เข้าสู่ระบบShe was but a student, yet obliged to marry a man she had never met, for the sake of family. But this so-called husband cavorted daily with different women - and that was fine. Yet he still pestered her from time to time, laying hands on her improperly - clearly taking advantage! She dared not provoke, but flee she could. How bold of his mistress to brazenly visit their home. Well! This suited her own ends, giving them space as she retreated to her little nest, blissful in its coziness. Yet he barged in, occupying her bed. What vile man! Claiming he couldn't sleep without her - likely story! His company never lacked for women. Just as expected - a man's word is worthless. One moment embracing her, the next canoodling other women. She must keep her distance! Best they never meet again in this life!
ดูเพิ่มเติม“Tolong, Mas. Aku mohon sekali ini saja, bantu Ayah,” lirih seorang wanita sambil mengatupkan kedua tangan dan bersujud di depan pria bertubuh kurus.
Sudah setengah jam perempuan cantik bermata sipit itu mengemis di hadapan sang suami. Namun, pria bertubuh tinggi di hadapannya tidak luluh walau secuil kapas. “Heh, Dewi, aku bukan lembaga sosial yang memberi uang Cuma-Cuma? Bodoh amat ayahmu itu mati dan kesakitan, aku tidak peduli!” sentak pria itu sambil mengempas kaki sehingga tubuh mungil di bawahnya tersungkur ke atas lantai. Netra hitam pekat Dewi bergetar dan kedua tangan terkepal kuat di samping tubuh, setelah mendengar kalimat kejam dari bibir suami. Perlahan dia mendongak, menatap dalam wajah pria itu. “Mas Bima … dokter bilang ayahku harus dioperasi segera, kalau tidak …,” kata Dewi dengan suara nyaris tenggelam. Dua jam lalu Dewi menerima kabar dari tetangga di kampung, bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena mendadak sesak napas. Saat itu, dia masih bisa berpikir tenang dan merencanakan menjenguk Danang—ayahnya. Hanya saja, sejam berlalu dia mendapat informasi dari pihak rumah sakit, ayahnya mengalami komplikasi akibat penyakit diabetes yang telah lama diderita. Sehingga jantung serta ginjal bermasalah. Meskipun bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta kota besar, dia tidak bisa meminjam uang ke koperasi pegawai lantaran statusnya pegawai baru kurang dari enam bulan, gajinya pun tidak memadai. Dewi yang kebingungan, pada akhirnya mengemis pertolongan pada sang suami yang dia tahu memiliki cukup uang. Setidaknya, nanti dia akan mencicil dari gajinya. Ya, meskipun menjadi istri seorang manajer, tetapi sudah tiga bulan ini Dewi kesulitan ekonomi untuk memenuhi kehidupan keluarganya di kampung. Dahulu, sebelum ayah mertua meninggal selalu menyokong kebutuhan finansial keluarga Dewi. Hal itu karena mendiang ayah mertua memiliki balas budi pada Danang yang telah menyelamatkan Bima dari derasnya arus sungai. Maka dari itu, Dewi dan Bima dijodohkan dengan harapan dapat membina rumah tangga bahagia, tetapi … tak segampang itu. Sebagai pria terhormat dan terpelajar, tentu saja Bima malu memperistri anak seorang tukang kebun. Dewi baru mengetahui sifat asli Bima setelah ayah mertua meninggal dunia. Tingkah sang suami sangat kasar, ringan tangan dan hobi mabuk-mabukan. Bahkan kekerasan verbal telah menjadi makanan gadis itu sehari-hari. “Kamu ‘kan bekerja sebagai perawat, sembuhkan saja sendiri ayahmu yang matre itu,” ejek Bima diikuti ledakan tawa menggema dalam ruangan tamu. “Cukup, Mas! Kamu boleh menghina aku, tapi tolong jangan ucapkan kata-kata kotor untuk ayahku!” sahut Dewi sambil menatap pedih kepada suaminya. Bima merunduk, lantas menjepit rahang mungil Dewi. Pria itu menatap bengis sepasang mata sipit yang membengkak dan kemerahan. Makin lama Dewi merasakan ujung kuku jari tangan Bima menusuk kulit pipinya. Rintih kesakitan yang keluar dari sela bibir tipis tidak digubris sedikit pun oleh pria itu. Dia berusaha melepaskan cengkeraman, tetapi sulit karena tenaganya kalah jauh dari sang suami. “Kenapa? Sakit, ya?” desis Bima yang diangguki Dewi. Kemudian pria itu mengempas kasar rahang mungil. Bima mengelap telapak tangan, menghilangkan kotoran karena keringat Dewi menempel pada kulitnya. Setelah itu, dia merapikan dasi dan kemeja putih sembari membalik badan, lalu berjalan menuju pintu utama. Dari tempatnya terduduk, netra sipit memperhatikan langkah sepasang kaki tertutup pantofel hitam. Dewi masih berharap Bima memberi pertolongan untuk sekali ini saja. Jujur, dia tidak sanggup jika kehilangan ayahnya, karena pria paruh baya itu adalah tumpuan hidupnya. Namun, kenyataan berbanding terbalik, sang suami justru berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Lima menit berlalu, Dewi tidak mendengar deru mesin mobil. Hanya saja, dia tidak mau berandai-andai lagi dan memilih menyeret kaki ke kamarnya yang berada di belakang rumah besar ini. Tiba-tiba saja, hentakkan sepatu memenuhi indera pendengaran Dewi, makin lama tambah dekat. Namun, dia urung menoleh, lalu mempercepat laju kakinya melewati lorong sempit di belakang dapur. “Berhenti, Dewi!” titah Bima, “berputarlah!” Perlahan Dewi memutar tubuhnya dan menatap wajah sangar pria itu. Dia memperhatikan dengan heran pada Bima karena memindai lekuk tubuhnya, mulai dari buah dada, pinggul sampai sepasang kaki terbungkus kaos kaki. “Lumayan,” kata pria itu manggut-manggut, lantas mengitari badan Dewi. Tanpa banyak kata, Bima melenggang meninggalkan Dewi bersama keputusasaan yang membelenggu gadis itu. Selepas suaminya pergi, Dewi menelepon beberapa teman untuk mencari pinjaman. Sayang, tak satu pun dari mereka bersedia memberikan pinjaman walau sedikit. Semua langsung menutup sambungan telepon. Sekarang Dewi dirundung pilu, dia hanya bisa melambungkan doa setinggi langit agar sebuah keajaiban datang untuk menyelamatkan nyawa Ayah tercinta. Pukul tiga siang Dewi masuk kerja shift dua. Selama menangani pasien di bangsal IGD, dia kurang fokus karena rumah sakit tempat ayahnya dirawat menanyakan kesanggupan keluarga pasien membayar biaya operasi. Alhasil Dewi meminta batas waktu entah sampai kapan, karena dirinya hanya berjanji saja. Waktu berjalan cepat, pukul sepuluh malam Dewi mendapat telepon dari Bima bahwa pria itu menunggu di koridor dekat toilet perawat. Seketika iris hitam berbinar dan relung hatinya menghangat, dia pikir panggilan suara ini adalah jawaban atas doanya, Bima bersedia memberikan pinjaman. “Mas?” panggil Dewi melihat Bima sedang berbicara bersama seorang pria berbadan tambun dengan kepala botak. Kompak dua pasang mata itu menoleh dan memperhatikan setiap lekuk tubuh Dewi, membuat gadis berperawakan mungil itu merinding dan dihinggapi sinyal waspada. Bima langsung menarik paksa lengan Dewi dan membawanya pada sudut lain. Pria itu berbisik, “Kamu butuh uang cepat, bukan? Aku punya solusinya.” Alih-alih mengiakan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya, justru Dewi diam saja. Relung hati gadis itu merasakan hal ganjil di sini. Dia takut dijual ke rumah hiburan. “Tugasmu gampang, cukup hamil dan melahirkan anak untuk pria itu,” sambung Bima sembari menunjuk pada pria tambun di dekat mereka. “Apa?! Aku tidak mau, Mas. Kamu gila!” pekik Dewi tertahan. “Itu cara termudah, lagi pula aku sudah menandatangani kontrak, dalam jangka waktu setahun kamu harus melahirkan bayi. Kalau mundur, kamu wajib mengganti tiga kali lipat, paham!” sentak Bima. Dewi menggeleng tegas, sungguh dia tidak mau mengikuti saran Bima. Lebih baik dirinya bekerja tanpa henti daripada menjual diri seperti ini. “Kamu takut tidur dengannya?” tanya Bima diangguki Dewi. Pria itu menyeringai lalu berkata dengan tegas, “Kamu hanya perlu melakukan proses bayi tabung, mudah ‘kan? Pria itu menjanjikan satu miliar untukmu. Ya, itu pun kalau mau menyelamatkan ayahmu yang penyakitan.” Seketika kelopak mata Dewi melebar dan menatap Bima tidak percaya. Untuk sejenak dia merenung sedangkan Bima terus membisikkan kalimat hasutan agar Dewi menerima perjanjian gila ini. Sebagai tenaga medis, setidaknya dia tahu mengenai program bayi tabung, bahkan rumah sakit tempatnya bekerja pun memiliki fasilitas itu. “Terima saja Dewi, di mana lagi cari uang satu miliar dalam waktu singkat?” kata Bima, “sekarang juga kamu periksa kesehatan di rumah sakit ini. Kebetulan pria itu sudah bikin janji dengan dokter kandungan.” Dewi dipaksa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Setelah berpikir cukup masak, dia merasa tidak masalah tubuhnya menjadi tempat penitipan bayi pasangan lain selama sembilan bulan. “Baiklah,” lirih Dewi dengan berat hati. “Bagus, jangan membantah!” Bima menepuk-nepuk kasar pipi lembab perempuan itu. Kemudian Bima menyerahkan Dewi kepada pria tambun itu. Mereka berjalan menuju ruang spesialis kandungan di rumah sakit ini. “Uangnya kapan dikirim, Pak?” tanya Bima kepada pria plontos di depannya. “Karena dia masih perawan, saya minta tambahan jadi lima miliar," pintanya lagi tanpa tahu malu. “Jangankan lima miliar, sepuluh miliar aku bayar setelah memastikan perempuan ini beneran perawan dan subur, tidak memiliki gangguan apa pun di rahimnya,” kata pria itu tanpa menoleh ke belakang. Sesungguhnya Dewi ingin menjerit mendengar percakapan ini. Keperawanan yang dia jaga diperjualbelikan, bahkan setelah menikah saja Bima tidak menyentuhnya karena merasa jijik. Sebelum masuk ke poli obgyn, tubuh Dewi gemetaran karena dia takut keputusannya memengaruhi status sebagai pegawai di sini. Pria tambun di depan Dewi mengetuk pintu, hingga sahutan suara maskulin terdengar dari dalam sana. Gadis itu menunduk dalam di balik punggung lebar dan besar. Sedangkan Bima menunggu di luar ruangan. “Saya sudah mendapat perempuan yang sesuai dengan kriteria, silakan Dokter periksa,” ucap pria tambun itu membuat Dewi menghentikan napasnya seketika.On a sunny weekend, a month later, Bruno drove with Lizzie to the orphanage.Although it was already afternoon, the orphanage was still bustling with activity. Bruno walked hand in hand with Lizzie through the sprawling garden, watching the children running around on the grass, unaffected by the heat. Among them was Adeline.Her once long hair had been cut into a stylish short style, making her look refreshed.There was a pure and genuine smile on her face, devoid of any traces of pain. She had forgotten the past, forgotten the pain she had endured. She was genuinely happy.Xu Wan approached them. "Adeline has been doing well during this time."She stood beside Bruno and Lizzie, reminiscing about Adeline's past. "Adeline used to have a strong sense of inferiority because she felt abandoned by her parents. She always wore a mask of strength and tried to distance herself from this place. But who would have thought that after all these years, she would come back completely transformed."
Bruno gave a nod, "Alright, I understand. I'll accompany Lizzie.""But, boss, what about Adeline?" Lycan spoke up, noticing that Bruno hadn't mentioned Adeline at all."How is she?" Bruno asked flatly. Even though Adeline had taken a bullet for him, his attitude toward her hadn't changed."The details are still unclear. She's currently in surgery," Lycan reported, "What if the situation isn't promising?" Given Adeline's critical condition upon being taken to the hospital, it was uncertain if she'd survive."We'll cross that bridge when we come to it. Keep a watch on her and keep me updated. Lizzie was deeply shaken by this. I need to be with her." Having said that, Bruno retreated into the patient room.Watching the closed door, Jepan murmured, "Lycan, did you notice? The boss doesn't really care about Adeline, even if she took a bullet for him. He didn't even blink.""I know. In his heart, there is only room for Lizzie. She must be scared after what happened. And if the bullet had hi
Lizzie struggled with all her might, but her white blouse was ripped apart, buttons scattering across the floor.Charles stared at her exposed, smooth skin, his eyes locked onto her."Bruno certainly has a good eye," Charles remarked, tut-tutting softly.Lizzie pursed her lips in anger. The way Charles was looking at her felt like an insult."It's just the two of us here. Don't be shy." Charles pulled her close into his arms, planting a kiss on her cheek. The light contact made her feel nauseous from the bottom of her heart.Just as Charles was about to rip off the remainder of her blouse, a loud commotion erupted outside.Before they could react, the wooden door was kicked down. Bruno, dressed in a black suit, stood at the entrance."Bruno," Lizzie cried out in relief. Her heart, held tight with worry, finally eased. She tried to move towards him, but Charles held her back.Charles was taken aback by Bruno's appearance. "Bruno?""So you recognize me, and yet you dare touch my woman."
Lizzie was tied up, unable to move. Even if she wanted to escape from the high-rise building, she was trapped.Footsteps echoed from outside. The sound of shoes on concrete indicated there were a lot of people approaching. Lizzie shrunk into a corner as the door was thrust open, and to her surprise, Charles was the first to enter."You," Lizzie looked up at him."Miss Lizzie, hello. We meet again." Charles approached her, looking down from his superior height."What do you want?" Lizzie was taken aback; she never expected it would be him.Charles crouched down to her level. "Of course, I've been thinking about you." He caressed her face gently, "I've missed this soft cheek of yours."He was ready to risk it all for her. Bruno had canceled their partnership because of her. Charles wouldn't be lenient either.Lizzie turned her face away, "Don't touch me. Take your dirty hands off me." Was this man really intending to possess her? Just because of that one meeting at the nightclub?"Miss
"You're here to watch this, aren't you?" It surprised Bruno that she was still standing there, holding several magazines that featured him on their covers.Lizzie spun around swiftly upon hearing his voice. She thought she might have been hallucinating, but when she saw Bruno, all the books in her ha
With a heavy sigh, Ruoya picked up the discarded clothes from the floor, piece by piece, dressing herself. Her gaze fell on the crimson splash on the beige bed sheet and it dawned on her that she was, indeed, Jacob's woman now.However, the realization only brought her more pain. Jacob's evasive gaze
Bruno fell into silence, his heart, did he truly comprehend?"Bruno, it's rare for you to bring her along today. Accompany her. Even if you two can’t be together forever, at least now, she’s still your wife." Xu Wan spoke to Bruno.She still remembered months ago when Bruno came to her, his face etche
Upon seeing Lizzie's silence, Bruno stands up, "Alright, clean up here. It's late, get some sleep earlier." With that, he leaves the dining room.Lizzie gazes at the empty bowl on the table, her heart filled with confusion that she can't understand. However, she doesn't want to think about it because






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.