Share

Lembur Malam Bersama CEO
Lembur Malam Bersama CEO
Author: Dini Nuraeni

BAB 1

Author: Dini Nuraeni
last update publish date: 2026-10-10 22:14:20

Suasana lantai belasan Gedung Arka Holding begitu eksklusif. Dinding kaca raksasa di lorong eksekutif memperlihatkan megahnya pemandangan kota di pertengahan hari.

Di toilet karyawan yang sunyi, Naya berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ia merapikan kerah blus sutra berwarna krem yang terbalut pas di balik blazer hitamnya.

Rambut hitamnya yang bergelombang lembut dibiarkan terurai melewati bahu, membingkai wajah oval berwajah bersih dengan kulit kuning langsat yang halus. Sepasang mata cokelat jernih miliknya memancarkan ketenangan, walau di balik dadanya ada rasa canggung yang belum sepenuhnya menguap. Dua minggu sudah ia menginjakkan kaki di gedung megah ini sebagai asisten pribadi baru di jajaran eksekutif puncak—sebuah posisi dingin yang menuntut kesempurnaan.

"Pagi, Naya! Rapi banget hari ini," sapa Maya yang baru melangkah masuk, memecah kesunyian dengan senyum hangat seraya membawa tumpukan kuitansi.

Maya, staf senior divisi keuangan, adalah satu-satunya orang di kantor ini yang menyambut Naya tanpa tatapan menilai.

Naya menyunggingkan senyum tipis, membalikkan badan. "Harus rapi, May. Hari ini ada peninjauan draf laporan dari meja eksekutif."

Maya mendekat, berbisik dramatis. "Semangat ya, Naya. Pak Damian itu memang tampan luar biasa, tapi standar kerjanya dingin dan perfeksionis. Salah ketik satu angka aja, berkasmu bisa dilempar balik!"

Naya terkekeh pelan, meski di dalam hati membenarkan. Damian Arka CEO baru Arka Holding memang sosok yang mengintimidasi. Pria tiga puluh tahun itu belum genap sebulan memegang kendali penuh, namun aura dingin dan ketelitiannya yang menakutkan sudah cukup membuat seluruh lantai eksekutif menahan napas setiap kali langkah sepatunya terdengar.

"Aku cuma berusaha penyesuaian secepatnya, May," gumam Naya jujur.

"Bagus sih, tapi siap-siap mental," Maya menepuk bahunya pelan. "Pak Damian itu hobi memberi tugas dadakan di penghujung jam kerja. Buat kita, itu artinya siap-siap memeluk berkas sampai malam."

Ucapan Maya terbukti manis sore itu.

Tepat pukul empat lewat sedikit, saat pendar matahari mulai memerah di ujung langit dan para karyawan merapikan meja kerja, nada interkom di meja Naya berbunyi pendek. Tegas.

"Masuk ke ruangan saya sekarang, Naya. Bawa map analisis operasional," suara rendah Damian mengalun rapat melalui pengeras suara, tanpa basa-basi.

Naya menarik napas dalam-dalam, merapikan map di pelukannya, lalu melangkah menuju pintu kaca buram berangka emas di ujung lorong sepi.

Ia mengetuk pintu dua kali dengan ketukan teratur sebelum memutar gagang pintunya.

Ruang kerja Damian sangat luas, tersiram cahaya jingga sore dari jendela raksasa. Damian berdiri di dekat jendela membelakangi pintu. Jas mewahnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih yang membingkai bahu tegap dan dada bidangnya. Lengan kemejanya tergulung rapi, menyingkap jam tangan baja di pergelangan tangannya.

"Tutup pintunya rapat-rapat, Naya," ujar Damian tanpa membalikkan badan. Suaranya berat, menggema halus di ruangan luas itu.

Naya mematuhi instruksi tersebut, melangkah mendekat dengan posisi tegap. "Ini berkas analisis yang Bapak minta."

Damian berbalik perlahan. Sorot mata hitamnya yang pekat dan dalam mengunci pandangan Naya seketika. Parasnya tegas dengan rahang kokoh yang dihiasi sapuan samar bekas cukuran tipis. Kulit sawo matang bersih khas pria terawat membuat penampilannya begitu memikat, dipadu dengan potongan rambut undercut hitam rapis yang tertata rapi.

Tatapannya dingin dan penuh perhitungan, seolah sanggup menguliti setiap selapis kecangguhan yang dicoba Naya sembunyikan. Bagi Damian, Naya adalah teka-teki baru gadis tenang bermata jernih yang belum terkontaminasi oleh intrik orang-orang di sekitarnya.

Damian mengambil map berkas dari tangan Naya tanpa menyentuh jemari gadis itu. Pria itu memindai lembaran kertas dengan ketelitian yang menakutkan. Suasana menjadi begitu senyap, hanya diisi oleh gesekan kertas dan napas mereka yang teratur.

"Sistematikamu membaik," tutur Damian datar. "Tapi angka pembanding di divisi pemasaran belum terverifikasi dengan data riil."

"Data pemasaran baru masuk tadi siang, Pak. Saya baru sempat memasukkan estimasi awal," sahut Naya lembut, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Damian menutup map itu dengan dentuman halus yang tegas. Ia menatap Naya dari ketinggian posturnya yang mengintimidasi. "Saya tidak pernah menerima laporan berbasis estimasi di atas meja saya, Naya. Verifikasi ulang seluruh data itu sore ini."

Naya melirik jam dinding berbingkai perak. Jarum telah menunjuk angka lima lewat sepuluh. Jam kerja telah usai. "Waktunya sampai besok pagi sebelum rapat pleno, Pak?"

Damian menatapnya dalam-dalam. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sebuah guratan samar yang teramat langka dan sarat akan dominasi dingin.

"Bukan besok pagi, Naya. Tapi malam ini," tegas Damian pelan, namun tak memberi ruang sedikit pun untuk dibantah. "Selesaikan di meja kerjamu. Saya akan menunggu draf akhirnya di ruangan ini sebelum saya meninggalkan kantor."

Pukul delapan malam. Lampu-lampu utama telah padam, menyisakan pendar temaram kuning dari lampu sudut dan pendar kebiruan layar monitor di kubikel Naya. Keheningan malam terasa makin tebal dan menekan.

Naya memijat pelipisnya yang pening, membiarkan uap dingin dari cangkir kopinya yang mendingin menyapu wajahnya. Jemarinya masih cekatan merapikan lembar demi lembar tabel perhitungan akhir.

Tepat ketika ia hendak mengklik tombol simpan, suara derap langkah kaki memecah kesunyian koridor eksekutif yang gelap.

Tuk. Tuk. Tuk.

Langkah sepatu kulit menapak marmer dengan irama yang mantap dan teratur. Naya mendadak menegakkan posisi duduknya. Bahunya menegang seketika ia mengenal betul ritme langkah itu.

Sosok Damian muncul dari balik pilar. Jas mewahnya telah dilepas, menyisakan rompi abu-abu gelap yang membingkai dada tegapnya. Kemeja putihnya tergulung rapi, memperlihatkan pergelangan tangan kokoh dengan jam tangan baja yang memantulkan pendar layar monitor Naya.

Tatanan rambut undercut-nya kini sedikit berantakan di bagian depan, memberikan kesan sedikit kasual namun tetap berbahaya. Aroma khas kayu cendana dan pinus dingin mengalir mendahului langkahnya.

Damian menghentikan langkahnya tepat di samping kubikel Naya. Pria itu tidak menyentuhnya, tidak juga membungkuk terlalu dekat, namun tinggi posturnya yang berdiri tegap di tengah keremangan malam sudah cukup menyebarkan aura dominasi yang menghimpit.

Manik mata hitam Damian yang pekat menatap lekat draf laporan di layar komputer Naya, lalu perlahan beralih mengunci wajah Naya yang tampak sedikit pucat diliputi kelelahan.

"Sudah selesai seluruhnya, Naya?" tanya Damian rendah. Suaranya mengalun berat di keheningan ruang, memutus sisa udara dingin di sekitar mereka.

Naya menelan ludah dengan susah payah, mendongak menatap bos barunya. "Tinggal menyimpan lembar verifikasi akhir, Pak."

Damian tidak langsung menyahut. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya, menatap Naya dalam keheningan panjang yang menegangkan.

Tatapannya begitu dalam, penuh rahasia, dan seolah sedang menilai sejauh mana daya tahan asisten barunya ini.

"Bagus," ujar Damian pelan. Ia lalu berbalik perlahan menuju ruang kerjanya yang terbuka remang-remang. Namun sebelum melangkah jauh, Damian menghentikan kakinya dan menolehkan kepala sedikit.

"Simpan berkasmu, matikan komputer, dan bawa draf cetaknya masuk ke ruangan saya sekarang." Damian menatapnya sekilas dari balik bahunya. "Ada hal lain yang perlu kita bicarakan sebelum kamu pulang."

Pintu kaca buram ruang eksekutif itu terbuka pelan saat Damian melangkah masuk, menyisakan Naya yang terpaku di kursi kerjanya dengan jantung yang mendadak berdegup liar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 5

    Pagi itu, sinar matahari yang menembus dinding kaca lantai belasan Gedung Arka Holding terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Namun, bagi Naya, udara di ruang kerja eksekutif justru menyerap dingin yang merayap hingga ke tulang.Di meja kerjanya, Naya menatap tumpukan folder berkas rapat pleno yang sudah tersusun rapi. Ia mengenakan blus sutra berwarna biru pastel yang berpadu dengan rok pensil hitam, memoles penampilan profesionalnya. Wajahnya tenang dan anggun, tetapi dadanya berdesir tak karuan sejak mendengar hiruk-pikuk yang memenuhi lorong eksekutif sejam lalu.Suara ketukan sepatu hak tinggi berirama manja menggema dari arah lift khusus."Damian! Kamu selalu saja tenggelam di antara kertas-kertas membosankan ini," sebuah suara melengking penuh nada kepemilikan memecah kesunyian koridor.Naya mendongak pelan. Sosok Clarissa Mahardika melangkah masuk bagaikan seorang ratu. Gaun terusan berwarna merah menyala membungkus tubuh semampainya, dipadu tas bermerek yang mengilap di l

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 4

    Derum halus mesin sedan hitam milik Damian perlahan memudar, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa teramat pekat di koridor kompleks perumahan sederhana itu. Naya berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi pendar redup lampu merkuri berwarna kekuningan. Angin malam merayap dingin, mengibaskan helai rambut bergelombang di leher jenjangnya. Namun, desiran hangat dari suara berat Damian dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil tadi seolah masih tertinggal, memagari memorinya dari sisa kelelahan hari itu.Naya menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya yang memanjang di atas aspal retak. Ia menarik tali tas kulitnya lebih erat, lalu memutar kunci pagar besi rumah yang berderit pelan. Langkah tumit sepatunya di atas jalan semen yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian malam.Rumah berlantai dua milik keluarga bibinya itu tampak sepi dari luar, namun dari celah tirai jendela ruang tamu, pendar biru dari layar televisi yang menyala t

  • Lembur Malam Bersama CEO   Bab 3

    Naya masih terpaku di ambang pintu kaca buram saat gema langkah kaki Damian menghilang di belokan koridor utama. Detak jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ucapan sang CEO terus berulang di kepalanya. Dua menit lima puluh detik.Tersadar dari keterpakuannya, Naya berbalik cepat menuju kubikelnya. Dengan gerakan cekatan yang sedikit terburu-buru, ia mematikan lampu meja, merapikan cangkir kopinya, dan menyambar tas sandang kulitnya. Ia melangkah menyusuri koridor eksekutif yang kini tenggelam dalam keremangan lampu malam. Langkah tumit sepatunya memecah kesunyian lantai belasan yang sepi, menciptakan irama yang beradu dengan debar dadanya sendiri.Ia menekan tombol lift turun. Dinding stanlis yang mengilap memantulkan sosok dirinya blus kremnya masih rapi, namun sepasang mata cokelatnya memancarkan ketegangan yang tertahan. Begitu pintu lift terbuka di area parkir basemen lantai bawah, hembusan udara dingin beraroma bahan bakar dan beton menyamb

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 2

    Naya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Layar monitor di hadapannya menampilkan jarum jam digital yang terus bergulir. Dua menit lima puluh detik. Damian bukan tipe atasan yang menoleransi keterlambatan, bahkan untuk hitungan detik.Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sigap, Naya mengklik tombol simpan, mematikan komputer, dan menyambar draf laporan yang masih hangat dari mesin cetak. Ia merapikan Blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mantap menuju pintu kaca buram yang sedikit terbuka.Keheningan di dalam ruang kerja Damian terasa berbeda. Bila koridor di luar terasa dingin, ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini menyimpan kerapatan udara yang menghimpit diisi oleh wangi samar kayu cendana, kehangatan pendingin udara, dan aura dominasi pria yang bertengger di balik meja kerjanya.Naya melangkah masuk dengan ketukan tumit sepatu yang pelan di atas karpet tebal. Di tangannya, se

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 1

    Suasana lantai belasan Gedung Arka Holding begitu eksklusif. Dinding kaca raksasa di lorong eksekutif memperlihatkan megahnya pemandangan kota di pertengahan hari. Di toilet karyawan yang sunyi, Naya berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ia merapikan kerah blus sutra berwarna krem yang terbalut pas di balik blazer hitamnya. Rambut hitamnya yang bergelombang lembut dibiarkan terurai melewati bahu, membingkai wajah oval berwajah bersih dengan kulit kuning langsat yang halus. Sepasang mata cokelat jernih miliknya memancarkan ketenangan, walau di balik dadanya ada rasa canggung yang belum sepenuhnya menguap. Dua minggu sudah ia menginjakkan kaki di gedung megah ini sebagai asisten pribadi baru di jajaran eksekutif puncak—sebuah posisi dingin yang menuntut kesempurnaan. "Pagi, Naya! Rapi banget hari ini," sapa Maya yang baru melangkah masuk, memecah kesunyian dengan senyum hangat seraya membawa tumpukan kuitansi. Maya, staf senior divisi keuangan, adalah satu-satun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status