LOGINAku menahan lapar di ranjang yang dingin demi menjaga kesucian pernikahan kita. Tapi kau... kau malah mendesah di bawah tubuh pria bangka?!" Yohan hanyalah menantu buangan dari klan pedagang yang bangkrut. Saat istrinya, Lian, berada di puncak kejayaan di ibu kota, Yohan justru diasingkan ke Paviliun Nirwana yang bobrok. Di tempat terpencil itu, Yohan harus menahan gempuran godaan gila setiap hari. Ibu mertua tirinya yang kesepian, sepupu iparnya yang agresif, hingga bos wanita dominan yang ingin membelinya—semuanya terang-terangan menyerahkan tubuh mereka. Yohan menepis itu semua demi sebuah kata 'Setia'. Hingga sebuah batu kristal perekam dan satu panggilan telepon di tengah badai menghancurkan segalanya. Istrinya terbukti menghangatkan ranjang pejabat tua demi melancarkan bisnis! Kewarasan Yohan putus. Kesetiaannya mati malam itu juga. "Kau yang lebih dulu menghancurkan sumpah ini, Lian. Jangan salahkan aku jika saat kau pulang, semua wanita di sekitarmu sudah berlutut di bawah tubuhku."
View More"Ahh... Nggghhh..." desah Nyonya Mei pelan, tubuhnya menggeliat kecil di atas batu pualam, menikmati sentuhannya sendiri.
Jemari lentik janda berusia empat puluh tiga tahun itu tampak bergerak teratur menyentuh dan mengusap pelan area lembah rahasianya yang sudah mengkilap basah, mengundang erangan halus dari bibir merahnya. Melihat pemandangan luar biasa panas itu melalui celah dinding yang sedikit berlubang, jakun Yohan naik turun dengan cepat. Tanpa bisa dicegah, pusaka pribadi miliknya di balik celana kain kasarnya seketika menegang keras, merespons gairah liar yang mendadak meledak menguasai kepalanya. ‘Sialan. Apa yang sebenarnya sedang kulihat ini?’ batin Yohan, tangannya tanpa sadar mencengkeram erat anyaman bambu di depannya. Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu tengah menyeimbangkan tubuhnya di atas bangku kayu lapuk, bersandar pada dinding anyaman bambu di area pemandian air panas paviliun. Niat awalnya murni, ia hanya ingin memperbaiki saluran pipa bambu yang menyalurkan air belerang ke dalam bilik mandi. Namun, matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan yang langsung membuat aliran darahnya mendidih tersebut. Di dalam sana, tepat di pinggir kolam batu pualam, tampak Nyonya Mei—ibu mertua tirinya—sedang berbaring santai. Ia sama sekali tidak mengenakan sehelai kain sutra pun. Tubuh matangnya yang masih sangat kencang, sintal, dan terawat sempurna terekspos bebas di bawah kepulan uap air hangat, ketika ia memejamkan mata, memanjakan dirinya sendiri. Wajar saja Yohan begitu kelaparan dan tersiksa. Sudah berbulan-bulan lamanya ia tidak pernah mendapatkan sentuhan dari istrinya sendiri, Lian. ‘Jangankan menyentuhku, menatapku saja Lian jijik!’ keluh Yohan dalam hati, rasa getir sejenak mengimbangi gairahnya. Pamor Lian yang melesat tajam sebagai Ketua Serikat Dagang membuat wanita itu berubah menjadi sangat dingin dan sibuk. Harga diri Yohan sebagai suami hancur berkeping-keping seiring dengan kebangkrutan klannya, diperparah dengan bayang-bayang rumor bahwa istrinya mungkin diam-diam melayani bangsawan tua di ibu kota demi melancarkan bisnisnya. Pengasingan Yohan ke Paviliun Nirwana yang terpencil ini murni karena pekerjaan belas kasihan dari keluarga tiri Lian untuk memugar bangunan tua tersebut. Namun, siapa sangka di tempat sunyi ini, ia justru dihadapkan pada ujian iman yang sangat brutal. Yohan menelan ludah dengan susah payah, matanya seolah terkunci pada gerakan jemari Nyonya Mei yang semakin cepat. Napas Yohan ikut memburu. Namun, di saat gairahnya memuncak... Kraaaak! Bangku kayu lapuk yang diinjak Yohan tiba-tiba patah. Keseimbangan pemuda itu hilang seketika. "Sial—!" Braaak! Tubuh tegap Yohan menabrak pintu bambu pemandian itu hingga jebol. Ia tersungkur keras ke lantai batu yang basah, mendarat tepat di sebelah tubuh polos Nyonya Mei. Jantung Yohan seakan berhenti berdetak. Keringat dingin langsung membanjiri punggungnya. Ia tertangkap basah mengintip ibu mertua tirinya yang sedang bermain solo! "M-Maaf, Nyonya Mei! Aku ... Aku tidak sengaja! Pipa bambunya bocor dan—" Yohan terbata-bata, panik setengah mati sambil berusaha memalingkan wajahnya yang memerah. Namun, reaksi Nyonya Mei sungguh di luar dugaan. Bukannya menjerit panik, marah, atau menarik jubah mandi untuk menutupi lekuk tubuh telanjangnya, janda matang itu justru tertawa kecil dengan suara serak yang memabukkan. Tatapan matanya yang sayu akibat sisa gairah kini menatap Yohan lekat-lekat dengan sorot penuh minat. Dengan gerakan yang luar biasa berani dan menggoda, Nyonya Mei sedikit membuka kedua paha mulusnya. Ia sengaja membiarkan menantunya itu melihat sekilas lembah rahasia-nya yang kemerahan dan masih basah oleh cairan gairah. "Kenapa buru-buru memalingkan wajah, Yohan?" bisik Nyonya Mei pelan, suaranya mengalun lembut meruntuhkan akal sehat Yohan. Tubuh Yohan membeku keras. Nyonya Mei perlahan mencondongkan tubuh polosnya ke depan. Aroma wangi bunga mawar dan feromon wanita dewasa yang sangat pekat menyerbu indra penciuman Yohan, membuat pusaka pribadi-nya berdenyut makin sakit. Tangan Nyonya Mei terulur lembut, berniat menyentuh rahang Yohan yang mengeras menahan hasrat. Hanya tinggal beberapa sentimeter sebelum jemari mertuanya itu menyentuh kulitnya, sebuah suara nyaring tiba-tiba memecah keheningan dari arah luar lorong kayu paviliun. "Bibi! Bibi di dalam? Jubah sutra Bibi tertinggal di kamarku!" Itu suara Rin, sepupu ipar Yohan dari pihak Lian. Langkah kaki wanita muda yang blak-blakan itu terdengar semakin mendekat. Sihir gairah yang sempat mengikat Yohan langsung hancur berkeping-keping digantikan rasa horor. Kepanikan tingkat tinggi kembali menyerangnya. Jika Rin melihatnya berduaan dengan Nyonya Mei yang sedang telanjang bulat dalam posisi ambigu seperti ini, tamatlah riwayatnya! "A-aku permisi dulu, Nyonya!" bisik Yohan dengan wajah pucat pasi. Tanpa menunggu balasan Nyonya Mei, Yohan langsung melompat bangkit dan berlari terbirit-birit kabur melewati pintu belakang pemandian sesaat sebelum Rin menggeser pintu utama. Nyonya Mei yang ditinggalkan sendirian hanya bisa tersenyum penuh arti melihat punggung tegap menantunya yang menghilang di balik celah bambu. "Menarik sekali ...," gumam Nyonya Mei pelan. Janda cantik itu menjilat bibir bawahnya sendiri, masih merasakan sisa gairah yang bergelenyar menuntut kepuasan di bawah perutnya.Wanita misterius itu memutar tubuhnya ke depan Yohan, lalu tanpa ragu langsung meraup bibir pemuda itu dengan lumatan yang sangat panas dan rakus. Jika ini terjadi kemarin, Yohan pasti akan langsung menepisnya. Tapi malam ini, hatinya sudah mati. Insting liarnya mengambil alih. "Kau pikir aku akan menolakmu malam ini?" geram Yohan di sela ciuman mereka. Dengan napas memburu, ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita tersebut, menariknya hingga jatuh ke pangkuannya. "Jangan menyesal jika aku menghancurkanmu." "Nghhh... lakukan sesukamu..." lenguh wanita itu tertahan, membiarkan tangan Yohan meremas puncak aset kembar dan pinggulnya dengan liar. Namun, di tengah kegilaan dan ciuman yang memabukkan itu, Yohan tersentak. Dari arah samping dipan, sepasang tangan yang berbeda merayap naik ke atas pahanya. Mata Yohan terbelalak. "Tunggu... tangan siapa ini? Ada dua orang di ruangan ini?!" seru Yohan syok, mencoba memundurkan tubuhnya. Tangan wanita kedua itu sama se
Hati Yohan bergetar pelan. Sentuhan dan kata-kata Hana membelai egonya yang sudah lama hancur. "Istriku punya ambisi yang jauh lebih besar dari sekadar memikirkan suaminya," balas Yohan tersenyum getir. Ia menarik tangannya perlahan. "Terima kasih atas jamuannya hari ini. Tapi hari sudah mulai sore, dan aku harus kembali ke paviliun untuk memeriksa pekerjaan pemugaran." Melihat Yohan bersiap pergi, Nyonya Han ikut berdiri. Ia justru melangkah maju hingga tubuh sintalnya menempel ringan di dada Yohan. Kedua tangannya terangkat, merapikan kerah jubah Yohan dengan gerakan yang sangat lambat. "Kau selalu berusaha lari dariku, Yohan," bisik Nyonya Han di depan bibir pemuda itu. Napas hangatnya menyapu wajah Yohan. "Tapi ingat... ranjang di paviliun itu akan terasa semakin dingin setiap malamnya. Pintuku di ibu kota selalu terbuka lebar untukmu." Yohan menahan napas saat Nyonya Han mendaratkan kecupan singkat yang basah di sudut bibirnya. "Kapan pun kau butuh pelampiasan... datangl
Bukannya merapikan posisi duduknya yang berantakan, wanita itu justru sengaja mengubah posisinya.Rin merebahkan tubuhnya sedikit ke belakang, lalu dengan gerakan pelan yang sangat memancing, ia melebarkan kedua pahanya.Celana sutra pendek yang ketat itu semakin tertarik ke atas, nyaris mengekspos pangkal lembah rahasia-nya secara terang-terangan."Masih belum puas menatapku di ruang kitab tadi?" goda Rin sambil menggigit bibir bawahnya. "Kemarilah. Aula ini sedang sepi. Kau bisa melanjutkannya di sini."Melihat paha mulus yang terbuka lebar menantang di depannya, jakun Yohan bergerak naik turun.Hawa panas kembali menjalari aliran darahnya, memancing pusaka pribadi-nya yang baru saja tenang untuk kembali berdenyut keras.Namun, luka di hatinya akibat pesan berdarah tadi jauh lebih kuat menguasai perasaannya saat ini."Tutup kakimu, Rin. Dan pakai pakaian yang pantas jika kau sedang berada di aula utama," balas Yohan dengan nada suara yang sangat dingin dan datar, nyaris terdengar se
Akal sehat Yohan benar-benar berada di ujung tanduk. Hawa panas meledak di kepalanya. Pusaka pribadi miliknya di balik celana langsung menegang keras dan berdenyut menyakitkan.Naluri lelakinya mendesaknya untuk merobek celana sutra tipis itu. Namun, tepat saat hidungnya hampir menyentuh kehangatan tersebut, isi surat semalam menyambar benaknya."Tunggu," geram Yohan, menahan napasnya. "Apa kau yang mengirim pesan panah semalam, Rin?""Panah? Panah apa maksudmu?" Rin membuka matanya, menatap bingung."Pesan untuk menemuiku di ruang kitab siang ini. Apa ini semua hanya jebakanmu untuk menggodaku?!" tuntut Yohan."Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Yohan! Aku benar-benar jatuh!"Mendengar itu, darah Yohan mendidih. Jika Rin tidak berbohong, berarti pengirim aslinya mungkin sedang mengawasi mereka sekarang! Jika ia menyerah pada godaan ini, ia tak lebih dari pria rendahan yang gampang dipermainkan.Dengan rahang mengeras, Yohan mencengkeram lantai kayu, lalu dengan satu sentakan kuat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.