Masuk“Locianpwe… aku berhasil!”
Suara Shu Jin menggema di antara tugu-tugu batu raksasa itu. Napasnya masih terengah, namun sorot matanya memancarkan cahaya baru—cahaya seseorang yang baru saja kembali dari kematian.Tugu nisan Kaisar Pedang Abadi yang menjulang tinggi memancarkan kilatan cahaya api. Dari dalamnya, suara yang dalam dan menggetarkan kembali terdengar.
“HA-HA-HA! Aku tidak salah menilaimu, anak muda!”
Suara Luo Fei terdengar bukan sekadar puas, tapi bangga—sebuah kebanggaan yang jarang dimiliki seorang kaisar pedang abadi. “Kau benar-benar jenius pedang yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun. Sebagai hadiah… Pedang Dewa Ilahi itu akan menjadi pedangmu mulai sekarang!”Cahaya kehijauan dari pedang di tangan Shu Jin berdenyut, seakan menyambut pemiliknya yang baru.
“Kau bisa memanggil pedang itu kapan saja,” lanjut Luo Fei. “Ketika pedang itu kau arahkan ke langit… kau bisa kembali ke Makam Dewa Pedang dan meneruskan pelajaranmu. Aku akan menurunkan Jurus Pedang Naga Semesta secara langsung tapi bukan sekarang... tubuhku masih belum sempurna untuk bisa mengajarimu ilmu pedang.”
Shu Jin tercengang.
“Jadi… aku bisa kembali ke sini kapan pun?”“Benar,” jawab Luo Fei. “Bukan hanya itu saja. Di makam ini, masih banyak tugu nisan para Dewa Pedang lainnya. Jika salah satunya aktif… kau bisa mempelajari ilmu pedang legendaris mereka. Bahkan, jika keberuntunganmu besar—kau bisa mendapatkan pedang sakti peninggalan mereka.”
Mata Shu Jin melebar.
Tempat ini bukan hanya makam—ini adalah perpustakaan kekuatan yang tak ternilai. Harta karun yang ia temukan saat diambang kematian.Namun ada satu hal yang lebih penting.
“Locianpwe… apa aku bisa kembali ke dunia luar sekarang?”
Ada jeda sesaat sebelum suara Kaisar Pedang Abadi kembali menggelegar.
“Kau boleh kembali. Tapi ingat satu hal.”Nada suaranya berubah, lebih serius dari sebelumnya.
“Kau… belum boleh menuntut balas atas dendammu terhadap orang-orang yang menghabisi keluargamu.”
Shu Jin menggeretakkan gigi. “Kenapa?”
“Aku sudah mengatakannya,” jawab Luo Fei dengan tekanan. “Tiga istri yang dulu menemaniku adalah wanita-wanita terlarang dari tiga sekte yang berbeda. Jika kau tidak bisa menaklukkan wanita ahli racun, tabib iblis, dan pewaris jurus sensual… jangan berharap kau bisa menguasai ilmu pedang tertinggi. Kau juga akan mati saat mencoba membalaskan dendammu sekarang!”
Shu Jin mengepalkan pedang di tangannya. Tiga wanita… tiga sekte terlarang…
Tantangan itu terasa seperti jurang lain yang harus ia turuni.“Untuk menyempurnakan rencanamu,” lanjut Luo Fei, “aku akan memberimu Topeng Artefak.”
Sebuah benda hitam berkilau keluar dari dalam tugu—melayang perlahan dan berhenti tepat di depan wajah Shu Jin. Permukaannya licin seperti kaca, namun aura misterius berdenyut dari dalamnya.
“Wajahmu yang lama… sebaiknya mati untuk sementara,” kata Luo Fei. “Dengan topeng ini, tidak akan ada seorang pun bisa mengenalimu. Gunakan identitas baru sampai saat kau layak berdiri sebagai pendekar pedang sejati.”
Shu Jin mengangguk tanpa ragu.
“Baik, Locianpwe.”Ia meraih topeng itu dan menempelkannya ke wajah.
Detik itu juga, topeng itu meresap dan menyesuaikan diri—melekat sempurna seperti kulit kedua. Ia bisa merasakan wajahnya berubah… bahkan struktur tulangnya terasa sedikit berbeda.Luo Fei melanjutkan, “Aku juga memberimu Kitab Pedang Dewa Ilahi. Di dalamnya terdapat dasar-dasar pedang yang akan membangun fondasi barumu. Pelajari semuanya. Kau boleh kembali ke sini setelah tiga bulan untuk menerima jurus baru langsung dariku.”
Sebuah kitab tipis namun bercahaya muncul dan jatuh ke tangan Shu Jin. Begitu jari-jarinya menyentuh sampulnya, ia bisa merasakan energi pedang mengalir ke meridiannya.
“Jika ada tugu nisan dewa pedang lain yang aktif,” lanjut Luo Fei, “kau akan merasakannya di dalam hatimu. Kembalilah ke sini saat itu terjadi. Sekarang… aku akan kembali beristirahat.”
Sinar pada tugu besar itu meredup perlahan… hingga kembali menjadi batu yang diam.
Makam Dewa Pedang itu kembali hening.
*****
Ketika Shu Jin membuka mata, ia terbaring di halaman keluarga Shu—tempat tragedi yang menelan seluruh keluarganya. Embun pagi menyelimuti tanah. Bau debu dan darah yang sudah mengering menyentuh hidungnya.
Semua itu terasa seperti mimpi.
Namun saat ia menyentuh wajahnya…Topeng artefak itu masih ada.
Ia bangkit perlahan, menggerakkan kakinya—dan tersentak.
Tubuhnya terasa ringan.
Kakinya… kembali normal. Energi Qi mengalir di tubuhnya dengan sempurna mengisi merediannya.Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan baru yang hampir meledak dari dalam dirinya.
“Aku kembali…” bisiknya.
“Aku benar-benar kembali.”Ia menatap jauh ke arah timur—ke dunia luas yang menunggu, ke takdir baru yang memanggil.
Raut wajahnya yang tersembunyi di balik topeng berubah dingin.
“Pertama…” katanya dengan suara rendah dan mantap.
“Aku akan mencari wanita ahli racun itu.”Perjalanan panjangnya sebagai pemburu kekuatan dan pembalas dendam… baru saja dimulai.
Beberapa tarikan napas berlalu.Tidak ada lagi ledakan. Tidak ada lagi benturan pedang yang memekakkan telinga.Namun gema pertarungan barusan masih tertinggal—bukan di udara, melainkan di dalam tulang. Getarannya halus, seperti sisa gempa yang belum sepenuhnya reda.Debu yang sebelumnya menelan langit kini mulai turun perlahan.Butiran halus melayang malas di udara, berkilau diterpa cahaya merah keemasan yang tersisa dari langit retak di atas lembah. Retakan itu membentang panjang seperti luka pada cakrawala, memancarkan cahaya samar yang membuat dunia tampak asing… seolah realitas baru saja dipaksa bertahan hidup.Di pusat kehancuran—sebuah kawah raksasa terbentang.Tanahnya meleleh, batuan menghitam, dan retakan bercabang menyebar ke segala arah seperti bekas hantaman bintang jatuh.Dan di tengah kawah itu…Rong Hai berlutut.Tubuhnya condong ke depan, napasnya berat dan tidak teratur. Jubah hitamnya telah hancur—kainnya robek, hangus, sebagian bahkan berubah menjadi abu yang tertiu
Shu Jin mengangkat pedangnya.Gerakannya tenang.Tanpa tergesa-gesa.Setiap inci bilah yang terangkat membuat matahari mini itu berdetak semakin keras.Suara Shu Jin terdengar.Tidak keras.Tidak menggema liar.Namun, ketika ia berbicara, ruang di sekitarnya seolah mendengarkan.“Ilmu Pedang Abadi Semesta…”Kata-katanya jatuh seperti hukum langit yang ditetapkan sejak awal penciptaan.Energi lima elemen bergetar.Api menyala lebih terang.Petir mengaum, menyambar dari langit ke bilah pedang.Angin berputar semakin cepat, membentuk pusaran transparan yang memotong debu di udara menjadi serpihan halus.Es membeku hingga tanah berderak keras.Racun merayap, menyusup, melingkupi cahaya tanpa memadamkannya.Semua menyatu.Tidak lagi lima.Tidak lagi terpisah.Melainkan satu kehendak.Satu tujuan.“Pedang Matahari Pencipta Langit!”Dan Shu Jin mengayunkan pedangnya ke bawah.Satu tebasan.Namun saat bilah itu bergerak... dunia meledak dalam cahaya.Matahari mini di ujung pedang meledak ke de
Waktu seakan berhenti berputar.Awan yang terbelah antara terang dan gelap membeku di tempatnya. Angin yang sebelumnya mengamuk kini lenyap tanpa jejak. Debu yang beterbangan menggantung di udara—tak jatuh, tak bergerak—seakan takut menyentuh medan kekuatan yang sedang mengental di tengah markas Sekte Pedang Dewa.Di antara reruntuhan aula dan tanah yang terbelah panjang, Shu Jin dan Rong Hai berdiri saling berhadapan.Jarak mereka hanya beberapa puluh langkah.Namun ruang di antara keduanya terasa seperti jurang tak terlihat, seperti dua dunia yang dipaksa saling menekan hingga retak.Aura mereka saling bertubrukan, menciptakan riak halus di udara. Batu-batu kecil di tanah bergetar, lalu hancur menjadi serpihan halus sebelum sempat menggelinding.Di sisi Rong Hai—kegelapan berkumpul.Bukan sekadar bayangan yang mengikuti cahaya.Bukan sekadar qi hitam yang berputar liar.Ia adalah kehampaan.Sesuatu yang tidak memiliki suhu, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki batas... namun menelan
Shu Jin tetap berdiri.Tubuhnya sedikit condong ke depan, jubahnya robek di beberapa bagian, rambutnya terhempas angin energi yang masih bergolak. Dari sudut bibirnya, darah merah gelap menetes perlahan, jatuh ke tanah yang sudah retak dan hangus.Namun, kakinya tidak bergeser setengah inci pun.Tatapannya lurus.Tak goyah.Ia mengangkat tangan dan menyeka darah itu dengan ibu jarinya. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada kepanikan.Hanya keteguhan yang mengeras seperti baja ditempa ribuan kali.Perlahan...Ia menutup mata.Di tengah gemuruh aura yang saling menekan, napasnya justru menjadi tenang. Dalam dan teratur. Seolah dunia di sekitarnya bukan medan perang, melainkan ruang meditasi sunyi.Pedang di tangannya bergerak perlahan.Bukan untuk menyerang.Bukan untuk menangkis.Namun, seperti menggambar sesuatu di udara.Kabut tipis mulai merembes dari bilahnya.Awalnya hanya helai samar, seperti embusan napas di pagi hari. Namun, dalam hitungan detik, ia menebal, berputar, dan meny
Senyum tipis terukir di wajah Rong Hai.Dingin dan tipis, namun penuh keyakinan seorang pemburu yang akhirnya menemukan mangsa yang layak.“Kau berkembang jauh lebih cepat dari yang kuduga.”Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata seperti jatuh langsung ke dasar jiwa.Angin di markas Sekte Pedang Dewa berhenti berembus.Debu yang masih melayang di udara tiba-tiba terasa berat.Rong Hai perlahan mengangkat Pedang Kegelapan Abadi tinggi ke atas kepalanya.Begitu bilah itu terangkat, langit di atas mereka berubah.Bayangan dari segala arah tersedot ke satu titik.Awan kelabu menghitam.Cahaya yang tersisa memudar.Dalam beberapa detik saja, bayangan itu berkumpul dan membentuk lingkaran raksasa di langit—sebuah cincin kegelapan yang berputar perlahan seperti gerbang menuju jurang tanpa dasar.Udara berubah dingin.Namun, bukan dingin biasa.Melainkan dingin yang terasa langsung di tulang.“Jurang Pemakan Jiwa.”Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Rong Hai...Langit bergerak.Dari ling
Langit di atas kompleks Sekte Pedang Dewa terbelah menjadi dua dunia.Separuhnya tenggelam dalam kegelapan pekat—hitam yang begitu dalam hingga tampak seperti jurang tanpa dasar yang menelan cahaya.Separuh lainnya memancarkan merah keemasan, berkilau seperti matahari yang baru lahir dari rahim langit.Dua warna itu tidak menyatu.Mereka saling menolak.Seperti dua jalan dao yang tidak mungkin berjalan berdampingan.Di tengah kehancuran lembah—tanah retak, bangunan sekte runtuh, dan udara masih dipenuhi bau logam panas… dua sosok berdiri saling berhadapan.Shu Jin.Rong Hai.Angin berhenti seketika.Debu yang melayang di udara seperti tertahan oleh kehendak tak kasat mata.Bahkan suara dunia terasa ditarik menjauh.Tidak ada gemuruh.Tidak ada desis api.Hanya ada dua pedang.Dua kehendak.Dua eksistensi yang tidak lagi bisa hidup dalam dunia yang sama.Di kejauhan, Shin Ling menyipitkan mata.“Kenapa aku merasa kalau mereka berdua terus begini… langit bakal minta pindah alamat?”Lian







