เข้าสู่ระบบBayangan di kejauhan perlahan memperjelas wujudnya, namun bentuk utuhnya tidak langsung terlihat. Semakin Fang Han mendekat, semakin ia yakin bahwa apa yang berdiri di sana bukanlah sosok manusia. Di tengah hamparan putih yang tak bertepi, tanpa jalan yang mengarah ke sana dan tanpa dinding yang menopangnya, berdiri sebuah gerbang yang menjulang sendirian ke dalam kekosongan. Permukaannya tampak polos, tanpa ukiran, tanpa tulisan, tanpa tanda apa pun yang dapat memberikan petunjuk mengenai siapa yang telah membangunnya, kapan gerbang itu berdiri, atau ke mana arah tujuannya. Itu seolah ada sejak awal penciptaan, diam dan tak tergoyahkan di tengah ruang yang terlepas dari segala waktu dan tempat yang Fang Han ketahui.Fang Han berhenti beberapa langkah sebelum mencapai gerbang itu. Ia tidak mengulurkan tangan, tidak juga berusaha menyentuhnya terlebih dahulu. Di tempat yang asing dan penuh ketidakpastian seperti ini, terburu-buru menyentuh sesuatu yang belum dipahami hakikatnya sa
Gambaran putih yang sebelumnya hanya samar di benak Fang Han kini perlahan menjadi nyata. Dalam sekejap, seluruh pandangannya dipenuhi hamparan putih tanpa batas. Ke mana pun ia memandang, tidak ada pohon, batu, maupun bangunan — hanya kekosongan yang membentang luas, seolah ia berdiri di tengah dunia yang belum memiliki bentuk.Fang Han tidak segera bergerak. Ia berdiri waspada, mengamati sekeliling. Tidak ada angin yang menyentuh kulitnya, tidak ada suara langkah, dan tidak ada tekanan Qi Sejati yang dapat dirasakannya. Keheningan di tempat itu begitu sempurna hingga menimbulkan perasaan ganjil. Justru karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kewaspadaannya semakin tinggi.Pengalamannya mengajarkan: ancaman yang tak terlihat jauh lebih berbahaya daripada serangan terbuka. Di sini, ia bahkan tidak mengetahui apa yang sedang dihadapinya.Fang Han perlahan mengerahkan kesadaran spiritual ke segala arah. Namun, kesadarannya seolah terhalang kabut tak bertepi — semakin jauh i
Fang Han tidak menghiraukan tatapan Mo Yang.Setelah memastikan kondisi tubuhnya cukup stabil, ia mengarahkan pandangan ke anak tangga berikutnya. Fang Han mengangkat kaki.Saat telapak kakinya menyentuh anak tangga ke-302, tidak ada ledakan aura ataupun perubahan mencolok pada lingkungan sekitar. Namun, beberapa saat kemudian, ia merasakan hawa dingin merambat dari telapak kaki menuju seluruh tubuhnya.Ia berhenti dan menundukkan kepala, memperhatikan permukaan batu di bawah kakinya. Tidak ada formasi yang terlihat, juga tidak ada rune yang muncul. Akan tetapi, hawa dingin itu terus meningkat, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menguji ketahanan tubuhnya dari dalam.“Menarik...” Fang Han tidak segera melangkah lebih jauh. Sebaliknya, ia berdiri diam dan membiarkan sensasi tersebut menyebar.Pada saat yang sama, ia mencoba mengamati apakah pemahaman yang baru diperolehnya di Kuburan Pedang memberikan pengaruh terhadap tekanan ini.Sayangnya, tidak ada respons yang jelas.Niat Pedan
Sementara di Tangga Menembus Langit, Fang Han perlahan membuka matanya.Pemandangan Kuburan Pedang yang dipenuhi kabut kelabu telah menghilang. Sebagai gantinya, hamparan anak tangga batu kembali terbentang di hadapannya. Angin dingin berembus melewati tubuhnya, membawa serta tekanan aneh yang masih tertinggal di udara.Fang Han masih berada di anak tangga ke-301 Tangga Menembus Langit.Namun, sesuatu telah berubah.Fang Han menundukkan kepala dan mengamati kedua tangannya. Tidak ada luka yang terlihat, tetapi sensasi seolah-olah ribuan pedang masih mengiris kesadarannya belum sepenuhnya lenyap. Pengalaman di Kuburan Pedang terlalu nyata untuk dianggap sekadar ilusi. Setiap langkah yang diambilnya menuju puncak gunung pedang itu telah memaksanya menghadapi batas kemampuan jiwa spiritualnya sendiri.Terlebih lagi, pedang kayu polos yang disentuh di puncak masih terukir jelas dalam ingatan Fang Han.Niat Pedang Asal — Kun Peng Menelan Langit!Nama itu muncul kembali di benaknya, diikut
Retak... retak...Retakan halus itu bukan lagi muncul di pedang-pedang di sekitarnya. Retakan itu muncul di tubuh jiwa Fang Han sendiri.Sosoknya yang semula padat kini berkedip-kedip. Transparan. Seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai niat pedang.Seratus langkah lagi menuju puncak Kuburan Pedang. Seratus langkah yang terasa seperti seratus tahun.“Aku... sudah mencapai batas…”Fang Han berlutut. Lutut jiwanya menghantam tanah yang dipenuhi pecahan pedang berkarat. Setiap tarikan nafas, ribuan bilah tak kasatmata mengiris lautan kesadarannya.Di belakangnya, jalan yang telah ia lalui perlahan menghilang ditelan kabut kelabu. Tidak ada jalan untuk mundur.Di depannya, puncak yang memancarkan cahaya menyilaukan itu masih menggantung, dingin dan tidak peduli.Untuk pertama kalinya sejak datang ke Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi, Fang Han merasakan keputusasaan yang sesungguhnya. Bukan karena musuh lebih kuat. Tapi karena tubuhnya sendiri yang menolak untuk melangk
Begitu Fang Han memasuki kondisi meditasi, dunia di sekitarnya seketika lenyap.Tekanan spiritual yang semula terus menghantam lautan kesadarannya tiba-tiba berubah menjadi pusaran yang menelan seluruh kesadaran.Wussh!Dalam sekejap mata, Fang Han mendapati dirinya telah berdiri di sebuah dunia yang sama sekali asing.Di hadapan Fang Han menjulang sebuah gunung raksasa yang diselimuti kabut kelabu. Dari kaki hingga puncaknya, ribuan bahkan puluhan ribu pedang tertancap di tanah. Ada pedang yang masih utuh dan memancarkan cahaya dingin, ada pula yang telah berkarat, patah, bahkan hanya menyisakan gagangnya saja.“Tempat ini ...” gumam Fang Han dalam hati. Tatapannya perlahan menyapu seluruh gunung. “Kuburan Pedang.”Begitu pikiran itu muncul, hawa dingin langsung menjalari punggung Fang Han.Walaupun tempat ini dipenuhi pedang-pedang yang telah lama tertancap di tanah, aura yang dipancarkan setiap bilahnya masih sangat mengerikan. Niat pedang yang tajam berpadu dengan aura membunuh







