"Inilah, semua orang lihat ya!" suara Sandra lantang, tangannya gemetar karena emosi. Kamera ponselnya ia arahkan ke wajah Hana yang masih terkejut memeluk Ihsan. "Perempuan ini, si penggoda, yang pura-pura polos, tapi tega merebut suami orang!"Hana seketika pucat. "Mbak… Sandra? Astaghfirullah… apa yang—" suaranya tercekat, tak mampu melanjutkan. Ia hanya bisa mendekap Ihsan lebih erat, membuat bayi itu menangis ketakutan karena merasakan kegaduhan di sekelilingnya.Irsyad yang hendak memberikan mainan kepada Ihsan, terhentak kaget hingga mainan di tangannya jatuh ke lantai. "Sandra! Astaghfirullah… apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu ada di sini?"Sandra langsung menoleh ke arah suaminya dengan tatapan penuh kebencian. "Apa-apaan? Harusnya aku yang tanya, Syad! Katanya kamu dinas ke luar negeri, katanya urusan kerjaan, tapi ternyata… ternyata kamu ada di sini! Sama perempuan ini!" ia menunjuk Hana dengan geram. "Jadi semua kebohonganmu selama ini karena dia?!""Kamu salah paham, Sandra
Dini hari itu Sandra duduk di ruang kerjanya yang berantakan. Laporan keuangan perusahaan berserakan, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada angka-angka. Sejak semalam, perkataan Anton terus berputar di kepalanya. "Tidak ada pembelian tiket pesawat ke luar negeri atas nama Irsyad beberapa bulan terakhir, bisa dipastikan dia bukan dinas keluar negeri."Ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Ada bagian dalam dirinya yang takut pada kebenaran, tapi rasa ingin tahu jauh lebih kuat. Maka ketika ponselnya bergetar, menampilkan nama Anton di layar, Sandra langsung menyambut dengan cepat."Anton, ada kabar?" suaranya penuh ketegangan."Ya," jawab Anton dengan nada berat. "Aku minta orangku mencari jejak Irsyad. Dan hasilnya… mengejutkan."Sandra menggenggam ponselnya erat. "Cepat katakan.""Dia tidak pergi keluar negeri, Sandra. Tujuan perjalanannya sebenarnya hanya ke sebuah desa kecil, sekitar delapan jam perjalanan dari sini."Sandra terperanjat. "Desa kecil? Desa apa?!"Anton
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Hubungan Irsyad dan Sandra semakin tidak karuan, perusahaan Sandra tak bisa di selamatkan dan Sandra tidak mau kontrol ke psikiater lagi.Besok sudah waktunya Irsyad untuk menemui Hana. Sandra duduk di ruang tamu, wajahnya masih kusut menatap layar laptop penuh angka-angka laporan keuangan perusahaan kosmetiknya. Sesekali ia menekan pelipis, tanda kepalanya semakin berat menanggung beban.Irsyad melangkah mendekat, lalu duduk di sebelah istrinya."Sandra." suaranya pelan.Sandra tidak langsung menoleh, hanya bergumam, "Hm?" sambil tetap menatap layar laptop."Besok pagi aku harus berangkat. Ada tugas dinas keluar negeri selama seminggu."Sandra berhenti mengetik. Jemarinya yang semula lincah di atas keyboard tiba-tiba membeku. Ia mengangkat kepala perlahan, menatap suaminya dengan mata yang menyimpan lelah sekaligus tanda tanya."Keluar negeri… lagi?"Irsyad berdehem, mencoba tersenyum untuk menutupi gugupnya. "Iya, ada urusan kantor yang p
Hari-hari yang Irsyad lalui terasa berat saat bersama Sandra. Wanita itu menolak untuk kontrol ke psikiater, Irsyad takut mentalnya semakin tidak baik dan nanti akan berdampak buruk pada kehidupan mereka.Siang ini di hadapan irsyad sudah terhidang hidangan khas Italia, tapi bagi Irsyad, nafsu makan seolah hilang. Pikirannya terus melayang pada Sandra dan perusahaan kosmetiknya yang hampir tumbang.Marco melirik Irsyad yang tampak lesu. Ia meletakkan garpunya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi."Syad, kamu kelihatan nggak tenang. Padahal semua makanan di atas meja ini best seller. Ada masalah?" tanya Marco.Irsyad menarik napas panjang, lalu tersenyum kaku kearah sang bos. "Memang ada masalah, Pak. Sebenarnya... saya lagi kepikiran perusahaan Sandra. Perusahaan kosmetiknya sedang kolaps."Marco mengangguk pelan. "Hmm... aku pernah dengar sekilas. Apa yang sebenarnya terjadi?"Irsyad menunduk sebentar, lalu menatap Marco. "Penjualan menurun drastis, investor banyak yang tarik diri
Hari-hari yang dilalui Irsyad dan Sandra kini terasa semakin hambar. Di meja makan hanya ada bunyi sendok dan piring. Di ruang tamu hanya ada suara televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton, sementara masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.Sandra semakin tenggelam dalam krisis perusahaannya. Investor mendesak, laporan penjualan menurun, produksi kacau, bahkan pabrik sering kali bermasalah. Semua itu membuat Sandra gampang marah. Dan, seperti biasa, saat emosinya meluap, nama Hana kembali dibawa-bawa.Malam itu, setelah pulang dari kantor dengan wajah kusut, Sandra menjatuhkan tasnya ke sofa. Irsyad yang menunggunya di ruang tamu mencoba mendekat.Irsyad menatap wajah istrinya dan berkata pela. "Sandra, kamu kelihatan capek banget. Kalau ada yang bisa kubantu, bilang aja. Jangan kamu tanggung sendirian."Sandra menghempaskan tubuh ke sofa, nada ketus ia menjawab. "Kamu bisa bantu apa, Mas? Semua sudah kacau. Investor marah, produksi hancur, penjualan anjlok. Semua ini te
"Syad… itu apa yang kamu bawa?'Irsyad yang sedang fokus menyetir, sempat terdiam beberapa detik. Kedua tangannya menggenggam setir lebih erat. Ia tahu cepat atau lambat, Nur akan bertanya."Itu, Ma…"Irsyad menarik napas panjang, mencoba jujur. "Oleh-oleh buat Sandra. Aku beli lewat jastip. Barang-barang dari Paris."Nur menoleh, menatap wajah anaknya. "Jastip?"Irsyad mengangguk pelan. "Iya, Ma. Aku cuma ingin Sandra percaya ku keluar negeri seminggu untuk urusan pekerjaan. Makanya aku pesan barang-barang itu, supaya kelihatan nyata.'Nur terdiam cukup lama, lalu menghela napas panjang, dalam, berat."Ya Allah, Syad. Kamu sampai harus berbohong seperti itu?!"Irsyad menunduk sedikit, matanya redup. "Aku paling nggak suka bohong, Ma. Akan tetapi Sandra… kondisinya rapuh. Kalau aku jujur, aku takut dia makin kacau. Aku cuma pengen melindungi semua orang, Ma. Pengen Hana aman, pengen anakku aman, tapi aku juga nggak mau Sandra jatuh lagi."Nur menatap jalanan di depan, tapi pikirannya