Long melonjak, tanah bergetar hebat seakan ada gunung yang bangkit di hadapan Ye Tian. Ye Tian mengepalkan tinjunya, aura emas dan petir hitam kembali menguar dari tubuhnya. Matanya berkilat penuh semangat. "Baik, Senior! Aku tidak akan mundur selangkah pun!" Shen Long mencondongkan tubuhnya sedikit, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kalau begitu… bersiaplah, bocah!" Wushh! Seketika tubuh Shen Long menghilang dari tempatnya, melesat secepat kilat menuju Ye Tian. "Terima seranganku, bocah!" serunya, lalu telapak tangannya menyapu lurus. Boom! Gelombang qi naga menghantam, membuat udara bergetar keras. Ye Tian tidak panik. Aura emas langsung meledak dari tubuhnya, disertai derak petir hitam yang menyambar liar. "Tinju Naga Surga…!" Bayangan naga emas muncul di belakangnya, melesat menghantam serangan Shen Long. Dua kekuatan bertabrakan. Booommm! Ledakan besar menggetarkan ruang latihan, tanah terbelah dan batu beterbangan ke segala arah. Ye Tian terdorong mundur belasan langkah, darah mendidih di dalam tubuhnya, namun matanya tetap membara. "Senior… seranganmu memang mengerikan. Tapi aku belum kalah!" Shen Long tertawa lantang, suaranya menggelegar. "Hahaha! Bagus, bocah! Jangan tahan tenagamu! Serang aku dengan amarah naga milikmu! Tunjukkan apakah kau benar-benar layak menguasai jurus itu!" Ye Tian menghela napas panjang, lalu kembali melangkah maju, aura di tubuhnya melonjak berkali lipat. Bayangan naga di belakangnya kali ini tampak jauh lebih buas, sorot matanya berkilat garang. "Baiklah, Senior! Aku akan menunjukkan padamu—Amarah Naga!" Ye Tian meraung, tinjunya meledak bersama bayangan naga emas yang membabi buta. Petir hitam menari di sekujur tubuhnya, menghantam Shen Long dengan kekuatan yang mampu menghancurkan gunung. Booommm! Gelombang kejutnya mengguncang dunia kecil itu. Udara bergetar, tanah berguncang, dan tebing-tebing di kejauhan runtuh berderak.Melihat Jenderal Yan Guo beserta pasukannya berhasil dikalahkan membuat Jenderal Hei Luo murka dan menatap Ye Tian dengan penuh kebencian. Ia menyerang secara membabi buta, namun tidak ada satupun serangannya itu mengenai tubuh musuhnya tersebut. "Kenapa kau selalu menghindari seranganku? Apa kau tidak bisa melawanku, bocah?" ujarnya dengan frustasi. Jenderal Hei Luo menyadari jika tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadapi Ye Tian, sebab energi qi-nya sudah terkuras banyak. Bahkan ia mulai merasakan efek samping dari teknik terlarang yang digunakannya untuk melakukan transformasi iblis darah. Walaupun kekuatannya meningkat drastis, tapi dirinya kesulitan menghadapi musuh di depannya itu. Ye Tian hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Jenderal Hei Luo. "Kau saja yang terlalu lemah, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan energiku melawanmu," jawab Ye Tian dengan nada meremehkan. "Aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan satu serangan." Ye Tian kemudian menyemburkan api putih d
Ye Tian mulai memfokuskan seluruh energinya. Sebuah aura keemasan muncul di sekeliling tubuhnya, memancarkan kekuatan dan simbol-simbol kuno mengelilingi tubuhnya. "Kalau begitu, akan ku tunjukkan kekuatan yang sebenarnya," ucap Ye Tian dengan serius. Ye Tian mengaktifkan teknik transformasi Dewa Naga. Tubuhnya mulai berubah, kulitnya ditutupi sisik emas, dan sepasang sayap muncul dari punggungnya. Roarrrrr!!! Raungan naga yang dahsyat mengguncang seluruh area pertempuran. Kekuatan Ye Tian meningkat secara drastis, melampaui batas kemampuannya sebelumnya. "Apa... apa itu?!" Jenderal Yan Guo terkejut melihat transformasi Ye Tian. "Kekuatan macam apa itu?! mustahil? bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sekuat ini?" Jenderal Hei Luo juga merasakan kekuatan yang luar biasa dari Ye Tian. Dia tahu bahwa dia tidak bisa meremehkan lawannya lagi. "Aku akan menghancurkanmu! Meski kau berubah wujud menjadi naga kau tidak bisa mengalahkanku, Ye Tian," teriak Jenderal Hei Luo denga
Tak berselang lama, Jenderal Lang Wu, Komandan Lang Shen Tong beserta empat ratus prajurit mendarat tidak jauh dari desa di mana Dua jenderal iblis dan pasukannya berada. Namun keberadaan mereka sudah diketahui dan langsung dikepung dari segala sisi. "Hahaha! Kalian benar-benar bodoh!" Jenderal Hei Luo tertawa terbahak-bahak. "Berani-beraninya kalian masuk ke dalam perangkap kami!" Jenderal Lang Wu tetap tenang. "Kami tidak pernah berniat untuk bersembunyi," jawabnya dengan nada dingin. "Kami datang untuk menghancurkan kalian." "Sombong sekali!" Jenderal Yan Guo maju selangkah. "Kalian pikir bisa mengalahkan kami hanya dengan empat ratus orang? Kalian akan mati di sini!" Jenderal Lang Wu menyeringai. "Kita lihat saja nanti siapakah yang akan mati." tidak jauh dari tempat itu, Yinshen maupun Ming Liu menggerakkan kedua tangan dengan cepat membentuk segel formasi pengurung dari sisi yang berbeda. Cahaya keemasan membentuk sebuah jaring raksasa mengelilingi area pertempuran. M
Menjelang sore, Ye Tian bersama rombongannya sampai di kawasan luar Pegunungan Ansha dan mendarat di tempat Jenderal Lang Wu beserta pasukannya berada. "Selamat datang, Tuan Muda," ucap Jenderal Lang Wu. Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, serta para pasukan turut menyambut kedatangan Ye Tian dan rombongannya dengan penuh hormat. Ye Tian mengangguk pelan sambil tersenyum hangat. Ia bisa merasakan bahwa kultivasi kedua jenderal, para komandan, maupun seribu pasukan Raja Lang Xuan telah mengalami peningkatan. Mereka kini berada di ranah Raja dan Kaisar tingkat awal hingga tingkat puncak. "Selamat atas kenaikan tingkat kultivasi Jenderal Lang Wu, Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, dan para prajurit," ucap Ye Tian dengan senyum puas. "Dengan begini kita bisa menghadapi musuh dan meminimalisir jatuhnya korban di pihak kita. Namun, pertempuran kali ini tidaklah mudah. Pihak musuh pasti telah menyiapkan strategi untuk menghad
Sepeninggalan Ye Tian dan Shen Long, Jenderal Gong Da menoleh ke arah Gong Jun yang terkapar. "Bawa dia ke ruang tahanan," perintahnya dingin. Dua prajurit segera bergerak, dan menyeret Jenderal Gong Jun menjauh dari halaman istana. Dua prajurit segera bergerak, menyeret tubuh Gong Jun yang tak lagi berdaya. Jeritannya memecah halaman istana yang mulai sunyi, lalu perlahan melemah, hingga akhirnya hanya tersisa erangan tertahan. Puluhan prajurit menunduk, enggan menatapnya terlalu lama. Sosok yang dahulu mereka hormati sebagai jenderal kini tak lebih dari seorang tahanan tanpa kultivasi, tanpa kekuatan, dan tanpa masa depan. Jenderal Gong Da memejamkan mata sesaat. Saat membukanya kembali, sorot matanya tajam dan tidak ada lagi keraguan sedikitpun. "Perketat penjagaan istana," perintahnya pada para komandan. "Mulai hari ini, tidak boleh ada satu pun celah. Kota Nanlin tidak akan jatuh karena pengkhianatan dari dalam." "Baik, Jenderal!" jawab para prajurit serempak. Wa
Namun sorot mata Jenderal Gong Jun penuh kebencian dan kemarahan pada Ye Tian. Baginya, pemuda di hadapannya itu tidak lebih dari orang luar yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan. Seseorang yang tidak berhak mencampuri urusan kekuasaan kota Nanlin. Ia mengeratkan genggaman pada pedangnya. Meski tangannya masih bergetar, Gong Jun memaksa dirinya berdiri tegak. "Tch!" Ia mendengus kasar, menatap Ye Tian dengan tajam. "Orang luar sepertimu tidak seharusnya ikut campur urusanku." Aura pendekar Kaisarnya mencoba menahan aura pendindasan milik Ye Tian. "Jangan pikir hanya karena kau punya sedikit kemampuan, kau bisa melawanku," lanjutnya dingin. "Aku tidak butuh persetujuanmu… dan bagiku kau hanya pemuda lemah yang mudah untuk aku kalahkan." Mendengar perkataan Jenderal Gong Jun Ye Tian hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Jika demikian buktikan ucapanmu itu. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu." Senyum tipis di wajahnya memudar, berganti ketenangan yang d







