Masuk“Dasar bocah sialan!” umpat si Cepot di dalam hati.Dia tidak berani mengumpat Nayaka keras karena bocah itu pasti marah mendengarnya.“Hahaha, tidak boleh Nak. Anak ayam itu kakak seperguruan ayahmu, panggil dia paman Batara,” prabu Dewangga tertawa.“Yaka tidak mau! Dari kemarin suaranya jelek sekali kek, Yaka tidak suka,” Nayaka menggeleng.Dia memang sangat manja kepada Prabu Dewangga karena menganggap pria gagah tersebut sebagai pengganti ayahnya.“Jangan begitu, tidak baik menghina seseorang. Nanti yaka bisa dihukum oleh kakek Buana,” tutur sang prabu.“Huft! Kakek Buana memang jahat sama Yaka, tapi Yaka rindu kakek. Kakek sudah lama pergi bersama kak Arga,” Nayaka mengembungkan kedua pipinya membuat putri Isyana dan Ratu Kidul tersenyum bahagia melihatnya.“Apa Yaka sudah tahu tentang semua ini Mbakyu?” tanya putri Isyana.“Sudah Diajeng,” angguk kanjeng Ratu.“Ini sungguh berat di usianya yang masih belia, tapi keselamatan dua putra kita bergantung kepada Nayaka,” ungkap putri
Malam hari di dasar Samudra selatan, Madu Lanang telah bersiap akan berangkat menuju istana.Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Maha Prabu Dewangga Prabaskara Wardana yang tiada lain adalah kakek dari Lintang.Tadi sore si Cepot bercerita banyak tentang keluarga Galuh, membuat Madu Lanang begitu penasaran ingin lebih mengenalnya.Tanpa dijemput oleh para dayang, Madu Lanang dan si Cepot akhirnya pergi menuju istana.Namun naas, di sana ternyata belum ada siapa-siapa selain para prajurit jaga yang berdiri di depan pintu dan setiap sudut Istana.“Aneh, bukankah kata gusti ratu malam ini? Tapi mengapa belum ada siapa pun?” Madu Lanang mengerutkan kening.“Ciak!” umpat si Cepot yang juga merasa bingung.Dia hampir mengira bahwa Kanjeng Ratu Kidul telah mempermainkannya, hanya saja sebelum pikiran itu tiba, beberapa dayang datang menghampiri mereka.“Maaf tuan muda, mengapa anda tidak beristirahat?” tanya salah satu dayang kepada Madu Lanang.“Istirahat? Bukankah malam ini g
“Tuan Batara Astrajingga, sebuah kehormatan anda bisa berkunjung ke sini,” sapa Kanjeng Ratu Kidul tiba-tiba.Membuat semua pasukan dan dayang yang ada di sana langsung tersentak kaget tidak percaya. Termasuk Ki Gedeng Alang-alang yang tadi menyambut Madu Lanang.Mendengar itu, mereka segera berlutut memberi penghormatan tertinggi kepada si Cepot.Meski tidak mengerti, Ratu Astani juga ikut berlutut. Dia menjadi makhluk paling terkejut dari semua orang. Kepala Ratu Astani dipenuhi berbagai pertanyaan akan siapa Batara Astrajingga dan di mana sosok itu sekarang.Mendapati Kanjeng Ratu Kidul begitu menghormatinya, Ratu Astani sangat yakin bahwa Batara Astrajingga pastilah sosok besar dari nagari para dewa.“Ciak, ciak, ciak!”Suara anak ayam di pundak Madu Lanang membuat Ratu Astani menganga, matanya melebar menatap siluman kecil di sana dengan pandangan tidak percaya.“Di-dia?” bibir Ratu Astani kelu entah mengapa.Sementara Kanjeng Ratu Kidul hanya tersenyum mendengarnya.“Begitu rupa
Sosok gadis kecil berusia 8 tahun tengah berdiri bertolak pinggang menatap Madu Lanang penuh benci seakan pemuda itu adalah penjahat.Memiliki rambut panjang terurai dengan poni tebal menutupi alis membuat gadis itu tampak anggun bak putri seorang bangsawan.Terlebih dipangkal kepalanya terdapat mahkota kecil sangat cantik dengan ukiran aneh bergambar gelombang Samudra.Gadis itu mengenakan pakaian kebesaran kerajaan, memiliki dua gelang kelat bahu dari emas bertahta mustika sebagai tanda status tertinggi di sebuah istana.Wajah polosnya tidak mencerminkan kelembutan, melainkan sifat haus darah yang membuat Madu Lanang harus menelan ludah.Terlebih gadis itu memiliki mata sangat tajam dengan aura kegelapan yang mengerikan.Meski samar, Madu Lanang dapat melihat terdapat pola bunga teratai di mata sang gadis membuat pemuda itu seketika teringat dengan mata seorang pendekar yang dahulu pernah membuatnya merinding ketakutan.“Tu-tuan Ga-galuh Wa-wardana? Ti-tidak mungkin, a-apakah dia a-
Seperti dugaan Arga dan Lintang, sehari setelah mereka mengadakan acara pesta jamuan, seluruh langit di alam dewa tiba-tiba berubah jingga pertanda akan hadir kekuatan maha besar dari pasukan Dewa Kegelapan.Bahkan langit puncak kawah Candradimuka yang awalnya selalu gelap juga turut terpengaruh menjadi Jingga akibat tekanan energi mereka yang datang.Tentu saja, hal tersebut membuat semua pasukan dewa dan aliansi pendekar menjadi dipenuhi keraguan.Namun beruntung, sang Hyang Sambu dan Raden Buana berhasil mengembalikan rasa kepercayaan diri mereka.Sementara pasukan Arga dan Zufu masih bersikap biasa saja, mereka tidak peduli terhadap jumlah dan besaran kekuatan musuh.Alih-alih takut, pasukan nagari Angleng dan kesatria semesta malah semakin waspada.“Hari ini akan menjadi hari terakhir kita merasakan udara segar karena besok, semua udara akan dipenuhi bau darah,” ungkap Lintang.Dia bersama Arga, Zufu, Dewi Rembulan, Mutiara Sendayu, Larasati, putri Adia, dan ke 4 istrinya tengah
Seperti kata Kala Yuda, makhluk penjaga dimensi memang memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata makhluk biasa.Terlebih mereka terlahir dengan struktur tubuh yang kuat dan telah memiliki energi.Sehingga ketika diajarkan jurus-jurus kanuragan, Mayang mampu menguasainya dengan sangat cepat.Itulah alasan mengapa Lintang terlambat kembali ke dunia nyata, di mana dalam beberapa hari, pemuda itu terus melatih Mayang, menjadikannya sebagai pendekar sakti.Hal itu tentu masuk akal karena dunia dimensi dan dunia nyata memiliki perbedaan waktu yang sangat jauh.Meski Mayang terlahir dari esensi energi Lintang, tapi gadis itu tidak mewarisi semua energi tuannya.Mayang hanya memiliki energi sihir dan cahaya, membuat dia menjadi sosok yang berbeda dari Lintang.“Mahluk yang unik,” ucap Zufu.Setelah itu dirinya dan Arga segera melesat mengejar Lintang. Kemudian di susul oleh para hewan siluman termasuk Samhu.“Ayo!” seru Bawana ikut naik mengudara, membuat Jantaka, Antonio, dan panglima Kunta
Cukup lama Lintang berbincang di ruangan Resi Batara Gundawarma sampai Lintang lupa bahwa pertandingan ujian sudah kembali di mulai.“Celaka! pertarunganku,” Lintang menepuk jidatnya sendiri.Dia langsung berlari menuju pintu keluar karena khawatir namanya sudah terpanggil sedari tadi.“Ke mana kau
“Ti-tidak mungkin! Sial, jika begitu kita harus menghentikan ujian ini Resi tua,” Batara Sangga Dara panik.“Tidak paman, jika ujian dihentikan. Maka citra perguruan Sekte Pedang Kahuripan akan hancur. Alih-alih bisa menyelesaikan masalah, keputusan itu malah akan menjadi bencana,” sergah Lintang.
“Apa? Seharusnya anda tidak memutuskan sepihak Resi Batara,” Lintang terkejut mendengar penjelasan itu.Tidak ada sedikit pun niatan di hatinya untuk menambah istri. Tetapi siapa sangka, para orang tua gila ini telah menjodohkannya jauh ketika Lintang masih sangat kecil. Membuat pemuda itu mengalam
Resi Batara Gundawarma bertanya sembari berjalan untuk kembali menuju kursi miliknya di belakang meja.Tetapi saat mendengar nama Galuh Wardana, langkahnya langsung terhenti dengan jantung berdebar seakan baru saja telah disambar petir.“Ga-ga-galuh?” gumamnya terbata, dia segera berbalik menatap w







