LOGINBab Utama : 30/64. Mohon maaf.. author tiba-tiba kurang sehat sehingga update sedikit terhambat. Terima kasih.
Badai gurun mengamuk tanpa ampun.Pasir menghantam wajah Qing Jian seperti ribuan jarum panas. Angin bergemuruh di telinganya, menelan jejak langkah, menutup arah, seolah ingin menelan manusia yang berani menantang wilayah kematian ini. Jubahnya berkibar liar, berat oleh pasir dan darah, namun langkahnya tak melambat.Di dalam pelukannya, tubuh Aylin Qara semakin panas.Panas yang tidak wajar.Bukan demam biasa—melainkan tekanan qi beracun yang mengamuk dari dalam, memaksa darah spiritualnya mendidih, menggerogoti meridian satu per satu.“Bertahanlah…” gumam Qing Jian, napasnya terengah. “Sedikit lagi.”Akhirnya—di balik dinding pasir yang berputar—ia melihatnya.Sebuah mulut gua sempit, tersembunyi di antara batu hitam gurun, cukup dalam untuk mematahkan terjangan angin. Qing Jian menerobos masuk, tubuhnya langsung dihantam keheningan mendadak. Badai meraung di luar, tapi di dalam gua hanya ada suara napas berat dan detak jantung yang tak beraturan.Ia menurunkan Aylin perlahan.Begit
Angin di Aula Pengadilan Dalam mengamuk liar, meraung seperti makhluk hidup yang sedang disayat dari dalam. Setiap hembusannya membawa tekanan berat yang menekan dada, membuat napas terasa pendek. Formasi Angin Gobi-Pay berputar semakin cepat, lingkaran-lingkaran qi hijau pucat saling bertabrakan, memercikkan cahaya dingin yang menari di udara seperti serpihan kaca.Dinding-dinding angin itu bergesekan, menimbulkan suara desiran.Di belakang Qing Jian, tubuh Aylin Qara terbaring lemah. Lapisan qi pelindung yang membungkusnya bergetar tanpa henti, tipis dan rapuh seperti selaput es yang siap pecah kapan saja. Dari balik kulitnya, darah spiritual mengamuk, panas dan liar, mengalir tak beraturan seakan mencari jalan keluar dari tubuh yang sudah tak sanggup menahannya.Qing Jian berdiri di depannya—tegak, tenang, namun tajam seperti bilah yang belum ditarik sepenuhnya.Guo Xiang menghadangnya.Pedang Naga Langit terangkat di tangannya, memancarkan aura berat yang mengalir ke lantai batu. T
Seruan itu meledak di udara seperti tebasan pedang yang memecah keheningan.“Gawat!”Wajah Qing Jian—yang sejak awal tetap dingin dan terkendali—berubah seketika. Warna darah surut dari pipinya, menyisakan pucat yang mencolok. Pandangannya terkunci pada tubuh Aylin yang melayang di tengah kepompong angin berlapis formasi. Urat-urat di lehernya menegang, dadanya naik-turun tak beraturan seolah udara di aula mendadak menjadi terlalu tipis untuk dihirup.“Pil Hati Racun tidak akan menarik Racun Patah Hati,” katanya cepat, suara rendahnya bergetar menahan urgensi. “Justru sebaliknya—pil itu menjadi pemicu. Racun di dalam tubuh Iblis Gurun sedang mengamuk.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dada Guo Xiang.“Tidak masuk akal,” sanggahnya, nada suaranya tertahan namun sarat tekanan. “Setan Racun Neraka sendiri yang mengatakan Pil Hati Racun adalah penawar Racun Patah Hati.”Qing Jian menoleh perlahan.Tatapan itu tajam.“Hue-Tok-Kui menjebaknya,” katanya dingin. “Dan dia juga menjeba
Pil itu telah melewati tenggorokan Aylin.Namun dunia tidak berubah.Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada gelombang Qi yang meledak memecah udara. Tidak ada luka yang menutup atau napas yang tiba-tiba stabil. Aula Pengadilan Dalam tetap sama—dipenuhi debu halus yang melayang, batu-batu retak yang menganga seperti luka lama, dan aroma darah yang masih hangat, belum sempat mengering.Keajaiban tidak datang.Namun, yang berubah… hanyalah Aylin.Tubuhnya tersentak tiba-tiba.Batuk keras meledak dari dadanya, sekali—dua kali—lalu beruntun tanpa jeda, seakan paru-parunya ditarik dari dalam. Tubuhnya terlipat, bahu menghantam lantai batu. Telapak tangannya mencengkeram permukaan dingin itu dengan putus asa, kuku-kukunya menggesek batu, meninggalkan garis-garis tipis.“—UGH!”Darah hitam menyembur dari mulutnya.Bukan merah segar, melainkan pekat dan kental, berbau pahit menusuk hidung. Cairan itu menodai telapak tangannya, menutupi simbol sumpah gurun yang masih samar berpendar—seolah sumpah i
Guo Xiang menutup mata.Bukan untuk menghindar—melainkan untuk mengingat.Kilasan itu datang tanpa permisi... Lembah Racun Selatan. Tanah berlumpur kehijauan. Bau busuk yang menempel di tenggorokan. Tubuh-tubuh kultivator tergeletak membusuk, wajah mereka membeku dalam ekspresi yang bahkan kematian pun enggan menyempurnakan. Jeritan pernah ada di sana... ia tahu... namun racun telah mencabik pita suara sebelum suara sempat keluar.Pil itu lahir dari tempat itu.Bukan sebagai penyelamat. Melainkan sebagai peringatan.Guo Xiang membuka mata perlahan.“Kau ingin menyelamatkan dirimu,” katanya tenang, namun tajam, “atau kau ingin menyeret kami mati bersamamu?”Aylin Qara terdiam.Napasnya tertahan sepersekian detik—cukup lama untuk menunjukkan bahwa ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan kebohongan.Lalu ia berbicara, pelan... tanpa kelicikan dan dramatis yang biasa ditunjukkannya.“Aku ingin kesempatan.”Guo Xiang menatapnya lurus.“Kesempatan apa?”“Untuk memilih,” jawab Aylin. S
Keheningan di Aula Pengadilan Dalam bukan keheningan yang menenangkan. Ia menekan—seperti paru-paru yang dipaksa menahan napas terlalu lama yang membuat dada sesak.Angin berputar tanpa kehendak. Sesaat menderu, sesaat terhenti mendadak, seolah ragu harus memihak siapa. Lentera kristal berayun pelan, memantulkan cahaya terpecah di wajah para tetua yang terpaku, mata mereka tak lepas dari satu titik di tengah reruntuhan.Di sanalah Aylin Qara bersandar pada dinding batu yang retak.Darah mengalir tipis dari bahunya, meresap ke kain hitam yang robek. Napasnya berat, tidak teratur—namun senyum di bibirnya tetap bertahan, keras kepala, seakan menolak runtuh bersama tubuhnya.Beberapa langkah di depannya, Guo Xiang berdiri tegak.Posturnya tenang, punggung lurus, wajah tanpa ekspresi. Namun hanya dia yang tahu—telapak tangannya sedingin es, Qi di dalam tubuhnya berputar lebih cepat dari biasanya.Di sisi lain, Qing Jian tidak menurunkan pedangnya.Ujung bilah itu mengarah lurus ke Aylin.“







