Teilen

BAB 25

last update Veröffentlichungsdatum: 26.03.2026 06:00:15

“Nginep?” Mila sampai harus bertanya ulang.

Riven tertawa kecil, menyadari pertanyaannya yang ambigu.

“Gue ada kamar tamu, lo bisa tidur di situ.”

Mila ikut tertawa sambil memegang dadanya, “Jantung gue hampir copot, loh.”

“Lo dan pikiran kotor lo,” celetuk Riven, teringat dengan pertama kali ketika mereka juga berbeda cara menangkap arti kata ‘spot’

Mila tersenyum, membalas. “Lo dan kelakuan

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Luka Mila   BAB 59

    Harusnya kepalanya kosong sekarang.Tapi tidak.Mila berdiri di bawah pancuran, air dingin mengalir tanpa henti membasahi rambut dan tubuhnya. Uap tipis memenuhi ruangan, tapi semua itu tidak bisa membuat pikirannya tenang. Bahkan tubuhnya pun masih merespon ketika memorinya seolah mengingatkannya pada kejadian malam itu.Mila memejamkan matanya, menahan linu sendi-sendi tubuhnya. Perih di beberapa bagian badannya. Tangannya menyentuh bahunya sendiri, lalu turun perlahan, mengusap bagian depannya. Lalu terakhir wajahnya.Ucapan itu kembali terngiang, “Lo juga tahu kalau kita tetap ngelakuinnya, itu untuk alasan yang salah.”Mila mendengus pelan. Hatinya masih terasa sakit meskipun ia tahu, Riven benar. Kalaupun waktu itu mereka melakukannya, itu bukan untuk alasan yang benar.Air masih mengalir, tapi kini terasa lebih dingin. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan mandinya.Ketika Mila selesai mandi d

  • Luka Mila   BAB 58

    Mila hanya ingin melupakan apa yang Riven lakukan padanya.Oleh karena itu, Mila hanya pasrah ketika Hans membuat tubuh Mila berlutut di atas kasur. Pria itu pun lalu mendekat, memposisikan diri dibelakang Mila dan mendorong tubuh Mila pelan sehingga tangannya di atas kasur menopang tubuhnya.Hans mendekati Mila dari belakang, Mila harus memejamkan mata menahan sensasi ketika kedua tangan pria itu mengusap sisi tubuh Mila lembut sebelum mencengkram pinggangnya. Menempatkan posisinya sambil condong ke depan.“Lo mau yang keras?” bisik Hans di telinga Mila dengan nada dingin.Mila hanya mengangguk, tidak mampu menjawab. Matanya terpejam ketika bagian bawah tubuhnya merasakan dorongan itu. Otot-otonya menegang lagi ketika perlahan milik Hans yang sudah mengeras itu masuk dengan cepat ke bagian intimnya.Hans mengerang pelan di belakang Mila. Mila ingin menarik tubuhnya ketika ada rasa perih yang sebenarnya sudah biasa. Tapi tangan Hans menahannya dengan kencang. Napas Mila tertahan ketik

  • Luka Mila   BAB 57

    Namun, sesaat setelah Mila mengatakan itu, Riven menjulurkan tangannya secara perlahan ke belakang kepala Mila, jemarinya menyelip diantara rambutnya yang halus. Mila diam tapi matanya menatap lekat pada pria itu. Gerakan Riven berhenti sebentar untuk memastikan Mila memberinya ijin.Lalu dengan lembut bibir pria itu bertemu dengan bibir Mila. Menekannya dalam. Refleks, Mila membuka mulutnya, membalas ciuman Riven dan membiarkan lidahnya bertaut.Mila bisa merasakan, tangan Riven perlahan turun ke bahunya lalu ke lengannya, dan berhenti. Mila meraih tangan pria itu, tanpa melepaskan ciumannya, lalu membawanya ke depan dadanya. Perlahan Mila membiarkan tangan pria itu meremasnya pelan, menekannya lembut, lalu mengusapnya.Hal itu membuat napas Mila tercekat dan membalas ciuman Riven semakin dalam. Dengan hati yang penuh, Mila menarik iramanya, membelai pria itu dengan gerakan bibirnya. Ketika ritmenya semakin intens, tangan pria itu pun turun dan menyusup ke balik kaos yang Mila pakai.

  • Luka Mila   BAB 56

    Udah beres Mil? Gue jemput ya.Mila melirik jam tangannya. Malam sudah larut, memang ini jamnya ia biasa selesai kerja. Mila pun membalas pesan dari Riven.Ok, gue tunggu.Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya. Mila melangkah mendekat, membuka pintu, lalu duduk di kursi penumpang.“Tumben tadi pesan gue langsung lo balas,” kata Riven tanpa menoleh, tangannya tetap di setir.Mila menarik sabuk pengaman. “Gue sebenernya lagi libur.”Riven akhirnya melirik sekilas. “Libur?”“Iya,” jawab Mila santai. “Lagi sering malah.”Mobil mulai melaju membelah jalanan yang mulai lengang.“Sering?” ulang Riven, nadanya tipis, seperti menimbang sesuatu. “Enak dong.”Mila mengangkat bahu. “Harusnya sih. Tapi… ya aneh aja. Biasanya gue yang ngejar jam kerja, sekarang malah kayak disuruh libur mulu.”“Lo udah tanya?”Mila mendengus pelan. “Males. Selama masih digaji, ya udah.”Riven tidak langsung membalas. Tatapannya masih lurus ke depan. Namun Mila bisa melihat perubahan raut wajahnya men

  • Luka Mila   BAB 55

    Pria itu menjulurkan tangannya yang disambut Mila sambil tersenyum.“Lex,” sapa Mila singkat.Senyum Alex semakin lebar lalu menoleh pada Hans, “Ini sih sayang kalau dilepas.”Hans tidak menjawab, hanya mengangkat alisnya sambil mengangguk setuju.“Kita mulai sekarang?” ajak Hans pada Alex seraya gesture pada pria itu untuk melangkah bersamanya.“Bye, Mila,” lambai Alex.Sementara Hans pamit dengan menepuk bahunya sekilas sebelum melangkah dengan Alex di sampingnya menuju ruang meeting di lantai dua. Mila pun kembali memutar kursinya menghadap ruang dansa. Pikirannya yang sudah lama tidak bisa berhenti bertanya seolah semakin penuh.***Sebenarnya Mila masih mau menunggu Hans selesai meeting.“Lo mending pulang,” saran Toni ketika tempat itu sudah menjelang tutup. Pengunjung sudah hampir pulang semua ,tinggal beberapa yang terlihat masih bercanda dengan temannya

  • Luka Mila   BAB 54

    Malam itu Mila kembali ke apartementnya dengan pikiran yang bercampur aduk. Malam belum terlalu larut namun ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya Mila tidak keberatan, malah rasanya ringan kalau hanya seperti tadi. Yang berat baginya hanya ketika ia harus menjaga ucapannya.“Aneh juga sih ya,” kata Mila. Akhirnya ia menelepon sahabatnya Tiara yang sudah lama tidak berbincang-bincang.Di ujung sana, Tiara menarik napas panjang, “Tapi kalau bayarannya besar sih gue ngga nolak.”“Jangan tanya, Tir…” ujar Mila, “Pensiun dini bisa lebih awal kalau kerjaannya kayak gini sih.”Lalu mereka tertawa.“Menurut lo, bahaya ngga sih Mil?” tanya Tiara ketika tawanya mereda.MIla mengangkat bahu. “Entahlah. Tamu gue tadi bilang, gue yang berbahaya. Kok jadi gue ya yang bahaya?”“Jadi tadi lo cuman nemenin makan malam doang?” tanya Tiara lagi.“Iya, makan malam, ngobrol sama ibu-ibu sosialita. Udah gitu aja. Gue buka baju depan dia aja engga.. Hahhaa” cerita Mila sambil mengunyah cemilannya.

  • Luka Mila   BAB 19

    Mila tahu dia tidak bisa selalu berada di balik alasan “takut merepotkan” karena sudah jelas Riven berkata dia tidak masalah kalaupun direpotkan oleh Mila.Tapi semalam, Mila tidak mengabarkan pria itu jelas bukan karena takut merepotkan. Namun lebih ke memilih mengabaikannya d

  • Luka Mila   BAB 16

    Semakin malam, suasana semakin hidup. Lagu berikutnya dimulai dengan tempo yang sedikit lebih cepat. Beberapa meja mulai ikut mengangguk mengikuti beat. Tawa terdengar lebih lepas. Obrolan semakin cair.Malam perlahan berubah.“Nah, ini yang gue tunggu,” ujar salah satu dari mereka,

  • Luka Mila   BAB 15

    Mila tidak langsung menjawab.Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Angin sore masih berhembus pelan, suara daun bergesekan halus, tawa anak-anak di kejauhan. Tapi fokus Mila sudah bukan lagi pada sekitar. Matanya tertuju pada Riven.“Ke mana?” akhirnya ia bertany

  • Luka Mila   BAB 17

    Hari itu Mila bangun dengan perasaan aneh di hatinya. Tubuhnya memang terasa lelah. Kurang tidur ditambah pikirannya yang sama sekali menolak untuk berhenti. Mila menatap jam di tembok kost-nya. Hampir siang. Dia harus bangun. Hari ini kerja.Sambil bersungut, Mila pun melangkah ke kamar m

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status