Beranda / Fantasi / Legenda Pendekar Biru / Bab 46 Tarian Pedang Salju

Share

Bab 46 Tarian Pedang Salju

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-30 19:57:12

Baik tumenggung Bayangkara maupun saudagar Kumbala. Keduanya sudah tahu terhadap pergerakan Divisi Bayangan.

Itulah alasan mengapa mereka datang keacara pentas karena ingin menilai langsung sejauh mana kekuatan kelompok tersebut.

Tumenggung bahkan sudah menyiapkan pasukan berniat melenyapkan Linguy beserta kawanannya setelah pentas usai.

Tapi dia tidak menduga bahwa pengunjungnya akan sebanyak ini. Sehingga sang tumenggung terpaksa harus menunda niatnya.

Dia tidak mungkin menunjukan sosok aslinya di depan semua orang. Karena hal tersebut bisa berdampak buruk pada pencitraannya di hadapan raja.

“Kurang ajar! Mangapa acaranya bisa semeriah ini,” umpat sang Tumenggung kesal.

“Ha-hamba juga tidak tahu tuan, sepertinya mereka memang bekerja sama dengan para bangsawan dan saudagar lain,” tutur Kumbala terbata.

“Ini gawat, sepertinya aku harus mempercepat rencana pemberontakan kita, Kumbala,” Tumenggung Bayangkara mengepalkan tangan.

“Hamba setuju tuan,” angguk Kumbala patuh.

Pentas tarian b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
ardneH helaS
luar biasa gaya penulisan yg sederhana tp tdk bertele-tele sehingga ceritanya fokus dan utuh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 209 Pertarungan di sarang Buaya bagian 7

    “Bangsat! Kau licik manusia. Mati kau sekarang!” Raja Angkala begitu sangat geram.Dia kembali menebaskan pedang berniat membawa Lintang mati bersamanyya.Namun tidak semudah itu di mana tanpa putri Widuri, Lintang kini bisa bergerak leluasa.Wush! Trang!Pedang putih dan seruling surga kembali saling berbenturan, BUM! Sebuah ledakan besar mementalkan tubuh keduanya.Tetapi baik Lintang mau pun Raja Angkala, mereka sama-sama kembali maju saling menyerang.Pertarungan berlangsung sengit tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.Puluhan sampai ratusan jurus mereka saling keluarkan dengan niat membunuh yang begitu besar.Namun baik Lintang mau pun Raja Angkala mereka sama-sama bisa bertahan.Sampai 5 menit kemudian, tubuh Raja Angkala mulai mengalami kejang tidak bisa bernapas.Dia jatuh berlutut di atas lantai sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.Sedangkan Lintang masih berdiri memegangi serunglingnya sembari menyeringai lebar.Sekuat apa pun mahluk, mereka tetap akan mengalami

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 208 Pertarungan di sarang Buaya Bagian 6

    “Hahaha, itulah yang kumaksud! Aku terkesan,” raja Angkala tertawa terbahak bahak.Setelah itu, pertarungan sengit pun dimulai. Lintang dan Raja Angkala melesat secara bersamaan.Wush! Trang! Trang! Trang! Bum! Trang! Wush!Keduanya berlesatan bagai dua sinar yang saling beradu, membuat semua mahluk di sana tidak dapat melihat entah seperti apa bentuk serangan mereka.Patih Kora, para panglima, dan semua pasukan buaya hanya mampu menyaksikan dampak dari pertemuan serangannya saja. Sedangkan wujud Lintang dan Raja Angkala serupa sirna tidak terlihat. Goa besar tempat rumah-rumah dan istana kerajaan siluman Bajul terus beguncang tak tertahankan.Batuan runcing stalaktit di atas langit-langit mulai berjatuhan, menghancurkan apa pun yang ada di bawahnya.Sementara istana candi yang begitu besar terus mengalami keretakan, bahkan sampai berkembang menjadi sebuah rekahan.Wush! Trang! Trang! BUMMM!Lintang dan Raja Angkala sama-sama terpundur jauh ke belakang. Begitu juga dengan putri Widur

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 207 Pertarungan di sarang buaya bagian 5

    Siluman Buaya tua sempat terperangah menyaksikan Lintang memiliki energi regenerasi. Dia tidak pernah mendengar ada manusia yang mampu melakukan itu sehingga membuatnya semakin curiga terhadap sosok Lintang.Sementara Raja Angkala menyeringai tipis menyembunyikan rasa senangnya.Selama ribuan tahun bersembunyi di dasar muara, baru kali ini dia mendapatkan lawan yang cukup seimbang.Sudah lama raja Angkala sangat penasaran terhadap dunia luar, dia ingin mencari pendekar hebat yang mampu menghadapinya.Namun sebagai seorang raja, dirinya selalu saja dihalang-halangi oleh siluman buaya tua yang tiada lain adalah adik dari ayahnya.Sekarang secara tidak sengaja, Raja Angkala berhasil menemukan apa yang selama ini didambakannya. Yaitu pertarungan sengit dengan pendekar dari golongan manusia.Raja Angkala tidak menyangka, pendekar muda yang dia temui di hulu sungai saat menculik putri Widuri tersebut ternyata memiliki kesaktian yang luar biasa.Saat ini dia benar-benar sedang sangat senang.

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 206 Pertarungan di sarang Buaya bagian 4

    Saat menjelma menjadi sosok manusia, kekuatan siluman Bajul memang menurun. Tapi gerakan serta serangan mereka bisa menjadi lebih cepat sampai beberapa kali lipat.Namun semua tidak berlaku kepada Raja Angkala, menurun atau tidak, kanuragannya saat ini tetap lebih tinggi dari Lintang. Sementara kecepatan dan serangannya akan sangat merugikan.“Sial!” umpat Lintang.“Ku-kusha?” ucap putri Widuri lembut.“Tidak apa Widuri, kau tenang saja,” ujar Lintang.Energi Lintang saat ini telah banyak berkurang. Sehingga jika pertarungan terus berlanjut panjang, maka tidak menutup kemungkinan dia akan mati di tangan raja Angkala.“Hahaha, apa kau takut manusia?” raja Angkala tertawa terbahak-bahak.“Takut katamu? Hihihi, tidak ada rasa takut di hatiku. Aku sudah merasakan bagaimana rasanya sakit ketika mengalami kematian, dan sekarang tinggal bagianmu, hahaha,” ujar Lintang tidak peduli.“Cih! Dasar pembual! Tidak pernah ada yang mati hidup kembali, kecuali kau adalah ruh gentayangan,” bentak Raja

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 205 Pertarungan di sarang Buaya bagian 3

    Siluman buaya tua sedikit khawatir kepada Raja Angkala, firasatnya merasakan bahwa Lintang tidak sesederhana kelihatannya.Tidak ada pendekar muda dari bangsa manusia yang memiliki kesaktian sehebat itu. Terlebih Lintang tidak memperlihatkan ketakutan seakan dia sudah terbiasa dengan para bangsa siluman.Sang Buaya tua tahu dan mampu mengukur sejauh mana kanuragan Lintang.Jika dibandingkan dengan Raja Angkala, tingkat kependekaran Lintang masih tertinggal jauh beberapa langkah.Namun ketenangan, cara menghindar, keakuratan serangan, serta konsentrasi energi yang Lintang lakukan seperti menggambarkan sebuah kedewasaan seakan dia telah hidup jauh ratusan ribu tahun yang lalu.Tidak ingin rajanya mengalami kekalahan. Diam-diam sang buaya tua mengumpulkan banyak energi di dalam rahangnya.Dia berniat membunuh Lintang di saat pemuda itu lengah, sehingga dengan begitu, upacara kebangkitan sang kesatria maha sakti bisa kembali dijalankan.“Tidak akan kubiarkan, hehehe,” gumam siluman buaya

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 204 Pertarungan di sarang buaya bagian 2

    Putri Widuri tidak percaya dengan apa yang dirinya saksikan. Sedikit pun dia tidak pernah bermimpi akan mengalami nasib buruk seperti ini.“A-apa kita akan mati, Kusha?” tanya sang putri lirih.“Hihihi, mungkin saja. Tapi tidak sekarang,” jawab Lintang tekekeh berusaha menenangkan.“Te-terimakasih,” ucap putri Widuri lemas.“Sama-sama,” Lintang melemparkan senyuman lembut membuat putri Widuri seketika merona menjadi lebih tenang.“Baiklah! Jadi siapa yang akan menghadapiku, kau atau kalian semua?” seru Lintang kemudian.Dia melemparkan pandangan ke arah Raja Angkala dan para pasukannya seperti sedang melayangkan tantangan.“Tapi jika kau takut, maka kalian boleh menghadapiku secara bersamaan, hahaha,” Lintang tertawa terbahak-bahak membuat semua siluman buaya menjadi semakin geram.Wush!Raja Angkala melesat lebih rendah menyeimbangkan ketinggian di hadapan Lintang.“Lancang kau manusia. Kekuatan rendah seperti itu berani menantangku, hahaha! Tapi baiklah! Aku menerima tantanganmu,” r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status