LOGINAstraea Soem Cadieus is the definition of the most beautiful woman in the world. The innocent young lady with a terrible personality, living in a sacred castle of the cursed kingdom of Cadieus. Many years ago, after the Caelum bloody war, Cadieus' kingdom had fallen, causing a complete change in the world's power balance. To find the way to the truth, Soem was sent to Caelum Academy, an elite and exclusive school for only Caelum's students with outrageous powers and skills.
View MoreLangit menampakkan senyumannya. Semuanya yang ada di bawah atap itu bergembira. Acara akad nikah baru saja selesai. Filza, pipinya memerah, menambah kecantikannya.
Hingga sosok yang masih asing untuk Filza datang. Ramahnya terlihat jelas.
"Assalamu'alaikum. Maaf, aku terlambat." Ucapnya sopan.
"Wa'alaikumsalam. Gak papa." Filza sendiri yang menjawab.
Satu jam setelah itu, semuanya selesai. Filza merasa harus buang air. Langkahnya terburu-buru menuju toilet. Saat berada pas di tengah-tengah pintu, bukannya langsung masuk, dia malah terpaku.
"Aaa!"
Teriakan itu mengagetkan semua orang, termasuk suaminya, Satria. Filza melihat dengan jelas, ayah mertuanya tergeletak bersimbah darah. Pisau masih tertancap di perut pria lansia itu. Sontak Filza langsung mencabut pisau itu. Pas saat itulah suaminya dan yang lain datang.
"Papa!"
Satria memeluk tubuh Wiroyo. Lalu mengamati sekitarnya. Sontak membawanya ke rumah sakit.
Di depan ruang operasi Satria tak henti-hentinya mendoakan Wiroyo. Ingatannya tertuju pada Filza.
"Apa yang terjadi?" Tanya pada Filza.
"Aku juga gak tau, Mas ...." Belum selesai bicara, Satria malah menatapnya tajam.
"Kenapa Kamu pegang pisau itu?!"
Filza langsung paham apa yang dimaksud suaminya.
"Mas, jangan salah paham. Tadi aku liat pisau ini masih menancap di perut papa. Makanya aku cabut pisau itu."
"Bohong! Aku sendiri yang liat." Suara itu masih asing walau beberapa jam lalu baru mendengarnya.
"Airin?"
Satria heran. Bagaimana mantan pacarnya bisa tahu kejadian ini. Padahal sedari tadi wanita itu berkumpul bersama yang lain.
"Ya, aku saksinya. Filza membunuh papamu."
"Apa itu benar?" Suara Satria melemah bahkan hampir tak terdengar.
"Enggak, Mas. Itu gak bener. Aku baru aja ke sini."
"Ini buktinya."
Tanpa basa-basi, Airin menunjukkan rekaman video yang menunjukkan Filza dengan wajah ditutup masker mengenakan pakaian pengantin, menusuk Wiroyo.
"Filza, apa ini?" Suara dingin Satria menusuknya.
"Enggak, Mas. Itu bukan aku. Bukan, Mas."
"Lalu ini apa? Kenapa Kamu setega ini? Kenapa?!"
"Mas salah paham. Aku gak ngelakuin apapun. Aku cuma narik pisau itu. Cuma itu, Mas."
"Udah ada buktinya. Kamu gak bisa mengelak."
Dokter keluar. Memberi kabar bahagia. Satria dibolehkan masuk ke ruang operasi sebentar saja.
"Papa gak papa?" Tanya Satria saat sampai di hadapan Wiroyo.
"Alhamdulillah, pa ... papa gak papa."
"Pa, Filza bener-bener keterlaluan. Aku akan ceraikan dia."
"Kenapa?"
"Loh? Papa kok nanya gitu? Dia udah berani berusaha membunuh papa."
"Ka ... kamu .... Papa gak mau denger kata cerai dari Kamu. Kamu gak boleh berpisah dari Filza."
"Tapi kenapa, Pa?"
"Karena ...." Sebelum Wiroyo mengatakan yang sebenarnya, matanya terlebih dulu tertutup.
"Papa kenapa? Pa, bangun!"
Langit jadi mendung. Suasana rumah Wiroyo jadi pilu. Apa yang terjadi?
"Pa, bangun!" Satria sesenggukan.
"Ikhlasin papa Kamu, Nak." Biha, tantenya Satria menepuk pelan pundak pria itu.
Di balik dinding yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga, Airin berdiri tegak, muncul seringai kecil di bibirnya.
Pemakaman sudah selesai. Kini Filza berada di dalam rumah barunya dengan suaminya. Tapi tak sesuai bayangan, bayangan yang selama ini dia harapkan. Saat-saat dia bahagia bersama Satria, itu tidak terjadi. Kenyataannya, malah terbalik.
"Kamu tidur di sana. Aku di sana." Menunjuk dua kamar yang bersebrangan.
"Loh, bukannya yang itu mau dibuat kamar tamu?" Filza heran.
"Seorang pembunuh gak boleh tidur sekamar apalagi seranjang bersamaku." Ucapan itu menandai berakhirnya pembicaraan antara Filza dan suaminya hari ini.
Sontak mata Filza berkaca-kaca. Rupanya Satria masih mengira dia yang membunuh Wiroyo. Menyadari betapa Satria tak memercayainya, hatinya hancur. Berat, tapi dia harus masuk ke kamar tamu. Sendirian tentunya.
Pagi datang. Suara itu berasal dari dapur. Filza sibuk dengan kompor di hadapannya. Satria muncul, duduk di kursi makan sambil terus merapikan letak dasinya.
"Mas, ini udah jadi sarapannya."
Filza girang, memberikan masakannya pada Satria. Diletakkan seporsi menu sarapan pagi ini. Tapi sayangnya Satya beranjak.
"Aku udah terlambat. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Tapi, Mas ...."
"Aku berangkat."
Setitik kecewa mendarat di pelupuk hati Filza. Tapi tak apa. Bukan masalah besar baginya. Pagi ini, jadwalnya sarapan sendirian.
Malam, Filza sudah menyiapkan masakan khusus untuk Satria. Lelaki itu keluar dari kamar menuju dapur. Baru sadar bahwa Filza yang memasak, dia langsung berbalik arah.
"Mas, mau ke mana? Makan dulu, ya!" Filza mendekat.
"Aku makan di luar aja."
"Tapi aku udah masak khusus buat Mas."
"Aku bilang apa barusan?"
Filza sedikit bingung, tapi dia tahu apa yang harus dia jawab. Sedikit takut memang, tapi mudah-mudahan jawabannya benar.
"Mas mau makan di luar."
"Itu tau. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Filza memandang punggung itu yang semakin menjauh. Lagi-lagi Satria tak mau banyak terlibat dengannya.
Filza sendiri seorang guru Sekolah Dasar. Dia suka anak-anak, apalagi yang gendut, menggemaskan. Seperti biasa, dia datang lebih awal dari guru-guru yang lain. Berkutat di bangkunya, memerhatikan nilai-nilai muridnya.
"Assalamu'alaikum. Bu Filza udah dateng, ya? Rajin banget dateng sepagi ini." Ucap salah satu guru di sana, namanya Tiyas
"Wa'alaikumsalam. Bu Tiyas juga rajin."
"Oh iya, gimana sama suami Ibu? Pasti bahagia, kan? Maaf, ya. Saya gak bisa dateng di resepsi pernikahan Ibu."
"Alhamdulillah, gak papa Bu."
Di dalam hati Filza, "aku bahagia sama Mas Satria. Bagaimanapun dia. Insyaa Allah. Cepat atau lambat mas berubah. Aamiin."
Tiyas menepuk pundaknya pelan. Alhasil, Filza terkejut.
"Kenapa, Bu?"
"Eh, enggak, Bu."
Selesai mengajar, Filza menuju parkiran sekolah. Sontak menggembungkan kedua pipinya melihat ban motor bagian depannya bocor. Tak mau menunggu, Filza menelpon Satria.
"Assalamu'alaikum." Filza memulai pembicaraan di telepon.
"Wa'alaikumsalam."
"Mas, ban motorku kempis. Mas bisa jemput aku?"
"Gak bisa. Aku sibuk. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Rasa sedih kembali lagi. Sekejap Filza memejamkan matanya. Berusaha segenap hati sabar menghadapi Satria. Mau bagaimana lagi? Dia tak punya bukti kuat bahwa dia bukan pelaku pembunuhan ayah mertuanya.
Malam datang, sepeti kemarin, Satria tiba-tiba pergi. Saat ditanya, dia mau makan di luar.
"Mas kenapa?" Kali ini Filza tak mau suaminya cuek lagi.
"Gak papa."
"Makanlah di sini! Aku udah masak buat Mas."
"Kalau aku bilang makan di luar, ya udah, makan di luar. Jangan maksa!"
"M ... maaf, Mas."
Satria pergi. Filza duduk di sofa ruang keluarga. Pandangannya tertunduk. Matanya basah. Sesaat kemudian bulir bening menetes. Cepat-cepat dia menghapusnya.
Di sepertiga malam, Filza bangun. Dia membayangkan ada Satria yang tidur di sampingnya. Tapi nyatanya tak ada. Satria tidur di kamar lain. Rasanya sakit jika mengingat itu. Tak mau membuang waktu, Filza menggelar sajadah dan mengambil wudhu.
Setelah shalat tahajjud selesai, dia berdoa dengan sepenuh hati.
"Ya Allah .... Tolong sadarkan Mas Satria. Hanya Engkau yang bisa menyadarkannya. Hamba sudah menunggu masa-masa ini dari dulu. Hamba tidak mau kehilangan Mas Satria. Hamba mohon, sadarkan Mas Satria. Aamiin."
Everyone woke up, and I got out of bed. I immediately touched my face. I breathed a sigh of relief when I felt the most important thing on my face. I'm still wearing my mask.I looked outside. The sunlight was already very bright.Wait... Why am I in bed?! The last thing I remember last night was being in a corner of the cave."Tsk, you took so long to wake up! Eat already!" Yvy shouted at me as she handed me my food.I glared at her.I took the food she gave me and quickly finished it. Afterward, Celestina helped me change into an armor suit like theirs."Your Highness, be careful, and you too, Astra," Venus reminded us.I only smiled at her.We're separating now to speed up our search. Once everyone has completed and obtained the gems, we'll meet again in this cave. But if it's been thirty days and no one has returned, those who haven't arrived at the meeting place must leave; that's Havoc's order.Angel approached Havoc and me."Be careful, dear prince... Please come back on time,"
Knights slowly opened the large gate. Once fully open, students and royalty streamed through, and I followed.Ms. Salvaria's voice boomed, "Remember, you have only thirty days for this mission. If you don't return on time, the passage will close and won't reopen for a month. No matter what happens, strive to survive, because with each passing day, as long as a Caelumian remains in this forest, this place will become more dangerous, and your lives will be the price.""Begin the mission!" Ms. Salvaria shouted from the other side of the gate before it closed."Let's go this way!" another group yelled.The royals and I walked together in the direction Havoc was heading; he led the way.The ground was muddy, probably from the rain. I regretted wearing a dress. I should have listened to them!"Ahhh!" I screamed, losing my balance. I was about to fall when strong arms wrapped around my waist. Thank goodness, Havoc reacted quickly."Thank you," I said with a cute smile, but he seemed unconcer
“Your mission is to collect the eight sacred gems and return safely to the Academy.” Ms. Salvaria, our teacher, said seriously.“You are divided into four groups. Ms. Soem, you will join the group of royalties.” she said.I simply nodded.“That’s unfair!” one student said.“Why do we have to be with them?” Ivy mumbled.Gosh, why is this girl so nosy?Our section was divided into four groups. And in each group, there should be two or three members who are partners because there are times when we need to separate. Headmistress assigned the partners.“Sierra and Loki, Reise and Kiero. Next, royalties. These are your partners: Princess Venus and Prince Kreo. Princess Celestina and Prince Trevor. Princess Yvy, Princess Angel, and Prince Klev.” Ms. Salvaria hadn’t even finished speaking when a hand went up.“Yes?” Ms. Salvaria asked a student.“Why are Princess Yvy and Prince Klev with Princess Angel? Shouldn’t Princess Angel be with Prince Haze?”Before Ms. Salvaria could answer, Yvy spoke
“Uh? Havoc, where are we going?”“Ouch!” I bumped into his back when he suddenly stopped. I glared up at him as he turned around. I was ready to fight him if I hadn’t remembered my plans.Calm down, Soem.I quickly changed my expression. I lowered my gaze and bowed to him. Shit!“What did you call me?” he asked coldly.I swallowed. Is he always like this? He’s scary! Damn.“H-Havoc…” I whispered his name. It’s right, isn’t it? I’m not sure!When I looked up at him, he didn’t say anything, just stared at me coldly before continuing to walk.We were headed to the HM’s office, and it was a bit of a walk. What could they possibly need from me?Could it be… My gosh! No, it can’t be! Do they know? It’s impossible.I’m such a good actress, they couldn’t possibly have figured me out so quickly.As we walked, I couldn’t help but stare and marvel at him. I have never seen a man this handsome before. He’s the next king of all of Caelum. He’s sure to marry one of the royalties to become queen of
I’m sure I can finish this mission quickly. It seems fate is also in favor of my plans. I easily infiltrated the group of royalties. All I need is to gain their complete trust so I can get closer to the king and queen. I’ll use them like me and Mother planned. I won’t have any trouble with this mis
Astraea POVI was walking down the hallway, heading towards the Headmistress’ office, when I noticed everyone staring at me.“She’s the new girl.”“Why is she wearing a mask? She’s weird.”“What kingdom is she from?”I shook my head and rolled my eyes. I didn’t have time for this. If Gideon hadn’t
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.