로그인"Tu es peut-être le père de Ninite, mais tu ne le mérites pas. Tu m'as prise de force, et ta vie criminelle lui fera toujours du mal. Tu devrais disparaître de nos vies." "Disparaître?" "Oui, si tu aimes vraiment Ninite, tu devrais disparaître" Min-Ho a juste souri. «Ninite est la chose la plus précieuse que j'ai dans ma vie de merde. Je ne m'éloignerai jamais de lui. » Son sourire s'élargit. « Et de toi non plus. Je l'ai déjà dit la première fois... Une fois à l'intérieur, tu es à moi pour toujours." ----------------------------- Bella est une jeune femme innocente qui a grandi dans une famille avec des valeurs strictes. Elle a une profonde haine envers les gangs et leurs membres. Ses parents biologiques sont morts à cause d'un chef mafieux et son meilleur ami a été tué dans une guerre entre gangs rivaux. Depuis ces horribles événements, elle éprouve pour eux un immense mépris et du dégoût car pour elle, ce ne sont que des ordures. Mais après une aventure d'un soir, qu'elle croit être un viol, elle tombe enceinte. Paniquée, elle s'enfuit mais découvre vite que le père de son fils est un mafieux, le plus impitoyable qui soit, et ce dernier a décidé qu'elle lui appartenait comme son épouse et la mère de son fils. Il ne la laissera jamais le quitter ni s'éloigner de lui. Elle est désormais liée à lui bon gré mal gré, et ce pour le meilleur et le pire. Face aux nombreux dangers qui l'attendent en étant avec cet homme, Bella sera-t-elle capable d'y faire face pour le bien de son fils ? Son cœur sera-t-il prêt à pardonner et à accepter cet homme au caractère si difficile et au regard si cruel et possessif ?
더 보기“Kalau jalan itu pake mata yaa, jangan Cuma dijadiin pajangan aja.”
Maheswari Andhira Swastika atau biasa dipanggil Andhira, dia menatap tajam laki-laki dihadapannya saat ini yang hanya menaikkan sebelah alis.
“Kamu yang nabrak, kok saya yang diomelin?” tanya laki-laki mengenakan kemeja berwarna hitam lengan panjangan yang dilipat hingga siku, Dareen Arsenio atau biasa dipanggil Arsenio.
“Saya? Jelas-jelas saya yang jatuh, kenapa saya yang dituduh nabrak kamu?” tanya Andhira tidak kalah menantang, dia memang dikenal sebagai perempuan yang tidak bisa dikalahkan, bahkan tidak ada yang berani menyenggolnya.
“Kamu lemah, makanya kamu jatuh.”
Andhira berdecak, kesal dengan Arsenio, “Kamu semester berapa sihh? Kok kayanya udah tua banget. Mahasiswa abadi ya?” tanyanya sedikit mengejek.
Arsenio menaikkann sebelah alisnya, “Saya cuma mau sama kamu ya, Maheswari Andhira Swastika, jaga sikap kamu mulai sekarang, jangan sampai kamu yang malu nantinya.”
Andhira bersidekap dada, meneliti wajah Arsenio yang seperti orang Eropa, “Saya gak pernah liat kamu, apa jangan-jangan kamu penguntit ya?”
Arsenio tertawa, “Saya? Penguntit? Kamu lucu ya ternyata,” ucapnya. Dia menunduk, memperhatikan kedua bola mata Andhira dalam membuat gadis itu bergeming, “Jangan bikin saya melakukan tindakan seperti yang kamu tuduhkan kepada saya ya, Andhira.”
Andhira menggeleng, menaikkan dagunya menantang, “Saya nuduh sesuai fakta. Kamu tau nama panjang saya, berarti kamu cari tau tentang saya, kan?”
Arsenio mengangguk santai, “Lagian yaa, saya gak ada waktu buat jadi penguntit. Waktu saya itu berharga,” ucapnya. Dia menegakkan kembali tubuhnya dan tersenyum kepada Andhira.
Andhira berdecak, dirinya menggeser ke kanan, tetapi Arsenio melakukan hal yang sama. Andhira ke kiri, Arsenio ke kiri. Dia kesal dengan Arsenio yang memang sengaja memancing emosinya.
“Siapapun kamu, saya gak perduli. Minggir!”
Arsenio memegang pergelangan tangan Andhira, “Saya mau buat kesepakatan sama kamu,” ucapnya. Andhira menaikkann sebelah alisnya, dia bingung dengan Arsenio.
“Buat apa? Keuntungan saya apa?”
Arsenio tersenyum manis, “Banyak keuntungan buat kita berdua.”
Andhira menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman Arsenio, tetapi tidak semudah yang dibayangkan. “Lepasin atau saya teriak karena kamu melakukan kekerasan sama saya?”
Arsenio mengangguk, “Buat kesepakatan sama saya, atau saya tarik kamu ke kelas buat ikut kelasnya pak Yudi?”
“Kamu gak berhak maksa saya.”
Arsenio terkekeh, dia menarik Andhira untuk mendekat, tidak ada jarak dengannya dan Andhira. “Kamu itu tanggung jawab saya mulai saat ini. Jadi, kamu gak bisa seenaknya bertindak tanpa persetujuan atau sepengetahuan dari saya.”
Andhira melebarkan kedua matanya, tetapi di tahan oleh Arsenio, dia berdecak, “Kamu siapa sih?”
Arsenio tersenyum manis, dia mendekatkan wajahnya kepada Andhira, meneliti wajah cantik yang dimiliki oleh Andhira, walaupun tanpa polesan makeup. Sedangkan Andhira mengatur jantungnya yang berdegup dengan kencang.
“Sampai bertemu dilain waktu, Maheswari Andhira Swastika.”
***
“Kamu kenapa sihh? Daritadi aku perhatiin kok kaya kesel gitu.”
Darwis Kusuma atau biasa dipanggil Darwis, sahabat dari Andhira. Dia dan Andhira saat ini sedang berada di gazebo fakultas Ilmu Komunikasi, hanya berdua. Sedangkan Andhira hanya bergeming dengan wajah yang kesal.
“Aku itu lagi kesel banget-banget,” ucap Andhira, dia menatap Darwis yang sedang mengepulkan asap ke udara.
“Kenapa?”
Andhira membenarkan posisinya, duduk bersila menatap Darwis, “Aku tadi kan cabut dari kelas, terus pas diparkiran, aku ketemu sama cowo, ganteng tauu. Tapii ngeselin, rasanya tuhh mau aku cakar aja mukanya yang tengil.”
Darwis menaikkan sebelah alisnya, “Anak sini juga?” tanyanya, dijawab dengan gelengan kepala.
“Aku gak tauu, tapi aku inget orangnya. Nanti kalau ketemu yaa aku kasih tau.”
Darwis bergumam, dirinya menaruh rokok elektrik di lantai beralaskan kayu yang sudah dicat menjadi aesteutik. Dia menatap dalam sahabatnya yang sudah bersama dari masih bayi.
“Kamu gak suka sama cowo tadi, kan?” tanya Darwis, membuat Andhira menyemburkan air mineral yang sedang diteguk.
Gadis itu menatap Darwis dengan mengerjapkan mata satu kali, “Kamu bilang apa, Dar? Suka? Gakk lahh, aku gak mungkin suka sama dia. Bukan level akuu.”
Darwis tersenyum menggoda, “Oh iya? Kamu tadi bilang kalau dia itu tadi ganteng, kamu kan sukanya sama yang ganteng-ganteng.”
Andhira menggeleng, “Gak seratus persen. Buktinya kamu ganteng, tapi aku gak suka sama kamu. Berarti kan itu hoax dan kita gak boleh percaya sama hoax,” ucapnya, diakhiri dengan tertawa.
Darwis bergumam, “Menurut kamu, cowo yang kamu tabrak tadi itu seumuran sama kita? Atau dia di atas kitas?” tanyanya. Andhira bergeming, dirinya kembali membayangkan wajah Arsenio yang hampir mendekati kata sempurna.
Gadis itu menggeleng, menghilangkan wajah Arsenio yang memang mempesona, “Gak tauu. Aku gak merhatiin wajah dia.”
Darwis menangguk, percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Tidak lagi menanyakan atau membahas kejadian yang menimpa Andhira tadi pagi, bisa dikatakan gadis itu sedang tidak beruntung.
Hening, keduanya sibuk dengann fikiran masing-masing. Suasana lantai dasar fakultas Ilmu Komunikasi membuat mereka semakin larut dalam fikiran. Andhira kembali membayangkan perdebatan antara dirinya dan Arsenio.
Wajah Arsenio kembali hadir di fikirannya, tetapi Andhira tidak ingin menghilangkan bayangan tersebut, bahkan gadis itu terhanyut, seperti sedang menonton kembali film yang sudah dia tonton sebelumnya.
“Andhira,” panggil Darwis, tetapi tidak membuat Andhira kembali ke kehidupan nyata, membuat Darwis tersenyum jahil.
“Ehhh ada cowo ganteng yang ngeliatin kamu, Dhir,” ucap Darwis, membuat Andhira menoleh, Sedangkan Darwis tertawa melihat respon dari Andhira.
“Kamu ngerjain aku?” tanya Andhira tertahan, sahabatnya itu hanya tertawa. “Tau ah, aku males sama kamu.”
“Kamu itu aku panggil daritadi, malah gak nyaut. Giliran cowo ganteng aja langsung ada respon. Jujur aja sama aku, kamu jatuh cinta sama itu cowo, kan?”
Andhira menggeleng dengan tegas, “Gak yaa. Daripada bahas aku, mending bahas kamu sama Caca. Kamu gak ikut kelasnya Caca?” tanyanya. Darwis menggeleng, dia mengepulkan asap ke udara.
“Kelasnya Caca itu cewe semua. Gak mau lah akuu, nanti sih Caca kesel sama aku kalau ada yang genit. Padahal ya aku kan gak ada genit sama mereka,” ucap Darwis, membuat Andhira tertawa.
“Caca itu kan cemburuan, makanya kamu gak usah berulah. Kalau kalian putus, kamu yang rugi.”
Darwis mengangguk, “Ya makanya, untung aja dia percaya kalau kamu itu penyuka sesama jenis,” katanya, diakhiri dengan tertawa.
Andhira mendelik, “Kurang ajar emang. Aku masih normal tauu.”
“Oh iya? Buktinya sama cowo yang kamu bilang ganteng aja kamu gak suka. Jadi, aku sebagai sahabat kamu juga meragukan, Dhir. Kecuali, kamu kenalin pacar kamu itu ke aku, baru aku percaya kamu itu normal.”
“Kalau aku punya pacar, motor kesayangan kamu itu buat aku yaa?” tantang Andhira, diangguki oleh Darwis.
“Dalam waktu satu bulan, kalau kamu gak punyar pacar, aku percaya rumor yang beredar, kalau kamu itu penyuka sesama jenis.”
“ARE YOU CRAZY, DARWIS KUSUMA?” teriak Andhira, benar-benar terkejut dengan tantangan yang diberikan oleh sahabatnya. Bayangkan, darimana dia bisa punya pacar dalam waktu satu bulan?
Darwis menaikkan sebelah alisnya, “Gak bisa? Gapapa kok, batalin aja. Kan motor aku aman jadinya,” ucapnya diakhiri dengan terkekeh.
Andhira bingung, menyanggupi atau tidak tantangan dari Darwis? Tetapi, kalau dia menyerah begitu saja, harga dirinya jatuh.
“Oke. Dalam satu bulan aku bisa punya pacar, motor sport kesayangan kamu itu buat aku.”
---
“Tu aurais dû nous en parler… As-tu cru que nous étions de tels monstres ? Capables de sacrifier ton bonheur par vengeance ou avidité ?” Jukyung a hurlé alors que Minho, le visage vide et non enclin à écouter les sermons de son père, organisait l'attaque sur Thorns. Il n'avait pas le temps pour ça.“Je ne suis pas un gamin qui viendra toujours dire à ses parents tout ce qui se passe de nouveau dans sa vie. De plus, il était tout à fait normal que je garde des réserves sur la situation…”Minho a pointé Titania qui avait le visage baissé, les mains croisées et la mine grave. Jukyung comprenait, c'est l'homme derrière la mort de ses parents et de son frère, ce même homme qui l'a vendu à un bordel. Peu importe les circonstances, Titania est incapable de pardonner à Andreas, même après avoir tué Alma aussi froidement.Le ressentiment demeure.Minho a détourné le regard, décidant d'être direct.“Je vais récupérer ma famille, mais sachez que je serai impitoyable avec quiconque essayera de fa
Bella s'est réveillée un peu lourde. Du plus loin qu'elle se souvienne, elle était avec son oncle, attendant Minho, Ninite et les autres. Mais là, elle est dans une immense chambre de… princesse ? Elle s'est levée brusquement, la légère migraine qui la dérangeait venant s'accentuer. Mais cela ne l'a pas empêché de courir dans tous les sens pour comprendre ce qui lui est arrivé.Mais avant de pouvoir se questionner longtemps, la porte de sa chambre s'est ouverte avec deux jeunes femmes qui avaient l'air de servantes. Elles ont approchée, alors que Bella se mettait en garde. Elles étaient très grandes de taille, des corps élancés et particulièrement bien agencés pour le combat. Elles étaient également très belles comme des mannequins. Bella a fait un pas en arrière mais grande a été sa surprise quand les deux femmes se sont inclinées devant elle avec respect, presque une forme de soumission “Princesse Isabella, permettez-nous de vous préparer, maître Yelsky vous attend dans la cour…”
Min-Ho portant Ninite, Leïla et les garçons sont sortis aux aurores alors que Jukyung, regardant derrière les rideaux d'une fenêtre les observait. Il ne savait pas ce que son fils avait en tête mais une chose est sûre, Minho par ces actions leur indiquait que ce qu'il faisait ne les regardait pas.Ils avaient été étranges depuis des semaines, même quand il les appelait pour prendre des nouvelles, ils semblaient lui cacher quelque chose.Il a soupiré avant de refermer les rideaux, il crève de curiosité, mais Minho est un adulte et il est le futur jefe tant des Red Dragons que de la Familia. Il n'a pas le droit de le suivre ou de questionner ses faits et gestes. Ça rebuterait son fils qui risque de se braquer et il connaît très bien son capricieux garçon, s'il est vexé, ce sale gosse peut prendre une décision qui ne lui fera pas plaisir.Il a soupiré, mais il avait toujours un malaise en lui alors il a appelé Snake, même si Minho s'énerve, il le fait en tant que père inquiet. Il est cer
Yuri Petrov est un homme logique, cela a toujours été sa ligne de conduite. Même dans les bas fonds de St Petersbourg, il faisait de son mieux pour inculquer à sa sœur cadette certaines réalités car elle avait la tête dans les nuages.Arielle rêvait d'être star alors que lui voulait juste avoir de quoi manger et un toit tous les jours. Alors il travaillait, comme livreur de journaux, dans des chantiers, souvent pour des personnes peu recommandables mais il fallait que sa sœur puisse ne manquer de rien.Alors il a travaillé, jusqu'à ce que, enfin, Arielle lance sa carrière. Ça été facile, elle était non seulement magnifique mais elle avait un talent indéniable. Alors en tant que son manager, il a tout fait pour lui permettre de briller autant qu'elle le souhaitait.Elle a eu des contrats, son nom résonnant dans tous les coins d'Europe, elle était devenue l'étoile qu'elle avait toujours souhaité et il en était fier… cela lui a ouvert tellement de portes, des bonnes et des moins bonnes:
Min-Ho a levé le visage pour contempler son reflet dans le miroir, à quoi bon tergiverser sur la meilleure nuit qu'il ait passé dans sa vie hormis les combats ? Quand il s'en rappelle, il ne peut qu'en ressentir de l'excitation et de la satisfaction.Il avait toujours pensé qu'à force de ne couch
Bella ne comprend pas ce qui a pu se passer.Elle était avec sa sœur, elle a bu ce cocktail curieusement sucré et maintenant, elle est dans cette chambre et sait exactement ce qui s'est passé. Sa mère va la tuer. Elle a perdu sa virginité avec un étranger et elle ne sait même pas s'il a pris ses
" Herminia, si les parents le découvrent, ils vont être très en colère", une jeune fille d'environ 18 ans a parlé alors qu'elle se faisait entraîner dans les rues de la ville par sa sœur. Elles sont habillées de manière assez légère et la jeune fille entend les hommes siffler à leur passage." Arrê
L'avion vient à peine de décoller et déjà Min-Ho s'occupe de ses affaires. Pour tous ceux présents dans l'avion et qui ont dû accompagner ce type dans cette mission, l'air était devenu vraiment lourd.L'aura de ce type pourrait écraser une personne et ce n'est pas son regard glacial qui dirait le c
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.