共有

Lima Abyys

作者: Kuldesak
last update 公開日: 2026-05-07 23:26:34

"Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu hanya karena kau berlagak baik, hmm? Aku tidak akan menurut dengan manusia kejam sepertimu!" ujar Lycan.

“Kalau kau mati karena gengsimu itu,” balas Vania datar, “siapa yang akan melindungi mereka?”

Tatapan Lycan berubah.

Vania melirik ke arah Aegir yang gemetar, lalu ke sisi lain sel.

Di sana, dua sosok lain masih dirantai.

Seorang pria bertubuh ramping dengan pupil vertikal seperti ular sedang bersandar malas di dinding batu.

Rambut hitam kehijauannya jatuh berantakan menutupi sebagian wajah tampan yang terlalu tenang untuk ukuran tahanan. Tatapannya licin, berbahaya seperti racun yang tersenyum.

Zephyr.

Di dekatnya, seekor chimera duduk membungkuk. Tubuhnya lebih kecil dari bayangan monster pada umumnya—padat, berotot, dengan surai singa kusut, tanduk kecil melengkung, dan sayap pendek terlipat kaku di punggungnya. Matanya keemasan, tapi kosong seperti anak kecil yang terlalu lama dikurung.

Gargantua.

Vania kembali menatap Lycan.

“Seorang Alpha seharusnya jadi yang terakhir tumbang, bukan yang pertama mati karena keras kepala.”

Rahang Lycan mengeras.

Vania melanjutkan, suaranya tetap datar, tapi setiap katanya menghantam. “Aku tahu kau sangat ingin merobek leherku. Kau juga ingin aku mati. Itu hakmu. Tapi ... Setelah aku selesai mengobatimu, kau bisa mencabikku, atau mungkin membunuhku. Aku serahkan tubuh dan nyawaku padamu.”

Vania menatap lurus ke mata biru terang itu.

“Tapi untuk saat ini, kau harus hidup.”

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Lalu, sangat lambat, Lycan duduk di bangku batu dengan wajah seperti hendak membunuh seseorang.

Vania mengangguk kecil.

“Bagus. Ternyata otakmu masih berfungsi.”

“Sedikit lagi kau bicara,” geram Lycan, “aku akan menggigitmu.”

“Sedikit lagi kau bergerak, aku akan membuatmu pingsan!"

Lycan terdiam.

Aegir menatap Lycan, lalu menatap Vania. Mulutnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dengan cepat kebingungan.

Vania berlutut di depan Lycan. Jemarinya membuka luka di dada pria itu perlahan.

Begitu kain kotor itu tersingkap, napas Vania tertahan.

Bekas cambuk itu jauh lebih buruk dari dugaannya.

Daging membusuk, infeksi menyebar, dan seseorang masih menyebut ini hukuman yang pantas?

Brengsek.

Saat kapas antiseptik menyentuh luka ....

“GHK—!”

Tubuh Lycan menegang brutal.

Tangannya refleks mencengkeram pergelangan tangan Vania.

Cakar itu nyaris menembus kulit kulit Vania.

“Lepas,” kata Vania dingin.

Lycan menatap Vania tajam, napasnya memburu.

“Ini sakit.”

“Bagus,” jawab Vania tanpa ekspresi. “Berarti kau masih hidup.”

Beberapa detik.

Lalu perlahan, Lycan melepaskan tangannya.

Dari sudut ruangan, suara lirih terdengar.

“A-apakah ... dia benar-benar mengobati ...?”

Vania melirik, dan melihat Aegir si duyung dalam bentuk manusia itu memeluk dirinya sendiri. Sisiknya yang rusak bergetar halus.

“Atau mungkin ini hanya cara lain penyiksaan baru yang lebih kreatif?" terdengar si ular Zephyr memprovokasi.

“Kalau aku ingin menyiksamu,” jawab Vania tanpa menoleh, “aku tidak akan repot meyakinkan kalian.”

Zephyr tersenyum tipis, dari rautnya sangat kelihatan. Si ular hijau itu tidak percaya.

Tiba-tiba suara rantai beradu keras mengguncang ruangan.

Gargantua menarik belenggunya sambil menatap Vania.

“Aku lapar.”

Vania menutup luka Lycan dengan perban terakhir.

“Aku juga. Tapi kita semua sedang sibuk.”

“Tapi aku lapar sekarang.” rengek Gargantua lagi.

“Kalau kau lapar terus menggigitku, aku akan memberikan jarum sampai kau bisa tidur selama tiga hari.”

Gargantua berkedip.

Lalu perlahan ... ia duduk lagi.

Aegir berbisik pelan, benar-benar takut. “Dia ... dia berhasil menyuruh Gargantua diam ...”

Lycan mendecih.

“Wanita gila.”

“Terima kasih. Aku anggap itu pujian!”

Vania berdiri, mengambil empat suntikan anestesi dari kotak medisnya. Lalu, menatap mereka satu per satu.

Lycan masih menatapnya penuh curiga, seolah menunggu kesempatan untuk menerkam.

Aegir gemetar tanpa henti di sudut ruangan, seperti daun tipis yang diterpa angin.

Zephyr terlihat paling tenang, tetapi justru itu yang paling berbahaya. Tatapan liciknya jelas menunjukkan pria itu sedang menyusun entah berapa rencana untuk menusuk Vania dari belakang.

Dan Gargantua… chimera kecil itu tampak seperti bisa tiba-tiba menggigit tembok hanya karena bosan.

Vania mengembuskan napas panjang.

Untuk mendapatkan Point Eros, ia harus menangani keempat pria setengah monster.

Sayangnya, Vania tidak punya kemewahan bernama waktu.

Jika harus menghadapi mereka satu per satu dengan bujuk rayu dan drama kepercayaan, pagi bisa datang lebih dulu sebelum semuanya selesai.

Jadi malam ini, diplomasi panjang adalah kemewahan yang tidak sanggup Vania beli. Mereka masih di rantai, ini akan memudahkan pekerjaan Vania.

Lycan menyipit.

“Apa itu?”

Vania mengangkat suntikan.

“Tidur.”

“Apa—”

CUS!

Jarum itu menancap tepat di leher Lycan.

“Dasar— kau cu—”

Tubuh besar itu oleng, lalu jatuh ke lantai batu.

Bruk.

Aegir menjerit.

“AAAAA! Pembunuhan!”

“Bukan pembunuhan. Aku hanya ingin kalian tidur dan beristirahat.”

“Tetap saja itu terdengar seperti kriminal!”

Vania berjalan ke arahnya.

Aegir mundur sambil menangis.

“Jangan! Jangan! Aku rapuh dan cantik!”

“Itulah kenapa kau harus diam dan tidur.”

CUS!

“Pengkhianaaaat..."

Bruk.

Berikutnya Zephyr.

Pria ular itu justru tersenyum tipis.

“Menarik. Aku hampir mulai menyukaimu.”

Cus!

“Itu sangat tidak romantis...”

Ia tumbang.

Terakhir, Gargantua.

Vania menatap chimera kecil itu.

“Kalau aku tidur,” tanya Gargantua pelan, “kau tidak pergi?”

Pertanyaan itu membuat Vania diam sesaat. Suara itu tidak terdengar seperti monster.

Lebih seperti anak kecil yang takut ditinggal.

Vania menghela napas.

“Aku tidak pergi.”

Gargantua mengangguk patuh.

“Baik.”

CUS!

Beberapa detik kemudian, tubuh padat itu roboh ke lantai.

Sunyi.

Akhirnya.

Empat monster buas itu tertidur.

Vania berdiri sendirian di tengah penjara, tubuhnya penuh darah, luka bahunya berdenyut, dan kepalanya terasa seperti ingin pecah.

Sistem Eros muncul berputar riang.

[Ting! Selamat, Tuan Rumah! Misi berhasil!]

“Kalau hadiahnya hanya ucapan selamat, aku akan membuangmu ke got.”

[Tidak! Ada bonus spesial! +10.000 Point Eros berhasil ditambahkan!]

Vania menjatuhkan dirinya ke kursi batu.

Ia tidak tersenyum.

Tidak peduli soal poin.

Pikirannya hanya satu.

Rayner.

Pria itu tidak mungkin diam setelah dipermalukan seperti tadi.

Cepat atau lambat, ia akan datang membawa pasukan.

"Dan kalau itu terjadi ..."

Empat monster ini dalam bahaya.

“Sistem.”

[Ya, Tuan Rumah?]

“Mereka harus keluar dari sini.”

Sistem Eros berputar cepat.

[Aku suka cara berpikirmu! Dan kebetulan sekali—]

Vania menyipit.

“Aku benci saat suaramu terdengar riang!”

[Aku punya misi baru!]

“Sudah kuduga.”

Layar merah muda muncul di udara.

[MISI BARU: Selamatkan Lima Abyss! Pindahkan mereka ke tempat aman!]

Vania menatap tulisan itu.

Lalu mengernyit.

"Li ... Lima?”

Vania menoleh perlahan ke arah ruangan.

Ada Lycan, Aegir, Zephyr, dan Gargantua.

Empat.

Hanya empat.

“Kenapa tertulis lima?”

Sistem Eros mendadak diam.

Lalu suara kecil itu menjawab perlahan.

[Karena memang ada lima, Tuan Rumah.]

Suasana penjara mendadak terasa jauh lebih dingin.

Vania berdiri perlahan.

Tatapannya bergerak ... lalu berhenti pada sudut paling gelap di ruangan.

Di sana, tertutup kain hitam tua dan rantai besi berlapis segel sihir. Ada suatu berukuran besar tergeletak diam.

Sebuah telur hitam.

Permukaannya pekat dengan Serat merah menyala merambat di cangkangnya seperti lahar hidup.

Vania melangkah perlahan mendekat.

Semakin dekat, hawa panas itu semakin terasa menusuk kulit. Bukan panas biasa, melainkan seperti berdiri terlalu dekat dengan mulut gunung berapi yang sedang bernapas.

Keringat tipis muncul di pelipis Vania.

“Kenapa benda ini ada di penjara bawah tanah?” gumam Vania.

Sistem Eros berputar kecil, suaranya kali ini jauh lebih pelan.

[Karena itu bukan sekadar telur biasa.]

“Jangan bilang ini telur ayam neraka. Dan kau memintaku untuk mengeraminya?"

[Tentu saja tidak! Karena itu telur Orion. Dan jika dia menetas sebelum kalian keluar dari sini, seluruh istana akan dibumihanguskan!]

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    TAMAT

    WUUUSHHH! BLAAAAAARRR!Sensasi ditarik dengan kecepatan cahaya melintasi pusaran ruang dan waktu membuat perut Vania seolah diaduk-aduk. Tubuhnya terasa ditarik ke jutaan arah yang berbeda.Begitu kilatan cahaya emas yang membutakan itu mereda, kakinya kembali berpijak pada sesuatu yang sangat keras dan dingin.Angin segar yang membawa aroma magis bunga teratai langsung menyapu wajahnya, membersihkan paru-parunya dari sisa polusi dan bau kaporit.Vania membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia tidak lagi berada di apartemen tiga puluh meter perseginya yang berantakan, apalagi di rumah sakit.Ia berdiri tegak di tengah-tengah aula kristal raksasa yang memancarkan pendaran galaksi. Mimbar tinggi dengan enam singgasana raksasa bertahtakan es, karang, magma, giok, dan kristal matahari menjulang anggun di hadapannya.Mereka kembali. Kembali ke jantung Elysium Court."Apa... bagaimana bisa?" Vania terengah-engah.Ia menunduk dan terkesiap melihat pakaian pasien rumah sakit tipis yang tadi di

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lima Suami, Satu Ranjang

    Seolah menjawab pertanyaan Vania, seluruh bangunan apartemen lantai dua puluh itu bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi magnitudo tujuh. Kaca balkon bergetar keras hingga retak.Dari balik bayangan malam di luar balkon, sebuah tangan batu raksasa merobek terali besi pengaman apartemen Vania dengan sangat mudah seolah itu hanya ranting kering.TRANG! KRAAAK!Gargantua menyusutkan wujudnya secara paksa agar bisa memanjat masuk melalui pintu kaca balkon. Raksasa itu menunduk sangat rendah agar kepalanya tidak menabrak plafon gipsum apartemen."Vio! Aku sangat merindukanmu!" suara bariton Gargantua menggelegar, membuat seluruh kaca piring di lemari dapur Vania berdenting keras. "Gedung kotak-kotak bersusun ini sangat rapuh, aku nyaris meruntuhkannya saat memanjat dari jalanan di bawah sana!""Kau memanjat dinding apartemen dari lantai dasar sampai lantai dua puluh dari luar?!" Vania membelalakkan matanya ngeri, membayangkan kehebohan warga saat melihat rekaman CCTV yang akan viral

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Diserbu Para Suami

    VROOOM! CIIIIT!Mobil sedan hitam milik Vania berhenti mendadak di area parkir basement apartemen mewahnya, menciptakan decitan ban yang melengking memecah kesunyian malam ibu kota.Di kursi penumpang depan, Orion mencengkeram dashboard plastik mobil itu dengan rahang mengeras. Wajah sang Kaisar Naga terlihat agak pucat di bawah temaram lampu parkir yang redup."Benda besi ini adalah monster paling buruk, lambat, dan paling berisik yang pernah kutunggangi," geram Orion, berusaha menarik sabuk pengaman modern itu dengan kasar hingga nyaris robek. "Dia berteriak, berguncang di setiap tanjakan, dan baunya seperti sisa pembakaran minyak bumi rendahan. Jika ini di Elysium, aku sudah melelehkannya menjadi abu sejak roda pertamanya berputar!""Berhentilah mengeluh, Kadal! Kau sendiri yang bersikeras duduk di depan demi mendominasi ruang pandang!" sahut Lycan dari kursi belakang.BZZZT... KLIK! BZZZT... KLIK!Raja Serigala itu sama sekali tidak memedulikan ketegangan Orion. Lycan justru as

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Dua Raja Abyss Yang Menyamar

    "Singgasana? Di dunia ini, singgasanaku adalah apartemen berukuran tiga puluh meter persegi, dan kau tidak akan menyentuh satu inci pun darinya malam ini!" desis Vania tajam, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada zirah Orion.Sayangnya, tubuh sang Kaisar Naga itu terasa seperti dinding baja padat yang tidak bergeming sedikit pun."Oh? Kau menolakku, Istriku?" Orion justru menyeringai semakin lebar, merapatkan pelukannya hingga Vania nyaris tidak bisa bernapas. Mata merah darahnya menatap nyalang ke sekeliling kamar VIP yang berantakan. "Lalu di mana kau tidur? Di atas ranjang putih pucat yang berbau kematian ini? Aku bisa menghancurkannya sekarang juga dan membuatkan ranjang dari emas murni untukmu.""Berhenti memonopolinya, Kadal Sombong!" raung Lycan dari sudut ruangan.WUSHHH!KRAAAK!Raja Serigala itu mengayunkan pedang esnya, menciptakan gelombang udara beku yang langsung membekukan selimut rumah sakit di atas ranjang Vania."Dunia ini terlalu rapuh, Betina!" seru Ly

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tamu Tak Diundang

    BZZZT...TRING!Layar LED raksasa di seberang jalan itu berkedip keras satu kali, lalu kembali normal. Grafis epik dan wajah sang Kaisar Naga lenyap tanpa jejak, digantikan oleh tayangan iklan mobil keluaran terbaru yang bergerak monoton seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Tidak mungkin..." Vania mengusap wajahnya dengan kasar. "Otakku benar-benar sudah rusak. Ini pasti halusinasi."Namun, bantahan logis di kepala Vania langsung dipatahkan saat benda pipih di dalam saku jaketnya bergetar hebat.DRRRTTT... DRRRTTT!Vania merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar. Layar ponselnya tidak menampilkan notifikasi pesan biasa. Alih-alih antarmuka modern yang familier, layar itu didominasi oleh kotak dialog berwarna emas dengan font purba khas Administrator Abyss.[Proses Unduhan Realita: 10%...] [Menyinkronkan Koordinat Wadah Utama...]"Sistem?! Bagaimana mungkin program game bisa meretas ponselku secara langsung?!" desis Vania panik.Matanya menyapu layar dengan cepat. Ia mencoba menekan

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tiga Hari Berlalu

    Jari telunjuk Vania yang bergetar melayang di atas layar ponselnya. Ragu, takut, namun didorong oleh keputusasaan yang tak terbendung, ia akhirnya menekan ikon aplikasi berwarna emas tersebut.Layar menjadi hitam sejenak.Sebuah alunan musik instrumen bergema dari speaker ponsel. Nada yang seharusnya terdengar megah dan epik itu terasa hampa di telinga Vania.Itu hanya versi MIDI digital dari paduan suara ribuan roh cahaya yang menyambutnya di Elysium Court.Layar memunculkan teks loading dengan font yang sangat ia kenal.[Menyinkronkan Data... 99%]Menu utama terbuka. Terdapat opsi Mulai Petualangan, Galeri Karakter, dan Pengaturan. Dengan napas tertahan, Vania menekan Galeri Karakter.Deretan ilustrasi dua dimensi muncul di hadapannya.Lycan dengan zirah bulu serigalanya, Zephyr dengan senyum liciknya, Aegir yang memegang trisula, Gargantua yang menjulang besar, dan di tengah... Orion, dengan rambut putih dan mata merah darahnya.Vania menyentuh wajah Orion di layar. Layar kaca yang

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Darah dan Permohonan

    “Panas… Tolong hentikan air panas ini!” Lolong keputusasaan itu merobek malam. Tubuh Aegir yang terendam di tepian danau bergolak liar. Sisik-sisiknya rontok seolah tersiram air mendidih, meninggalkan daging kemerahan yang mengepulkan asap. “Keluar dari air itu, Aegir!” Vania menerjang maju, men

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lembah Abyss

    Vania menatap telur hitam berukuran masif di hadapannya. Serat merah di cangkangnya berdenyut. Ini bukan sekadar barang sitaan. Vania tidak peduli seberapa bahayanya telur yang dikatakan oleh sistem. Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin pergi dari tempat ini. Membawa serta ke empat pria yang ma

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Perintah Sang Dokter

    “Merawat mereka dengan cinta dan kasih sayang?” Suara Vania naik setengah oktaf. Ia menatap gumpalan merah muda di depannya dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru saja dicekik, diracun, lalu hampir mati dua kali. Dan sekarang kau menyuruhku menjadi perawat berhati malaikat untuk monster yang jel

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Menampar Pangeran

    [Waktu dihentikan sementara!] Semua yang bergerak mendadak terhenti. Seperti ditekan tombol pause. Tenggorokan Vania terasa terbakar. Di depan hidungnya, sebuah gumpalan merah muda bersayap kelelawar melayang riang. [Selamat datang, Tuan Rumah! Selamat datang di dunia Game Lima Suami Buas: V

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status