Masuk
"Argh!" Shu Jin terbatuk keras, tubuhnya terpental beberapa langkah sebelum jatuh berlutut di tanah berbatu.
Sebuah pukulan yang tak terduga dari kekasihnya, Wu Chao-Xing dengan telak mendarat tepat di perutnya, tepat di bawah pusar—dantian, inti kekuatan spiritual seorang cultivator.
Rasa sakit yang menusuk menjalar dari pusat tubuhnya, membuatnya menggigil. Napasnya memburu, tangannya refleks meraba perutnya, seolah berharap itu hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan lebih kejam dari yang bisa ia bayangkan.
Dantian-nya… hancur.
Mata Shu Jin melebar tak percaya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia mendongak menatap Wu Chao-Xing. "Xing'er… apa yang telah kau lakukan...?"
Namun, gadis yang selama ini ia anggap sebagai belahan jiwanya kini berdiri dengan tatapan yang berbeda.
"Shu Jin!" Wu Chao-Xing mendengus, melipat tangannya dengan ekspresi jijik. "Aku sudah bersabar selama tiga tahun ini hanya demi hari ini!"
Shu Jin terhuyung, matanya masih mencari secercah harapan bahwa ini semua hanya kesalahpahaman. "Bukankah kita akan menjadi suami-istri? Kenapa kau melakukan ini, Xing'er?"
Wu Chao-Xing mencibir. "Suami-istri? Hanya dalam mimpimu, Shu Jin! Aku muak selalu berada di dekatmu dan memanggilmu Jin'ge... Cih!"
Napas Shu Jin tersengal saat rasa hangat yang selama ini menjadi sumber kekuatannya mulai terangkat dari tubuhnya—meninggalkan kehampaan yang membuat tubuhnya gemetar seperti kedinginan.
Cahaya hitam itu akhirnya memadat menjadi sebuah bola kecil—Mutiara Hitam. Ia melayang pelan dari dada Shu Jin, berpendar dengan aura mencekam yang membuat udara di sekitarnya menjadi dingin dan berat.
Shu Jin hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat mutiara itu melayang menuju tangan Wu Chao-Xing.
Wu Chao-Xing menyambut mutiara itu dengan senyum yang tak lagi menyembunyikan niat busuknya.
"Ah, akhirnya...!" gumamnya dengan mata yang berkilat kegirangan.
Kemudian, tawanya meledak, menggema di antara rerimbunan pohon persik yang kini kehilangan keindahannya.
"Begitu bodohnya kau, Shu Jin!" serunya dengan nada mengejek yang menusuk lebih tajam dari pedang. "Selama ini kau menelan pil mutiara yang aku berikan dengan senyum polos. Tidak pernahkah kau curiga? Pil-pil itu bukan untuk memperkuat tubuhmu, melainkan untuk menyedot perlahan-lahan energi spiritualmu—hingga Kristal Mutiara Hitam dalam tubuhmu cukup matang!"
Mata Shu Jin bergetar. "Apa... maksudmu...?" bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Wu Chao-Xing melangkah mendekat, dengan aura angkuh yang membungkus seluruh tubuhnya. "Kau warisan terakhir dari garis keturunan Pedang Spiritual, Shu Jin. Darahmu... kekuatanmu... semua itu terkunci di dalam Kristal Mutiara Hitam sejak kau dilahirkan. Tapi sekarang... semuanya telah menjadi milikku."
Ia mengangkat Mutiara Hitam tinggi ke langit. "Dengan ini, aku akan menjadi Ahli Pedang Sejati! Tak seorang pun bisa mengalahkanku lagi! Tapi kau..." Ia menunduk, menatap Shu Jin dengan pandangan merendahkan, "...kau hanyalah sampah yang sudah tak bisa berkultivasi."
Shu Jin jatuh berlutut. Napasnya pendek-pendek. Dantian-nya terasa hampa, seperti sumur yang dikuras hingga kering. Tapi kehampaan itu tak sebanding dengan yang ia rasakan di dalam hatinya.
Pengkhianatan.
"Aku... percaya padamu..." suara Shu Jin pecah, lirih dan putus asa. "Mengapa... mengapa kau melakukan ini?"
Wu Chao-Xing mendekat, membungkuk sedikit, lalu berbisik di telinganya.
"Karena cinta dan kepercayaan adalah kelemahanmu, Shu Jin. Asal kau tahu... aku tidak pernah mencintaimu."
Kemudian ia membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah penuh kemenangan, membawa Mutiara Hitam dalam genggamannya—sementara Shu Jin tetap berlutut di tengah bayangan senja yang menyesakkan, terbungkus kesedihan yang tak dapat disembuhkan.
Namun tiba-tiba—suatu dorongan muncul. Bukan dari dantian, bukan dari kekuatan spiritual yang telah hilang, tetapi dari sisa-sisa harga diri yang tercabik.
“BERHENTI!”
Mata Shu Jin melebar penuh tekad, dan ia mencoba berdiri, menggertakkan giginya walau tubuhnya bergetar hebat.“Kenapa... kenapa aku...” gumamnya lemah, matanya berkedip cepat menahan pusing yang tiba-tiba menghantam kepalanya.
Wu Chao-Xing berhenti melangkah, lalu tertawa rendah, penuh sinisme. Ia menoleh sedikit, bibirnya melengkung membentuk senyum licik.
“Dasar bodoh! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu tetap bisa mengejarku? Aku sudah mencampurkan Pil Pelemas Tulang dalam makananmu semalam… Hahaha! Kau sungguh mudah ditipu. Bahkan lupa kalau aku ini adalah alkemis tingkat tinggi.”
Kata-kata itu menggema, bergulir dalam benak Shu Jin seperti mantra jahat. Tangannya bergetar, mengepal tanah dan bunga persik yang berserakan.
“Kau... iblis betina...” gumamnya, kini nada suaranya berubah. “Kau telah menipuku... mempermainkan hatiku, tubuhku, kekuatanku... Aku bersumpah, akan kubalas semua perlakuanmu... seribu kali lipat!”
Namun Wu Chao-Xing hanya mencibir.
“Masih bisa menggertak rupanya. Menyedihkan. Sudahlah, Shu Jin… kau beruntung aku tidak membunuhmu di tempat ini. Sekarang, kau hanyalah manusia biasa yang tak berguna. Terimalah nasibmu… hahaha!”
Tawa itu bergema seperti gendang kematian. Shu Jin mengerang, mencoba menahan rasa sakit yang menyerbu sekujur tubuhnya. Namun kenyataan lebih kejam dari luka fisik.
“Kau… Uhuk—!”
Tiba-tiba darah segar menyembur dari mulutnya. Shu Jin terkapar tak sadarkan diri, bukan karena lukanya tapi karena sakit hatinya yang tak tertahankan.*****
"Siapa yang membawaku pulang?" tanya Shu Jin saat dirinya tersadar kembali.
Lian Hua, pelayannya menunduk sedikit, lalu menjawab dengan lembut, "Nona Wu, Tuan Muda. Ia yang membawa Anda kembali ke kediaman Shu dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia bilang… Tuan Muda terjatuh dari tebing saat sedang berlatih di Pegunungan Xijing. Tapi tenang saja... tabib sudah memeriksa tubuh Anda. Tidak ada luka dalam yang serius, hanya kehilangan kesadaran akibat kelelahan."
Alis Shu Jin mengernyit. Matanya yang masih sedikit redup kini bersinar tajam. "Tabib? Tabib dari keluarga mana?"
"Tabib dari Keluarga Wu, Tuan Muda…" Lian Hua menjawab dengan hati-hati. "Nona Wu sendiri yang memanggilnya. Ia tampak sangat cemas... wajahnya pucat, hampir menangis saat membawa Anda pulang. Ia bahkan bersikeras menggunakan tabib terbaik dari keluarganya untuk memastikan Anda segera pulih."
“Sudah aku duga…” gumamnya pelan namun tajam seperti bilah pedang. “Iblis betina itu sedang mencoba menutupi jejak busuknya.”
Kepala Shu Jin masih berdenyut, pikirannya buram, tetapi kesadarannya mulai menajam. Kenangan tentang Wu Chao-Xing, tentang pengkhianatan. Namun di balik semua itu, satu hal lain muncul dengan mendesak.
Mata Shu Jin terbuka lebar. "Lian Hua... aku sudah pingsan berapa lama?"
Pelayan itu menundukkan kepala, suaranya kecil. "Sudah lima hari, Tuan Muda..."
“Lima hari?” Shu Jin membenamkan punggungnya ke bantal dengan ekspresi tegang. “Bagaimana dengan... Seleksi Penerimaan Murid dari Sekte Pedang Surgawi? Bukankah… minggu ini?”
“Mengenai seleksi itu...” kata Lian Hua ragu-ragu.
Shu Jin menoleh cepat. “Apa yang telah terjadi, Lian Hua?”
Lian Hua akhirnya membuka mulut. “Nona Wu datang ke hari seleksi dan… ia berbicara langsung dengan Tuan Besar. Ia memohon agar Tuan Muda tetap diizinkan mengikuti seleksi... katanya, ia memiliki pil spiritual dari Keluarga Wu yang dapat membangunkan Anda... untuk sementara waktu.”
Shu Jin menahan napas. Wajahnya terperangah. “Apa maksudmu… aku mengikuti seleksi… dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya?!”
Lian Hua mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Ya… Nona Wu mengklaim bahwa pil itu cukup kuat untuk memulihkan kesadaran Anda selama beberapa jam. Ia tampak begitu yakin… dan Tuan Besar akhirnya menyetujuinya.”
Napas Shu Jin terengah. Antara syok dan bingung, emosinya teraduk-aduk. Ia mencoba mengingat, tapi otaknya seperti tertutup kabut tebal.
"Apa... yang terjadi di seleksi itu? Apakah aku... berhasil lolos?" tanyanya nyaris dengan nada memohon, penuh harap dan ketegangan yang menumpuk di dadanya.
Lian Hua menggigit bibir bawahnya. Ia tidak langsung menjawab.
"Lian Hua! Tolong, katakan padaku... Apa aku lolos?!"
Mata Shu Jin menatap kosong langit-langit kayu di atasnya, tapi pikirannya berkecamuk hebat.
Seorang pelayan laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun masuk dengan langkah tergesa-gesa. Nafasnya terengah, dan wajahnya... pucat seperti telah melihat kematian.
“Tuan Muda!” serunya dengan suara gemetar. “Sesuatu yang buruk… sangat buruk telah terjadi!”
Beberapa tarikan napas berlalu.Tidak ada lagi ledakan. Tidak ada lagi benturan pedang yang memekakkan telinga.Namun gema pertarungan barusan masih tertinggal—bukan di udara, melainkan di dalam tulang. Getarannya halus, seperti sisa gempa yang belum sepenuhnya reda.Debu yang sebelumnya menelan langit kini mulai turun perlahan.Butiran halus melayang malas di udara, berkilau diterpa cahaya merah keemasan yang tersisa dari langit retak di atas lembah. Retakan itu membentang panjang seperti luka pada cakrawala, memancarkan cahaya samar yang membuat dunia tampak asing… seolah realitas baru saja dipaksa bertahan hidup.Di pusat kehancuran—sebuah kawah raksasa terbentang.Tanahnya meleleh, batuan menghitam, dan retakan bercabang menyebar ke segala arah seperti bekas hantaman bintang jatuh.Dan di tengah kawah itu…Rong Hai berlutut.Tubuhnya condong ke depan, napasnya berat dan tidak teratur. Jubah hitamnya telah hancur—kainnya robek, hangus, sebagian bahkan berubah menjadi abu yang tertiu
Shu Jin mengangkat pedangnya.Gerakannya tenang.Tanpa tergesa-gesa.Setiap inci bilah yang terangkat membuat matahari mini itu berdetak semakin keras.Suara Shu Jin terdengar.Tidak keras.Tidak menggema liar.Namun, ketika ia berbicara, ruang di sekitarnya seolah mendengarkan.“Ilmu Pedang Abadi Semesta…”Kata-katanya jatuh seperti hukum langit yang ditetapkan sejak awal penciptaan.Energi lima elemen bergetar.Api menyala lebih terang.Petir mengaum, menyambar dari langit ke bilah pedang.Angin berputar semakin cepat, membentuk pusaran transparan yang memotong debu di udara menjadi serpihan halus.Es membeku hingga tanah berderak keras.Racun merayap, menyusup, melingkupi cahaya tanpa memadamkannya.Semua menyatu.Tidak lagi lima.Tidak lagi terpisah.Melainkan satu kehendak.Satu tujuan.“Pedang Matahari Pencipta Langit!”Dan Shu Jin mengayunkan pedangnya ke bawah.Satu tebasan.Namun saat bilah itu bergerak... dunia meledak dalam cahaya.Matahari mini di ujung pedang meledak ke de
Waktu seakan berhenti berputar.Awan yang terbelah antara terang dan gelap membeku di tempatnya. Angin yang sebelumnya mengamuk kini lenyap tanpa jejak. Debu yang beterbangan menggantung di udara—tak jatuh, tak bergerak—seakan takut menyentuh medan kekuatan yang sedang mengental di tengah markas Sekte Pedang Dewa.Di antara reruntuhan aula dan tanah yang terbelah panjang, Shu Jin dan Rong Hai berdiri saling berhadapan.Jarak mereka hanya beberapa puluh langkah.Namun ruang di antara keduanya terasa seperti jurang tak terlihat, seperti dua dunia yang dipaksa saling menekan hingga retak.Aura mereka saling bertubrukan, menciptakan riak halus di udara. Batu-batu kecil di tanah bergetar, lalu hancur menjadi serpihan halus sebelum sempat menggelinding.Di sisi Rong Hai—kegelapan berkumpul.Bukan sekadar bayangan yang mengikuti cahaya.Bukan sekadar qi hitam yang berputar liar.Ia adalah kehampaan.Sesuatu yang tidak memiliki suhu, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki batas... namun menelan
Shu Jin tetap berdiri.Tubuhnya sedikit condong ke depan, jubahnya robek di beberapa bagian, rambutnya terhempas angin energi yang masih bergolak. Dari sudut bibirnya, darah merah gelap menetes perlahan, jatuh ke tanah yang sudah retak dan hangus.Namun, kakinya tidak bergeser setengah inci pun.Tatapannya lurus.Tak goyah.Ia mengangkat tangan dan menyeka darah itu dengan ibu jarinya. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada kepanikan.Hanya keteguhan yang mengeras seperti baja ditempa ribuan kali.Perlahan...Ia menutup mata.Di tengah gemuruh aura yang saling menekan, napasnya justru menjadi tenang. Dalam dan teratur. Seolah dunia di sekitarnya bukan medan perang, melainkan ruang meditasi sunyi.Pedang di tangannya bergerak perlahan.Bukan untuk menyerang.Bukan untuk menangkis.Namun, seperti menggambar sesuatu di udara.Kabut tipis mulai merembes dari bilahnya.Awalnya hanya helai samar, seperti embusan napas di pagi hari. Namun, dalam hitungan detik, ia menebal, berputar, dan meny
Senyum tipis terukir di wajah Rong Hai.Dingin dan tipis, namun penuh keyakinan seorang pemburu yang akhirnya menemukan mangsa yang layak.“Kau berkembang jauh lebih cepat dari yang kuduga.”Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata seperti jatuh langsung ke dasar jiwa.Angin di markas Sekte Pedang Dewa berhenti berembus.Debu yang masih melayang di udara tiba-tiba terasa berat.Rong Hai perlahan mengangkat Pedang Kegelapan Abadi tinggi ke atas kepalanya.Begitu bilah itu terangkat, langit di atas mereka berubah.Bayangan dari segala arah tersedot ke satu titik.Awan kelabu menghitam.Cahaya yang tersisa memudar.Dalam beberapa detik saja, bayangan itu berkumpul dan membentuk lingkaran raksasa di langit—sebuah cincin kegelapan yang berputar perlahan seperti gerbang menuju jurang tanpa dasar.Udara berubah dingin.Namun, bukan dingin biasa.Melainkan dingin yang terasa langsung di tulang.“Jurang Pemakan Jiwa.”Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Rong Hai...Langit bergerak.Dari ling
Langit di atas kompleks Sekte Pedang Dewa terbelah menjadi dua dunia.Separuhnya tenggelam dalam kegelapan pekat—hitam yang begitu dalam hingga tampak seperti jurang tanpa dasar yang menelan cahaya.Separuh lainnya memancarkan merah keemasan, berkilau seperti matahari yang baru lahir dari rahim langit.Dua warna itu tidak menyatu.Mereka saling menolak.Seperti dua jalan dao yang tidak mungkin berjalan berdampingan.Di tengah kehancuran lembah—tanah retak, bangunan sekte runtuh, dan udara masih dipenuhi bau logam panas… dua sosok berdiri saling berhadapan.Shu Jin.Rong Hai.Angin berhenti seketika.Debu yang melayang di udara seperti tertahan oleh kehendak tak kasat mata.Bahkan suara dunia terasa ditarik menjauh.Tidak ada gemuruh.Tidak ada desis api.Hanya ada dua pedang.Dua kehendak.Dua eksistensi yang tidak lagi bisa hidup dalam dunia yang sama.Di kejauhan, Shin Ling menyipitkan mata.“Kenapa aku merasa kalau mereka berdua terus begini… langit bakal minta pindah alamat?”Lian







