MasukVania menatap telur hitam berukuran masif di hadapannya. Serat merah di cangkangnya berdenyut. Ini bukan sekadar barang sitaan. Vania tidak peduli seberapa bahayanya telur yang dikatakan oleh sistem.
Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin pergi dari tempat ini. Membawa serta ke empat pria yang masih tak sadarkan diri sejak lima belas menit yang lalu. Vania tampak berpikir keras. Takut jika Rayner kembali. "Sistem," panggil Vania. [Ya, Tuan Rumah?] "Apa kau sudah menemukan tempat yang aman untuk mereka? Yang tidak bisa dijangkau oleh Kekaisaran maupun pemburu?" [Sistem masih memproses rute pelarian yang aman. Dan saat ini, server masih sangat sibuk...] Vania memijat pelipisnya. Kepalanya kembali berdenyut keras. Deg. Sebuah ingatan asing mendadak merangsek masuk. Samar, namun terasa sangat tajam. Seperti pecahan kaca yang tiba-tiba menyusun dirinya sendiri di dalam otak Vania. Hamparan tanah tandus. Langit berwarna ungu pekat. Danau hitam yang memantulkan keputusasaan. Dan kabut tebal yang melelehkan tulang manusia. Habitat asli para monster ini. Tempat mereka seharusnya berada sebelum diseret ke penjara ini. Ingatan itu bukan milik Vania. Itu adalah memori murni dari pemilik tubuh. "Lembah Abyss," gumam Vania tegas. "Kita harus membawa mereka kembali ke sana." Sistem Eros langsung melesat ke depan wajahnya. Sayap kelelawarnya mengepak sangat panik. [APA?! Lembah Abyss?! Tuan Rumah, itu ide gila yang pernah ku dengar!] "Kenapa?" [Udara di Lembah Abyss penuh dengan racun korosif tingkat tinggi! Paru-paru dan kulit manusia akan meleleh dalam hitungan menit di sana!] "Pemilik tubuh ini pernah ke sana!" bantah Vania. "Ingatan tubuh ini membuktikannya. Dia menangkap para Abyss langsung dari perbatasan." [Itu Violetta! Dia adalah Panglima yang memakai zirah dan perlengkapan militer sihir!] Gumpalan awan itu berputar histeris. [Tuan Rumah saat ini cuma memakai gaun robek dan membawa kotak P3K! Anda akan mati lemas!] Vania menoleh menatap telur hitam di sudut ruangan. Serat merah di cangkang obsidian itu terus berdenyut, memancarkan gelombang kehangatan yang aneh. Ingatan Violetta kembali melintas. Kali ini jauh lebih rinci. Telur Naga Hitam. "Aku akan pakai telur ini," kata Vania tanpa ragu. [Telur Orion? Sebagai tameng anti-radiasi?!] "Dia tidak terpengaruh racun. Radiasi panasnya bisa melindungiku seperti kubah." [Itu cuma teori medis yang sangat berisiko! Tuan Rumah bahkan tidak tahu pasti apakah—] "Kau punya ide lain yang lebih cemerlang?" sela Vania tajam. Sistem seketika terdiam. Vania melanjutkan, suaranya sangat logis. "Kalau kita tetap di sini, Rayner akan datang. Dengan kondisi tubuhku seperti ini, apa kau yakin kita bisa melawan? Sementara itemku saat ini sangat terbatas? Lalu ... Kalau kita lari ke hutan atau tempat lain, Kekaisaran pasti akan memburu kami." Vania menatap jeruji besi. "Lembah Abyss adalah satu-satunya tempat yang tidak akan mereka sentuh." [Itu karena tidak ada manusia waras yang mau masuk ke neraka bocor itu...] cicit Sistem pelan. "Tepat sekali." [Tuan Rumah benar-benar gila.] "Aku anggap itu sanjungan!" seru Vania. "Sekarang, siapkan teleportasinya. Berapa biayanya?" [Hmm... Okelah kalau Tuan Rumah memaksa,] jawab Sistem Eros dengan suara mekanis yang mendadak berubah terlampau ceria. Firasat Vania langsung memburuk. Dia benar-benar tidak suka dengan ekspresi ceria pemandunya ini. [Total biaya teleportasi VIP massal ke titik habitat Abyss adalah 10.000 Poin Eros!] "Apa?!" Mata Vania melotot lebar. "Kau gila, ya?!" [Aku sangat waras, Tuan Rumah!] "Aku baru saja mengumpulkan koin itu dengan nyawaku yang hampir di-giveaway ke akhirat! Dan sekarang poin itu ludes hanya karena satu item sialan?!" Vania menunjuk makhluk itu dengan marah. "Jangan keterlaluan jadi sistem!" [Hoho, Tuan Rumah, bisnis itu kejam. Tidak ada diskon darurat,] kekeh Sistem Eros, mengepakkan sayap mininya dengan gaya yang teramat sangat menyebalkan. [Memindahkan empat monster kelas berat dan satu telur naga langka itu menguras daya server Sistem. Habitat mereka bukan di bagian benua ini!] "Aku tidak peduli dengan jarak! 10.000 itu perampokan, Buntalan Kentut!" [Dengarkan dulu! Ini paket VIP! Plus pembuka rantai segel para tahanan. Apa Tuan Rumah mau kita transportasi dengan Istana beserta isinya sekaligus?] BRAAK! Suara pintu besi di ujung koridor luar tiba-tiba didobrak paksa. Deru langkah kaki besi terdengar menggema. Bukan satu atau dua orang. Melainkan puluhan. "KEPUNG SEMUA PINTU KELUAR! JANGAN BIARKAN WANITA JALANG ITU LOLOS!" Itu suara Rayner. Pria itu benar-benar kembali dengan pasukan pembunuh. Vania menggertakkan giginya hingga berbunyi. "Kau... Kau memang Sistem kapitalis! Ya! Aku setuju!" teriak Vania kalap. "Ambil semua koinnya dan pindahkan kami sekarang sebelum pasukan istana mendobrak pintu ini!" [Transaksi berhasil! Mengurangi 10.000 Poin Eros! Segel rantai dibebaskan!] Sebuah lingkaran sihir emas raksasa meledak tepat di bawah kaki Vania. Vania berlutut di tengah lingkaran. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk menarik tubuh keempat monster yang pingsan agar masuk ke dalam batas sihir. Di saat yang sama, pasukan zirah mendobrak masuk ke dalam blok penjara. Brak! "Itu dia! Bunuh! Wanita itu sudah melakukan makar dan mencoba mencuri Abyys langka milik kekaisaran!" teriak Rayner menunjuk Vania. Vania hanya memberikan satu tatapan mengejek, sambil mendekap erat telur Orion di dadanya. WUSHH! Cahaya emas meledak hebat, membutakan seisi ruangan. Lalu... hampa. * * Air. Dingin. Udara seketika berubah basah. Byur! Vania tersedak hebat. Ia meronta, meraih ke atas. Tangannya menemukan permukaan batu yang kasar. Ia menyeret tubuhnya yang basah kuyup ke tepian. Batu-batu hitam yang sangat licin. Udara yang sangat lembap dan berbau belerang. Serta hamparan langit malam yang berwarna ungu gelap tanpa bintang. Danau Obsidian. Di pelukannya, telur Orion memancarkan cahaya merah terang. Membuat kubah transparan yang menghalau kabut beracun di sekitarnya. Vania bisa bernapas dengan normal. "Aku... berhasil," pantul Vania, terengah-engah kehabisan napas. Vania memutar tubuhnya. Mencari para tawanannya. Tapi— "ARRGH!" Sebuah lolongan panjang yang menyayat hati memecah keheningan malam lembah Abyss. Vania menoleh cepat. Lycan, Zephyr, dan Gargantua tergeletak di tepi danau batu. Namun mereka tidak sedang tidur tenang. Tubuh mereka kejang-kejang hebat. Kulit mereka melepuh parah. Asap tipis mengepul dari lengan Lycan seolah dagingnya baru saja dilempar ke atas wajan panas. "Aegir!" panggil Vania panik. Duyung bersisik biru itu menggelepar liar di air danau yang dangkal. Insangnya membuka-tutup dengan sangat cepat. Sisik birunya seketika menghitam, lalu mengelupas satu per satu bersama darah. Insting medis Vania meledak. Ia berlari menghampiri Aegir. "Sistem! Apa yang terjadi pada mereka?!" teriak Vania kalut. "Kenapa tubuh mereka terbakar?!" [Tuan Rumah! Anomali kritis terdeteksi!] "Apa maksudmu anomali?! Beri aku diagnosisnya!" "Huek!" Zephyr tiba-tiba memuntahkan darah hitam kental dari mulutnya, matanya terbuka namun pupilnya memutih kosong. [Habitat asli mereka... menolak kehadiran kehadiran mereka!] Vania membeku. Tangannya yang hendak menyentuh Aegir tertahan di udara. "Ini rumah mereka! Kenapa tanah kelahiran mereka sendiri menolak mereka?!" [Data tidak lengkap! Tapi energi Abyss di danau ini tidak mengenali mereka!] Vania menatap tubuh mereka yang perlahan membusuk. Napas Vania memburu dengan tangan yang gemetar. Bahkan tanah kelahiran mereka sendiri menolak keberadaan mereka, lalu ... siapa mereka? "Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang sudah dilakukan oleh tubuh ini pada mereka?"WUUUSHHH! BLAAAAAARRR!Sensasi ditarik dengan kecepatan cahaya melintasi pusaran ruang dan waktu membuat perut Vania seolah diaduk-aduk. Tubuhnya terasa ditarik ke jutaan arah yang berbeda.Begitu kilatan cahaya emas yang membutakan itu mereda, kakinya kembali berpijak pada sesuatu yang sangat keras dan dingin.Angin segar yang membawa aroma magis bunga teratai langsung menyapu wajahnya, membersihkan paru-parunya dari sisa polusi dan bau kaporit.Vania membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia tidak lagi berada di apartemen tiga puluh meter perseginya yang berantakan, apalagi di rumah sakit.Ia berdiri tegak di tengah-tengah aula kristal raksasa yang memancarkan pendaran galaksi. Mimbar tinggi dengan enam singgasana raksasa bertahtakan es, karang, magma, giok, dan kristal matahari menjulang anggun di hadapannya.Mereka kembali. Kembali ke jantung Elysium Court."Apa... bagaimana bisa?" Vania terengah-engah.Ia menunduk dan terkesiap melihat pakaian pasien rumah sakit tipis yang tadi di
Seolah menjawab pertanyaan Vania, seluruh bangunan apartemen lantai dua puluh itu bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi magnitudo tujuh. Kaca balkon bergetar keras hingga retak.Dari balik bayangan malam di luar balkon, sebuah tangan batu raksasa merobek terali besi pengaman apartemen Vania dengan sangat mudah seolah itu hanya ranting kering.TRANG! KRAAAK!Gargantua menyusutkan wujudnya secara paksa agar bisa memanjat masuk melalui pintu kaca balkon. Raksasa itu menunduk sangat rendah agar kepalanya tidak menabrak plafon gipsum apartemen."Vio! Aku sangat merindukanmu!" suara bariton Gargantua menggelegar, membuat seluruh kaca piring di lemari dapur Vania berdenting keras. "Gedung kotak-kotak bersusun ini sangat rapuh, aku nyaris meruntuhkannya saat memanjat dari jalanan di bawah sana!""Kau memanjat dinding apartemen dari lantai dasar sampai lantai dua puluh dari luar?!" Vania membelalakkan matanya ngeri, membayangkan kehebohan warga saat melihat rekaman CCTV yang akan viral
VROOOM! CIIIIT!Mobil sedan hitam milik Vania berhenti mendadak di area parkir basement apartemen mewahnya, menciptakan decitan ban yang melengking memecah kesunyian malam ibu kota.Di kursi penumpang depan, Orion mencengkeram dashboard plastik mobil itu dengan rahang mengeras. Wajah sang Kaisar Naga terlihat agak pucat di bawah temaram lampu parkir yang redup."Benda besi ini adalah monster paling buruk, lambat, dan paling berisik yang pernah kutunggangi," geram Orion, berusaha menarik sabuk pengaman modern itu dengan kasar hingga nyaris robek. "Dia berteriak, berguncang di setiap tanjakan, dan baunya seperti sisa pembakaran minyak bumi rendahan. Jika ini di Elysium, aku sudah melelehkannya menjadi abu sejak roda pertamanya berputar!""Berhentilah mengeluh, Kadal! Kau sendiri yang bersikeras duduk di depan demi mendominasi ruang pandang!" sahut Lycan dari kursi belakang.BZZZT... KLIK! BZZZT... KLIK!Raja Serigala itu sama sekali tidak memedulikan ketegangan Orion. Lycan justru as
"Singgasana? Di dunia ini, singgasanaku adalah apartemen berukuran tiga puluh meter persegi, dan kau tidak akan menyentuh satu inci pun darinya malam ini!" desis Vania tajam, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada zirah Orion.Sayangnya, tubuh sang Kaisar Naga itu terasa seperti dinding baja padat yang tidak bergeming sedikit pun."Oh? Kau menolakku, Istriku?" Orion justru menyeringai semakin lebar, merapatkan pelukannya hingga Vania nyaris tidak bisa bernapas. Mata merah darahnya menatap nyalang ke sekeliling kamar VIP yang berantakan. "Lalu di mana kau tidur? Di atas ranjang putih pucat yang berbau kematian ini? Aku bisa menghancurkannya sekarang juga dan membuatkan ranjang dari emas murni untukmu.""Berhenti memonopolinya, Kadal Sombong!" raung Lycan dari sudut ruangan.WUSHHH!KRAAAK!Raja Serigala itu mengayunkan pedang esnya, menciptakan gelombang udara beku yang langsung membekukan selimut rumah sakit di atas ranjang Vania."Dunia ini terlalu rapuh, Betina!" seru Ly
BZZZT...TRING!Layar LED raksasa di seberang jalan itu berkedip keras satu kali, lalu kembali normal. Grafis epik dan wajah sang Kaisar Naga lenyap tanpa jejak, digantikan oleh tayangan iklan mobil keluaran terbaru yang bergerak monoton seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Tidak mungkin..." Vania mengusap wajahnya dengan kasar. "Otakku benar-benar sudah rusak. Ini pasti halusinasi."Namun, bantahan logis di kepala Vania langsung dipatahkan saat benda pipih di dalam saku jaketnya bergetar hebat.DRRRTTT... DRRRTTT!Vania merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar. Layar ponselnya tidak menampilkan notifikasi pesan biasa. Alih-alih antarmuka modern yang familier, layar itu didominasi oleh kotak dialog berwarna emas dengan font purba khas Administrator Abyss.[Proses Unduhan Realita: 10%...] [Menyinkronkan Koordinat Wadah Utama...]"Sistem?! Bagaimana mungkin program game bisa meretas ponselku secara langsung?!" desis Vania panik.Matanya menyapu layar dengan cepat. Ia mencoba menekan
Jari telunjuk Vania yang bergetar melayang di atas layar ponselnya. Ragu, takut, namun didorong oleh keputusasaan yang tak terbendung, ia akhirnya menekan ikon aplikasi berwarna emas tersebut.Layar menjadi hitam sejenak.Sebuah alunan musik instrumen bergema dari speaker ponsel. Nada yang seharusnya terdengar megah dan epik itu terasa hampa di telinga Vania.Itu hanya versi MIDI digital dari paduan suara ribuan roh cahaya yang menyambutnya di Elysium Court.Layar memunculkan teks loading dengan font yang sangat ia kenal.[Menyinkronkan Data... 99%]Menu utama terbuka. Terdapat opsi Mulai Petualangan, Galeri Karakter, dan Pengaturan. Dengan napas tertahan, Vania menekan Galeri Karakter.Deretan ilustrasi dua dimensi muncul di hadapannya.Lycan dengan zirah bulu serigalanya, Zephyr dengan senyum liciknya, Aegir yang memegang trisula, Gargantua yang menjulang besar, dan di tengah... Orion, dengan rambut putih dan mata merah darahnya.Vania menyentuh wajah Orion di layar. Layar kaca yang
"Kenapa... kenapa kau peduli pada sisikku?" Tanya Aegir saat hendak menyesap darah Vania. "Karena kau bilang kau cantik. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin melihat sisikmu tumbuh kembali. Aku ingin melihat siripmu yang indah mengembang di dalam air... agar aku bisa melihatmu berenang dengan bebas
“Panas… Tolong hentikan air panas ini!” Lolong keputusasaan itu merobek malam. Tubuh Aegir yang terendam di tepian danau bergolak liar. Sisik-sisiknya rontok seolah tersiram air mendidih, meninggalkan daging kemerahan yang mengepulkan asap. “Keluar dari air itu, Aegir!” Vania menerjang maju, men
"Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu hanya karena kau berlagak baik, hmm? Aku tidak akan menurut dengan manusia kejam sepertimu!" ujar Lycan. “Kalau kau mati karena gengsimu itu,” balas Vania datar, “siapa yang akan melindungi mereka?” Tatapan Lycan berubah. Vania melirik ke arah A
“Merawat mereka dengan cinta dan kasih sayang?” Suara Vania naik setengah oktaf. Ia menatap gumpalan merah muda di depannya dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru saja dicekik, diracun, lalu hampir mati dua kali. Dan sekarang kau menyuruhku menjadi perawat berhati malaikat untuk monster yang jel







