Partager

Darah dan Permohonan

Auteur: Kuldesak
last update Date de publication: 2026-05-20 18:44:42

“Panas… Tolong hentikan air panas ini!”

Lolong keputusasaan itu merobek malam. Tubuh Aegir yang terendam di tepian danau bergolak liar. Sisik-sisiknya rontok seolah tersiram air mendidih, meninggalkan daging kemerahan yang mengepulkan asap.

“Keluar dari air itu, Aegir!” Vania menerjang maju, menarik paksa lengan sang duyung ke daratan berbatu.

“Jangan… sentuh aku… Wanita Iblis!” Aegir menepis tangan Vania dengan sisa tenaganya, menangis tersedu-sedu. “Kau ingin melihatku hancur menjadi abu, kan?! Lihatlah! Kulitku… kecantikanku… semuanya habis!”

“Berhenti meratapi kecantikanmu saat nyawamu sedang di ujung tanduk!” bentak Vania. Ia menoleh ke belakang, menatap tiga sosok lainnya yang tak kalah mengenaskan.

Lycan berguling di atas batu obsidian. Kukunya patah akibat menggaruk lehernya sendiri. Zephyr tak henti-hentinya memuntahkan cairan pekat. Gargantua meringkuk memeluk lututnya, menangis dengan suara balita yang disiksa.

“Sistem! Kenapa mereka semakin buruk? Apa tidak ada yang bisa kita lakukan, hah?!” teriak Vania, mendekap telur Orion kian erat ke dadanya.

Sistem Eros muncul dengan sayap bergetar.

[Maafkan aku, Tuan Rumah! Aku masih mencari kesalahan informasinya! Game ini masih dalam masa percobaan—kemungkinan ada database yang kena bug!]

“Apa gunanya dirimu kalau begitu?!”

[Aku sedang berusaha! Tapi untuk sekarang… cangkang telur Orion masih memancarkan kubah anti-radiasi. Hanya saja jangkauannya sangat kecil! Tidak lebih dari dua meter!]

Vania tidak butuh instruksi kedua. Dia ingat, cangkang telur Orion ini terbuat dari lahar gunung berapi yang telah mendingin selama ribuan tahun. Benda ini bisa menyerap dan menetralisir elemen ekstrem di sekitarnya secara alami. Jika dirinya saja bisa terlindungi, itu artinya para Abyss juga bisa.

“Kalian berempat! Merayap kemari! Masuk ke dalam radius telur ini sekarang juga!” perintah Vania dengan suara menggelegar.

“Lebih baik… aku mati membusuk… daripada harus berlindung di bawah ketiakmu, Pengkhianat!” geram Lycan, meludah ke tanah.

“Kau pikir mati karena gengsi itu keren, Alpha?! Seret tubuhmu atau kupatahkan kedua kakimu agar kau tak punya pilihan selain merangkak!”

Ancaman dingin itu menembus insting liar Lycan. Dengan rahang mengeras, ia terpaksa menyeret tubuhnya mendekat, menarik bahu Aegir bersamanya.

“Zephyr! Gargantua! Merapat kepadaku! Dempetkan tubuh kalian atau kabut sialan ini akan memanggang jantung kalian!”

"Hahaha!" Zephyr tertawa sumbang di sela batuknya, merayap mendekat. “Sungguh… pemandangan yang ironis. Sang algojo kini repot-repot memayungi para tawanannya.”

Gargantua hanya merintih, menubrukkan kepalanya ke lutut Vania. “Gargan panas… Kakak, Gargan sakit…”

Mereka terpaksa berhimpitan. Vania meletakkan telur Orion di tengah. “Kubah telur ini kecil. Radiasinya hanya cukup untuk kita berlima kalau berhimpitan. Jangan ada yang bergerak terlalu jauh.”

Ajaib, udara beracun itu terdorong mundur. Rintihan mereka mereda, napas yang semula tersengal kini sedikit teratur.

Namun, Vania bisa melihat jelas. Luka melepuh di kulit mereka sama sekali tidak menutup. Racun itu sudah terlanjur masuk ke dalam aliran darah. Mereka hanya menunda kematian.

Tidak bisa. Jika hanya bergantung pada telur ini, mereka tidak akan bisa bergerak. Harus ada solusi lain. Solusi yang lebih permanen dari sekedar telur.

Ayolah Vania berpikir....

Deg!

Sebuah ingatan asing menghantam Vania di saat wanita itu nyaris putus asa.

Ruang bawah tanah yang anyir. Lycan terantai dengan dada terkoyak cambuk. Violetta berdiri angkuh, menatap kehancuran itu dengan senyum miring.

“Aku belum mengizinkan mainanku rusak,” bisik Violetta tempo itu. Ia mengiris telapak tangannya sendiri dengan belati perak. Darah pekat menetes. “Minum, Serigala. Sembuhlah, agar besok aku bisa mendengar jeritanmu lagi.”

Saat darah itu menyentuh bibir Lycan, daging yang terkoyak merajut seketika.

Deg!

Vania tersentak. “Darah. Darah dari tubuh ini bisa menetralisir racun.”

Tanpa membuang sedetik pun, ia meraih pisau bedah dari kotak peraknya.

Sistem melesat ke depan wajah Vania, sayapnya mengepak panik.

[Tuan Rumah! Jangan!]

“Jangan apa?”

[Tubuh Tuan Rumah masih dalam pemulihan! Kekuatan Panglima di tubuh ini belum sepenuhnya pulih! Kalau Tuan Rumah memaksakan memberi darah sekarang, Tuan Rumah bisa kehabisan darah sebelum mereka selesai minum!]

Vania menatap keempat Abyss yang sekarat. Lycan yang sudah tidak bisa menggeram. Aegir yang napasnya tinggal desahan. Zephyr yang muntahkan darah hitam. Gargantua yang merintih seperti anak kecil.

“Kalau aku tidak memberi sekarang, mereka mati.”

[Tuan Rumah juga bisa mati!]

“Aku tahu.”

Vania menyingsingkan lengan bajunya. Lengan itu sudah penuh luka. Tapi ia tidak ragu.

“Sejak kapan dokter takut mati demi pasiennya?”

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.

SRET.

Pisau itu merobek kulit lengannya. Darah segar mengalir deras.

“Buka mulut kalian! Minum ini!”

Lycan membelalak. “Jauhkan cairan kotor itu dariku! Aku tidak sudi meminum setetes pun darah dari wanita sepertimu!”

“Ini satu-satunya cara!”

“Kau pikir kami hilang ingatan?!” taring Lycan bergemeletuk. “Kau menyembuhkan kami hanya untuk menyiksa kami lagi keesokan harinya! Kami ingat semuanya! Jangan karena kau sudah membebaskan kami dari kandang terkutuk itu dan kami akan lupa bagaimana cambuk dan pisaumu menyiksa kami?"

“Dia benar,” Zephyr menimpali dingin. “Kepalsuanmu terlalu menyilaukan. Kau ingin mengikat kami lagi dengan sihir darahmu.”

Vania menoleh pada Aegir. “Aegir! Kau mau sisikmu kembali cantik, bukan? Minum ini!”

Duyung itu menggeleng histeris. “Tidak! Kau yang mencabut sisikku, kau yang menghancurkanku! Jika sisikku tumbuh, kau akan mencabutnya lagi! Menjauh dariku!”

“Gargan takut… Gargan tidak mau…” Chimera itu menyembunyikan wajahnya.

Vania menatap mereka. Trauma. Penolakan. Ketakutan. Tapi ia tidak bisa menyerah.

Venia pun berlutut. “Tolong. Kumohon!"

Aegir terisak. “Kau… kau berlutut lagi…”

“Aku akan berlutut seribu kali kalau itu yang diperlukan.” Air mata Vania jatuh. “Jangan mati di depanku. Aku sudah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak bisa kehilangan kalian juga.”

“Kenapa… kenapa kau begini…”

Vania mengangkat wajahnya. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi suaranya tetap tegak.

“Aku tidak bisa mengembalikan apa yang sudah diambil darimu. Aku tidak bisa memperbaiki masa lalu.”

Vania mengangkat wajahnya. Di matanya, ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Ada luka yang tak bisa dijelaskan.

“Aku bahkan tidak bisa memperbaiki diriku sendiri.”

Aegir terisak. “Lalu kenapa… kenapa kau masih berusaha…”

Vania menatap telapak tangannya sendiri—telapak tangan yang berlumuran darah, yang sama dengan tangan yang dulu memegang cambuk.

“Karena tangan ini sudah cukup banyak menghancurkan.”

Suara Vania hampir seperti bisikan.

“Biarkan kali ini saja… tangan ini menyelamatkan. Bukan karena aku baik. Bukan karena aku ingin menebus dosa. Tapi karena… jika aku tidak melakukan apa-apa sekarang, maka aku sama saja dengan monster yang kalian takuti.”

Vania menatap Aegir.

“Aku tidak akan meminta maaf. Maaf tidak akan menyembuhkan lukamu yang sudah pernah aku torehkan. Maaf tidak akan menumbuhkan kembali sisik indahmu. Tapi setidaknya… biarkan aku menjadi orang terakhir yang menyakitimu. Biarkan mulai hari ini, satu-satunya hal yang kau ingat tentang tanganku adalah… tangan ini pernah menolongmu.”

Aegir menangis. Air matanya jatuh berdederai.

“Kalau kau berbohong…”

“Kalau aku bohong, terserah apa hukummu. Aku akan terima."

Aegir menutup mata. "Ba ... Baiklah kalau begitu. Berikan tanganmu."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    TAMAT

    WUUUSHHH! BLAAAAAARRR!Sensasi ditarik dengan kecepatan cahaya melintasi pusaran ruang dan waktu membuat perut Vania seolah diaduk-aduk. Tubuhnya terasa ditarik ke jutaan arah yang berbeda.Begitu kilatan cahaya emas yang membutakan itu mereda, kakinya kembali berpijak pada sesuatu yang sangat keras dan dingin.Angin segar yang membawa aroma magis bunga teratai langsung menyapu wajahnya, membersihkan paru-parunya dari sisa polusi dan bau kaporit.Vania membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia tidak lagi berada di apartemen tiga puluh meter perseginya yang berantakan, apalagi di rumah sakit.Ia berdiri tegak di tengah-tengah aula kristal raksasa yang memancarkan pendaran galaksi. Mimbar tinggi dengan enam singgasana raksasa bertahtakan es, karang, magma, giok, dan kristal matahari menjulang anggun di hadapannya.Mereka kembali. Kembali ke jantung Elysium Court."Apa... bagaimana bisa?" Vania terengah-engah.Ia menunduk dan terkesiap melihat pakaian pasien rumah sakit tipis yang tadi di

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lima Suami, Satu Ranjang

    Seolah menjawab pertanyaan Vania, seluruh bangunan apartemen lantai dua puluh itu bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi magnitudo tujuh. Kaca balkon bergetar keras hingga retak.Dari balik bayangan malam di luar balkon, sebuah tangan batu raksasa merobek terali besi pengaman apartemen Vania dengan sangat mudah seolah itu hanya ranting kering.TRANG! KRAAAK!Gargantua menyusutkan wujudnya secara paksa agar bisa memanjat masuk melalui pintu kaca balkon. Raksasa itu menunduk sangat rendah agar kepalanya tidak menabrak plafon gipsum apartemen."Vio! Aku sangat merindukanmu!" suara bariton Gargantua menggelegar, membuat seluruh kaca piring di lemari dapur Vania berdenting keras. "Gedung kotak-kotak bersusun ini sangat rapuh, aku nyaris meruntuhkannya saat memanjat dari jalanan di bawah sana!""Kau memanjat dinding apartemen dari lantai dasar sampai lantai dua puluh dari luar?!" Vania membelalakkan matanya ngeri, membayangkan kehebohan warga saat melihat rekaman CCTV yang akan viral

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Diserbu Para Suami

    VROOOM! CIIIIT!Mobil sedan hitam milik Vania berhenti mendadak di area parkir basement apartemen mewahnya, menciptakan decitan ban yang melengking memecah kesunyian malam ibu kota.Di kursi penumpang depan, Orion mencengkeram dashboard plastik mobil itu dengan rahang mengeras. Wajah sang Kaisar Naga terlihat agak pucat di bawah temaram lampu parkir yang redup."Benda besi ini adalah monster paling buruk, lambat, dan paling berisik yang pernah kutunggangi," geram Orion, berusaha menarik sabuk pengaman modern itu dengan kasar hingga nyaris robek. "Dia berteriak, berguncang di setiap tanjakan, dan baunya seperti sisa pembakaran minyak bumi rendahan. Jika ini di Elysium, aku sudah melelehkannya menjadi abu sejak roda pertamanya berputar!""Berhentilah mengeluh, Kadal! Kau sendiri yang bersikeras duduk di depan demi mendominasi ruang pandang!" sahut Lycan dari kursi belakang.BZZZT... KLIK! BZZZT... KLIK!Raja Serigala itu sama sekali tidak memedulikan ketegangan Orion. Lycan justru as

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Dua Raja Abyss Yang Menyamar

    "Singgasana? Di dunia ini, singgasanaku adalah apartemen berukuran tiga puluh meter persegi, dan kau tidak akan menyentuh satu inci pun darinya malam ini!" desis Vania tajam, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada zirah Orion.Sayangnya, tubuh sang Kaisar Naga itu terasa seperti dinding baja padat yang tidak bergeming sedikit pun."Oh? Kau menolakku, Istriku?" Orion justru menyeringai semakin lebar, merapatkan pelukannya hingga Vania nyaris tidak bisa bernapas. Mata merah darahnya menatap nyalang ke sekeliling kamar VIP yang berantakan. "Lalu di mana kau tidur? Di atas ranjang putih pucat yang berbau kematian ini? Aku bisa menghancurkannya sekarang juga dan membuatkan ranjang dari emas murni untukmu.""Berhenti memonopolinya, Kadal Sombong!" raung Lycan dari sudut ruangan.WUSHHH!KRAAAK!Raja Serigala itu mengayunkan pedang esnya, menciptakan gelombang udara beku yang langsung membekukan selimut rumah sakit di atas ranjang Vania."Dunia ini terlalu rapuh, Betina!" seru Ly

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tamu Tak Diundang

    BZZZT...TRING!Layar LED raksasa di seberang jalan itu berkedip keras satu kali, lalu kembali normal. Grafis epik dan wajah sang Kaisar Naga lenyap tanpa jejak, digantikan oleh tayangan iklan mobil keluaran terbaru yang bergerak monoton seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Tidak mungkin..." Vania mengusap wajahnya dengan kasar. "Otakku benar-benar sudah rusak. Ini pasti halusinasi."Namun, bantahan logis di kepala Vania langsung dipatahkan saat benda pipih di dalam saku jaketnya bergetar hebat.DRRRTTT... DRRRTTT!Vania merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar. Layar ponselnya tidak menampilkan notifikasi pesan biasa. Alih-alih antarmuka modern yang familier, layar itu didominasi oleh kotak dialog berwarna emas dengan font purba khas Administrator Abyss.[Proses Unduhan Realita: 10%...] [Menyinkronkan Koordinat Wadah Utama...]"Sistem?! Bagaimana mungkin program game bisa meretas ponselku secara langsung?!" desis Vania panik.Matanya menyapu layar dengan cepat. Ia mencoba menekan

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tiga Hari Berlalu

    Jari telunjuk Vania yang bergetar melayang di atas layar ponselnya. Ragu, takut, namun didorong oleh keputusasaan yang tak terbendung, ia akhirnya menekan ikon aplikasi berwarna emas tersebut.Layar menjadi hitam sejenak.Sebuah alunan musik instrumen bergema dari speaker ponsel. Nada yang seharusnya terdengar megah dan epik itu terasa hampa di telinga Vania.Itu hanya versi MIDI digital dari paduan suara ribuan roh cahaya yang menyambutnya di Elysium Court.Layar memunculkan teks loading dengan font yang sangat ia kenal.[Menyinkronkan Data... 99%]Menu utama terbuka. Terdapat opsi Mulai Petualangan, Galeri Karakter, dan Pengaturan. Dengan napas tertahan, Vania menekan Galeri Karakter.Deretan ilustrasi dua dimensi muncul di hadapannya.Lycan dengan zirah bulu serigalanya, Zephyr dengan senyum liciknya, Aegir yang memegang trisula, Gargantua yang menjulang besar, dan di tengah... Orion, dengan rambut putih dan mata merah darahnya.Vania menyentuh wajah Orion di layar. Layar kaca yang

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lima Abyys

    "Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu hanya karena kau berlagak baik, hmm? Aku tidak akan menurut dengan manusia kejam sepertimu!" ujar Lycan. “Kalau kau mati karena gengsimu itu,” balas Vania datar, “siapa yang akan melindungi mereka?” Tatapan Lycan berubah. Vania melirik ke arah A

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Perintah Sang Dokter

    “Merawat mereka dengan cinta dan kasih sayang?” Suara Vania naik setengah oktaf. Ia menatap gumpalan merah muda di depannya dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru saja dicekik, diracun, lalu hampir mati dua kali. Dan sekarang kau menyuruhku menjadi perawat berhati malaikat untuk monster yang jel

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Menampar Pangeran

    [Waktu dihentikan sementara!] Semua yang bergerak mendadak terhenti. Seperti ditekan tombol pause. Tenggorokan Vania terasa terbakar. Di depan hidungnya, sebuah gumpalan merah muda bersayap kelelawar melayang riang. [Selamat datang, Tuan Rumah! Selamat datang di dunia Game Lima Suami Buas: V

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tempat Asing

    “Ugh! Susah sekali masuknya!” Suara itu terdengar jauh dan samar, seolah bergema dari ujung lorong panjang yang gelap. “Dorong terus, paksa!” seru suara itu lagi. Kepala Vania terasa seperti baru saja dihantam benda tumpul berkali-kali, berat dan denyutnya menjalar hingga ke pelipis. Kesadaranny

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status